10 | Awal Mula Kehancuran Karin

1462 Words
“TARAAAA!” “Ih cantik banget!” Mata perempuan hamil ini berbinar saat Faye mengeluarkan tas dari dalam dust bag. Tas merk mahal yang dijual dengan harga bahkan kurang dari setengah harga beli, siapa wanita yang gak tergiur? “Banget, sama kaya yang beli dong pastinya.” Perempuan dengan soflen warna biru dan kutek tangan merah menyala, memberikan tas itu pada calon pemilik baru. “Sayang, lihat deh … warnanya ini duh, kayanya aku bakal nyesel kalau gak ambil ini kemarin,” kata Karin yang membuka dengan hati-hati sambil memperlihatkannya pada Damar yang duduk di sebelah dia. Damar yang melihat itu, tersenyum tipis sambil memberi respons, “Ya, bagus.” “Aku terima ya, Faye. Thank you lho udah nawarin ke aku,” lanjut Karin setelah puas melihat-lihat tas baru yang dia pegang. Uangnya sudah dia transfer kemarin ke Faye, dia mengaku kalau uang itu semuanya dari Damar. Padahal, uang 20 juta kemarin dikirim dari papa. Mereka menunggu dua temannya lagi yang sedang dalam perjalanan, ada Celine dan Vinny. Mereka jalan berdua menggunakan mobil Celine, karena pacar mereka gak bisa mendampingi hari ini. Masih sibuk kerja. Kalau bukan karena menemani Karin, Damar gak akan mau pergi ke sini. Dia selalu jadi bahan ledekan mereka secara terang-terangan. Walau tahu maksudnya bercanda, tetap saja dia merasa kurang nyaman. Vinny blak-blakkan bilang kalau dia juga mau dibelikan tas hitam—yang merupakan sisa tas yang tersisa di Faye, karena hanya dia sendiri yang gak membeli tas itu. Celine ambil yang warna putih, sementara Karin maroon. “Ayo dong Sugar Daddy, cuma 25 juta kok. Iya kan, Beb?” bujuk Vinny yang meminta persetujuan Faye. “Iya Om, ngabisin dagangan aku satu lagi nih.” Alis Damar bertaut saat mendengar nominal yang disebutkan oleh Vinny. Dia refleks menatap istrinya dan Karin yang gelagapan langsung mencari alasan. Dia bilang mereka cuma bercanda dan Damar gak perlu menanggapi. Karin berusaha mengalihkan pembicaraan supaya mereka gak terus-terusan membahas nominal harga tas. Faye, Celine, dan Vinny gak tahu kalau Karin merahasiakan ini dari Damar. Beruntungnya, mereka cepat teralihkan ketika Karin membahas soal rencana mereka pergi ke Bali dalam waktu dekat ini. Ketiganya pernah bilang, menunggu kandungan Karin kuat dulu untuk dibawa bepergian menggunakan transportasi udara baru mereka pergi. Perempuan hamil ini berpura-pura mengeluh sakit kepala setelah lagi-lagi Vinny membahas masalah tas milik Tante Faye yang akan dijual. Dia bilang Celine beruntung dapat laki-laki yang sekarang, jauh lebih kaya disbanding mantannya sampai mudah membujuknya untuk membelikan tas tersebut. Karin membuat perhatian mereka tertuju padanya lagi. Damar yang cemas, langsung mengajak Karin pulang karena takut istrinya kenapa-napa. Karin memasang wajah sedih karena harus pulang lebih dulu, padahal dalam hati dia sangat senang karena bisa terhindar dari mereka secepatnya. Damar juga merasa begitu, malas berada lama-lama di sini karena berhadapan dengan teman-teman Karin. Untung saja di perjalanan pulang, Damar gak lagi membahas masalah ini karena teralihkan dengan kondisi sang istri. Dia bertanya keluhan apa lagi yang dirasakan Karin, dan berencana memanggil dokter keluarga setelah mereka sampai rumah. Tetapi Karin bilang, kondisinya sudah lebih mendingan daripada tadi. Dia bilang pada Damar kalau istirahat di kamar saja mungkin sudah membuatnya merasa jauh lebih baik nanti. *** “Papa, Karin pergi dulu ya. Karin janji sering main ke sini atau ke kantor buat nemuin papa,” ucap perempuan yang berusia 18 tahun ini yang tengah memeluk sang papa. Lelaki itu sedih sekali karena anaknya harus keluar dari rumah dan ikut bersama suaminya. Tetapi melihat Karin bahagia dengan Damar, dia hanya bisa mendoakan yang terbaik. “Iya, kamu jangan nakal di sana ya? Kalau ada apa-apa bilang sama papa, oke?” Karin mengangguk. Saat pelukan mereka terlepas, sang papa sempat mengecup kening Karin dan mengantar anaknya ke halaman rumah. Melihat mata papa berkaca-kaca, Karin jadi menangis. Dia pikir akan mudah untuk pergi ke rumah baru bersama suami yang dia cintai, tetapi ternyata gak seperti yang dia bayangkan. Dia sedih harus meninggalkan papa dan segala kemewahan di rumah ini. Damar membukakan pintu mobil bagian depan untuk sang istri, kemudian Karin masuk ke dalam. Karin sempat melambaikan tangan ke papa sebelum pergi. Saat kendaraan yang dibawa menantunya mulai menjauh, airmata lelaki itu baru menetes. Rumah semakin sepi setelah anak semata wayangnya pergi. Dia memulai kehidupan baru bersama Damar di rumah minimalis tanpa ART. Hanya membawa barang secukupnya sesuai kebutuhan karena kalau seluruh barang-barang Karin dibawa ke sana maka gak akan muat. Kamar mereka akan penuh sesak. Namun ketika Karin melihat wajah semringah Damar, perempuan itu merasa sedikit tenang. Dia percaya Damar gak akan mengecewakannya. Sampai di sana, kondisi rumah sudah benar-benar rapi. Untuk kamar dia dan Damar, ada di bagian depan dan kamar ibu mertua di bagian belakang. Kamar depan dipasang AC karena keinginan sang istri. Sementara ibunya Damar bilang dia gak perlu pakai AC karena gampang masuk angin, cukup kipas saja. Di minggu-minggu pertama, rasanya biasa saja. Cuma memang lebih lelah karena semua dilakukan sendiri. Dia gak bisa lagi menyuruh ART atau supir, menyuruh ibu mertua pun pikir-pikir karena merasa gak enak hati. Untungnya, dia sudah bisa masak sedikit-sedikit setelah diajari ibunya Damar. Kalau memang dia ingin sesuatu yang gak bisa dibuat, Karin akan pesan melalui online. Untuk masalah pakaian, dia juga sekarang mencuci, menjemur, dan menyetrika pakaiannya dan Damar. Di awal-awal dia gak bisa menyetrika dengan benar, ada ibu mertua yang mengajari jadi sekarang Karin bisa melakukan itu sendiri. Mertuanya baik sekali, jika ada hal-hal basic dalam rumah tangga yang mudah dikerjakan tetapi Karin belum bisa, dia akan mengajarkan pada menantunya tanpa merendahkan atau nyinyir. Karena sekarang sudah masuk musim hujan, jadi dia gak bisa sering-sering keluar untuk pergi ke kantor papa. Jarak dari sini ke kantor cukup jauh, makanya dia jadi lebih suka di rumah bersama ibu mertua. Karin sedang suka bersih-bersih rumah dan menanam tanaman di halaman belakang. Dia yang awalnya kurang bisa terima harus tinggal di rumah minimalis, sekarang sudah mulai menerima takdir. Gak seburuk yang dia bayangkan, kok. Dirinya jadi punya banyak aktivitas dan jadi sibuk. “Ih, kamu tuh sejak pindah jadi susah banget deh dihubungin,” ucap Faye yang buat Karin terkekeh. Ibu mertuanya lagi pergi ke supermarket yang berlokasi di depan perumahan. Sementara Damar yang sudah pulang kerja, baru keluar kamar dan niatnya mau membersihkan diri. “Sorry ya, Beb. Aku tuh lagi suka banget beres-beres rumah sama berkebun gitu. Gak nyangka ternyata happy ngejalaninnya.” “Pantesan sekarang snapgram kamu tuh isinya rutinitas beres-beres sama foto-foto tanaman terus.” “Maklumin aja ya, kalo gak ada kegiatan bosen juga ntar aku,” ucap perempuan hamil yang sekarang duduk di pinggir ranjang dan membelakangi pintu yang sedikit terbuka. “Kalau kamu gak ngikutin saranku buat naruh obat di minuman dia waktu itu, mungkin aja sekarang kamu lagi galau-galaunya nangisin suamimu yang nikah sama orang lain,” kata Faye yang buat Karin kembali teringat caranya dulu mendapatkan Damar. “Banget, mungkin kayanya aku bakalan nekat buat acak-acak acara pernikahan suamiku sama calon istrinya?” sahut Karin sambil tertawa. Dia gak sadar kalau ada laki-laki yang sampai gak jadi membuka pintu—dia balik lagi karena lupa membawa handuk—karena mendengar ucapan Karin. Biasanya handuk sudah tergantung di halaman belakang, tetapi tadi dia baru ingat kalau Karin bilang dia mencuci handuk Damar yang sudah dipakai satu minggu dan sempat menyuruh Damar mengambil handuk baru di lemari. “Pokoknya aku gak akan diem aja sih. Untungnya ada kamu yang bantu nyaranin aku buat jebak Kak Damar pakai obat perangsang itu. Dia gak bisa lari dari tanggung jawab karena udah ambil keperawanan aku. Terus beruntungnya juga aku langsung hamil anak dia." Saat mendengar pintu kamar dibuka dengan kencang, Karin kaget setengah mati dan refleks mematikan telponnya. Dia langsung berdiri dengan jantung berdebar dan gugup. “K-Kak Damar katanya tadi mau mandi, kok ….” “APA MAKSUD DARI KATA-KATA KAMU BARUSAN, HAH? Dia marah. Karin tahu dari ekspresi wajah dan nada bicara Damar yang berubah. “Apa? Karin gak ngomong apa-apa.” Dia masih bertingkah polos walau pun jantung serasa mau lepas dari tempatnya. Dia gak tahu kalau Damar mendengar obrolan dia dengan Faye. “KAMU PIKIR SAYA BODOH, KARIN? JADI AWAL MULA DARI SEMUANYA ITU TERJADI KARENA ULAH KAMU? KAMU YANG JEBAK SAYA?” “Kak Damar jangan asal nuduh aku! Aku tuh cuma bercanda aja sama Faye, jangan diseriusin bisa kan?” “APA MAKSUD KAMU BERCANDA? KAMU BUAT HUBUNGAN SAYA DAN AMIRA HANCUR BERANTAKAN, KARIN. MEMANG PEREMPUAN JAHAT KAMU!” Dia menunjuk Karin tepat di wajah, telunjuknya gemetar menahan emosi. Kalau saja Karin bukan perempuan, Damar pasti akan langsung menampar mukanya sekarang. “SAYA SUDAH BERUSAHA JATUH CINTA DENGAN KAMU DAN MELUPAKAN AMIRA KARENA SAYA PIKIR KAMU TULUS. TETAPI TERNYATA KAMU LICIK DAN EGOIS. INGAT YA, JANGAN HARAP SETELAH INI SAYA AKAN BERSIKAP BAIK DENGAN KAMU. SETELAH ANAK SAYA DALAM KANDUNGAN KAMU LAHIR, SAYA MAU KITA CERAI.”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD