“Kak Damar, aku bisa jelasin semuanya. Kak Damar dengerin dulu!” Lelaki itu mengabaikan Karin yang mengikutinya saat hendak berjalan membuka lemari dan mengambil handuk. “Aku lakuin itu karena terpaksa, soalnya aku cinta sama Kak Damar, aku maunya Kakak cuma sama aku. Kak Damar aku minta maaf sama Kakak ya. Plis jangan ceraiin aku.” Damar menepis tangan Karin yang memegang lengannya berulang kali. Dia marah besar, bahkan malas menatap wajah sang istri yang ternyata sudah tega menjebak dan membuat dia masuk dalam permainan perempuan itu. “Kakak aku minta maaf, aku janji perbaikin semuanya. Tapi aku gak mau kita cerai. Kasih aku kesempatan Kak Damar, plis.” Langkah Karin terhenti saat sudah sampai dekat pintu dan mendapati kalau suaminya menutup pintu dari luar dengan kencang. Perempuan

