BAB 5: CERMIN RETAK

966 Words
Ketukan di pintu itu terdengar sopan, hampir terlalu lembut untuk seseorang yang mungkin baru saja menghancurkan hidup Aura. ​"Aura? Kamu di dalam, kan?" suara Dimas merambat masuk, tenang dan stabil seperti biasanya. ​Aura menoleh kembali ke jendela. Gadis misterius di bawah sana sudah menghilang, menyisakan kegelapan malam yang pekat dan aroma tanah basah sehabis hujan. Papan tulis kecil bertuliskan "DIMAS BOHONG" seolah masih membekas di retina mata Aura. ​Jantung Aura berdegup kencang, kali ini bukan karena penyakit yang ia buat-buat, tapi karena insting bertahan hidup yang nyata. Ia melangkah perlahan menuju pintu, tangannya gemetar saat memutar kunci. ​Cklek. ​Dimas berdiri di sana, memegang kantong plastik berisi martabak manis—makanan favorit Aura yang pernah ia sebutkan sekilas saat mereka menunggu di klinik dr. Aris. Wajah Dimas tampak lelah, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat nyata, namun senyum tipisnya tetap ada. Senyum yang kini terlihat seperti topeng di mata Aura. ​"Aku pikir kamu butuh asupan gula sebelum live streaming nanti," kata Dimas, melangkah masuk tanpa menunggu undangan. ​Aura memperhatikan setiap gerak-gerik Dimas. Bagaimana dia meletakkan bungkusan itu di meja, bagaimana dia merapikan tumpukan buku Aura yang berantakan, dan bagaimana dia melirik botol ramuan herbal yang kini sudah kosong. ​"Dim," suara Aura serak. "Kenapa kamu peduli banget sama aku?" ​Dimas menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Aura dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena aku tahu rasanya sendirian, Ra. Aku nggak mau kamu hancur sendirian seperti... seperti Bara." ​"Bara," Aura mengulang nama itu dengan nada getir. "Kamu yakin Bara itu ada? Bukan cuma... cerita yang kamu buat supaya aku takut sama kamu?" ​Udara di kamar itu mendadak mendingin. Dimas tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aura, lalu tertawa kecil—tawa yang tidak sampai ke matanya. "Siapa yang bilang begitu? Gadis di bawah jendelamu tadi?" ​Aura mematung. "Kamu... kamu lihat dia?" ​"Aku lihat semuanya, Aura. Aku lihat dia datang, aku lihat dia memberikan harapan palsu padamu, dan aku lihat dia pergi saat aku datang," Dimas melangkah mendekat, memojokkan Aura ke arah meja belajarnya. "Itu Maya. Mantan pasien dr. Aris yang dikeluarkan karena obsesi yang berbahaya. Dia benci aku karena aku yang melaporkannya saat dia mencoba menyakiti dirinya sendiri di sekolah tahun lalu." ​Aura merasa dunianya seperti gasing yang diputar terlalu kencang. Maya bilang Dimas bohong. Dimas bilang Maya terobsesi. Siapa yang harus ia percaya? Di dunia yang penuh dengan caption palsu dan profil anonim ini, kejujuran terasa seperti barang mewah yang mustahil ditemukan. ​"Waktunya, Aura," kata Dimas sambil menunjuk jam dinding yang menunjukkan pukul 19.55. "Lima menit lagi. Siapkan ponselmu. Aku akan berdiri di belakang kamera, membantumu menjawab kalau kamu bingung." ​Aura duduk di depan meja riasnya. Layar ponsel yang retak itu kini menampilkan wajahnya yang pucat. Ia mulai menata rambutnya, mencoba menutupi mata sembabnya dengan concealer, namun ia justru merasa sedang merias sebuah kebohongan baru. ​Pukul 20.00 tepat. Aura menekan tombol LIVE di aplikasi VibeTok. ​Dalam hitungan detik, jumlah penonton melonjak. 100... 500... 2.000 penonton. Notifikasi makian dan hujatan mulai mengalir deras seperti air bah di layar. ​“Caper queen muncul juga.” “Gimana rasanya pura-pura sakit, Ra?” “Mana nih Bipolar Warrior-nya? Kok mukanya kayak orang waras?” ​Aura menelan ludah. Ia melirik Dimas yang berdiri di sudut gelap kamarnya, memberi isyarat dengan jempol agar ia mulai bicara. ​"Halo semuanya," suara Aura bergetar. "Aku... aku mau klarifikasi soal berita yang beredar. Soal skorsing aku di sekolah, dan soal... diagnosa aku." ​Aura menarik napas panjang. Ia sudah menyiapkan naskah di kepalanya: mengaku salah, minta maaf, dan bilang kalau dia hanya korban informasi yang salah. Namun, matanya menangkap sebuah komentar yang muncul berkali-kali dari satu akun anonim bernama @TheRealBara. ​@TheRealBara: “Lihat laci meja belajarmu yang paling bawah, Aura. Sekarang juga. Di depan kamera.” ​Aura terhenti. Komentar itu membanjiri layar. Penonton lain mulai ikut mendesak. "Buka lacinya! Buka lacinya!" ​Aura menatap Dimas. Wajah Dimas yang tadinya tenang kini berubah tegang. Ia menggelengkan kepala dengan keras, memberi kode agar Aura mengabaikannya. ​Namun, rasa penasaran—dan rasa takut akan ancaman Bara yang nyata—membuat Aura bertindak di luar kendali. Di depan ribuan penonton yang menyaksikan secara langsung, Aura menarik laci meja belajarnya yang paling bawah. ​Di sana, di balik tumpukan buku catatan lamanya, ada sebuah amplop cokelat. ​Aura membukanya. Isinya adalah lembaran-lembaran surat medis asli. Namun, bukan atas nama Aura. ​Nama yang tertera di sana adalah DIMAS ADITYA. ​Dan diagnosanya bukan hanya depresi. Di sana tertulis: Gangguan Identitas Disosiatif (DID) dengan catatan adanya alter ego yang agresif. ​Aura gemetar. Ia membaca baris berikutnya. Ada sebuah foto terselip di sana. Foto Dimas sedang memakai topeng putih yang sama dengan yang ia lihat di video @VoidWalker tadi malam. Di balik foto itu, tertulis sebuah kalimat dengan tinta merah yang masih segar: ​"AKU ADALAH BARA. AKU ADALAH DIMAS. DAN KAMU ADALAH KARYA TERBAIKKU." ​Aura melepaskan surat itu hingga berhamburan di lantai. Ia menatap ke arah sudut gelap kamarnya, tapi Dimas sudah tidak ada di sana. ​Tiba-tiba, suara tawa yang berat dan serak—suara yang sama dengan suara Bara di telepon—terdengar dari arah lemari pakaian Aura yang tertutup rapat. ​"Permainan belum selesai, Aura," bisik suara itu dari dalam lemari. ​Layar ponsel Aura masih menyala, merekam ekspresi horor di wajahnya ke hadapan ribuan orang yang menonton. Tiba-tiba, pintu lemari itu terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah tangan yang mengenakan sarung tangan hitam, memegang sebuah ponsel yang juga sedang melakukan live streaming ke arah Aura. ​Apakah Dimas dan Bara benar-benar orang yang sama dengan kepribadian ganda? Apa yang akan dilakukan "Bara" di depan ribuan penonton VibeTok yang sedang menyaksikan tragedi ini secara langsung? Dan bisakah Aura melarikan diri dari labirin yang kini benar-benar menjadi nyata?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD