"Aura, buka!"
Suara itu bukan lagi sekadar teguran. Itu adalah perintah. Hantaman di pintu kayu kamarnya membuat pigura foto masa kecil Aura yang tergantung di dinding bergetar, lalu jatuh dan kacanya pecah berantakan di lantai. Persis seperti mentalitas Aura saat ini: retak dan tak beraturan.
Aura meringkuk di pojok tempat tidur, memeluk lututnya. Di layar ponsel yang retak, ribuan hujatan dari komunitas DeepMind terus mengalir. Ia yang tadinya dianggap "pahlawan" kini berubah menjadi target perundungan dalam hitungan menit. Algoritma yang dulu memujanya, kini sedang menguliti harga dirinya hidup-hidup.
"Pergi, Dimas! Pergi!" teriak Aura, suaranya parau karena tangis yang tertahan.
Cklek.
Pintu terbuka. Ibunya berdiri di sana dengan wajah sembap, memegang kunci cadangan. Di belakangnya, Dimas berdiri dengan napas memburu. Ibunya menatap Aura seolah-olah putrinya itu adalah orang asing. "Tinggalin kami sebentar, Tante," ucap Dimas pelan. Ibunya mengangguk lemah dan menutup pintu dari luar.
Kini hanya ada mereka berdua. Dan bau pahit ramuan herbal yang masih menguar dari botol di atas meja.
Dimas melangkah mendekat. Ia tidak duduk. Ia tetap berdiri, menjulang di depan Aura seperti hakim.
"Lihat ponselmu, Ra," kata Dimas pelan. "Lihat apa yang terjadi kalau kamu main-main dengan sesuatu yang nggak kamu pahami."
Aura melemparkan ponselnya ke arah Dimas. "Kamu kan yang kirim video itu ke grup kelas? Kamu @VoidWalker?! Kamu mau hancurin aku?!"
Dimas menangkap ponsel itu. Ia menatap layarnya yang retak, lalu menatap Aura dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku bukan @VoidWalker. Tapi aku tahu persis siapa dia. Dan kalau dia sampai bertindak lebih jauh, kamu nggak cuma bakal kehilangan akun sosial mediamu, Ra. Kamu bakal kehilangan masa depanmu."
Aura mendongak, matanya sembap. "Siapa? Kenapa dia benci banget sama aku?"
Dimas menghela napas panjang, ia merendahkan suaranya seolah takut dinding kamar itu punya telinga. "Dia Bara. Alumni sekolah kita angkatan tiga tahun lalu. Kamu nggak akan tahu namanya karena dia lebih banyak menghabiskan waktu di bangsal psikiatri daripada di kelas. Dia pengidap Bipolar Tipe 1 yang beneran berjuang keras cuma buat bisa bertahan hidup setiap harinya. Dan saat dia lihat kamu di VibeTok pura-pura tremor dan 'manis-manisin' penyakitnya demi konten... sesuatu di kepalanya putus. Dia merasa kamu menghina setiap detik penderitaannya."
Aura terdiam. Nama Bara tidak asing, tapi identitasnya sebagai sosok di balik akun anonim itu adalah rahasia yang hanya dipegang oleh Dimas.
"Aku... aku cuma merasa sepi, Dim. Aku baca di internet, gejalanya sama persis..."
"Karena algoritma itu nggak peduli kamu sehat atau nggak, Ra!" Dimas membentak. "Kalau kamu cari 'sedih', dia bakal kasih kamu video tentang depresi supaya kamu terus menonton. Kamu bukan dokter. Kamu cuma korban internet yang sedang tersesat."
Dimas mengeluarkan sebuah kartu nama dari sakunya. "Besok pagi, aku antar kamu ke dr. Aris. Psikolog. Bukan buat konten, tapi buat cari tahu apa yang sebenernya salah sama kamu. Sebelum Bara benar-benar membongkar identitas aslimu ke seluruh sekolah."
Paginya, di dalam ruangan dr. Aris yang tenang, Aura merasa kecil. Setelah satu jam bercerita tentang kegelisahannya, dr. Aris tersenyum tipis.
"Aura, kamu tidak Bipolar," kata dr. Aris tenang. "Secara klinis, kamu mengalami Adjustment Disorder—gangguan penyesuaian diri. Kamu merasa tertekan oleh ekspektasi lingkungan dan kesepian, lalu kamu mencari 'rumah' di label medis yang salah. Kamu tidak butuh obat keras. Kamu butuh belajar menerima diri sendiri tanpa perlu jadi 'istimewa' lewat penyakit."
Aura merasa seperti balon yang dikempiskan. Ada rasa lega, tapi juga hampa. Jika dia tidak sakit, lalu siapa dia?
Saat keluar dari klinik, Aura merasa sedikit tenang. Namun, saat ia menyalakan ponselnya, ada ratusan pesan masuk di grup w******p kelas.
Seseorang telah memotret Aura saat masuk ke klinik tersebut.
Grup Kelas XII-IPA 2:
“Woi, lihat! Aura beneran ke psikolog. Tapi denger-denger dia cuma ke sana buat nyari surat keterangan palsu biar nggak dihujat @VoidWalker. Caper banget gila.”
Aura berhenti melangkah. Di parkiran, ia melihat beberapa teman sekelasnya sedang berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahnya. Tatapan mereka bukan lagi tatapan kagum, melainkan jijik pada seorang pembohong.
Tiba-tiba, Dimas menerima pesan singkat. Wajahnya berubah pucat pasi. Ia menunjukkan layar ponselnya ke Aura. Pesan dari @VoidWalker.
@VoidWalker:
“Bagus, dia sudah ke dokter. Tapi itu belum cukup. Aku sudah kirim bukti pembelian 'obat' ilegalnya ke email pengaduan sekolah. Selamat bersenang-senang di ruang Kepala Sekolah, Aura.”
Aura terduduk di aspal. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena ramuan atau akting. Ini ketakutan yang nyata. Bara—sosok yang hanya diketahui oleh Dimas—ternyata tidak main-main. Ia ingin Aura merasakan kehancuran yang sesungguhnya.
"Dim..." bisik Aura gemetar. "Gimana cara aku jelasin kalau aku nggak Bipolar, tapi aku beli obat itu? Sekolah bakal keluarin aku..."
Dimas tidak menjawab. Matanya tertuju pada sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Di dalamnya, seseorang dengan topi hitam tampak sedang memperhatikan mereka dengan kamera di tangan.
Apakah Dimas akan tetap berada di pihak Aura saat Bara mulai menyerang secara personal? Dan apa yang sebenarnya diinginkan Bara—sekadar pelajaran atau kehancuran total bagi Aura?