kabur dari rumah

1077 Words
Pov dini Aku pun bergegas kembali ke kamar, tak terasa air mata pun menetes tak henti membasahi pipi, rasanya akulah orang yang paling sedih di dunia ini, dalam seminggu dua cobaan besar menimpaku, pertama harus menikah dengan pria tua yang kedua mengetahui kenyataan bahwa aku bukan anak kedua orang yang selama ini aku anggap sebagai orang tua. Pikiran ku di penuhi dengan kesedihan dan pertanyaan pertanyaan yang entah dimana jawabanya. Lama berpikir tapi aku tetap tidak menemukan jalan keluar dari masalah yang ku hadapi sekarang. Tiba tiba pintu kamarku terbuka, lalu ibu masuk dan membawa nampan berisi makanan. Ibu duduk di tepi ranjangku, lalu membangunkan yang sedari tadi pura pura tidur. "Din din bangun dulu, ayo makan" ucap ibu sambil menepuk nepuk tubuh ku. Aku perlahan lahan membuka mata, lalu mengeliat seolah olah aku baru bangun tidur, lalu menyempitkan mata ku menatap ke arah ibu. "Ayo bangun makan dulu, biar badan kamu cepat sembuh nak" ujar ibu lembut sambil senyum menyapa ku. "Iya bu" jawab ku pelan mungkin ibu tak akan mendengarku, lalu aku bangkit perlahan dari tempat tidur Melihat aku bangun, Ibu pun segara membantu lalu menyandarkan ku kesandaran kasur. Melihat ibu sangat baik seperti itu, rasanya aku tidak percaya dengan perkataan meraka bahwa aku hanya titipan seseorang bernama tari, banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan sama ibu, tapi momenya sangat tidak tepat, bisa bisa jadi bomerang buat aku, apalagi tadi aku dengar mereka akan mengurungku kalau aku berbuat macam macam. "Makan dulu ya, biar ibu suapin" ungkap ibu, sambil mengambil piring yang berada di nampan lalu menyendok makanan terus mengarahkan kemulut ku, rasanya pengen menolak tapi tak ada kekuatan untuk melakukan itu, aku hanya membuka mulut pasrah mengikutinya. Setelah makan ibu langsung memberi obat yang sama seperti obat yang di berikan tadi pagi. Takut ibu curiga aku mengambil obat itu lalu memasukanya kemulut, tapi aku tidak menelanya melain kan menaruh obat itu di bawah lidah, supaya tidak terbawa saat meminum air. Setelah minum aku pura pura gak kuat pengen ke kamar mandi, ibu tidak curiga sama sekali dan membiarkan ku berlari menuju kamar mandi. Sesampai nya dikamar mandi, aku buru buru memuntahkan obat itu, lalu berkumur kumur memberesihkan sisa sisa obat yang masih menempel di mulutku. Sekembalinya dari kamar mandi, aku bergegas masuk kembali ke kamar, terlihat ibu masih duduk di tepi ranjang menunggu, aku pun berbaring kembali seperti semula. "Ya udah kamu istirahat lagi ya, biar tubuhmu capat pulih" perintah ibu sambil menutup tubuku dengan selimut Aku hannya mengangukan kepala tanda setuju, lalu perlahan aku memejamkan mata pura pura untuk tidur. Ibu pun menunggu untuk memastikan ku sudah tertidur lelap, setelah ibu merasa yakin aku tertidur, terlihat jelas senyum licik dimukanya, terus ibu bangkit merapihkan tempat bekas makan ku tadi, lalu pergi keluar meningalkan kamar ku. Serasa Sudah aman aku pun membuka mata tanpa merubah posisi tidurku. Aku berpikir keras lagi, supaya bisa cepat cepat keluar dari keadan ini. Lama berpikir akhirinya aku memutuskan dengan menyelesaikan masalah pertama yaitu menikah, biar urusan orang tua ku nanti belakangan, masih banyak waktu untuk mencari kebenaran perkataan mereka, beda dengan menikah yang waktunya tinggal beberapa hari lagi. Solusi terbaik untuk mengahadapi pernikahan yaitu kabur dari rumah, yang jadi pirtimbangan sekarang kalau kabur harus kemana terus uang nya dari mana, jangan sampai menghindari masalah malah kena masalah yang lain. Lama berpikir mengkaji semua kemungkinan, aku pun menemukan satu persatu jalan keluarnya. aku ingat aku punya cincin pertunangan kalau di jual mungkin itu cukup buat ongkos, nanti setelah aku menemukan tempat baru, untuk bertahan hidup aku berencana untuk bekerja. Tenggah malam setelah ibu dan bapak tidak terdengar suaranya, aku bangkit dari tidur lalu menyalakan senter ponsel untuk mencari cincin yang tadi pagi aku buang, tak selang berapa lama aku menemukan cincin itu, aku memakai nya lagi biar tidak susah nanti mencarinya, kemudian aku merapihkan dokumen dokumen penting keransel, lalu menyimpanya nya lagi di lemari. ****** Paginya setelah mandi aku sarapan bareng dengan ibu dan bapak sedang kan kak dani sudah berangkat lagi kerja merantau, paginya setelah lamaran itu. "Wah anak bapak, sudah tidak murung lagi nih" ledek bapak sambil senyum "Apan sih pak, jangan meledek gitu deh" jawabku enteng, sambil senyum menyembunyikan segala kesedihan agar mereka tidak curiga bahwa hari ini aku akan kabur. "Gimana, sekarang udah siap belum nikah sama nak wahyu" tanya bapak "Insya alllah pak" jawab ku senyum. "Iya gitu dong senyum lagian orang tua mana mungkin menjerumuskan anaknya, semua orang tua pasti menginginkan anakanya bahagia, termasuk ibu sama seperti mereka" jelas ibu. "Iya terima kasih ibu, oya nanti siang aku pengen makan ayam kampung panggang boleh gak ibu" pintaku mengiba. "Boleh lah asal kamu nurut sama kita, semua keinginan kamu pasti ibu penuhunin, apa lagi calon suami mu itu pasti bisa menuruti semua kemaun kamu, nanti siang ibu ikut bapak kepasar untuk membeli perlengkapnya" ujar ibu "Terima kasih banyak ibu, udah lama aku gak makan ayam kampung panggan, semenjak bapak gak usaha" jelas ku sumringah Walau mereka tidak mengakui ku sebagai anak, tapi mereka sangat mahir memerankan peran orang tua, selama aku tinggal sama mereka, aku belum pernah di kecewakan selain mereka memaksa untuk dinikahi pak wahyu, begitupun aku yang selalu berusaha menjadi kebanggan mereka. Pukul 09:00 ibu berangkat bereng sama bapak karena arahnya sama, setelah di rumah sepi aku bergegas ke kamar lalu mengambil rangsel yang udah kurapihkan semalam. Setelah semua beres aku bergegas menuju ketempat kerja, aku menuju kesana buka untuk bekerja tapi untuk mencari orang yang suka menerema jual beli emas dipinggir pingir toko, aku sadar kalau di bawa ketempat resmi, cincin emas ku yang tidak memilik surat surat, akan menimbulkan banyak pertanyaan. Lama mencari akhirnya ada penawaran tertinggi yakni sebelas juta rupiah, kata dia kalau ada surat resminya bisa lebih dari itu, tapi itu tidak apa apa aku sangat bersukur uang segitu, mungkin cukup untuk bertahan hidup, beberapa bulan kedepan. Setelah mendapatkan uangnya aku pergi menuju terminal di kota bandung, kebetulan sekali pas nyampe ada bus yang siap untuk berangkat, jadi tidak harus menunggu lama. Setelah bus melaju meningalkan terminal aku baru sadar, ternyata arahnya menuju jakarta, Awal nya aku ragu, apa aku bisa bertahan hidup di kota metropolitan itu, tapi dari pada disini aku harus menikah dengan aki aki, memang pilihan yang sulit tapi aku akan tetap harus menjalaninya, aku harus tetap hidup dengan bahagia, dah harus tau asal usulku yang sebenarnya. Setibanya di terminal aku langsung naik busway yang tak tau juga tujuan nya kemana, Tapi itu tidak apa apa namanya juga kabur yang penting jauh dari rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD