Ponsel di atas meja itu masih berpendar, merekam setiap embusan napas Aura yang menderu ketakutan. Angka penonton di VibeTok melonjak gila-gilaan—5.000, 7.000, hingga menembus 10.000 orang. Mereka semua sedang menyaksikan sebuah pertunjukan horor yang jauh lebih nyata daripada sekadar konten "tanda-tanda gangguan jiwa" yang biasa Aura unggah.
"Dimas...?" suara Aura nyaris hilang, tertelan oleh kesunyian kamarnya yang tiba-tiba terasa sangat asing.
Pintu lemari itu terbuka pelan, menimbulkan derit kayu yang memuakkan. Dari kegelapan di dalamnya, sosok itu muncul. Mengenakan hoodie hitam yang sama dengan yang dipakai Dimas tadi, namun dengan satu perbedaan fatal: wajahnya tertutup topeng plastik putih polos tanpa ekspresi.
Sosok itu memegang ponsel, mengarahkan kameranya tepat ke wajah Aura yang bersimbah air mata.
"Halo, Aura," suara itu berat, serak, dan terdengar seperti gesekan logam. Suara Bara. "Selamat datang di puncak kontenmu. Ini yang kamu mau, kan? Jutaan orang menontonmu. Validasi yang tak terbatas."
"Di mana Dimas?" Aura memekik, tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja rias. "Bara, tolong... hentikan ini!"
Sosok bertopeng itu tertawa—sebuah tawa kering yang hampa. Ia melepas topengnya dengan gerakan lambat.
Di balik topeng itu, ada wajah Dimas. Namun, matanya... matanya bukan lagi milik Dimas yang tenang dan penyabar. Matanya tajam, liar, dan penuh dengan kebencian yang sudah lama dipendam.
"Dimas sedang tidur, Aura," katanya dengan nada suara yang kini berubah menjadi suara Dimas yang biasa, namun dengan tekanan yang menyeramkan. "Dia terlalu lemah untuk menghadapi orang-orang sepertimu. Dia terlalu sibuk merasa kasihan pada gadis yang menukar kesehatan mentalnya demi beberapa ribu likes."
Aura menatap surat medis di lantai—surat yang menyatakan Dimas memiliki DID (Dissociative Identity Disorder). "Jadi... Bara itu kamu? Kamu punya kepribadian ganda?"
Dimas—atau Bara—melangkah maju, membuat Aura terpojok hingga punggungnya menghantam cermin. "Label. Lagi-lagi kamu butuh label untuk mengerti sesuatu, ya?" Ia memungut surat itu, lalu merobeknya di depan kamera ponsel yang masih live. "Surat ini palsu, Aura. Aku yang membuatnya. Aku tidak punya kepribadian ganda. Aku hanya punya dua cara untuk memandang dunia: sebagai Dimas yang ingin menolongmu, atau sebagai Bara yang ingin menghancurkanmu."
Layar ponsel Aura dipenuhi komentar yang bergerak sangat cepat hingga mustahil untuk dibaca. Sebagian besar penonton mengira ini adalah settingan yang sangat niat, namun sebagian lagi mulai menyadari ada yang salah.
"Woi, ini beneran atau akting?"
"Panggil polisi! Mukanya Aura ketakutan banget!"
"Gila, plot twist-nya lebih ngeri dari film horor!"
"Kenapa, Dim?" tanya Aura, suaranya bergetar. "Kenapa kamu lakuin semua ini? Kamu yang anter aku ke dokter, kamu yang kasih aku martabak..."
"Karena aku mau kamu merasakan apa itu ketakutan yang sesungguhnya!" Bara membentak, suaranya kembali berubah berat. "Kamu meromantisasi penderitaan kami! Kamu pikir depresi itu cuma soal foto hitam-putih dan lagu galau? Kamu pikir Bipolar itu cuma soal mood swing yang bikin kamu kelihatan misterius?"
Ia merampas ponsel Aura, lalu mengarahkannya ke wajahnya sendiri. "Dengarkan baik-baik, kalian semua yang menonton! Mental illness bukan estetika! Bukan aksesoris untuk profil medsos kalian! Ini adalah neraka yang kami jalani setiap hari tanpa bisa kami 'log out'!"
Bara kemudian beralih kembali ke Aura. Ia mengambil botol ramuan herbal yang sudah kosong dari meja. "Kamu tahu kenapa aku kasih ramuan ini ke kamu lewat perantara akun anonim? Karena aku ingin tahu sejauh mana kamu rela merusak tubuhmu sendiri demi sebuah 'cerita'. Dan kamu meminumnya, Aura. Kamu meminumnya tanpa ragu hanya karena internet bilang itu bagus."
Tiba-tiba, suara gedoran keras terdengar dari lantai bawah. Suara ibunya yang panik berteriak memanggil nama Aura, diikuti oleh suara beberapa orang pria.
"Aura! Buka pintunya! Ibu bawa satpam!"
Bara tersenyum sinis. Ia tidak tampak takut. Ia justru terlihat sangat tenang. Ia mematikan live streaming di ponsel Aura, lalu memasukkannya ke saku.
"Sudah waktunya tirai ditutup, Aura," bisiknya. "Tapi sebelum itu, aku punya satu hadiah terakhir untukmu."
Bara menarik sebuah tabung kecil dari saku hoodie-nya—sebuah tabung yang sangat mirip dengan ramuan herbal yang selama ini Aura konsumsi. Ia membukanya, dan bau kimia yang sangat menyengat memenuhi ruangan.
"Zat ini," kata Bara sambil menunjukkannya ke arah Aura. "Ini adalah bahan yang sama dengan yang ada di email pengaduan sekolah. Kalau Ibu dan satpam masuk sekarang dan menemukan ini di tanganmu, skorsingmu akan berubah menjadi dikeluarkan secara tidak hormat. Dan kali ini, dr. Aris pun tidak bisa menolongmu."
Bara menyodorkan tabung itu ke tangan Aura. "Pegang ini, atau aku akan bilang ke mereka bahwa kamu mencoba menyerangku dengan obat-obatan ini saat aku mencoba menolongmu."
Aura mematung. Pilihan yang mustahil. Jika ia memegang tabung itu, ia akan dianggap pengedar. Jika ia menolak, Bara akan memainkan peran sebagai korban.
Pintu kamar Aura mulai bergetar hebat, hampir jebol.
"Satu... dua..." Bara menghitung dengan senyum kemenangan.
Tepat saat pintu itu terbuka dengan paksa, Aura melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia tidak mengambil tabung itu. Ia justru menabrakkan dirinya ke arah cermin riasnya sendiri.
PRANKKK!
Cermin besar itu pecah berkeping-keping. Serpihan kacanya berserakan, dan salah satunya menyayat lengan Aura, mengeluarkan darah segar yang nyata. Bukan darah palsu untuk konten, tapi darah yang benar-benar perih.
Ibu Aura, satpam, dan... Dimas—tunggu, Dimas yang lain?—muncul di ambang pintu.
Aura terbelalak. Di depan pintu ada Dimas yang mengenakan jaket hoodie abu-abu, napasnya tersengal seolah baru saja berlari maraton. Dan di dalam kamarnya, berdiri "Dimas" bertopeng yang memegang tabung kimia.
"Ra!" teriak Dimas yang baru datang.
Aura menatap kedua "Dimas" itu bergantian. Kepalanya berdenyut hebat. Serpihan kaca di lengannya terasa panas.
Sosok bertopeng di dalam kamar itu tiba-tiba melompat keluar jendela, menghilang ke dalam kegelapan malam sebelum satpam sempat menangkapnya.
Dimas yang baru datang segera berlari memeluk Aura. "Ra, kamu nggak apa-apa? Maafin aku... aku telat. Aku baru tahu kalau ada orang yang pakai identitas aku di sekolah!"
Aura mendorong Dimas dengan sisa tenaganya. Ia menatap mata cowok itu dengan penuh kecurigaan. "Siapa kamu...? Siapa yang tadi di sini?"
Dimas mengeluarkan sebuah foto lama dari dompetnya. Foto dua orang anak laki-laki kembar yang sangat mirip. "Itu kembaranku, Ra. Bara. Dia yang selama ini terobsesi dengan kesehatan mental karena dia yang sebenarnya didiagnosa... dan dia pikir aku mengkhianatinya karena aku terlihat 'normal'."
Aura menunduk, melihat sepotong kertas yang terjatuh dari saku jaket Dimas yang baru datang. Itu adalah bukti pembelian ramuan herbal yang sama, atas nama DIMAS ADITYA.
Siapa yang sebenarnya jahat? Dimas yang mengaku ingin menolong, atau Bara yang terang-terangan ingin menghancurkan? Dan apakah luka sayatan di lengan Aura akan menjadi bukti kuat untuk menyeret salah satu dari mereka, atau justru akan menguatkan diagnosa bahwa Aura memang memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri?