Pov dali "Ke mana larinya tikus itu?" tanya Aira, setelah melihatku keluar dari toilet. "Udah kabur, masuk ke lubang pembuangan air," jawabku, sambil menutup pintu toilet, agar kalau tikus itu kembali tidak masuk ke dapur. "Huh, payah. Kenapa nggak dibunuh" tanya Aira yang menjunginkan senyum miring di bibirnya. Sehingga membuatku menelan saliva. Bagaimana mungkin, aku bisa membunuh hewan, yang kecepatan larinya menandingi kecepatan mobil Formula1. "Udah jangan dipikirin. aku nggak akan bilang sama orang kok, kalau kamu itu payah ucap Aira" sambil menyikut lenganku. "Payah, kenapa?" ucapku, memicingkan mata ke arahnya. "Ya payah lah, masa cowok tidak bisa nangkap tikus, otot aja besar, tapi nggak ada gunanya hahaha" ucap Aira, yang terus meledekku, solah Aira tak ingat, gimana takut

