mangga

1380 Words
Pov dali. Dini hanya mendengus kesal melihat Risma mengambil buah untuk dikupasnya, dia menaikkan ujung bibirnya melihat itu aku merasa tidak nyaman. "Biarkan saja aku yang ngupas" pintaku sambil menadahkan tangan kearah Risma. "Nggak usah, aku aja Kak yang nanti kalau kakak yang kupas bisa-bisa dagingnya yang kena" sanggah Risma meragukan skill kupas mengupas ku. "Din kamu punya piring enggak" tanya Risma sambil menoleh kearah dini. "Buat apa" dini balik bertanya terlihat raut wajahnya yang menunjukkan keheranan. "Ya buat mangga inilah, sekalian sama garpunya ya kalau ada" pinta Risma sambil terus mengupas buah. Dini paham apa yang dimaksud Risma, dia lalu bangkit mengambil apa yang diminta oleh Risma, setelah selesai mengupas kulit mangga Risma memotong mangga itu lalu dimenaruhnya ke piring. "Ini aku suapin Kak!" ujar Risma sambil menusuk satu potong mangga dengan garpu lalu mendekatkannya ke mulutku. "Dini aja yang disuapin kan dia lagi sakit tolak" secara halus. "Iya ini kakak dulu, nanti baru dini" Risma berkelit dia tidak mudah menyerah untuk memberiku buah" Aku membuka mulut supaya potongan mangga itu mudah masuk ke dalam. "Terima kasih" ucapku sambil menengok ke arah dini. Risma hanya senyum simpul menatap dengan Tatapan yang tidak bisa aku artikan, lalu dia menusuk lagi mangganya terus diarahkan ke mulut dini ibu yang lagi menyuapi anak-anaknya. "Biar aku saja kak lagian aku udah sembuh kok" dini juga menolak. "Sudah buka mulutnya biar badan kamu cepat segar lagi" paksa Risma. Melihat kekompakan mereka bibirku menyongging membayangkan jika mereka memiliki satu suami pasti mereka akan sangat kompak. Aku mau pamit soalnya sebentar lagi azan maghrib berkumandang pintaku sama mereka. "Ya sudah lagian kan kakak tidak punya kepentingan" jawab Dini dengan nada kesal entah apa yang ada di pikirannya. "Hey hey gitu amat" jawabku sambil senyum "Ya udah pergi sono" usir dini sambil menunjukan rasa kesalnya. "Kamu mau ikut pulang atau masih tetap di sini" Tanyaku sama Risma. "Di sini aja dulu kak, aku mau menemani dini, kasihan dia sendiri Mungkin aku akan menginap boleh kan Din" tanya Risma Sabil menoleh ke arah diri. "Serius Kak" ucap dini seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Risma. "Seriuslah tapi aku izin dulu sama orang tuaku ya" ujar Risma dengan senyum. "Ya udah aku pamit dulu ya" ujarku sambil menyalami mereka. Aku meninggalkan tempat kost dini menuju ke arah rumah. sesampainya di rumah Seperti biasa aku membersihkan badan terlebih dahulu sebelum salat berjamaah di Masjid. Seusai berjamaah seperti biasa bapak-bapak berkumpul di teras masjid sambil mengobrol dan menikmati kopi. "Kapan mau pindah dal" tanya Pak RT membuka pembicaraan. "Kurang tahu Pak, bagusnya kapan ya" aku balik bertanya. "Emang sudah selesai renov-nya" tanya Pak RT. "Sudah sih Pak mungkin besok terakhir mereka kerja" aku menjelaskan sejauh mana tentang perbaikan rumahku. "Ya Kalau menurut saya, kalau sudah selesai rumah itu Jangan dibiarkan kosong terlalu lama" jelas Pak RT. "Kenapa emang" Tanyaku penasaran. "Ya karena hidupnya rumah itu Karena diisi orang" jelas Pak RT "Jadi kapan sebaiknya saya pindah rumah Maksudnya hari apa gitu yang bagus" Tanyaku sama pak RT. "Hari Minggu saja dal, jadi kita bisa bantu-bantu kamu pindah, nanti saya bawa mobil box perusahaan buat pindahannya" saran Pak Agun Raihan. "Nah itu bagus tuh, jadi kita bisa kumpul-kumpul sama warga pasti mereka akan senang tapi liwetan ya!" Pak RT menimpali Emang Kampung kami meski berada di kota besar tapi masih menjunjung tinggi tali persaudaraan dan kekeluargaan sehingga mereka mereka akan sangat senang ketika ada acara acara kerja bakti seperti itu. "Kalau masalah liwet siaplah, tapi Siapa yang mau membuat liwetnya" jawabku sambil terkekeh. "Makanya kamu Cepat cari istri biar kamu tidak kebingungan" sahut Pak Raihan. "Nanti saya tanya istri saya dulu siapa tahu aja dia mau membantu" saran Pak RT mengingat istrinya yang hobi masak. "Kalau bisa sekalian membuat catering buat syukuran malamnya" pintaku sama RT. "Ya nanti saya coba tanya dulu ,apa dia mau atau enggak tapi kalau mau harus ada presentasi buat saya" ledek Pak RT. "Lah kok minta sama konsumen, harusnya minta sama produsen dong kan mereka yang menerima propit" jawabku menimpali sambil senyum. "Tapi kalau dikasih harga kerabat kamu kan untung jadi jangan lupakan kebaikan saya" Bela Pak RT. "Iya iya nanti aku kasih satu slop deh" jawabku sambil senyum. Akhirnya kita melanjutkan mengobrol dengan tema bermacam-macam mulai dari Tetangga, kerabat, politik, sains apa aja yang bisa dibahas maka kami akan membahas sesuai pendapat masing-masing. Berkumpul sehabis magrib biasa kami lakukan untuk memper erat tali persaudaraan, meski tidak ada hubungan darah antara kami, pergibahan ini akan selesai ketika adzan isya berkumandang setelah isya, maka kami akan pulang ke rumah masing-masing. Seperti yang dilakukan sekarang ketika Adzan berkumandang, maka kami membubarkan diri untuk melaksanakan salat Isya, berjamaah setelah salat Isya aku pulang kontrakan Seperti biasa aku mengecek kerjaan sampingan ku. ( Besok kita jadi ya berangkat survei rumah pak Bowo ) ujar pesan dari Pak Agung Melalui aplikasi aplikasi hijau. ( Insya Allah siap pak ) aku membalas pesannya ( Besok jam sembilan saya jemput, Biar tidak terlalu macet di jalannya ) pesan dari Pak Agung mengingat kalau jam segitu kota Jakarta sudah mulai agak Lenggang karena na sudah masuk tempat kerjaannya. "Oke siap pak" balas ku lalu menyimpan kembali ponsel di atas meja komputer. Aku aku menghidupkan Komputerku, lalu aku membuka beberapa email yang dikirim oleh tim broker untuk aku kerjakan. Pekerjaanku terhenti saat setelah ponselku berdering, ternyata telepon masuk itu dari Pak RT aku menggeser tombol warna hijau ke kanan. "Ya ada apa Pak" tanya aku. "Kata istri saya dia siap untuk membantu kamu membuat nasi liwet" Pak RT "Terus kalau nasi boxnya bagaimana" aku "Itu juga istri saya siap" Pak RT. "Terus soal harganya gimana" aku. "Kalau masalah harga kamu mendingan datang ke sini sekarang biar enak ngobrolnya" Pak RT. "Ya sudah saya ke situ sekarang" Aku langsung mematikan panggilan itu, lalu bergegas pergi menuju rumah pak RT yang letaknya tidak terlalu jauh dari kontrakanku, Sesampainya di sana Aku dipersilahkan duduk oleh mereka di kursi yang berada di teras rumahnya. "Terima kasih" jawabku sambil menempelkan tubuhku di kursi. "Sama-sama Oh iya kamu mau liwetan seperti apa" tanya bu RT sambil menatapku. "Yang layak aja Bu seperti yang biasa orang makan di sini" aku utarakan keinginanku karena beliaulah yang sangat paham tentang adat istiadat Kampung mereka. "Oh yang seperti itu biasanya di sini kalau kerja bakti warga akan sangat antusias jadi butuh biaya sangat besar" jelas bu RT. "Terus berapa kira-kira biayanya" tanya aku. "Paling satu jutaan dal soalnya itu tadi ibu kan sudah Jelaskan karena kalau kerja bakti di sini pasti akan banyak orang yang membantu" "Tapi harga segitu itu lauknya seperti apa soalnya saya" takut malu Tanyaku. "Insya Allah itu sudah sesuai standar di sini" jelas bu RT. "Kalau masalah nasi bungkusnya itu bagaimana aku" bertanya lagi sambil menatap kearah bu RT. "Iya kalau itu tergantung Dali maunya yang seperti apa" bu RT balik bertanya. "Yang layak dan tidak mengecewakan" jelasku. "Kalau yang seperti itu kisaran antara 30 ribuan per box" ucap bu RT sambil menjelaskan apa saja yang ada di dalam box nasi itu "Kira-kira Butuh berapa box untuk mengadakan syukuran" aku bertanya lagi. "Ya Tergantung kamu mau mengundang warganya berapa orang" bu RT balik bertanya. "Kalau jamaah masjid kira-kira berapa boks ya Bu" "Biasanya kalau kita mau undang jamaah masjid siapkan saja 50 Karena kan tidak semuanya bisa hadir" jelas Pak RT. "Tambahin 10 box buat jaga-jaga saja" bu RT menimpali memberikan saran "Siap jadi totalnya Rp. 2800000 Oh iya Ibu ada nomor rekening" Tanyaku ku "Ada emang kenapa" Bu RT balik bertanya "Total segitu Ibu udah dapat keuntungan takut aku hanya merepotkan" "Udah meski sudah besar Namanya juga harga kerabat" jawab bu RT sambil senyum "Ya udah saya minta nomor rekeningnya" pintaku sama bu RT Bu RT langsung mengirimkan nomor rekeningnya Melalui aplikasi berwarna hijau, setelah dikirim nomor rekeningnya aku segera mengirim uang untuk acara liwetan dan syukuran melalui Mobile Banking. "Sudah masuk tolong dicek Bu" pintaku sama bu :Kok 3 juta dal" ujar bu RT menatap heran ke arahku "Yang 200 itu buat makelarnya Bu" jawabku sambil melurik ke arah Pak RT "Bapak malu-maluin aja sih" bu RT menatap kesal sama suaminya. "Bapak tadi padabal cuma bercanda dal" ujar Pak RT sambil malu-malu. "Gak apa apa pak lagi ada rejeki lebih" jawabku menatap lucu kearah meraka. "Terimakasih ya dal semoga rejekimu selalu berlimpah" ucap bu RT. Dengan raut wajah haru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD