Pov dali
"Sama-sama Bu, terima kasih juga atas kesediaan membantu saya" ucapku sambil menarik nafas lega setelah melakukan pembayaran.
"Bagaimana kerjaanmu, kata bapak kamu ikut broker juga ya" tanya bu RT mengalihkan oembicaraan.
"Iya Bu, alhamdulillah lumayan buat tambahan jajan" jawabku tersenyum simpul.
"Itu bukan lumayan lagi, kalau sampai bisa membeli rumah, itu hebat namanya dal" Puji bu RT.
"Alhamdulillah mungkin sudah rezeki saya" balasku sambil menundukkan kepala, rasanya sangat malu karena semua yang dimiliki itu hanya titipan.
"Dulu ibu sama ibu-ibu PKK lainnya, sempat punya prasangka buruk, bahwa kamu itu mempunyai bisnis haram, karena sangat tidak masuk akal, motormu bagus peralatan rumahmu lengkap, jadi pikiran-pikiran buruk itu pasti akan datang menghampiri, namun setelah kemarin dijelaskan oleh bapak, ibu baru tahu, maafin ibu ya Dal" ujar bu RT sambil menarik nafas.
"Sama-sama Bu, ini bukan hal yang membanggakan kok bu, jadi rasanya malu kalau mengumbar" jelas ku sambil menggulung senyum.
"Oh iya Nanti kalau ada ibu-ibu yang mau menjual rumahnya bisa minta tolong sama kamu ya" tanya bu RT.
"Insya Allah kalau saya bisa, saya akan membantu sebisa saya" jawabku menyanggupi permintaannya.
"Terus kalau properti itu terjual kamu dapat untung dari mana?" Tanya bu RT dengan raut muka penasaran
"Bisa dari penjual, bisa juga dari pembeli, nanti kita kaji siapa yang akan memberikan profit" aku menerangkan Keuntungan jadi broker.
Obrolan pun berlanjut sampai waktu menunjukkan pukul 09.00, merasa tidak enak mengganggu istirahat mereka, aku undur pamit, tak lupa Mengucapkan terima kasih kembali atas bantuan yang diberikan oleh keluarga Pak RT.
Sesampainya di kontrakan, aku kembali mengecek email pekerjaan-pekerjaan yang dikirimkan oleh tim broker, setelah dua jam aku bergelut di depan komputer, mulutku menguap memberikan sinyal bahwa tubuh ini perlu diistirahatkan.
******
Keesokan paginya sesuai yang dijanjikan oleh Pak Agung, aku sudah menunggu di depan kontrakan, untuk survei rumah yang akan dijual
Tak lama menunggu, mobil Avanza putih parkir tepat di hadapanku, dan keluarlah seorang pria berpakaian rapi menghampiriku.
"Kamu yang bawa ya dal!" perintah Pak Agung sambil memberikan kunci mobilnya.
"Mau langsung berangkat aja Pak?" tanya aku sambil mengambil kunci yang diberikan oleh Pak Agung.
"Iya mumpung pagi biar tidak terlalu panas" jelas Pak Agung sambil membuka pintu sebelah kiri.
Melihat Pak Agung sudah duduk kembali di kursi, aku segera berlari ke arah kanan dan membuka pintu, Kemudian duduk di belakang kemudi, suara mobil pun berderu setelah ku putar kuncinya, lau Ku injak gas berbarengan dengan dilepaskannya pedal kopling, danmobil pun melaju menyusuri Gang untuk menuju Jalan Utama.
"Kanan apa kiri pak" Tanyaku sambil terus memperhatikan jalan.
"Kana" jawab Pak Agung singkat sambil merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Emang kita mau ke arah mana Pak" aku bertanya lagi
"Kita ke arah Cengkareng" jawab Pak Agung sambil memejamkan matanya.
Setelah tahu tujuan Awalnya, aku tidak bertanya lagi dan fokus memperhatikan jalan yang mulai masuk ke jalan besar menuju ke arah selatan Kota Jakarta. Pak Agung dengan santainya dia memejamkan mata, terdengar dengkuran dengkuran halus menghiasi bibirnya.
"Kebiasaan kalau di jalan suka tidur" gumamku sambil terus memperhatikan jalan.
"Fokus aja nyetirnya jangan ngedumel melulu" pinta pak agung yang masih memejamkan mata.
Sejam lebih di perjalanan, akhirnya aku sampai di sebuah gerbang Komplek elit, tak mudah untuk memasuki komplek karena penjagaan yang sangat ketat, namun pera penjaga itu sudah diberitahukan sejak awal oleh orang yang mempunyai rumah bahwa kita akan datang.
Setelah melewati penjagaan, Pak Agung menunjuk salah satu rumah yang terletak di sudut pojok Komplek, karena dia sudah pernah kesini bersama orang yang memiki rumah itu, ini adalah yang kedua kalinya bagi pak Agung, rumahnya sangat besar dengan dikelilingi pagar tinggi sesuai denganbciri khas Komplek elit pada umumnya.
"Emang Pak Pak Bowo memberikan kuncinya" Tanyaku sambil terus fokus mendekati rumah yang ditunjuk
"Katanya beliau sudah menugaskan orang untuk membukakan gerbangnya" jawab Pak Bowo sambil menutup mulutnya yang menguap.
Tin
Tin
Ku tekan klakson supaya orang yang ada di dalam mengetahui akan kehadiran kita, setelah mengklakson beberapa kali, terlihat pintu gerbang terbuka sedikit dan keluarlah seorang pria menuju mobil yang kita kendarai.
"Selamat siang pak" sapa ku setelah menurunkan kaca mobil.
"Siang Pak Agung ya" tanya pria itu dengan ramah.
"Iya Tolong bukakan pintunya yah Pak!" Pinta Pak Agung.
Pria itu hanya mengangguk lalu dia mendorong pintu gerbang, supaya mobil kita bisa masuk. Setelah ku parkir mobil di carport aku dan Pak Agung turun dari mobil lalu menghampiri pria yang yang membukakan pintu.
"Agung" ujar Pak Pak Agung sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Risman" jawab pria itu sambil menerima uluran tangan Pak Agung.
Setelah berkenalan, kemudian aku mengeluarkan alat kerjaku, mulai dari meteran dan kamera digital. Aku mengukur luas tanahnya dan luas bangunannya, walaupun ini sudah ada di sertifikat, namun tim kami sangat hati-hati supaya customer nanti tidak merasa ditipu, pengukuran sudah selesai dilanjutkan dengan foto-foto dari berbagai sisi, supaya kami tidak gagap ketika menjelaskan rumah ini kepada calon pembeli.
Sejam berlalu akhirnya pekerjaanku selesai aku dan Pak Agung berpamitan untuk kembali pulang dan mencari orang yang mau membeli rumah ini.
"Makan di mana dal?" Tanya Pak Agung sambil melirik ke arahku yang sedang menyetir.
"Terserah Bapak aja, yang muda ngikut aja sama yang tua" jawabku sambil senyum.
"Bakar gurame mantap kayaknya" Pak Agung memberikan pendapat.
"Kalau saya Apa aja Mantap pak" jawabku sambil terkekeh.
"Kamu tuh parah, Masa nggak punya selera sih" ujar Pak Agung meledek.
"Hehehe mendingan bapak tidur lagi! Nanti saya kasih tahu kalau udah nyampe tempat makannya" pintaku sambil terus memperhatikan arah jalan"
Pak agung hanya mendengus kesal lalu kembali memperhatikan arah depan.
"Rumah kamu udah selesai renov belum?" tanya Pak Agung mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Pak mungkin hari ini selesai"
"Terus kapan kamu mau pindah?" Agung bertanya lagi.
"Insya Allah nanti hari Minggu Pak, Oh iya kalau bisa malam Seninnya saya akan mengadakan syukuran kecil-kecilan, Kalau ada waktu Saya mengundang Bapak" Karena aku tahu beliau sangat sibuk, jadi tidak berharap banyak Pak Agung bisa datang.
"Bisa-bisa nanti saya pasti datang, tapi kamu ngundangnya jangan setengah-setengah gitu dong" ujar Pak Agung sambil terkehkeh.
"Apa harus pakai undangan resmi, kalau mengundang orang yang super sibuk seperti bapak" ledekku sambil menjunginkan senyum.
"Boleh itu ide bagus, nanti saya tunggu undangannya" jawab Pak Agung menimpali.
"Siap" jawabku singkat.
"Rumah ada, motor sudah punya, tinggal kamu cari istrinya saja belum dal" Celetuk Pak Agung memberi saran.
"Amin doanya saja Pak" jawabku Entah mengapa ketika mendengar Seorang Istri, rasanya sakit meski tidak kuperlihatkan.
"Sekarang kamu harus mulai belajar percaya, Tidak semua wanita seperti itu, Mau sampai kapan kamu seperti ini, hidup dalam keterpurukan, nanti kamu jadi kaum belok loh" saran Pak Agung yang mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan, karena aku oernah cerita sama dia.
"Mulai mencoba sih Pak, cuman Entah mengapa rasa sakit itu masih terasa sampai saat ini, sehingga ketika aku menemukan wanita, bayang-bayang ketakutan itu selalu menghantui, pikiranku mengatakan, untung masih pacaran gimana coba kalau sudah nikah dan sudah punya anak, dia berselingkuh, itu yang selalu aku takutkan" perkataanku sambil terbata-bata.
"Mello banget sih jadi cowok, laki-laki itu harus tahu patah satu tumbuh seribu, tidak ada di kamus seorang laki-laki rasa patah hati karena jatuh cinta" ujar Pak Agung sambil mencibir seolah setiap orang itu kuat menghadapi perselingkuhan pasangannya.
Mendengar penuturan Pak Agung aku diam merenungi apa yang dia sampaikan, memang tak sepantasnya aku merasa kecewa dengan wanita sampah seperti dia, namun luka di hati ini sudah menganga dan otak bawah sadarku menolak luka itu terjadi kembali, sehingga sampai saat ini aku belum bisa melupakan penghianatan itu dan belum bisa membuka hati.
"Mulai sekarang kamu lupain dia dan mencoba membuka hati untuk wanita lain, karena rasa sakit oleh wanita obatnya Hanya wanita lain, semua orang pernah kecewa namun tidak pantas untuk terus terpuruk dengan rasa kecewa, jadikan rasa kecewa itu sebagai cambuk untuk lebih baik kedepannya" nasehat Pak Agung dengan muka serius.
Begitulah Pak Agung, dia bisa memerankan peran sebagai teman, motivator, partner bisnis, sesuai situasi yang dibutuhkan, itulah mengapa teman-temanku rata-rata semuanya sudah oada tua, karena berteman sama mereka banyak ilmu kehidupan yang aku pelajari yang tidak aku dapatkan di buku bahkan di bangku sekolah
"Terima kasih Pak nasehatnya, doakan saja semoga saya cepat menemukan pengisi hati saya dan dan pengisi hati itu adalah wanita terbaik yang dikirimkan Allah untuk saya" ucapku yang membenarkan semua pendapat Pak Agung.
"Apa apa mau saya carikan istri buat kamu" saran Pak Agung sambil menatap ke arahku.
"Bolehlah Kalau tidak keberatan" jawabku sambil tersenyum lebar menyembunyikan semua rasa sakit yang ada di d**a.