Pov dali
Seusai makan siang seperti biasa aku mengecek handphone, Siapa tahu saja ada hal yang penting, ternyata emang benar ada beberapa pesan masuk lalu aku membukanya satu persatu, dan salah satu dari pesan itu ternyata ada pesan dari Risma.
( Kak dali dini sakit yah kok dia gak masuk kerja) isi pesan dari Risma terlihat dia mengirimnya pukul 10:00
Aku mengklik kolom penulisan pesan lalu mengetik untuk membalasnya.
(Iya tadi aku mau jemput dia Tapi katanya kurang enak badan)
Pesan yang kukurim berubah dari centang dua silver menjadi biru tanda Risma sudah membaca pesan.
( Maaf mengganggu Kak, tapi sekarang sudah tahu kabarnya dari bosku bahwa Dini sakit ) balasnya
( gak apa-apa ) balas ke singkat
( Nanti sore pulang kerja kakak ke ke kosan Dini nggak ) tanya risma di dalam pesan itu.
( Insyaallah emang kenapa ) aku balik bertanya
( Tadi bosku menyuruhku menjenguknya Tapi aku tidak tahu alamatnya, jadi bisa nggak kita pulang bareng maaf Kalau merepotkan ) jawab Risma menjelaskan
( Lihat nanti aja ya, aku tidak bisa janji ) balasku tidak langsung menyetujui permintaannya.
( Oke tolong kabarin ya Kak ).
( Siap ) balasku singkat.
( Terima kasih ) balasnya.
Aku memasukkan ponselku lagi, lalu menyimpannya ke tas mengingat waktu istirahat sudah mulai mau habis.
Selesai kerja mengingat tidak ada acara. Aku langsung siap-siap untuk pulang, tak lupa mampir ke tempat kerja Risma untuk mengajaknya berangkat bareng menuju kosan dini.
"Jadi ikut ke kosan Dini bareng" Tanyaku kepada Risma yang berdiri di depan tempat kerjanya, Mungkin dia menungguku.
"Terima kasih Maaf merepotkan ya kak" ucapnya sambil senyum.
"Enggak kok kan kita searah" jawabku sambil senyum lalu mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu menuju parkiran
Sesampainya Parkiran, aku memberikan helm yang selalu kuikat di jok belakang. Risma langsung memakainya terus dia naik ke motorku, Setelah semuanya dirasa semua beres aku menghidupkan motor lalu berangkat menuju kosan dini.
Di perjalanan tidak ada kata yang terucap, hanya perbuatannya yang membuatku merasa risih. Dia memelukku dengan sangat erat, seperti kita adalah pasangan kekasih, mau mengingatkannya, tapi lidah terasa kelu meski itu tidak baik, aku tetap membiarkannya mungkin emang kebiasaannya kalau naik motor seperti itu.
"Udah sampai ya Kak? " Tanya Risma sambil turun dari motor.
"Sudah, ini kosannya" Jelasku sambil merapikan helm mengingat kembali dibelakang jok.
"Ternyata dekat ya, dari rumahku cuman kita enggak pernah pulang bareng, jadi aku tidak mengetahui bahwa rumah kita ternyata berdekatan" ujar Risma yang sedang menungguku merapihkan helm
"Yang mana emang Kak kamar kosannya" tanya Risma yang berjalan mengikutiku dari belakang.
"Ini" jawab ku singkat sambil menunjuk salah satu kamar kos yang berjejer rapi.
Risma hanya manggut Dia mendekati pintu, kemudian Dia mengetuknya sambil mengucapkan salam. tak lama suara gesekan kunci terdengar beri arah dalam.
Prak
Pintu pun terbuka, lalu Dini menghampiri Risma sambil memeluknya seperti kebiasaan para wanita pada umumnya. melihat hal itu aku merasa seperti bapak-bapak yang sedang yang mengawasi anak-anaknya.
"Ayo pada masuk ajak dini" sambil memegang pergelangan Risma lalu menariknya ke dalam
Mereka terlihat sangat bahagia seperti orang yang sudah lama tidak bertemu, setelah kita duduk Dini mengambilkan dan air kemasan dalam gelas lalu menaruhnya di hadapan kita masing-masing.
"Silakan diminum maaf tidak bisa menjamu dengan layak" ujarnya basa-basi
"Kata bapak Bowo kamu sakit,Emang sakit apa? " tanya Risma ketika dia sudah duduk dengan nyaman.
"Cuma pusing aja tapi sekarang udah agak mendingan" jawab dini yang di hadapan kita
"Syukurlah kalau begitu, tadi tadi siang pak Bowo menyuruhku menjengukmu, sehabis pulang kerja takut kamu sakit parah" jelas Risma sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi buah-buahan segar yang tadi ya beli di supermarket ketika hendak menuju kemari.
"Apa ini" tanya dini sambil menatap nanar ke arah Risma mungkin dia terharu melihat kebaikannya.
"Itu buah-buahan titipan dari pak Bowo, walaupun aku yang membelinya tapi uangnya dari beliau" Risma menjelaskan yang sebenarnya agar tidak salah paham.
"Oh" hanya itu yang keluar dari mulut Dini, seketika wajahnya berubah menjadi kelambu dia tidak pandai untuk menutupi kekecewaannya sehinga aku bisa membacanya.
"Maaf aku tidak membawa apa-apa, karena ini tanggal tua" dengan cepat Risma mengiba Mungkin dia merasa tidak enak atas perubahan sikap dini.
"Enggak apa-apa kak, terima kasih udah mau menyempatkan waktu untuk menjenguk dan terima kasih juga untuk buahnya" ucap Dini sambil senyum ke arahnya.
"Sama-sama Oh iya pak Bowo, juga menitipkan amplop ini" Risma mengeluarkan sebuah amplop coklat lalu memberikannya kepada ini.
"Ini apalagil kak" Tanya dini yang terlihat sangat heran.
"Kurang tahu dibuka aja" perintah Risma.
Dini pun menurut lalu ia membuka amplop coklat itu dengan sangat hati-hati setelah terbuka lalu dia mengeluarkan tuga lembar uang merah, gini terlihat bingung Mungkin dia tidak mengerti apa tujuan bosnya melakukan hal seperti itu.
"Kok kelihatan kayak orang bingung?" tanya Risma yang menatap Aneh ke arah dini.
"Aku cuma heran aja, kok bisa Pak Bowo sebaik ini" dia mengungkapkan rasa herannya atau pertanyaan itu menyembunyikan masalah yang hadapi.
"Emang pak Bowo seperti itu beliau orangnya yang sangat baik dan sangat peduli terhadap karyawannya makanya semuanya pada betah bekerja dengan beliau terlihat raut bangga ketika Risma menjelaskan kepribadian bosnya
Dini hanya menatap kosong ke arah Risma seolah dia tidak percaya dengan apa yang dijelaskannya, terlihat dia menarik nafas beberapa kali lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Ternyata seperti itu. Aku tidak mengetahuinya sekali lagi terima kasih ya kak Sudah mau direpotkan" tanggapan dini
"Sama-sama ya udah kamu simpan uangnya dan Pak Bowo menitipkan pesan Kalau kamu udah sembuh cepat masuk kembali karena toko akhir-akhir ini sedang ramai pengunjung" Titah Risma menyampaikan kan pesan dari bosnya
Dini hanya mengangguk lalu dia menarik satu lembar kemudian berikannya ke Risma.
"Buat apa" tanya Risma dengan heran
"Buat kakak karena selama ini Kakak sudah baik sama aku jadi di hanya ini yang bisa aku berikan Tolong diterima ya kak"
"Itu hak kamu jadi kamu, simpan saja uangnya lagian kan aku juga sudah diberikan Buat ongkos untuk menjenguk" tolak Risma halus
"Karena ini sudah menjadi milikku maka kakak Kak Tidak boleh menolaknya" paksa dini
"Tapi Din" sanggah Risma
"Udah nggak usah pake tapi kakak terima ya" pinta dini memelas.
"Ya udah aku terima tapi kalau aku berikan uangnya ke Kak Dali tidak apa-apa kan? karena aku tidak enak sudah merepotkan nya" pinta Risma sambil menengok ke arahku yang sedari tadi seperti obat nyamuk memperhatikan obrolan mereka
"Ya terserah Kakak" ucap dini sambil menunjukkan raut wajah ah yang sedikit kecewa
"Terima kasih ya Din semoga rezeki kamu selalu banyak" ujar Risma sambil mengambil uang dari tangannya
Kemudian Risma menoleh ke arahku sambil tersenyum lalu memberikan uang pemberian Dini kepada aku
"Buat kamu aja" tolak aku halus
"Tolong terima kalau tidak diterima nanti aku tidak mau minta tolong lagi sama kakak" paksa Risma seolah aku mengharapkan aku mau direpotkan bahwa Aku senang menolongya
Tak mau berkepanjangan aku mengambil uang uang yang diberikan-nya Lagian tidak baik juga menolak pemberian orang.
"Ya udah Silakan diminum, sebentar ya aku ambilkan piring sama pisau buat mengupas buahnya, Oh iya Kak Dali mau ngopi" tanya dini yang sedari tadi tidak memperhatikanku karena sibuk berbincang dengan temannya.
"Boleh tuh mantap" jawabki sambil mengangkat jempol
"Aku juga mau Din" tambah Risma sambil tersenyum kepadaku
Dini pun langsung bangkit lalu menuju ke arah dapur tak lama dia kembali dengan membawa piring dan dan 2 gelas yang terisi kopi, terlihat asap mengepul dari atasnya menandakan kopi itu sangat panas lalu menaruhnya di hadapan kita berdua.
"Kakak tolong" pinta suara lembut Risma dengan manja sambil memberikan gelas kemasan air mineral dan sedotannya yang tidak mau menembus plastik pelindungnya.
"Terima kasih" ucap Risma lagi dengan senyum penuh arti kepadaku.
Melihat perbuatanku terhadap Risma tanpa pengetahuan Risma sudut mataku melihat dini menekuk muka seolah dia tidak rela kalau aku menolongnya aku bingung Kenapa dia bisa seperti itu Apa aku salah jika aku menolong seseorang yang lagi kesusahan.
"Kak Dali mau Buahnya biar aku kupas" tawar gini sambil menatap ke arahku.
"Biar aku aja yang ngupas kamu kan lagi sakit" unjuk Risma sambil mengambil pisau dan dan buah mangga untuk dikupasnya, seolah mereka mencari perhatianku.