4 | Tidak Sabar Menjadi Istri Damar

1682 Words
Damar merasa kurang nyaman dengan tingkah laku Karin, sebenarnya. Sejak dua minggu lalu, perempuan berusia 19 tahun itu terlalu sering mengganggu dan bersikap posesif. Menelpon setiap satu jam sekali dan selalu ingin Damar membalas pesannya dengan cepat. Karin juga biasa ke kantor saat makan siang, hampir setiap hari selalu datang dan mengajak Damar makan bersama dia dan papanya. Rencana pernikahan sudah mulai berjalan, satu bulan lagi mereka akan menikah. Persiapan pernikahan sudah 50%, Karin sangat senang dan selalu menanti hari bahagianya bersama Damar. Karin tahu, lelaki itu masih bersikap kaku padanya. Dia belum bisa melupakan mantan calon istrinya, dan masih belum bisa sepenuhnya membuka diri untuk Karin. Tetapi Karin percaya, suatu saat nanti Damar pasti akan berbalik jatuh cinta padanya juga. Karin selalu berharap dia bisa segera hamil, supaya perhatian Damar teralihkan ke calon bayi mereka. Siang ini, Karin datang lagi dengan membawa kantung plastik berisi dua box makan siang yang dia pesan sebelum ke kantor. Papanya hari ini ada urusan di luar, jadi tidak bisa makan bersama di ruangan papa. Kalau sudah begitu, biasanya Karin akan menghampiri ke ruangan Damar langsung dan makan di sana berdua—karena rata-rata yang lain memilih makan di luar. Teman-teman satu ruangannya sering meledek Damar kalau Karin tidak ada, mereka bilang tipe Damar adalah perempuan muda yang baru lulus sekolah dan dia beruntung mendapatkan anak bosnya. Tetapi Damar tidak pernah menanggapi itu dan hanya tersenyum tipis jika mereka sedang menggodanya. Ruangan sepi ini ramai oleh suara Karin. Dia senang bercerita apa pun pada Damar, sementara Damar paling hanya merespons sedikit-sedikit. Kadang, perempuan itu kesal pada calon suaminya yang seolah tidak tertarik mendengar apa yang dia katakan. Dia ingin marah dan mengadu pada papa untuk menegur Damar, tetapi dia selalu menahan diri untuk tidak melakukan itu. Saat menyuapkan makanan ke dalam mulut untuk yang keempat kalinya, Karin merasa mual. Dia menghentikan kunyahan dan membekap mulut, mengubah posisi menjadi berdiri kemudian berjalan cepat menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. Tenggorokan Karin sampai sakit ketika dia mengeluarkan semua makanan yang sudah dia telan tadi. Perutnya masih saja mual padahal yang mampu dia keluarkan hanya air saja sekarang. Rasanya pahit sekali. Damar yang sedikit khawatir pada anak itu, menghampirinya. Dia membantu memijat tengkuk perempuan berambut sebahu dan bermata bulat ini. “Masih mual?” lirih Damar saat Karin menyandarkan kepala di d**a lelaki itu. Karin yang sudah membasuh mulutnya, mengangguk. Dia memeluk Damar dan mengeluh kalau kepalanya juga pusing. “Kita ke dokter, ya? Takutnya kamu kenapa-napa,” lanjut lelaki itu yang sempat ragu untuk merangkul pinggang calon istrinya tetapi dia tetap melakukan itu karena takut Karin tiba-tiba pingsan. Mereka menjadi pusat perhatian saat ada di lantai bawah karena Karin tidak mau melepaskan pelukannya pada Damar saat berjalan. Dia tidak peduli akan pandangan orang mengenai dirinya yang seperti perempuan gatal dan hobi menempel, atau terlalu terobsesi, apa pun itu, yang terpenting dirinya terus bersama Damar. Wajah Karin gak henti-hentinya tersenyum bahagia saat mendengar pernyataan dokter mengenai kehamilan. Ya, ternyata ada makhluk lain yang hidup dalam perut Karin. Hasil cintanya bersama Damar beberapa waktu lalu—meski pun kenyataannya Damar dalam kondisi tidak sadar karena Karin menjebaknya. Berbeda dengan Karin, saat mendengar kabar kalau calon istrinya hamil, reaksi Damar hanya datar saja. Di perjalanan pulang, Karin langsung memberitahukan kabar ini ke papa. Di satu sisi, papa merasa senang ketika tahu kalau anaknya mengandung dan dia akan mendapat cucu dari anak semata wayangnya itu. Di sisi lain, dia merasa sedih karena anaknya hamil di luar pernikahan. Padahal dia sudah berjanji pada mendiang istrinya dulu kalau dia akan menjaga anak satu-satunya dengan baik. Bagian sedih itu tidak dia sampaikan pada Karin supaya tidak membuat anaknya kepikiran dan malah akan membebankan Karin. “Kak Damar maunya anak cewek atau cowok?” tanya perempuan berpipi tembam ini sambil menatap kearah laki-laki yang tengah mengemudi di sebelahnya. Dia sudah selesai telpon dengan sang papa lima menit lalu. Lagi-lagi dia yang memulai pembicaraan karena Damar jarang sekali mau berinteraksi dengan dia kalau bukan Karin yang memulai lebih dulu. “Apa pun,” sahutnya singkat. “Kalo Karin pengennya cewek, sih. Nanti kalau udah lahir terus besar, bisa dipakein baju kembar-kembar sama aku. Ihh, pasti nanti lucu deh anak kita.” Kedua sudut bibir perempuan berusia 19 tahun ini mengembang. Membayangkan saat dia, Damar, dan calon anak mereka yang akan menjadi keluarga kecil bahagia di masa depan. “Ya.” “Aku belum ngasih tahu ke ibu, nanti aja deh aku telpon kalau kita udah sampe kantor.” Ibu itu maksudnya adalah mama dari Damar, calon ibu mertuanya. Papa bilang, jangan beri tahu yang lain dulu mengenai kehamilan dia. Cukup berbagi dengan dirinya dan ibunya Damar saja. “Kakak udah punya nama buat calon bayi kita belum? Nanti kalau anak kita lahir, aku serahin urusan nama sama Kakak. Apa pun nama yang Kak Damar kasih pasti ….” “Bisa diam sebentar, Karin? Mm, kepala saya agak pusing sekarang.” Lelaki itu memotong pembicaraan Karin, membuat perempuan yang ada di sebelahnya langsung cemberut. “Dari tadi kayanya Kakak tuh emang gak seneng sama kabar ini deh kalau aku perhatiin.” Nada bicara Karin langsung berubah ketus. “Bahkan lebih antusias papaku tadi pas tahu kabar kalau aku hamil anaknya Kak Damar.” Dia kini menunduk dan mengusap=usap perut ratanya. “Kasian banget kamu, Nak … gak disayang sama papa kamu sendiri. Tapi gak apa-apa, ada mama kok. Mama selalu sayang kamu.” Karin seolah-olah tengah bicara pada bayinya, dan sengaja bersuara sedikit memelas supaya lelaki itu merasa bersalah. “Kamu itu ngomong apa sih, Rin?” sahut Damar, terpancing. “Bukannya saya gak sayang—“ “Masih ada waktu buat batalin pernikahan kita. Karin gak akan maksa Kak Damar kalau Kakak gak mau hidup sama aku dan calon anak kita. Silakan aja Kakak bilang ke papa, biarin Karin yang ngurus anak ini sendiri. Karin bisa.” Damar memilih meminggirkan mobil yang dia kendarai dan menghentikannya di pinggir jalan. Karin agak panik, dia pikir lelaki itu menyuruhnya untuk turun dari sini dan pergi menggunakan kendaraan lain. Karin juga takut Damar mengiyakan ucapan dia barusan. Tetapi dugaannya salah. Lelaki itu memanggil Karin dengan nada yang lebih lembut, membuat perempuan berambut sebahu ini perlahan menatap calon suaminya lagi. “Saya minta maaf,” ucapnya, gak mau memperpanjang masalah. “Jelas saya sayang sama dia karena dia darah daging saya sendiri, Rin.” Karin melihat kearah telapak tangan milik calon suaminya yang kini dia tempelkan ke perutnya. Dia mengusap-usap perut rata Karin. Karin ikut menaruh telapak tangan di atas punggung tangan Damar, kemudian menarik kedua sudut bibir ke atas. Caranya lagi-lagi berhasil, Damar terlihat bersalah dan jadi lebih memperhatikannya. Dia memang tipe yang harus diancam dulu supaya mau mengikuti mau Karin. *** Sejak hamil, Karin jadi lebih sering main ke kos di mana calon ibu mertuanya berada. Di sana, dia seperti menemukan pengganti mendiang mamanya. Karin merasa senang ketika dia diperhatikan dan disayangi oleh Ibunya Kak Damar, seperti menemukan tempat pulang. Hatinya berbunga saat melihat calon ibu mertuanya peduli dan selalu mau mendengar cerita-cerita Karin. Sudah lama dia tidak mendapatkan kasih sayang seorang mama, sudah lupa rasanya bagaimana disayang oleh mama setelah mama pergi untuk selamanya beberapa tahun silam. Tetapi sekarang Karin tidak lagi merasa sedih karena ada Ibunya Kak Damar. Kadang-kadang Karin tidak suka dirinya yang semakin lemah karena tengah mengandung, tetapi saat dia sadar kalau anak yang dikandungnya adalah darah daging Damar, Karin tidak lagi mengeluh. Dengan adanya dia juga, Damar jadi lebih sering membalas pesan Karin yang sering mengeluh muntah-muntah, pegal, dan malas ke mana-mana atau membelikannya makanan-makanan yang diinginkan oleh perempuan itu. Padahal beberapa di antaranya tidak benar-benar karena keinginan calon bayi mereka, Karin hanya mau Damar lebih sering datang menemuinya saja di malam hari karena dia jadi jarang datang ke kantor papa. Malam ini saat Damar datang, Karin yang awalnya tengah menonton video youtube kini berpura-pura berbaring di atas ranjangnya dengan selimut yang digunakan untuk menutup pinggang sampai kaki. Ketika calon suaminya bertanya ada keluhan apa, Karin bilang hari ini kepalanya pusing dan beberapa kali muntah. Padahal tadi dia hanya muntah-muntah pagi hari saja. “Kamu jangan terlalu capek, ya? Sebentar lagi kita mau menikah, jadi jaga kesehatan. Jangan sampai drop,” kata dia yang dibalas anggukan—sok—lemah Karin. “Makasih, Sayang,” sahut Karin yang membuat Damar berdeham. Jujur, dia masih agak aneh dipanggil begitu oleh perempuan berusia 19 tahun ini. Biasanya, kata-kata itu hanya dia dengar dari mulut Amira. Tetapi, Damar mencoba untuk membiasakan diri. “Saya sudah bawa pesanan kamu. Mau dimakan sekarang atau nanti?” Karin sempat melirik kearah paper bag yang ditaruh di atas nakas, kemudian kembali menatap Damar. “Sekarang. Kalau aku minta disuapin, Kakak keberatan?” Damar menggeleng kemudian mengambil kotak sterofoam berisi kwetiau yang dia beli sebelum ke sini. Bisa saja Karin memesan langsung lewat aplikasi, tetapi perempuan itu ingin Damar yang datang langsung mengantarkannya. Selesai menyuapi Karin sampai makanan itu tidak bersisa—yang harus menghabiskan waktu sampai tiga jam karena perempuan itu banyak mengoceh untuk mengulur waktu supaya calon suami berlama-lama di sini, Damar pamit pulang karena sudah malam. Tapi Karin bilang, dia ingin dicium dulu sebelum pergi. Katanya, kemauan si jabang bayi. Lelaki yang sudah mengubah posisi menjadi berdiri, kini membungkuk supaya wajahnya sejajar dengan wajah perempuan yang duduk di pinggir ranjang. Damar mendaratkan kecupan singkat di kening Karin. Belum sempat dia menegakkan tubuhnya lagi, Karin menahan tangan kekar Damar dan kembali mendekatkan wajah ke bibir calon suaminya. Dia mengecup bibir Damar yang sedikit terbuka kemudian menarik kedua sudut bibir ke atas setelah dapat apa yang dimau. “Aku mau itu, bukan cuma di kening,” katanya setelah bibirnya agak menjauh dari wajah Damar. Dia menatap lekat-lekat manik mata lelaki itu. “Sudah, kan? Kalau begitu saya boleh pergi?” “Ya. Karin antar ke bawah, Kak.” “Gak perlu, kamu istirahat saja sekarang. Sudah malam.” Lelaki itu sempat menepuk pelan kepala Karin dua kali, lalu menegakkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari kamar calon istrinya. Senyum Karin lagi-lagi mengembang saat diperlakukan seperti itu, meski hanya hal kecil tetapi hatinya terasa berbunga-bunga. Dia semakin tidak sabar untuk menjadi istri Damar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD