Pov dini
Pukul 22:00 aku masih belum bisa tidur, entah mengapa semakin kucoba untuk mememjamkan mata tapi semakin jauh pula rasa kantuk menghampiriku.
Rasanya gelisah tak menentu, berkali kali aku mengecek ponsel, tetapi tidak ada yang bisa mengobati rasa cemasku, padahal aku sadar tadi pagi dia udah memberi kabar kalau dia tidak bisa menjemputku.
Aku tutup mukaku dengan bantal, supaya agak tenang tetapi rasanya pengen teriak, apa dia gak sadar ada aku yang menunggu kabarnya, masa iya sih harus aku yang chat duluan, gengsi kali nanti dia nengangap ku cewek agresip lagi.
"Kenapa sih lu hadir kalau cuma bikin gue gak bisa tidur begini" batinku berteriak meronta ronta.
Kenapa aku bisa suka sama cowok yang sama sekali gak suka sama aku sih, apalagi cuma baru kenal beberapa hari masa iya sih aku bisa suka sama dia secepat itu.
Triiing
Ponselku berdering aku dengan sigap meraih ponsel yang ada di meja, lalu membukanya ternyata pesan dari oprator.
"Ih appan sih gak jelas, ngapain coba oprator ngesms malam malam begini" gumam ku sambil ngembaliin layar ponsel kemenu utama.
Penasaran, untuk kesekian kalinya aku buka aplikasi hijau berlogo telepon, walau jawaban sudah tau tidak akan ada apa apa disana.
lagian kan hanya dia sama kak risma yang mengetahui nomor baru aku, jadi tidak mungkin ada chat yang lain .asuk secara tiba tiba.
Tapi aku tetap membukanya, lalu kuklik chat yang hanya satu satunya, layar tetep menampilkan tulisan chat yang sama seperti sebelumnya, bedanya sekarang ada tulisan online dibawah namanya.
Baru onlen kayanya, lalu ku klik bagian namanya terlihat foto propil cowok dengan mata bulat, idungnya mancung, pipinya bersih lagi senyum memamerkan giginya yang rapih.
Aku kembalikan kechat lalu liat fotonya lagi balikan lagi kechat, liat lagi fotonya, berharap ada yang berubah tapi tidak sama sekali.
Lama sekali memandangi foto profilnya, tiba tiba tulisan onlen berubah jadi sedang menulis.
"Nah nah mau nulis apa dia" gumamku sambil terus menatap layar seolah takut ada sesuatu yang terlewat.
Lama menunggu tidak terjadi apapun malahan layar yang tadinya terlihat sedang menulis kembali kemode onlen.
"Dasar aneh padahal gue nunguin lu mau ngechat apa" gumamku sambil menaruh ponsel di atas meja.
Tring
Ponselku bergetar kembali.
"Halah paling itu oprator lagi, ngapain gue peduli sama oprator" sambil menutup kembali wajahku dengan bantal, tapi itu tidak bisa membuatku merasa tenang.
Rasa penasaran akan siapa yang chat membuatku mengambil kembali ponsel yang tadi aku letakan.
Pucuk dicinta ulam pun tiba akhirnya ada notifikasi pesan di aplikasi hijau itu, aku segera membukanya.
( kamu belum tidur yah, kok masih on )
Isi pesan dari seseorang yang sejak tadi menggangu pikiranku.
Lalu dengan cepat aku mengetik pesan untuk membalasnya.
( belum kak, kakak kemana aja sih dari tadi gak ada kabar, kakak gak mikir tah aku nunggu kanar kakak dari tadi sampai sampai aku gak bisa tidur )
Sebelum aku kirim aku baca lagi berulang ulang.
"Malu gak sih kalau balas gitu rasanya aku agresif banget jadi cewek, kalau balas pesanya seperti itu" gumamku sambil menghapus ketikan itu lalu mengetik kembali.
"Gue harus balas ya, biar image gue gak jelek" gumamku sambil menghapus chat yang belum terkirim untuk kesekian kalinya.
( belum kak )
Lalu aku menekan tombol send.
"Gil4 cuma mau bales pesan gitu aja lama banget gue mikirnya" gumam ku kesal sendri.
Tringg
Ponselku berdering kembali.
( oh ya udah )
Balasnya sesingkat itu, padahal aku disini berpikir sangat keras untuk membalas chatnya.
"Dasar gak punya perasaan" ujurku sambil mengeti balesan.
( iya kak, ada apa ) balasku padanya.
Centang dua biru teihat dilayar, tanda dia udah baca pesanku.
Lama menunggu tetapi dia tidak membalas lagi pesanku.
"Lahhh udah cuma gitu doang? Padahal kalau gak niat chat ngapain ngechat" gumamku keheranan dengan tingkah mahluk satu ini.
Aku kembalikan ponselku kemenu utama lalu menaruhnya kemabli keatas meja.
Kubaringkan tubuhku seperi semula, sekarang rasa gelisah itu sudah mulai sirna setelah aku mendapat pesan yang aneh darinya.
Mataku sudah mulai mengatup, lamunanku sudah semakin dalam menuju alam bawah sadar.
Tok
Tok
Tok
Suara pintuku di ketuk pelan namun sangat jelas karna keadanya di malam hari. Membuatku membuyarkan asaku untuk tidur terlelep.
Dengan kesal aku bangkit dari kasurku menuju kearah jendela untuk memastikan siapa yang malam malam begini berani mengangu istirahatku.
Setelah kusingkirkan tirai gorden sedik, terlihat ada sosok yang tak asing lagi berdiri menghadap pintu, sadar ada yang merhatiin, dia menoleh kearah kaca yang gordenya sedikit terbuka , dia senyum seperti dia tau aku ada di dalamnya, dengan senyum kemenangan yang membuatku kasal karena akan susah melupakan senyuman itu.
Aku belingsatan karena udah ketangkap basah mengintipnya.
Satu sisi aku gak mau kalau ada cowok lain masuk kekamarku, tapi sisi lain aku kangen banget sama dia apalagi seharian belum liat dia.
Tring
Ponselku berdering, aku mengambil lalu membukanya.
( maaf ganggu malam malam ) diakhiri dengan emoticon senyum.
Aku buru buru mengenakan baju tidur panjang karena dari tadi aku kegerahan cuma pake kol0r pendek sama tangtop, lalu kupakai kerudung instan.
Sebelum membuka pintu aku intip lagi melalui jendela untuk memastikan bahwa dia masih ada.
Mengetahui tirai jendela terbuka kembali ia menoleh lagi sambil tetap senyum bak orang kurang sesondok.
Cklek
Pintupun aku buka terlihat senyum dia makin lebar.
"Iya ada apa kak" tanyaku sambil menundukan kepala menghidari mata indahnya.
"Gak apa apa, kamu udah makan belum" tanyanya
"Belum kak" jawaban yang tidak sesuai dengan isi hatiku, padahal aku sudah makan tadi habis magrib, aku hanya bisa memaikan ujung jilbab untuk menutupi kegelisahanku
"Bagus dong kalau begitu, jadi ada yang nemenin aku makan dong" jawabnya sambil tetap senyum.
"Eee..... emmmmm.... aku" aku sangat gelagapan bingung mau jawab apa.
"Jadi gimana bisa gak nemenin aku makan" tanyanya lagi penuh penekanan.
Dengan replek kepalaku mengangguk, tidak singkron dengan pemikiranku yang hendak menolaknya.
"Nah gitu dong, tapi aku gak mau jalan sama cewek yang" seketika dia mengentikan ucapannya yang membuatku penasaran.
"Yang apa kak " tanyaku sambil menatap wajahnya yang sedari tadi cengengesan.
"Heeehe... cewek yang celananya terbalik" jawabnya sambil menahan tawa.
Deegg
aku melihat dan memperhatikan celanakau ternyata jahitannya emang ada luar, seketika wajahku memerah tannganku menutup celana lalu aku sembunyi dibalik pintu.
"Ngapain jalannya begitu celanamu cuma terbalik bukan terlepas" ledek suara kak dali dari luar.
"Iya yah, gue kan pake celana nagapain harus ditutup pake tangan" sambil menepak jidat sendiri.
Sia4l4n banget emang tuh cowok selalu bikin aku salah tinggkah.
Aku merapatkan pintu lalu memakai ulang celanaku dengan benar, merasa masih ragu aku pergi kecermin untuk memastikan tidak ada yang salah lagi.
Setelah dirasa semua selesai aku mengambil farpum lalu menyemprotkanya ketubuhku, merasa masih kurang yakin aku bercermin kembali.
"Udah cantik kok, jangan bercermin melulu nanti nasinya keburu dingin" ujar kak dali yang melihatku dari celah pintu mungkin tadi karena panik aku tidak terlalu rapat menutupnya.
Untuk kedua kalinya wajahku dibikin merah padam olehnya, memang aku selalu salah tingkah ketika berhadapan dengannya.