Udara malam ini terasa cukup dingin, karena hujan yang turun sejak tadi sore belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Langit masih menumpahkan titik-titik air, membasahi bumi. Membasahi wajah lelaki yang kini sedang berdiri di balkon kamarnya seorang diri. Meskipun waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, rasa kantuk tak juga datang menghampiri.
Setelah selesai makan malam tadi, Adrian bergegas mandi dan merebahkan tubuhnya di kasur. Memejamkan matanya dengan paksa meskipun tak ada sedikitpun kantuk yang dirasa. Begitu Muezza memasuki kamar dan melihat suaminya sudah berbaring dan memejamkan mata, dia pun mendekat, mengamati wajah suaminya sejenak. Lalu merebahkan diri di samping Adrian, hingga tak lama terdengar dengkuran halus dari bibir nya.
Saat Adrian yakin Muezza sudah tertidur lelap, Adrian membuka mata. Lalu beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan menuju pintu yang menghubungkan antara kamarnya dengan balkon yang menghadap ke taman mungil di halaman samping rumahnya. Perlahan dia membuka pintu itu, lalu menutupnya kembali agar udara dingin tidak masuk ke kamar dan mengusik istrinya yang tengah tertidur lelap.
Sambil bersandar pada pagar balkon dan mengabaikan tetesan gerimis yang membasahi wajahnya, dia kembali memejamkan mata. Memikirkan semua yang sudah terjadi padanya selama beberapa minggu terakhir. Memikirkan awal mula kedekatannya dengan Naira, yang kadang membuatnya lupa pada Muezza. Entah sejak kapan rasa itu mulai tumbuh.
Dulu sebelum bertemu Naira, Adrian tidak pernah mempermasalahkan apapun yang Muezza biasanya lakukan. Termasuk kebiasaannya menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya.Karena dia sudah terbiasa dengan ketidak hadiran Muezza di sisinya. Namun semua berubah semenjak kenal dengan Naira. Adrian merasa diperlakukan oleh Naira dengan sangat baik dan penuh perhatian. Hingga ketika tiba di rumahnya sendiri, Adrian terkadang tanpa sadar mulai membandingkan kedua wanita itu.
Secara fisik, Muezza jauh lebih cantik dan menawan. Mungkin karena Muezza lebih banyak waktu dan kesempatan untuk merawat dirinya. Sementara Naira, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja. Namun apa yang dirasakan Adrian, dia merasa lebih nyaman saat bersama Naira. Mungkin karena Naira adalah sosok gadis yang mandiri, terbiasa mengurus segala sesuatunya sendiri. Di mata Adrian Naira nanti pasti akan mampu menjalani perannya sebagai istri dan ibu yang baik, jika dilihat dari bagaimana keseharian gadis itu. Entah siapa nanti lelaki yang beruntung mendapatkan Naira sebagai istrinya.
Adrian sendiri sadar bahwa kedekatannya dengan Naira selama ini adalah suatu kesalahan karena dia memiliki perasaan lebih pada gadis itu. Seharusnya dia bisa menjaga hatinya agar tetap setia pada Muezza seorang. Tapi jika hati sudah berkata lain, apa yang bisa dia lakukan? Ingin menyangkal perasaannya sendiri pun terasa sulit. Kehadiran Naira selama ini telah memberikan warna yang lain pada hidupnya. Membuatnya kembali merasakan indahnya diperhatikan dengan sedemikian rupa oleh wanita yang dicintainya.
Semua ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena akan berdampak tidak baik pada rumah tangganya dengan Muezza. Namun hatinya meragu apakah bisa dia melepaskan Naira. Sementara dia juga tidak mungkin melepaskan Muezza, ibu dari putranya. Dan yang lebih tidak mungkin lagi jika dia berpikir untuk memiliki keduanya. Semua akan tersakiti karenanya.
Kepala Adrian terasa berdenyut memikirkan itu semua. Dia menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya dengan kasar. Perlahan dia lalu membuka pintu, untuk kembali masuk ke kamarnya. Setelah mengeringkan tubuhnya yang cukup basah karena tetesan hujan, lelaki itu merebahkan diri di tempat tidur. Tangannya bergerak mengelus kepala istrinya perlahan.
“Maafkan aku, Za…” bisiknya.
---
Pagi ini Naira begitu berat untuk membuka mata. Mungkin karena kondisinya kemarin yang cukup kelelahan, ditambah dengan cuaca yang kurang bersahabat hingga membuat sistem imunnya menurun. Hidung Naira memerah, terasa gatal dan cairan encer itu seolah tidak mau berhenti keluar, membuatnya hampir menghabiskan sekotak tisu. Belum lagi kepalanya yang terasa berdenyut nyeri, membuatnya semakin merapatkan selimut agar hawa dingin tidak semakin terasa menusuk di kulitnya. Beruntung hari ini memang jadwalnya libur bekerja, sehingga dia tidak perlu kerepotan untuk meminta izin.
Hujan yang turun tadi malam, masih menyisakan tetesan rintik kecil yang seolah enggan untuk berhenti menyapa bumi. Membuat sebagian orang merasakan meningkatnya gaya gravitasi di tempat tidur, yang tentu saja menarik mereka semakin kuat untuk tetap tidak beranjak dari posisinya yang hangat dan nyaman.
Namun sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Adrian. Karena pagi ini, diiringi rintik hujan, dia tetap bersemangat seperti hari-hari sebelumnya. Sudah rapi, segar dan wangi. Berjalan perlahan menuju kamar putranya yang mungkin masih tidur. Tangannya bergerak meraih handle pintu, lalu membuka perlahan.
“Wah, anak ayah sudah bangun ternyata.” Seru Adrian ketika melihat Rama yang masih berbaring di tempat tidurnya.
Mendengar suara ayahnya, Rama bangun dengan semangat sembari tersenyum manis.
“Yah… Kelja?” tanya Rama pada Adrian sambil merentangkan tangannya, meminta untuk digendong.
Adrian mengangguk sambal menyambut Rama ke dalam dekapannya, “Iya, Sayang. Ayah kerja. Cari uang buat Rama, buat Bunda juga.”
“Bundaaa…” Rama berteriak saat Muezza baru saja masuk ke kamarnya. Sepertinya anak itu senang karena jarang sekali dia bermanja dengan kedua orang tuanya di pagi hari.
Muezza yang masih mengenakan gaun tidurnya, beranjak mendekat dan mendaratkan kecupan di pipi keduanya. Dua orang lelaki yang sangat dicintainya.
“Sayang, sini sama Bunda. Ayah mau berangkat kerja.” Muezza mengambil alih Rama dari Adrian. Adrian lalu berpamitan pada keduanya, dan pergi diiringi lambaian tangan Rama.
Beberapa saat kemudian, Adrian sudah memarkir rapi mobilnya di halaman rumah kontrakan Naira. Dahinya mengernyit heran saat melihat lampu di teras rumah yang masih menyala. Entah apakah Naira lupa mematikannya, atau justru gadis itu belum bangun? Bukan kebiasaan Naira bangun siang, karena biasanya saat Adrian tiba gadis itu selalu sudah terlihat sibuk. Kadang membersihkan rumah, menyapu halaman, atau sedang memasak.
“Naira…” panggil Adrian sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban, bahkan hingga berkali-kali Adrian memanggil dan mengeraskan ketukannya di daun pintu.
Tangan kirinya lalu merogoh kantong untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Naira.
“Halo…” suara Naira terdengar serak saat menjawab teleponnya.
“Naira, kamu dimana?” tanya Adrian khawatir.
“Ehm..” Naira berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang terasa sakit, “Saya di rumah, Mas. Baru bangun.”
“Buka pintu ya, saya di depan.”
Klik.
Dan Adrian langsung mematikan teleponnya.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Ketika pintu terbuka, muncullah Naira dengan penampilan yang acak-acakan khas orang baru bangun tidur. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan dan kedua tangannya menggenggam selimut yang membalut seluruh tubuhnya.
“Kamu sakit?” tangan Adrian terulur menyentuh dahi gadis itu. Naira hanya mengangguk, sambil menggeser tubuhnya agar Adrian bisa masuk melalui pintu itu.
“Kamu demam, saya antar ke dokter ya?”
Naira menggeleng, “Saya cuma perlu istirahat, Mas.”
“Kamu sudah sarapan? Minum obat?” Pertanyaan Adrian hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Naira.
“Duduk, Mas. Saya bikinin minum dulu.” ujar Naira sambil beranjak hendak menuju dapur, namun tangannya ditahan oleh Adrian.
“Kamu lagi sakit, istirahat aja ya. Saya temani kamu.” tangan Adrian menepuk salah satu sofa, mengisyaratkan agar Naira berbaring saja. Naira menurut dan merebahkan tubuhnya di sofa. Sementara itu, Adrian terlihat sibuk dengan ponselnya. Membuka salah satu aplikasi ojek online untuk memesan bubur dan obat untuk Naira.
Siang hari saat jam makan siang, Muezza melangkahkan kakinya memasuki kantor Adrian. Senyumnya mengembang ramah pada setiap karyawan yang menyapanya.
“Selamat siang, Bu Muezza.” sapa Zahra, sekretaris Adrian.
“Siang, Ra. Mas Rian ada?” tanya Muezza.
Zahra terlihat bingung, sebab tadi Adrian memberi kabar bahwa hari ini dia tidak ke kantor karena tidak enak badan dan istirahat di rumah.
“Ehm… Pak Adrian hari ini… Nggak ke kantor, Bu.” jawab Zahra ragu.
“Oh ya? Ada meeting di luar?” tanya Muezza lagi. Dan perasaan Muezza seketika tidak enak, saat melihat raut wajah Zahra yang terlihat bingung.
“Pak Adrian bilang hari ini nggak ke kantor, Bu. Nggak ada jadwal meeting hari ini.”
Muezza mengangguk lemah, “Saya ke dalam sebentar ya.” ujarnya sambal melangkahkan kaki ke ruangan suaminya. Muezza duduk di kursi milik Adrian. Tertegun sejenak karena dia bingung kemana Adrian pergi. Tadi dia menelepon Adrian namun ponselnya tidak aktif, sehingga Muezza memutuskan untuk mendatanginya ke kantor. Bermaksud untuk mengajaknya makan siang, karena dia batal meet up dengan Indira, temannya dari luar kota.
Kaki jenjang milik Muezza bergerak menjejak lantai dan memutar kursi yang di dudukinya. Pandangannya beredar ke sekeliling ruangan itu. Sementara benaknya masih memikirkan kemana suaminya pergi.