5 | Saran Dari 'Teman Dekat'

1502 Words
Wanita berambut sebahu berwajah manis, berpipi tembam dengan mata bulat menggemaskannya itu gak henti-henti tersenyum setelah dia memakai gaun pengantin berwarna putih dan tampak mewah ini di fitting room butik. Dia mematut diri di depan kaca besar yang ada di hadapannya, kemudian memutar tubuhnya dan melihat detail bagian belakang gaun yang terpasang di tubuhnya. Karin sangat suka dengan gaun yang dipilih oleh pemilik butik. Katanya, Karin cocok dengan gaun cantik ini. Sekarang pukul tiga sore, selain Karin … ada Damar dan juga ibunya yang datang ke sini. Setelah selesai dengan urusan gaun, mereka akan mengambil cincin pernikahan di toko perhiasan yang sudah dipesan sejak dua minggu lalu. Karin sempat berpose sebentar di depan kaca dan memotret diri menggunakan ponsel, kemudian keluar dari sana karena tidak sabar memamerkan dirinya yang memakai gaun ini pada calon suami serta mertuanya. Saat Karin keluar dari fitting room, calon mertuanya memuji dan mendekat kearah Karin. Dia mengatakan seperti yang dibilang oleh pemilik butik. Jelas saja, senyum Karin makin mengembang. Damar sendiri juga baru keluar dari fitting room di sebelah Karin. Perempuan yang tengah hamil ini menghampiri calon suaminya dan langsung menempel pada lelaki itu. “Kak Damar, gimana gaunnya? Ibunya Kakak sama Ibu pemilik butik bilang aku cocok pake ini,” kata Karin sambil menggandeng lengan lelaki yang berdiri tegap di sampingnya. Damar melirik kearah Karin, kemudian mengangguk. “Ya, bagus.” “Kakak juga cocok banget lho pake ini, gantengnya nambah berkali-kali lipat. Aku jadi gak sabar pengen cepet-cepet hari H aja terus minta foto yang banyak,” kata Karin dengan riang yang buat calon mertuanya tersenyum. Yang dia tahu, Karin itu memang ceria dan polos, dia gak sadar kalau anaknya dijebak oleh perempuan itu. “Kita serasi banget kan, Kak?” Mendengar itu, Damar hanya membalasnya dengan senyum tipis. Di perjalanan menuju toko perhiasan, Karin terus menyandarkan tubuh di bahu calon suaminya. Gak mau jauh barang sedikit pun, selalu ingin menempel dengan Damar. Calon ibu mertua duduk di sebelah supir keluarga Karin yang memang ditugaskan untuk mengantar mereka bepergian di hari libur ini. “Nanti kalau Karin sama Mas Damar udah nikah, ibu ikut tinggal di rumahnya Karin, ya?” ucap perempuan itu yang menelusupkan jari-jemari di celah jemari Damar yang ditaruh di atas paha. Damar hanya diam saja, gak membalas genggamannya, juga gak menepis jari-jari lentik dengan kutek kuku warna lilac itu. “Gak usah repot-repot, Nak … biar aja ibu tinggal di kos. Ibu senang tinggal di sana, pemilik kos di tempatnya Damar baik. Suka jadi temen ngobrolnya ibu.” “Ihhh, gak ada tapi-tapian. Kos itu kan sempit, Bu. Terus kalau Ibu tinggal di kos, Karin harus ke sana setiap hari buat ketemu Ibu. Mending Ibu tinggal bareng kita, rumah papa besar lho. Masih ada satu kamar kosong yang bisa ditempatin sama Ibu. Kasurnya lebih besar, terus gak pengap kaya di kos.” Mendengar itu, calon ibu mertuanya terkekeh. “Ya udah, gimana baiknya aja nanti, ya?” “Aku udah bilang sama papa soal ini, dia bilang gak apa-apa Ibu ada di sana. Kalau bisa malem ini pindah juga gak apa-apa.” Seperti biasa, Karin adalah Karin. Keinginannya harus dituruti dan dia gak suka dibantah. Gak peduli itu merugikan orang lain atau apa pun, yang terpenting maunya terlaksana. Mungkin ini sifat buruknya yang paling susah diubah karena terbiasa dimanja oleh papanya. “Nanti kalau kalian udah nikah, Ibu baru pindah ke rumah kamu ya, Nak. Untuk sekarang, kita urus yang lebih penting soal persiapan pernikahan kalian dulu.” “Oke.” Karin sempat membetulkan letak kepalanya yang masih menyandar pada bahu Damar, kemudian menarik tangan kiri Damar yang menganggur untuk dia taruh di atas perut ratanya dan digerakkan seolah sedang mengusap si jabang bayi. Damar mengalihkan perhatiannya ke Karin, saat itulah perempuan ini mengerucutkan bibir dan menempelkannya pada pipi calon suaminya. Dia tidak malu untuk memeluk atau mencium Damar di depan umum, sementara berbalik dengan dirinya … Damar merasa risih. *** H-1 sebelum menikah, Damar mengirim pesan pada Amira. Dia kembali meminta maaf pada mantan calon istrinya karena sudah menggoreskan luka yang cukup dalam dan mungkin menimbulkan trauma untuknya di masa depan. Tetapi, Amira sama sekali tidak mau membalas pesannya meski Damar yakin dia pasti sudah membaca itu. Kontaknya tidak diblokir, hanya saja … Damar gak lagi bisa melihat status w******p milik perempuan yang dia cintai. Sepertinya, dia di-hide. Foto profil w******p milik Amira yang awalnya terpasang foto pre-wedding mereka berubah menjadi foto wallpaper hitam polos sejak hari di mana Damar berkata jujur tentang semuanya pada Amira dan keluarganya. Di malam sepi dalam kamar kosnya, Damar menangis. Dia menyesali apa yang telah dia lakukan pada Karin waktu itu. Dia ingin waktu kembali diulang dan dia janji akan memperbaiki kesalahan. Dia bisa tegar di hadapan semua orang, tetapi saat dia sendirian dan kembali mengingat pernikahannya dengan Amira yang gagal berantakan … hatinya sakit. Kenapa semua harus berakhir seperti ini? *** Acara pernikahan Karin dan Damar hari ini berjalan lancar dan megah. Tamu yang datang memang terbatas, tetapi semuanya berkelas. Banyak kolega-kolega papa juga yang hadir di sana. Karin lelah, sempat mual beberapa kali karena ulah janin dalam perutnya. Tetapi pemilik wajah bulat itu terus berseri di samping Damar. Baginya, gak ada yang lebih bahagia dari ini. Menikah dengan orang yang dia cintai meski harus menggunakan cara kotor. Karin larut dalam bahagia sendiri, sampai merasa jika dirinya sudah menikah dengan Damar maka kedepannya mereka akan terus bersama-sama dan hidupnya sudah sangat sempurna. Padahal belum tentu. Mulai malam ini dan malam-malam seterusnya, Damar tidur di kamar milik istrinya. Ibu mertua sendiri menginap di kamar tamu, dia akan pindah satu minggu lagi. Katanya menunggu sampai masa waktu kosnya berakhir karena sudah bayar untuk tiga bulan. Saat Damar ingin masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, perempuan berusia 19 tahun ini ikut masuk ke dalam. Jelas saja, satu alis Damar langsung terangkat ke atas. “Saya ingin mandi, atau kamu mau duluan?” tanya Damar. Menatap Karin yang sekarang menunjukkan sederetan gigi putihnya. “Berdua aja, kan kita sekarang udah jadi suami-istri.” Damar sempat menatap manik mata perempuan itu yang berwarna hitam gelap, kemudian kembali bersuara, “Kamu saja dulu yang mandi, saya tunggu di luar.” Saat Damar ingin pergi, dia menahan lengan suaminya. “Kenapa sih gak mau bareng? Waktu itu aja maksa-maksa Karin buat lakuin i ….” “Bisa jangan bawa-bawa soal itu?” Nada bicaranya berubah lebih tegas. Dia sempat melirik kearah tangan Karin yang masih memegang lengannya lalu menepis pelan. “Bersihkan dirimu dulu, setelah itu baru saya.” Setelah mengucap kata itu, Damar berjalan menjauh dan menutup pintu kamar mandi dari lua. Menyisakan Karin yang sekarang cemberut dan menghentak-hentakkan kaki. Dia pikir, Damar akan tergoda dan mau menyentuhnya malam ini. Tapi ternyata Karin salah. Karin berbaring di sebelah laki-laki yang tidur memunggunginya. Tadi, dia sempat keluar sebentar untuk makan pizza sambil mengobrol dengan papa saat Damar mandi. Ketika kembali ke kamar, suaminya sudah tidur pulas. Mungkin kelelahan karena padatnya acara mereka dari pagi sampai malam. Perempuan berpipi tembam ini sempat memperhatikan wajah tampan Damar sambil memeluk lelaki itu dari belakang. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas saat telunjuknya bermain-main di hidung mancung milik suaminya itu. Dirinya tertawa kecil ketika Damar sedikit terusik, ekspresinya lucu. Karin sempat mencium pipi Damar, kemudian memilih berbaring di sebelahnya dengan posisi masih memeluk sang suami. *** Seminggu setelah menikah, Karin kesal karena Damar gak mau menyentuhnya. Harus Karin yang memulai dan berinisiatif lebih dulu. Itu juga butuh usaha ekstra dan kalau dia merespons paling hanya berakhir dengan kissing. Selain masalah ranjang, sebenarnya Damar termasuk laki-laki yang baik dan peduli. Karin sempat tanya kemarin, dan lelaki itu menjawab kalau dia cuma gak mau membuat janin yang ada di perut istrinya kenapa-napa. Tapi Karin rasa, alasannya bukan karena itu. Pun setiap tidur, Damar selalu saja memunggunginya. Pernah Karin sedikit memaksa supaya Damar tidur berhadapan dengan dia dan membalas pelukannya, tetapi besok-besok Damar pasti akan kembali ke kebiasaan asli. Perempuan berusia 19 tahun ini sampai lelah sendiri. Karin kembali bercerita dan meminta saran pada teman baiknya, yang mana adalah orang yang menyuruh dia melakukan ide nekat dan nyerempet gila yaitu memberi Damar obat perangsang waktu itu. Dia sangat percaya pada temannya karena memang dari dulu mereka dekat. Padahal, temannya itu agak berandal dan memang hobi membuat orang-orang mengikuti usul-usul sesat yang dia sarankan. “Kamu bilang dia itu masih belum sepenuhnya ngelupain mantan, kan?” “He’em, aku sebel banget tau! Padahal aku udah lakuin banyak cara supaya dia lebih liat aku dan bisa lupa. Tapi ternyata gak segampang itu.” “Kalau gitu, coba kamu tampil pake style yang mirip banget sama mantannya dia. Rambut, pakaian, cara ngomong, cara bersikap, siapa tau aja dia bisa luluh? Atau lakuin apa kek, kamu marahin, bilangin papa kamu sekalian biar jabatannya diturunin.” Karin menggigit bibir bawahnya. “Bagian belakang aku gak berani. Aku tuh cinta banget sama dia, Faye. Gak mungkin aku biarin nama dia jelek di hadapan papa. Aku gak bisa.” “Ya udah, masih ada opsi pertama. Kamu coba aja dulu.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD