wanita paling bahagia

1244 Words
Pov dini Setelah mendengar perintah itu, Kak Dali, dengan sigap menuju ke kamar mandi, tak lama ia keluar, lalu masuk kembali. "Makan dulu ya, biar kamu ada tenaga" tawar perawat itu dengan lembut, sambil mengambil makanan yang diberikan oleh rumah sakit buat pasien. Diatas nakas. "Biar aku aja Bu" kataku ketika beliau mau menyuapiku. "Ya sudah kamu makan yang banyak, aku mau ganti baju dulu" ujarnya sambil memberikan makanan yang ada di tangannya, lalu ia bangkit dari tempat duduknya. "Terima kasih ya, bu maaf gara-gara aku Ibu jadi basah begini" ucaoku yang merasa tidak enak. "Nggak apa-apa, ini kan sudah jadi tugas ibu sebagai perawat di sini, kamu baik-baik ya, kamu harus semangat" ucapnya sambil mengulum senyum di bibirnya kemudian dia hendak pergi meninggalkanku. Namun Kak darda menghentikannya, lalu dia mengeluarkan uang merah dua lembar untuk diberikan sama ibu-ibu itu. "Apa-apaan kamu!, emang kamu kira semua kebaikan bisa dibalas dengan uang" ujarnya sambil memicingkan matanya menatap Kak Dali. "Eeee eemmmm eeee maaf bu" Kak Darda gelagapan tidak bisa menjawab. "Simpan uangmu kamu, buqt beliin dia d4laman yang benar, bukan d4laman anak SD, yang kamu beli, Lagian saya sudah dapat gaji dari rumah sakit ini, jadi aku tak butuh itu" tanpa menunggu jawaban dia berlalu pergi meninggalkan kita bertiga, yang masih melongo. Kusuap makananku ke mulut, meski rasanya sangat hambar, namun aku aku tetap paksakan, benar, kata perwat itu. Aku harus tetap hidup, aku harus membalas semua semua orang yang berbuat baik dan begitu juga semua orang yang berbuat jahat sama aku. Setelah beberapa suap makanan itu masuk ke mulut, Kak Dali keluar dari toilet sambil membawa kantong plastik, mungkin itu isinya Celana Kak Dani yang ku robek-robek. Rasanya tak tega melihatnya seperti itu, karena aku hanya bisa merepotkan dia saja. "Apa itu dal" tanya Kak Darda yang duduk di ranjang sebelah sambil menatap ke arah Kak Dali. "Bukan apa-apa, anak kecil jangan banyak tanya" ucapnya sambil terus berjalan menuju ke arah pintu, tak lama dia pun kembali lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjangku. "Mau di disuapin tawarnya" sambil menurunkan lengan baju, yang dilipatnya sampai ke siku, mungkin tadi Takut terkena air. Seperti biasa aku hanya menggelengkan kepala, tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, bukan aku tidak mau menyapanya. Sebenarnya banyak unek-unek yang hendak aku Keluarkan terhadapnya. Apakah dia akan terus baik setelah mengetahui aku sudah kotor seperti ini, Apa dia akan terus datang menjemputku, mengajaku jalan jalan. apa dia masih mau berteman denganku dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi memori otaku. namun itu semua hanya angan-angan tanpa bisa kusampaikan. Kak Dali yang lagi duduk termenung, sambil memainkan jemarinya di atas ranjang, seketika terperanjat ketika aku hendak menaruh piringku ke atas nakas rumah sakit. Kak Dali dengan sigap mengambil piring itu, untuk disimpannya lalu ia mengambil gelas dan diisi dengan air, kemudian Iya memberikannya kepadaku. "Kamu mau buahnya" tanyanya setelah aku mengembalikan gelas untuk minum. Kak Dali mengambil salah satu buah apel yang ada di atas nakas. Aku hanya mengangguk, mengiyakan, pikirku mungkin kalau makan nasi kurang berselera, siapa tahu aja kalau makan buah aku akan menikmati makanan itu. Kak Dali membuka pintu nakas lalu mengambil piring dan pisau, dengan piawai dia mengupas buah apel itu, setelah dikupas iya memotongnya sebesar dadu. Lalu ia menusuk dengan garpu, kemudian buah itu didekatkan ke mulutku. Perlakuanya membuatku menatap nanar ke arahnya, kalau bukan dalam keadaan seperti ini, mungkin Akulah wanita yang paling bahagia, karena diperlakukan sepesial ini, namun aku sudah kotor Mana mungkin dia mau menerimaku. Ku gelengkan kepala, tanda aku sudah merasa kenyang, dengan sabar dia menaruh piring yang masih berisi buah di atas nakas. "Aku kerja dulu ya, nanti sehabis pulang kerja aku ke sini lagi" izinya sambil memasukkan buah yang ada di piring ke mulutnya. Seperti biasa hanya anggukan kepala,nyang menjadi jawabannya, entah kenapa, padahal aku nggak membencinya, aku hanya benci sama diri aku sendiri, sehingga membuat lidahku terasa kelu, rasanya malu, malu yang teramat malu dengannya. "Oh iya ini ada HP, Soalnya hp kamu masih ada di kantor polisi, maaf bukan HP baru, tapi masih bisa dipakai, di dalamnya ada nomor HP aku. Jadi kalau kamu butuh sesuatu tinggal menghubungi, kalau nggak, kamu bisa meminta bantuan jin yang sedang duduk di sana" ujarnya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Lalu ia menunjuk ke arah Kak Darda, yang dibilang seperti jin. "Aku berangkat dulu ya Assalamualaikum" ujarnya sambil bangkit dari tempat duduknya lalu dia mengambil ransel yang tersimpan ranjang sebelah, mengobrol dulu sebentar sama kak darda, lalu pergi meninggalkan kamar yang diisi oleh aku dan Kak Darda. Sepeninggal Kak Dali pergi, ruangan pun terasa Haning, rasanya canggung berduaan sama orang asing. Kuambil ponsel pemberian Kak dali, yang masih tergeletak di atas ranjang, meski udah ketinggalan zaman namun HP itu masih bisa digunakan dengan baik. Bosan main HP ku tutup layar ponselku, dengan menekan tombol samping lalu kusimpan ponsel Itu di atas nakas. "Kamu mau minum s**u" tanya Kak Darda yang sejak dari tadi terdiam sambil memperhatikan ponselnya. "Nggak Kak, terima kasih" jawabku sambil menatap ke arahnya. "Aku mau, boleh" tanyanya membuatku mengerinyitkan dahi, apa jangan-jangan dia berotak m3sum juga "Kok gitu ngomongnya" bentakku yang merasa sensi ketika mendengar ucapannya. "Maaf, maaf, bukannya aku lancang, tapi. Aku mau minta s**u yang dibelikan si Dali, buat kamu. Tuh ada di atas nakas" sanggahnya menjelaskan sambil senyum Pandanganku tertuju ke benda yang di atas nakas, ternyata memang benar di situ ada dua botol s**u murni yang belum dibuka. "Maaf ya Kak, semenjak kejadian malam aku Jadi parno begini ucapku yang merasa tidak enak "Santai" jawabnya sambil turun dari atas ranjang lalu mendekati nakas yang berada di sampingku, kemudian ia mengambil gelas lalu mengisinya dengan s**u. "Beneran nggak mau" tanyanya memastikan. "Nggak Kak" jawabku singkat sambil mengelkan kepala. " kamu kalau butuh apa-apa bilang aja ya" tawarnya dengan ramah sambil memasukkan gelas berisi s**u ke mulutnya. "Ya Kak terima kasih, maaf ngerepotin" ucapku. "Sudah dibilang kalem aja, kamu masih ngeyel" "Kakak nggak kerja" Tanyaku untuk lebih mencairkan suasana "Kerja" jawabnya dengan singkat sambil menyeka mulutnya yang putih kena s**u. "Kok nggak masuk" "Ini lagi kerja" jawabnya sambil mengangkat handphone yang ada di tangannya "Kerja apa" "Emang kalau aku bilang, kamu akan ngerti" tanyanya sambil senyum. "Ya kalau nggak dibilang, Gimana aku mau ngerti" "Iya yah" ucap Kak Darda sambil menggaruk-garuk kepala. :Ya makanya. Tolong jelasin: rengekku "Oke tapi aku boleh gak duduk di situ: pinta Kak Darda sambil menuju kursi yang berada di samping Ranjang Ku "Boleh, asal gak aneh aneh" jawabku sampai tersenyum mempersilahkannya. "Tapi nggak akan, kayak tadi pagi kan" pertanyaannya mengingatkanku kejadian di mana aku berteriak saat pertama kali aku melihatnya. "Maafin aku Kak, aku nggak tahu, lagian ngapain tidur di kolong ranjang" ucapku yang merasa kesal :Iya nggak apa-apa, asal jangan diulangi lagi" ancamnya tersenyun sambil menarik kursi yang akan didudukinya. Mengobrol dengan Kak Darda mengalir begitu saja orangnya sangat, asyik dan baik, sesekali di tengah obrolan. Kak darda sering membuatku tersenyum,nkarena geli mendengar ceritanya atau kelakuannya. sehingga bisa sedikit melupakan kejadian yang sedang menimpaku. Tring Tring Tring Asyik mengobrol tiba-tiba terhenti karena mendengar suara teleponnya yang berbunyi. "Bentar, aku Angkat dulu teleponnya" izin Kak Darda sambil menggeser tombol warna hijau di handphonenya. Entah sama siapa dia mengobrol dan apa yang dia bicarakan. Soalnya telepon itu tidak di laud speaker. Jad aku tidak mendengar jelas, namun aku bisa menangkap dari pembicaraannya bahwa dia memberitahukan ruangan kamar rumah sakit. "Biasa pacar" ujarnya dengan bangga sambil meletakkan kembali handphonenya di atas ranjangku. "Oooooooh" tanggapanku seolah tidak percaya bahwa orang seperti ini bisa memiliki pacar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD