Pov dini
Aku hanya bisa menolehnya dengan kesal.
"Ayo katanya mau makan, malah masih berdiri disitu" ujar kak dali yang dari tadi memperhatikanku dari luar.
Aku pun kembali membuka pintu, lalu menutupnya kembali, tak lupa aku juga menguncinya.
Tanpa bicara apapun, tiba tiba kak dali memegang jemariku, menuntunku keluar pagar dimana motornya di parkir.
Ketika melewati pos jaga kak dali melambaikan tangannya ke pos itu.
"Pinjem dulu yah, nanti dibalikin" ujarnya.
"Siap awas jangan ada yang lecet sedikitpun" ujar penjaga kos sambil mengakat ibu jari disertai senyum dibibirnya.
Sesapainya dimotor.
"Udah jangan narik narik apa, sakit tau lagian aku bukan barang yang bisa kakak tarik tarik seenaknya" ujar ketus sambil menarik jari jariku.
Mendapat protes seperti itu dia hanya senyum, sambil mengabil helm yang diikat dijok belakang, lalu memasangnya dikepalaku, ketika mau mengikat talinya akupun protes.
"Aku bisa ikat sendri" ucapku masih ketus.
"Baguslah sekarang udah banyak kemajuan" ujarnya sambil senyum.
Mendengar ucapanya aku hanya menekuk mukaku sambil mengikatkan tali helm.
Kak dali pun menaiki motor lalu menyalakannya.
"Kok masih diem, ayo naik" ajaknya sambil menolehku.
Disuruh seperti itu, aku mendekati jok belakang ketika mau menginjak step dia menghentikanku lagi.
"Tunngu sebentar" serunya yang membuatku kesal.
"Ada apa lagi kak" sambil menatap kearahnya.
Tiba tiba kak dali melepaskan jaket, terlihat badannya yang bagus bikin siapa saja betah lama lama menatapnya, walau terbungkus kemeja putih tidak bisa menyembunyikan keindahan tubuhnya.
"Pake jaket yah, cuaca malam sangat dingin gak baik untuk kesehatan" ucapnya sambil mengalungkan jaketnya ketubuhku.
Mendapat perlakuan seperti aku hanya melongo menatapnya tajam seoalah lagi melihat pangeran berkuda.
"Udah pake jaketnya apa mau aku yang makein, ini malah melongo nanti kesambet" ujar kak dali membuyarakan lamunanku.
Aku segara membetulkan jaketnya, meski kegedean tapi ini cukup aman untuk melindungiku dari angin malam.
"Udah" tanya kak dali memastikanku duduk dengan aman dibelakang.
"Udah apanya kak" tanyaku keheranan.
"Duduknya lah, kalau cintanya nanti sesudah kamu terima" jawabnya tanpa dosa.
"Udah kak" jawabku sambil menudukan kepala, rasanya malu kalau dia ngomong cinta cintaan meski itu hanya bercanda.
"Ya udah pegangan yah takut jatuh" ujarnya tanpa menungu jawabanku dia menarik gas motornya, melaju meningalkan kosan ku.
"Din" pangilnya sambil menoleh kearahku yang duduk dibelakngnya.
"Iya, ada apa kak" sambil mendekatkan kepalaku kearahnya, biar suaraku terdengar jelas olehnya maklum kalau dimotor suka bindeng.
"Maaf ya aku hanya bisa ngajak kamu jalan naik motor" ujar kak dali
"Gak apa apa kak, terima kasih udah ngajak aku jalan jalan" jawabku.
"Apa din gak kedengaran" sahut kadali sambil menoleh kebelekang.
"Iya gak apa apa, terima kasih udah ngajak aku jalan jalan" jawabku sambil menaikan volume suaranya.
"Jangan teriak teriak aku gak budek kok hehehhee" ujarnya sambil ketawa.
Ngerasa dikerjain akupun gemes dibuatnya lalu aku cubit pinggangnya dengan kencang kak dalipun memekik kesakitan sampai motornya agak oleng.
"Ih kamu galak juga untung belum menikah kalau udah ini namanya KDRT" ujarnya sambil tetap melanjutkan perjalanan.
"Lagian kak dalinya nyebelin" ujur ketus.
Lama diperjalan tak membuatku jenuh, celotehan kak dali membuat perjalanan begitu asik.
Setibanya diparkiran kak dali mengajakku duduk disalah satu meja yang berbentuk lesehan. Meski cuma angkringan tempatnya sangat rame, terliahat masih banyak pengunjung padahal waktu udah mau larut malam.
Setelah kita duduk pelayanpun menghampiri.
"Kamu mau makan apa din" tanya kak dali yang duduknya berhadapan denganku.
"Samain aja kak" jawabku sambil menatap meja yang tinggi cuma 30cm.
"Yakin mau disamain nanti kamu gak suka pesan masing masing aja, kan bayarnya juga masing" ucap kak dali meledekku.
"Ya udah aku nemenin makan aja gak usah pesen pesen" ujarku ketus
"Hehehe, jangan ngambek" pinta kak dali sambil senyum
"Emang kenapa kalau aku ngambek" tanyaku masih ketus.
"Kamu makin cantik kalau lagi ngambek" ujar sambil terkehkeh membuat wajahku panas, malu akan ledekannya.
"Ekhmmmm ekhmmmm" pelayan pun berdehem memberikan kode bahwa dia masih menunggu.
"Oh maaf kak, oya aku pesen dua pecel ayam sama teh tawar panasnya satu" ujar kak dali sambil menatap kearah pelayan.
"Siap ini aja kak gak ada pesenan yang lain" tanya pelayan.
"Iya aku itu aja kak, gak tau kalau yang didepan mau pesen apa" jawab kak dali sambil menunjuku pake tangan.
"Oh iya, kakak nya mau pesen apa" tanya pelayan menatapku.
Kirain kak dali memesan dua porsi itu satunya buatku ternyata dia rakus juga.
"Mau pesen apa kak" tanyanya mengulang karena tak kunjung mendapat jawaban dariku.
"Samain aja kak" jawabku ngasal karena bingung mau jawab apa.
"Oke terima kasih ditungunya yah pesananya" ucap pelayan sambil membalikan badan meningalkan tempat duduk kita.
"Ternyata kak dali rakus juga ya makan" tanyaku sambil memicingkan mata.
Ditanya begitu dia hanya senyum senyum tanpa memperdulikan pertanyaanku.
"Kenapa senyum senyum terus sih aku takut melihatnya" protesku risih.
"Gak apa apa cuma lagi lihat masa depan yang begitu cerah aja" jawabnya enteng.
"Ngelihat dimana" tanyaku heran
"Nih ada dihadapanku" jawabnya singkat.
"Emang masa depan seperti apa yang kak dali harapkan dari meja panjang yang tingginya cuma 30cm ini" tanyaku sambil menatap heran kearahnya.
Ditanya seperti itu dia hanya membulatkan mata menatap ke arahku, kemudian dia tersenyum lagi.
"Orang gil4 mana yang berangapan bahwa meja bisa dijadikan masa depan" kak dali balik bertanya sambil menunjukan giginya yang rapih.
Merasa kalah bicara aku cuma bisa menundukan kepala sambil memainkan ujung jilbabku
"Udah jangan nangis" celetuk kak dali sambil memberikanku tisu.
Aku yang dibikin kesal berkali kali mengabil tisu itu lalu mencabik cabiknya dengan mulutku, mengibaratkan tisu adalah kak dali.
Melihat kelakuanku yang seperti itu kak dali hanya senyum sambil meletakan tangannya dikepalaku lalu menguceknya.
Walau dia terus meledek tapi aku rasanya sangat bahagia diperlakukan seperti itu.
Tak selang berapa lama pesanan kitapun datang diantar pelayan tadi.
"Loh kok pecel ayamku dua porsi kak" tanyaku sambil menatap heran mbak pelayan.
"Kata mbak, tadi pesananya disamain sama kakaknya, ini kan sama" ujarnya sambil senyum.
Aku pun menoleh ke arah kak dali seolah meminta bantuan, yang diminta bantuan malah senyum senyum seperti biasa.
"Terima kasih kak, emang pacar saya ini suka malu malu padahal makanya emang banyak" celetuk kak dali membuat kedua bola mataku terbelalak kaget mendengar pengakuanya.
"Iya sama sama kak, selamat menikmati makanannya kalau butuh sesuatu bisa panggil kami kembali" ujar pelayan itu sambil berlalu meningalkan tempat kita.
Setelah pelayan berlalu, pandanganku kembali menatap kak dali yang baru selasai berdoa siap memasukan makanan kemulut.
"Sejak kapan aku jadi pacarmu kak" protesku
Kak dali menatap ku sebentar.
"Ayo berdo'a dulu nanti makanannya keburu dingin" pintanya tanpa memperdulikan pertanyaanku,
Diapun melanjutkan suapannya yang tertunda, tanpa menolehku lagi yang masih keheranan atas pengakuannya.
Aku hanya bisa mengikutinya memakan nasi pecel ayam, rasanya sangat nikmat sekali, apalagi sambalnya yang pedas mampu menggugah selera makanku.
Sesekali aku menoleh kearah kak dali, yang dengan hidmat menikmati makananya, tanpa memperdulikan lingkungan sekitar.
Memang kak dali orangnya seperti itu, akhir akhir ini sering bareng bersamanya membuatku sedikit paham tentang kebiasan kebiasanya.
Belum habis satu porsi, Perutku udah mulai terasa begah, mungkin makan yang tadi sore aja masih tertahan diperutku, tapi aku tetap berusaha menghabiskanya.
Berbeda dengan kak dali, yang masih lahap meski itu udah porsi yang kedua, terlihat mukanya mengeluarkan keringat mungkin karena kepedasan, membuatnya terlihat sangat ganteng.