Pov dini
Perlahan aku membuka mata, dan kuperhatikan sekelilingku yang nampak asing, kuputar memori Otaku, untuk mengingat Apa yang sebenarnya terjadi, tak terasa air mataku terurai membasahi pipi setelah sadar dengan apa yang terjadi menimpaku tadi malam.
Bayangan kak Dani yang mau menggagahiku, terlihat jelas di pelupuk mata, seolah layar yang diputar kembali, membuatku menginginkan untuk tetap tertidur dan tak bangun lagi, rasanya tidak sanggup untuk menerima semua kenyataan yang kualami.
Namun Semakin Ku Pejamkan Mata, maka semakin nampak jelas kejadian malam tadi, terlukis di pikiranku dengan sempurna. Akhirnya kucoba bangkit untuk duduk, lalu kupindai semua sudut yang ada di kamar ini, terlihat jam dinding menunjukkan pukul 07.00 pagi.
AAAARRRRRGGGGGGH!!!
Teriakku sangat kencang, sekencang yang ku bisa, setelah melihat ada sosok hitam besar yang menyembul dari samping bawah ranjangku. membuatku membenamkan wajah dengan kaki yang kutekuk.
Cklek
Terdengar suara pintu dibuka dengan cepat, lalu ada Deru langkah yang yang berlari menghampiriku, tiba-tiba tubuhku ditarik untuk didekatkan ke d**a bidang, yang aroma parfumnya tercium sangat wangi memenuhi rongga hidungku, lalu usapan lembut terasa di punggungku, memberi ketenangan bagi orang yang sedang merasa ketakutan.
"Kenapa, Din. udah nggak apa-apa, disini aman, kamu tenang ya" ucap suara yang tak asing di telingaku, suara yang lembut yang membuatku akan selalu mengingatnya.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, lidahku terasa kelu suaraku, tercekat di tenggorokan, tertahan oleh suara tangis yang keluar.
"Udah, udah, jangan nangis" ucapnya lagi sambil terus mengusap punggungku, sesekali usapan itu pindah ke rambut yang tak tertutup hijab.
Lama berada di pelukannya membuat aku merasa sedikit lega akhirnya dengan perlahan aku melepaskan pelukan itu.
"Kenapa kamu teriak" tanya kak dali dengan lembut.
"Aa aaaada han han hanttu" jawabku pelan sambil menunjuk ke arah di mana tadi penampakan tadi muncul.
"Kamu ngelihat gak Dar" tanya Kak dari kepada seseorang yang berdiri dihadapanya.
"Enggak, mungkin dia yang menganggap gua hantu, karena gua keluar dari bawah ranjangnya, Sorry tadi subuh gua ngantuk baget, mau tidur bingung tempatnya dimana, akhirnya gua tidur dibawah ranjangnya" jawab seseorang membuat Dadali tertawa.
"Kamu, jangan takut lagi ya, dia hantu yang sangat baik kok" ucap Kak Dali menenangkanku.
"Hai, maaf ya, tadi mengagetkanmu" ujar seorang laki-laki yang membuatku menoleh ke arahmu.
Terlihat dia tersenyum dengan manis, memamerkan barisan gigi putihnyaz walau kulitnya yang agak kehitaman dan badannya yang gemuk, namun semuanya tertutupi oleh Senyum manisnya.
"Tadi malam, Orang ini yang menyelamatkan kita din" tambah Kak Dali memperkenalkan temannya.
Dan itu membuatku merasa tidak enak, karena aku berteriak saat pertama melihatnya, namun aku tidak maksud apa-apa, aku benar-benar kaget, karena kemunculannya yang tiba-tiba.
"Maafin aku ya Kak, dan terima kasih atas pertolongannya" ucapku dengan suara terbata-bata, dan sangat pelan, namun aku yakin, suaraku akan terdengar, karena di ruangan ini kedap suara.
"Iya sama-sama, aku juga minta maaf ya, sudah membuatmu kaget" jawabnya sambil tersenyum lalu ia mengulurkan tangan untuk mengajakku berkenalan.
"Darda, orang paling manis sedunia" kenalnya sambil tersenyum.
"Dini" ucapku membalas senyumnya, meski hati ini tidak menginginkan untuk tersenyum.
"Kamu mau mandi dulu, atau mau sarapan dulu" tanya Kak Dali yang membuat senyum di Bibirku terbias perlahan.
"Mending mandi dulu ya, Biar kamu segar nanti ganti bajunya" sarannya yang membuatku mengangguk menyetujui keinginannya.
"Mau jalan, apa mau digendong" tanyanya lagi yang terus memberikan perhatian terhadapku.
Aku tak menjawab, namun perlahan ku geser tubuhku untuk turun dari ranjang, dengan cekatan Kak Dali memegang Pinggangku, lalu mengaitkan tanganku ke pundaknya, untuk memapahku menuju ke toilet.
"Mau dimandiin, apa mandi sendiri" tanyanya setelah sampai di toilet sambil melepaskan perlahan kaitan tanganku yang berada di pundaknya.
Aku hanya mendelik kesal menanggapi pertanyaan bod0hnya, meski dia sudah melihat tubuhku, namun aku tak rela tubuhku ini terekpos olehnya, jika bukan Dalam keadaan terdesak seperti semalam.
Nampaknya Kak dali paham, apa yang kumaksud, meski aku tidak berbicara, dia membuka pintu toilet, lalu mengambil paper bag dan peralatan mandi, dari tangan kak Darda.
"Ini sabun serta peralatan mandi lainnya, dan di dalam paper bag ini, ada baju buat ganti" terangnya sambil memberikan semua itu kepadaku.
"Terima kasih Kak" gumamku dalam hati namun tidak ku ungkapkan, hanya menganggukkan kepalaku yang kuisaratkan, lalu pintu toilet itu ditutup untuk membiarkanku membersihkan diri.
"Nanti kalau udah, Ketuk aja pintunya" pintanya sebelum pintu itu tertutup dengan sempurna.
Perlahan kubuka jaket, yang diberikan Kak Dali tadi malam, untuk menutup tubuhku, lalu aku Gantungkan di pengait yang ada didindung, bersama dengan paper bag dan handuk agar tidak terkena cipratan air saat mandi.
Namun ketika hendak membuka membuka celana. Air mataku mulai berjatuhan, karena celana yang kupakai adalah celana orang yang sangat Kubenci di dunia ini. Dengan kasar kulepas celana itu, lalu kurobek dengan kasar, hingga celana itu menjadi beberapa bagian, lalu kuhempaskan ke dinding kamar mandi, sehingga robekan celana itu berserakan ke mana-mana.
Dalam tangisku, kualirkan air dari dalam shower. Sehingga air itu membasahi tubuhku yang sudah kotor ini. Aku duduk di lantai sambil memegangi kedua lututku, membiarkan air itu terus mengalir membasahi tubuh.
Aku menangis sejadi-jadinya, dibawah guyuran air, mengingat tubuh yang sudah kotor, pasti tidak akan ada orang yang mau menerima, dengan keadaanku yang sekarang, kehormatanku satu-satunya sudah direnggut oleh kakak angkat yang bi4dab.
Trrok!!!
Trrook!!!
Trrok!!!
Pinta kamar mandi diketuk dengan dengan perlahan dari luar, sehingga kehentikan tangisanku.
"Kamu nggak apa-apa kan Din" tanya Kak Dali yang berada di luar.
Pertanyaannya membuatku terbangun lalu ku matikan shower yang membasahi tubuhku, Aku mengambil sabun untuk menggosok seluruh tubuhku, namun mataku seketika terhenti Di bintik-bintik merah yang tertanam banyak di kedua Dadaku.
"Aaagggggrrrhhh!!!"
Triakku dengan sangat kencang, rasanya hatiku sangat hancur, sehancur-hancurnya mengingat siapa yang melakukan semua ini, rasanya aku pingin pergi jauh dari dunia ini.
Namun tak lama masuklah seorang wanita paruh baya, dengan mengenakan seragam rumah sakit, lalu menutup pintu kembali, dengan cepat.
Iya berlari memeluk tubuhku, yang masih penuh dengan busa sabun "udah jangan nangis" bisiknya dengan lembut sambil mengelus rambutku membuatku, merasa sedikit tenang.
"Kamu mau mandi" tanyanya sambil terus memelukku, aku hanya mengagumkan kepala sebagai jawabannya.
Dengan telaten dia membersihkan semua tubuhku, walau merasa risih, namun aku tidak sanggup untuk melakukannya, pikiranku sangat kalut, tak lama mandiku selesai dengan cepat.
Kupakai handuk yang diberikan Kak Dali, untuk membersihkan sisa-sisa air yang menempel di tubuh "kamu ada baju ganti" tanya perawat itu dengan ramah.
Aku mengambil paper bag, yang tadi Kak ada dibelikan, namun wanita itu mengambil papar bag itu dari tanganku, untuk mengambilkannya. namun ketika dia memegang celana dalam dia menggeleng-gelengkan kepala
"Ini siapa yang membeli" tanyanya sambil memegang celana dalam, celana dalam itu sangat kecil itu, mungikin pas untuk dipakai anak SMP. Kemudian ibu perawat mengambil penutup d**a dan sama saja ukurannya terlalu kecil.
"Tunggu sebentar, kamu pakai saja dulu bajunya, gak apa apa kan untuk sementara gak mengenakan dalaman juga" perintahnya sambil memberikan baju yang ada di tangannya lalu dia keluar dari toilet.
"Kamu gimana sih, membelikan ginian aja salah, ini untuk bayi, bukan untuk orang dewasa" terdengar ucapan wanita itu lagi menyeramhi orang dengan ketus.
Akhirnya ku pakai baju tidur, yang dibelikan Kak Dali, tanpa mengenakan dalaman, agak risih sih, namun harus bagaimana lagi daripada tubuhku tidak tertutup sama sekali.
Tak lama kemudian wanita itu masuk kembali ke toilet lalu memapahku untuk menuju keranjang tempat tidurku.
"Kalian berdua berisihkan kamarbmandinya" pinta perawat itu sambil menatap ke arah Kak Dali dan Kak Darda.