Anniversary

1181 Words
“Halo, Naira? Kamu dimana? Ini saya udah di parkiran.” “Saya masih di kafe, Mas. Tunggu bentar ya.”  “Saya tunggu di mobil aja ya.” “Oke.” Naira memutuskan sambungan telepon dari Adrian yang ternyata sudah datang untuk menjemputnya pulang. Memang sudah sekitar satu minggu ini Naira tak lagi berangkat kerja sendirian, karena Adrian memaksa untuk mengantar dan menjemputnya. Satu hal lagi yang Naira ketahui dari diri Adrian, ternyata lelaki itu suka memaksa, namun entah kenapa Naira pun tidak bisa menolak nya.  Langit biru yang tadinya cerah kini berganti gelap karena mendung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Adrian kembali melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah lima belas menit dia menunggu, namun Naira tak kunjung datang. Lelaki ini mengambil ponselnya dari saku celana, kemudian menelepon Naira lagi. Tapi belum sempat terdengar nada sambung, kaca mobil nya diketuk dari luar membuat Adrian mengalihkan perhatiannya. Ternyata Naira. Adrian lupa membuka kunci sehingga gadis itu tidak bisa langsung masuk, membuatnya sedikit basah akibat gerimis yang mulai turun.  “Maaf, saya lupa buka kuncinya.” ujar Adrian ketika Naira sudah duduk di sampingnya, tangannya sibuk menyapu titik - titik air di rambut dan bahunya. “Iya, nggak apa kok, Mas.” sahut Naira santai. “Ya tapi kamu jadi basah gini.” tangan Adrian bergerak mengelus kepala Naira dengan lembut. Naira terdiam menikmati hangatnya sentuhan Adrian di kepalanya. Bibirnya sedikit tertarik membentuk sebuah senyuman tipis.  “Kita makan di luar aja ya? Kamu nggak usah masak hari ini, biar sampe rumah bisa langsung istirahat.” ajak Adrian.  “Boleh. Kebetulan aku juga lagi males masak.” sahut Naira sambil menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi, kemudian dia mengatur kemiringannya agar tubuhnya yang lelah mendapatkan posisi yang nyaman. “Capek banget ya?” Naira mengangguk, “Temen saya ada yang nggak masuk karena sakit, jadi tadi yang dikerjain lumayan banyak.” Adrian lalu memilih diam, membiarkan gadis di sampingnya beristirahat. Dia mempercepat laju mobilnya agar tidak memakan waktu lama di jalan.  “Kita makan di situ aja ya? Biar cepet.” Adrian menunjuk sebuah warung tenda di pinggir jalan. Di sepanjang jalan ini memang banyak berderet warung tenda yang menyediakan aneka jenis makanan. Mulai dari lalapan, seafood, nasi goreng dan lainnya. Naira mengangguk setuju dengan pilihan Adrian.  ---  Setelah mengantarkan Naira, Adrian memilih langsung pulang. Tidak mampir seperti biasanya, karena dia bisa melihat raut wajah Naira yang terlihat lelah. Naira lebih baik langsung beristirahat saja, agar tidak jatuh sakit. Begitu pikirnya, karena jika dia mampir, Naira tentu akan memaksakan diri menemaninya mengobrol, membuatkannya minuman, atau menyediakannya cemilan.  Setibanya di rumah, Adrian mengerutkan keningnya saat melihat meja makan yang biasanya kosong, kini terlihat penuh dengan aneka makanan. Di sana duduk dengan manis Muezza dan Rama, sedang menatapnya sambil tersenyum manis. Rama bertepuk tangan saat melihat kedatangannya. Setelah bertepuk tangan, kedua tangannya terangkat meminta untuk digendong.  “Ayah…” seru Rama senang melihat dirinya datang.  Tiba-tiba d**a Adrian terasa sesak melihat pemandangan di hadapannya. Adrian kini merasa menjelma menjadi lelaki paling jahat karena telah mengkhianati istri dan anaknya. Rasa cinta untuk Naira yang hadir entah sejak kapan, kini membuatnya merasa sangat bersalah pada Muezza dan Rama. “Yah..” panggil Rama lagi. Adrian tersentak, sadar dari lamunannya. Lalu memasang senyuman di wajahnya meskipun dadanya masih merasa sesak. Dia berjalan mendekati putranya, lalu mengulurkan tangan untuk menggendong Rama dan mengecup pipi gembulnya berkali-kali hingga Rama terkikik karena geli. “Happy anniversary, Sayang.” Muezza berkata sambil berdiri mendekati Adrian yang masih menggendong Rama. Wajah Muezza mendekat, dan mendaratkan kecupan singkat di bibir suaminya. Adrian memejamkan matanya sejenak. Bertambah lagi rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Bagaimana bisa dia lupa dengan hari ini? Muezza yang biasanya sibuk sendiri dengan kegiatannya, kini menyiapkan makan malam spesial untuknya, demi merayakan ulang tahun pernikahan mereka. “Sayang…” Muezza menggoyangkan lengan Adrian, karena sedari tadi Adrian lebih banyak diam. “Za… Maaf… Aku hari ini sibuk dan lupa kalo hari ini anniversary kita.” Muezza tersenyum lembut dan mengusap lengan Adrian perlahan, “Iya… Aku ngerti kok.” “Aku… Aku nggak punya kado buat kamu. Nanti kita cari kado ya…” bisik Adrian sambil memeluk Muezza. Mencoba menyakinkan perasaannya sendiri bahwa rasa cinta untuk istrinya tidak berubah. Namun tetap saja dia tidak bisa mengelak, kalau di kepalanya saat ini berputar-putar bayangan wajah Naira, disertai rasa bersalahnya pada Muezza juga pada Rama. “Kita makan ya. Aku udah masak banyak buat kamu.” Muezza mengambil alih Rama dari Adrian, lalu mendudukkannya di kursi bayi. Adrian sebenarnya sudah merasa sangat kenyang, karena tadi selain menghabiskan makanannya, dia juga menghabiskan makanan Naira yang tidak mampu dihabiskan sendiri oleh gadis itu. Naira akan marah jika dia tidak mau membantunya menghabiskan makanannya, karena Naira sangat tidak suka membuang-buang makanan. Gadis itu tahu bagaimana sulitnya mencari uang, sehingga dia tidak ingin ada makanan yang terbuang sia-sia. Namun ketika melihat bagaimana wajah sumringah Muezza saat menyambutnya tadi, Adrian menjadi tidak tega jika dia tidak memakan masakan istrinya itu. Muezza buka tipe wanita yang suka memasak. Jadi hari ini dia pasti kerepotan membuat semua hidangan ini untuknya. Adrian menghargai usaha istrinya itu.  Perlahan, dia mulai menikmati hidangan yang disiapkan Muezza. Nasi putih, capcay goreng yang berisi aneka sayuran dengan irisan sosis dan baso, daging empal goreng, juga bakwan jagung. Masakan Muezza memang tidak seenak masakan Naira. Tentu saja, karena Muezza jarang sekali pergi ke dapur, apalagi memasak. Adrian pikir, jika Muezza lebih sering memasak, mungkin masakannya bisa seenak masakan Naira.  Hei, kenapa dia malah membandingkan kedua wanita itu? Ini adalah hari ulang tahun pernikahannya dengan Muezza, kenapa ada nama Naira di pikirannya? Obrolan Muezza dan Adrian terhenti saat melihat kepala Rama hampir terantuk meja yang terpasang di kursi bayinya. Rupanya dia mengantuk. Sambil membersihkan wajah belepotan namun menggemaskan itu, Muezza memanggil Erni untuk membawa Rama ke kamarnya.  “Mba Erni, tolong ganti baju Rama, terus tidur. Udah ngantuk banget ini dia.” ucap Muezza sambil mengusap pipi Rama yang lagi-lagi matanya hampir terpejam. “Iya, Bu…” Erni menjauh, membawa Rama ke kamarnya yang terletak di samping kamar Adrian dan Muezza. Adrian dan Muezza melanjutkan makan malamnya namun dalam keheningan. Adrian masih terus berusaha menghabiskan isi piringnya, meskipun kini perutnya sudah terasa sangat penuh. Untuk bernafas saja dia merasa tersengal-sengal. Makanan itu seperti memenuhi rongga dadanya, karena perutnya sudah sedemikian penuh.  Muezza yang melihat Adrian lebih banyak diam menjadi bingung.  “Masakan aku… Nggak enak ya?” tanya wanita itu perlahan. Adrian menggeleng, “Enak kok, Sayang.” “Tapi kamu makannya kayak terpaksa gitu mukanya. Trus dari tadi banyak diam. Kamu mikirin apa?” “Aku tadi sore udah makan di kantor, Za. Makanya aku makannya pelan-pelan. Karena perut aku rasanya sudah penuh.” Muezza menarik nafas pelan, sangat pelan agar tidak terlihat oleh Adrian bahwa dia kecewa. “Ya udah, jangan dipaksa kalo udah kenyang. Nanti perut kamu sakit.” jawab Muezza sambil melirik piring Adrian yang masih belum habis. Muezza lalu meminum air putih di gelasnya.  ART mereka datang untuk membantu membereskan meja makan, sementara itu Muezza menyuruh suaminya untuk mandi dan beristirahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD