BAB 3

1097 Words
"Kau tinggal di mana?" Alfdrein bertanya sambil menunggu kopi pesanannya datang. "Oh itu, flat di sekitar sini. Tidak jauh kok. Memangnya kenapa?" tanya Sheeran sambil mengangkat alisnya penasaran. "Ah tidak, hanya bertanya. Kupikir aneh saja, kau terlihat sangat frustrasi tadi. Jadi mungkin saja kau kabur dari rumah atau sejenisnya. Siapa tahu kan?" "Aku? Kabur dari rumah? Itu konyol. Aku tidak akan meninggalkan rumahku, yang ada rumahku yang akan meninggalkan diriku." Sheeran menyahut dengan wajah kecut. Baru ingat apa yang harus ia lakukan sekarang. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Tidak mungkin jika ia tiba-tiba menolak tawaran baik Alfdrein yang ingin menraktirnya secangkir kopi mahal yang sangat jarang ia rasakan. Hidup di kota besar seperti kotanya ini bukan sesuatu yang mudah. Selain harga-harganya yang lebih tinggi dan menguras kantong, persaingan dalam mencari pekerjaan pun sangat susah. Dan pada akhirnya banyak penduduk yang menggelandang di jalanan. Astaga, membayangkan hal itu membuat Sheeran ngeri sendiri. Menjadi tunawisma adalah hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini. "Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa maksudmu, dengan rumah yang meninggalkanmu? Bukannya, rumah sama sekali tak punya kaki?" tanya Alfdrein, berpura-pura polos. Iblis satu itu berlakon dengan sangat baik sejak tadi. Aura hitam yang selalu mendominasinya pun bahkan sama sekali tak terdeteksi. Ia layaknya seorang manusia biasa di luaran sana. Alfdrein memang sangat totalitas saat menginginkan sesuatu. Begitu kaki tangannya menemukan keberadaan seorang Sheeran Chatalien, ia langsung menemuinya dan bersikap seolah-olah yang terjadi pada mereka adalah sebuah kebetulan semata, lalu mengajaknya meminum secangkir kopi yang sebelumnya bahkan belum pernah ia rasakan. Tapi tidak masalah, demi mendapatkan hati Sheeran, ia rela melakukan apa pun. Meski hal itu sangat bertolak belakang dengan kepribadian seorang iblis. "Jangan bercanda kau, mana ada rumah yang punya kaki? Kecuali itu siput, baru aku percaya." "Lalu, apa maksudmu dengan, rumah yang meninggalkanmu?" Sheeran menarik napasnya dalam-dalam. "Ceritanya panjang," katanya dengan raut yang sangat melas. "Aku punya waktu untuk mendengarkan," sahut Alfdrein. "Tapi kita kan baru kenal---" Ucapan Sheeran terpotong begitu saja ketika seorang pelayan datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas. Aroma segarnya langsung menusuk indra Sheeran, membuat gadis satu itu refleks memejamkan mata dan menghirup baunya dalam-dalam. Ia selalu suka dengan aroma kopi, rasanya begitu menenangkan dan membuatnya bahagia. "Terima kasih atas kopinya yang menakjubkan," katanya kemudian kepada pelayan yang hendak beranjak pergi itu. "Sama-sama Nona, sudah menjadi kewajiban kami menyediakan kopi terbaik untuk pelanggan kami." Lalu, pria dengan baju serba hitam itu beranjak pergi, meninggalkan Sheeran yang tengah terkagum-kagum dengan cangkir kopinya dan Alfdrein yang bertanya-tanya sebab respon luar biasa heboh dari Sheeran. Alfdrein lalu membiarkan saja Sheeran yang menyesap kopinya. Gadis itu terlihat benar-benar begitu rileks. "Ah iya, sampai di mana kita tadi?" tanya Sheeran begitu sadar Alfdrein hanya diam dan menontonnya saja. "Sampai kita baru kenal?" Alfdrein menyahut dengan satu alis tebalnya terangkat tinggi. "Ah iya, betul. Kita baru kenal, jadi, rasanya aneh saja menceritakan masalah pribadi kepada orang yang baru kau kenal bahkan belum sampai satu jam. Itu tidak logis," jawab Sheeran dengan gelengan beberapa kali. "Kenapa tidak? Siapa tahu aku bisa membantumu, kan?" "Hah?!" Sheeran mendengkus dengan keras. "Membantuku? Kau jangan memberi harapan palsu wahai Tuan Alfdrein Locano yang terhormat. Maaf saja, tapi aku pikir, orang asing sepertimu tidak akan mungkin bisa membantuku menyelesaikan masalah sialanku." Sheeran memandang kosong pada kepulan asap kopinya. Ia benar-benar buntu dengan masalahnya. Ia harus cepat menyelesaikan acara minum kopinya ini dan mencari uang yang banyak untuk utangnya kepada Nyonya Sarah. "Memangnya apa masalahmu? Aku akan benar-benar membantumu jika kau memang benar-benar butuh bantuanku. Yah mungkin kita memang baru kenal, tapi apa masalahnya? Setiap manusia bukannya harus saling tolong-menolong?" "Kau benar juga sih. Tapi aku sama sekali tak yakin kau bisa membantuku. Kau memang terlihat sangat kaya, tapi biasanya orang kaya itu tidak akan mau meminjamkan kaum miskin sepertiku ini uang. Kalaupun kaum sepertimu memang mau meminjamiku uang, pasti ada timbal baliknya yang sangat besar. Tentu aku tidak mau jika hal itu terjadi, aku tidak akan membiarkan diriku terjebak pada kesengsaraan," jawab Sheeran panjang lebar lalu diakhiri dengan dirinya yang menyesap kembali kopinya dengan penuh nikmat. "Jadi, intinya kau sedang memerlukan banyak uang? Untuk apa?" Alfdrein sebenarnya tahu apa yang sedang menimpa Sheeran, tapi ia tak mungkin mengatakan bahwa ia memang benar-benar tahu pada gadis itu. Akan terdengar sangat rancu jika ia mengatakan langsung pada intinya. Bisa jadi juga gadis itu akan mencurigainya yang tidak-tidak. Memang nya dari mana ia bisa tahu tentang hal yang dianggap sebagai 'privasi' itu? Bodoh kalau Alfdrein bilang dia seorang iblis dan bisa mengetahui segala yang terjadi pada Sheeran. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, sekali pun iblis seperti dirinya. Bisa saja Sheeran takut padanya, lalu menjauhinya, dan segala hal yang ia lakukan akan berakhir sia-sia. Ia tidak bisa memiliki Sheeran. Ia tidak bisa memiliki seorang keturunan dari gadis yang ia cinta setengah mati. "Aku sebenarnya tidak ingin mengakuinya. Itu akan membuat diriku terlihat sangat menderita dan miskin. Tapi memang begitulah yang terjadi. Aku membutuhkan uang dalam jumlah yang banyak. Ya sebenarnya untuk membayar sewaku selama tiga bulan belakangan dan juga kelipatannya. Sialan sekali memang wanita gendut itu, ia memanfaatkan situasi dengan sangat baik," cerita Sheeran tanpa henti. Padahal ia sendiri yang ingin menjaga privasinya, tapi ia sendiri pula yang membongkarnya. "Jadi itulah alasan kenapa bisa rumahku akan meninggalkanku. Aku tahu, sekarang kau pasti sedang menghinaku. Silakan saja, aku tidak peduli. Itu bukan sesuatu yang penting untukku. Aku gadis yang kuat kok." "Oke, baiklah. Kau cerewet juga ya rupanya," balas Alfdrein lalu pura-pura menyesap kopinya. Sudah ia bilang, ia belum pernah mencoba minuman itu sekali pun, jadi ia menghindari risiko terjadi sesuatu pada dirinya. Jika teman-teman sesama iblisnya tahu ia mencoba makanan manusia, ia akan menjadi bahan lelucon yang tepat saat mereka mengadakan pertarungan antar pemimpin tertinggi iblis. "Tenang saja Sheeran, karena kau sepertinya orang yang baik, aku akan meminjamkanmu sejumlah uang sebanyak yang kau butuhkan." "Hah? M-maksudmu? Kau yakin? Kau tidak berbohong kan?" tanya Sheeran dengan bola membulat lebar, sama sekali tak mempercayai ucapan si iblis berwujud tampan di depannya itu. "Tentu saja. Kenapa tidak? Aku yakin kau akan mengembalikan uangku." Dan sebuah senyum misterius terbit di wajah Alfdrein, menambah kesan misterius pada pribadinya yang ia manipulasi menjadi sedemikian hangat. Ia rasa tak butuh waktu yang lama hntuk mendapatkan hati seorang Sheeran Chatalien. Ah, membayangkan masa depannya membuat ia bahagia sendiri. "Oke. Baiklah. Deal ya? Kau jangan mengingkari ucapanmu. Aku pegang kata-katamu." "Iya, iya. Tenang saja Nona Bawel, aku orang baik. Kau bisa memegang kata-kataku ini." "Sebenarnya aku tidak suka kau sebut begitu, tapi ya sudahlah. Hari ini aku ingin menjadi orang baik. Jadi kau bisa selamat." *******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD