simalakama

1263 Words
Pov dini Keesokan paginya setelah melaksanakan salat subuh aku aku tidur kembali karena untuk masuk kerja, rasanya sangat malas dan masih trauma takut bertemu lagi dengan istrinya pak Bowo Trok Trok Trok Pintu kosanku diketok dengan sangat keras sehingga membangunkanku dari alam mimpi "Siapa sih pagi-pagi gini, ganggu ketenangan orang saja" gerutuku sambil berdiri mendekati pintu lalu membukanya. "Kamu masih tidur? Emang kamu nggak kerja hari ini? " tanya seorang laki-laki postur tinggi, berparas menawan itu Aku hanya menggeleng kepala dan menunduk lalu mempersilahkan dia masuk. "Kok nggak jawab, kamu kenapa nggak kerja? " kak Dali mengulang pertanyaannya. Mendapat pertanyaan seperti itu air mataku aku keluar membasahi pipi mengingat, aku juga bingung harus berbuat apa "Lah malah menangis, Ada apa Ceritakan padaku" pinta Kak Dali sambil menggeser duduknya mendekatiku, lalu diusapnya punggungku dengan lembut Setelah tangis ku mulai agak reda, aku menceritakan tentang kejadian kemarin, mulai dari diajak makan siang oleh pak Bowo, sampai ketemu istrinya. Aku menceritakan sama Kak Dali, tidak ada satupun Yang Terlewatkan, mendengar ceritaku kak dali hanya manggut-manggut tanda ia mengerti apa yang menimpaku sekarang. "Aku bingung mau kerja, takut ketemu lagi sama istri pak Bowo, Mungkin ini salahku yang selalu merasa tidak enakan sama orang, akhirnya seperti ini yang terjadi" aku mengakhiri ceritaku "Ya sudah, sekarang kamu istirahat aja, sampai pak Bowo memberikan keterangan Yang jelas, terhadap istrinya" saran kadali sambil terus mengusap punggungku dengan lembut "Aku bingung. Padahal aku niatnya cuma mau kerja, tapi kenapa Masalah itu selalu datang menghampiri" keluhku sambil mengusap air mata yang membasahi pipi "Jangan nangis terus. Jadikan semua ini pelajaran untuk kedepannya, agar kamu lebih tegas dalam sikap" nasihat kak dali Aku hanya mengangguk tanda setuju dengan apa yang dia bilang. "Terima kasih Kak" ucapku Lirih "Sekarang daripada kamu berpikiran yang aneh-aneh, mendingan kita sarapan dulu" ajaknya sambil membuka plastik yang ia bawa Aku bangkit mengambil sendok dan gelas, lalu mengisinya dengan air panas, tak lupa mencelupkan kantung teh agar rasanya lebih nikmat "Aku bingung, kalau tidak kerja lagi, Bagaimana aku bisa bertahan hidup di sini" aku sambil merapikan bekas makanan lalu memasukkannya ke kantong plastik Tidak bisa dibayangkan abisa bertahan hidup di kota sebesar ini, tanpa tidakbada pekerjaan yang menghasilkan uang, mengingat semuanya serba butuh uang, mulai dari tempat tinggal, makan, air dan lainnya. Dan kalau kembali pulang ke rumah orang tua, itu bukan pilihan yang tepat. Apalagi kemarin aku telepon mereka, bukan sambutan yang baik tapi ibu marah-marah, bahkan sempat mengeluarkan ancaman. "Kamu Jangan berpikirkan seperti itu, karena kamu masih mempunyai teman dan aku bisa kamu andalkan untuk mengatasi semua masalahmu, sekarang kamu istirahat saja" jawabnya sambil meneguk air teh panas "Terima kasih Kak, maaf selalu merepotkan" ucapku yang bingung harus berkata apa lagi mengingat banyak kebaikanya. "Kalau kamu tidak mau berangkat kerja, aku pamit duluan ya soalnya jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat, aku takut kesiagan masuk kerja" dia langsung bangkit lalu mengulurkan tangan untuk aku salami. Aku hanya mengantar dengan tatapan sampai dia keluar dari pintu gerbang kosanku, lalu aku kembali masuk ke dalam kosan dan melanjutkan aktivitas yang sempat terganggu. Ketika masalah menimpa dengan berat, yang bisa kulakukan hanyalah memejamkan mata dan berharap ketika bangun masalah itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Kurebahkan tubuhku lalu kuputar lagu-lagu Mellow Untuk mengantarkanku kealam mimpi, lambat laun mataku mulai terkatup mengikuti alunan musik, tak terasa aku sudah berada di alam mimpi Tring Tring Tring Deru ponselku berdering dengan sangat keras membangunkanku dari alam tidur. Kubuka mata lalu kutatap layar ponsel, untuk memastikan siapa yang memanggilku. ternyata itu adalah nomor kontak baru, dengan ragu aku menggeser tombol warna biru takut telepon itu berasal dari istri pak Bowo Setelah kuangkat aku menempelkan ponsel ditelinga memastikan siapa yang nelpon "Halo Din" siapa seseorang laki laki di seberang sana "Iya, Maaf ini siapa" tanya aku heran, karena tidak pernah memberikan nomor ponsel Baruku keorang yang tidak dikenal. "Ini Bowo din, maaf soal kejadian kemarin, hp-ku dibanting oleh istri sampai rusak, makanya aku tidak bisa langsung menghubungimu, ini aku pakai HP baru, kebetulan Risma mempunyai nomormu Jadi aku memintanya" celoteh pak Bowo. "Ya nggak apa-apa Pak, tapi sebaiknya sebelum melakukan sesuatu, alangkah baiknya bapak minta izin dulu sama istrinya, biar kejadian kemarin tidak terjadi" jawabku dengan kesal "Sekali lagi Saya minta maaf. Saya tidak menyangka kejadiannya akan seperti itu, karena istri saya dia sudah tidak peduli dengan kehidupan saya, makanya Buat apa saya minta izin sama orang yang sudah tidak peduli" Bela pak Bowo "Tapi walaupun istri bapak tidak peduli, seharusnya Bapak sadar, bapak itu masih terikat dengan tali perkawinan, jadi tolong jangan membuat hidup saya semakin susah" "Terus sekarang keadaan kamu bagaimana, maafkan kan atas perlakuan istri saya yang keterlaluan" kata pak Bowo mengiba "Pipiku masih terasa panas, perutku masih terasa nyeri, akibat ulah perbuatan bapak, kalau Bapak minta izin sama istrinya mungkin kejadian itu tidak akan terjadi" gerutuku kesal mengingat perlakuan istrinya terhadapku "Kita cek ke dokter ya! siapa tahuada luka dalam yang harus diobati" ajak pak Bowo "Tidak usah repot repot Pak, Mulai sekarang Tolong jangan ganggu saya, dan biarkan kan saya hidup dengan nyaman" pintaku mengiba dengan nada suara terbata bata "Aku jemput ya sekarang" "Kalau bapak sampai jemput saya, Berarti Bapak sudah tidak sayang dengan kehidupan saya, sekali lagi Tolong jangan ganggu saya" tolakku lirih tidak kuat menahan sesak didada. "Iya iya sekali lagi saya mohon maaf, saya janji tidak akan memaksa lagi, terus bagaimana Kamu masih mau bekerja di tempat saya" beliau bertanya "Tidak tahu pak aku bingung aku takut ketemu istri bapak lagi, mungkin besok saya akan pamitan untuk Berhenti bekerja" jelasku sambil terus terisak "Kok mau berhenti, tolong pertimbangkan lagi jangan sampai Masalah sepele membuat karirmu hancur" dengan entengnya dia berucap Dia menganggap tamparan dan tendangan itu adalah hal yang lumrah membuatku menggeleng-geleng kepala tidak percaya dengan laki-laki seperti itu "Masalah sepele bagaimana, ini sudah termasuk masalah besar loh Pak, kalau seperti itu saya mending berhenti bekerja" "Tolong jangan berhenti apapun kemauan kamu, pasti saya akan turutin, asal kamu tetap bekerja di tempat saya" ujarnya memaksa Aku berpikir sejenak menimbang apa yang yang yang terbaik buat kedepannya. Bagaimana aku naikkan gajih mu menjadi dua kali lipat ini sebagai tanda permintaan maaf ku tawar pak Bowo lagi "Aku mau bekerja lagi di situ, asalkan aku tidak diganggu oleh bapak dan aku dilindungi dari amukan istri bapak" jawabku sambil menghembuskan nafas kasar Sebenranya ingin menolak tawarannya tapi mengingat mencari pekerjaan di Jakarta ini sangat susah, Biarkan saja untuk sementara aku terus bekerja ditempatnya, sambil mencari lowongan di tempat lain. Nanti kalau kalau sudah dapat pekerjaan baru aku mengundurkan diri dari tempat pak Bowo. "Aku jamin istrimu tidak akan melukaimu lagi, karena istriku tidak pernah datang ke toko, tapi kalau untuk menjauhimu rasanya itu sangat berat, karena kamulah adik kesayanganku" keluh pak Bowo "Ya kalau seperti itu berarti saya Berhenti bekerja" Tugasku dengan lantang "Jangan Kalau mau kamu seperti itu oke saya akan turuti tidak akan mengganggu kamu, tapi tolong Kamu tetap bekerja di tempat saya" akhirnya dia mengalah dengan keputusanku "Terima kasih atas pengertiannya" "Ya sama sama, mulai besok kamu masuk kerja lagi seperti biasa, sekali lagi saya mohon maaf atas nama Saya dan istri saya dengan kejadian kemarin" "Saya juga minta maaf terima kasih atas pengertiannya" lalu aku putus sambungan telepon Setelah telepon berakhir aku menghela napas kasar lalu membuangnya. Rasanya ini seperti Simalakama, tidak bekerja maka aku tidak akan bisa bertahan hidup dan ketika bekerja juga ini bukan jalan keluar dari masalah, karena mungkin sewaktu-waktu istri Pak bowo akan mencium keberadaanku di tempat kerja Untuk sekarang biarlah aku tetap bekerja di toko pak Bowo lalu secepatnya mencari lowongan pekerjaan baru tempat lain agar aku bisa hidup dengan tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD