BAB 2

815 Words
"Kau bodoh sekali Sheeran, kau pikir kau bisa mendapat uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu?" Sheeran merutuki kebodohannya di sepanjang perjalanan. Sesekali ia menendang batu kerikil di jalanan. Terlihat sekali kefrustrasian di wajahnya. Ia benar-benar buntu. Ia sudah tak memiliki sepeser pun uang dan barang-barangnya sudah habis terjual untuk menghidupinya selama beberapa hari belakangan ini. Sudah nasibnya memang, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai juru masak di sebuah kedai pinggir kota hanya karena kesalahan kecil. Ia tak sengaja menumpahkan sop sepanci yang ia buat, alhasil banyak pelanggan di kedai itu yang memilih tak jadi makan di sana. Dan itu membuat bosnya sangat marah besar karena penghasilan kedai yang tak seberapa. Selama beberapa hari belakangan pun ia sudah mencoba mencari pekerjaan, mengelilingi kota dan keluar-masuk kedai-kedai makanan yang sekiranya bisa ia masuki. Namun nasibnya memang terlalu sial, baru bekerja sehari sudah dipecat, ada lagi yang langsung menolaknya karena memang tidak ada lowongan sama sekali. "Ah, apa aku harus mati saja biar terbebas dari utang-utangku? Ya Tuhan, tapi aku takut. Bagaimana kalau nanti aku tidak dimasukkan ke surga? Bagaimana nanti kalau Tuhan menolakku? Ah tidak-tidak. Mati itu bukan pilihan." Sheeran menggeleng-gelengkan kepalanya. Menolak usul konyol yang memenuhi otaknya. "Tapi aku harus apa? Tidak ada bank yang mau meminjamiku uang!" Jelas, Sheeran tak memiliki barang atau benda yang bisa ia gunakan sebagai jaminan. Akan sangat sulit mendapatkan pinjaman dari badan-badan resmi seperti itu. Lalu, kenapa ia tak meminjam saja pada renternir? Ah, Sheeran bukan gadis bodoh. Perlu kalian tahu, meminjam pada mereka sama saja dengan bunuh diri. Bunga yang mereka beri bisa membuat leher tercekik dengan sendirinya. Sheeran tidak mau berurusan dengan mereka, sekali pun kondisinya sangat terdesak. Sehari dua hari dia masih bisa bernapas lega, tapi hari ketiga dan seterusnya itu akan menjadi mimpi buruk yang selalu mendatanginya setiap hari, setiap waktu, entah siang atau malam. "Sheeran, apa kau perlu menjual ginjalmu?" Sheeran mengacak-acak rambutnya. Ia tidak suka dengan pemikirannya itu, tapi hanya itu hal yang sekiranya bisa ia lakukan dan mendapat uang dengan jumlah banyak. Satu ginjal bisa ia hargai lebih dari seratus ribu dolar. Ah, dengan begitu ia bisa menutupi utang-utangnya kan? Tapi, serius. Ia memang akrab dengan pisau dapur, tapi tidak untuk pisau bedah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana para dokter itu mengiris kulit perutnya, memotong ginjalnya dan menggambilnya. Tidak, tidak, tidak. Itu mimpi yang sangat buruk untuknya. Itu pasti akan sangat menyakitkan. Sheeran tidak bisa melakukannya, ia menyayangi tubuhnya dengan sangat. Dughh!! "Ish Aww! Holy sh*t! What the fvck! Apa-apaan ini?!" umpatnya ketika ia merasakan kepalanya menabrak sesuatu yang sangat keras. Ia mendongak dan matanya langsung bersibobrok dengan mata kelam yang tengah menatapnya dalam itu. Mata yang terasa sangat familier namun ia lupa pernah melihatnya di mana. Mata yang menyedot seluruh atensinya, membuat Sheeran seolah enggan untuk menatap yang lain. Lalu, pria di depannya itu tersenyum dengan begitu manis. Seolah tak berpengaruh oleh u*****n kasar Sheeran atau karena gadis itu yang sebelumnya telah menabraknya dengan sedemikian keras. "Hai, pasti sangat sakit ya? Maaf sekali, aku tidak sengaja menabrakmu tadi," katanya masih dengan senyum yang menghiasi. Sheeran mengerjapkan matanya. Ia menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau pasti sedang bermimpi Sheeran, mana ada pria berhati malaikat seperti dia? Sudah kau maki tapi masih sebaik itu. Ah, jangan lupakan wajahnya. Kau pasti benar-benar sedang bermimpi. Kau harus cepat sadar Sheeran, bagun dari mimpimu. Jangan tidur saja, kau perlu melunasi utang-utangmu pada Nyonya Sarah," monolog Sheeran persis seperti gumaman. Tak sadar jika pria di depannya tengah terkekeh geli mendapati responnya yang demikian itu. "Hey, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu pada kepalamu?" tanya pria itu berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang Sheeran lakukan. Sheeran mendongak, ekspresinya terlihat sangat lucu ketika bola matanya yang seterang madu itu berbinar penuh ketidak-enakan. "Ah-ah, aku, aku kira ini mimpi. J-jadi, j-jadi ya begitu. Kau tahu kan, tidak ada wanita di luar sana yang tidak kagum melihat pria bak pangeran sepertimu," katanya terus terang, sama sekali tak merasa malu. "Ah iya, lagi pula kepalaku ini sekeras batu. Jadi tentu saja, menabrak dadamu yang tidak seberapa keras itu, tidak akan membuatnya pecah lalu berceceran ke jalanan," guraunya diselingi cengiran lebar. Sosok pria tampan itu terkekeh dengan begitu elegannya. "Tentu saja," katanya. "Kalau begitu, bagaimana dengan segelas kopi? Ya sebenarnya sebagai tanda maafku atas insiden ini." "Ah-iya, tentu saja. Tidak ada yang tidak mau kau ajak minum kopi bersama. Kau terlalu tampan untuk dilewatkan dan yang gratis selalu menjadi idaman." "Oke, tidak mungkin kan, kita minum bersama tapi tidak tahu nama masing-masing. Aku, Alfdrein Locano. Kau?" "Wah, nama yang bagus. Kau bisa memanggilku Sheeran, Sheeran Chatalien." "Oke Sheeran. Nama yang bagus juga. Mari kita pergi ke kedai bersama dan aku akan menraktirmu secangkir kopi," kata pria itu dengan manisnya. "Baiklah, baiklah. Ayo." Sheeran benar-benar lupa dengan tujuannya. Padahal seharusnya sekarang ia masih berada di jalanan, mencari lowongan kerja agar ia bisa mendapat uang yang banyak. Tapi ya sudahlah, terserah dia saja. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD