Perhatian

1391 Words
Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi, namun matahari sudah beranjak tinggi. Membuat Naira yang sedang menyapu halaman menjadi basah karena berkeringat. Masih ada satu jam lagi sebelum dia harus bekerja. Naira bergegas menyelesaikan pekerjaannya, lalu masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapannya. Sementara itu di tempat lain, seorang lelaki terlihat sedang bercengkerama dengan bocah lelaki berusia tiga tahun. “Rama mandi dulu sama Mba Erni, ya. Ayah pergi sebentar, nanti kita main lagi.” bujuk Adrian pada Rama yang masih enggan melepaskan pelukannya. “Ayo, Sayang. Kita mandi dulu.” ucap Erni sambil mengambil alih Rama dari pelukan Adrian. Erni lalu membawa Rama ke kamar mandi. Adrian melangkahkan kakinya menuju ke kamar, untuk mengambil dompet, ponsel serta kunci mobilnya. Lalu dia bergegas menuju ke halaman tempat mobilnya terparkir dan segera memacu mobilnya, membelah jalan raya menuju ke rumah Naira.  Suara ketukan di pintu depan mengalihkan fokus Naira yang sedang memasak. Gadis itu lalu mematikan kompornya sejenak untuk melihat siapa yang bertamu sepagi ini. “Pagi, Naira…” wajah tampan dan segar milik Adrian menyapanya pagi ini. Naira tersenyum hangat, “Masuk, Mas. Kepagian datengnya. Saya belum mandi, masih bikin sarapan. Mas Rian udah sarapan?”  Pertanyaan itu dijawab Adrian dengan gelengan kepala. “Ya udah, nanti sarapan dulu. Saya masak nasi goreng. Duduk dulu, Mas. Saya tinggal sebentar ya.” Adrian mengangguk, “Thank you, Naira.” Sekitar lima belas menit kemudian Naira muncul ke ruang tamu dalam kondisi yang sudah segar sehabis mandi. Dia sudah berpakaian rapi untuk bekerja. Kedua tangannya memegang piring berisi nasi goreng dan telur ceplok. Naira meletakkan dua piring nasi goreng itu di meja ruang tamu, lalu kembali ke dapur untuk mengambil minuman untuk mereka berdua. “Silahkan, Mas. seadanya aja ya…”  “Kamu pinter masak ya. Ini enak.” ucap Adrian setelah mengunyah nasi gorengnya. “Nasi goreng doang, siapa aja bisa kali Mas, bikinnya.” jawab Naira tersipu mendengar pujian dari Adrian. “Ini beda dari nasi goreng lainnya, lebih enak. Serius.” puji Adrian lagi. Saking bersemangatnya dia makan, tidak sampai lima menit sepiring nasi gorengnya sudah habis tak tersisa.  Naira yang masih belum selesai makan, mempercepat laju kunyahannya. Karena jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat lima menit. Perjalanan dari rumah menuju tempatnya bekerja memakan waktu sekitar lima belas menit. Dia harus bergegas jika tidak ingin terlambat. Dia membawa piring dan gelas ke dapur, lalu memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci rapat.  “Yuk, Mas. Udah hampir jam tujuh nih. Nanti saya telat, nggak enak sama temen yang lain.” ajak Naira sambil menenteng tas kecil di pundaknya. Setibanya di bandara, Naira beranjak untuk segera keluar dari mobil, namun terhenti karena Adrian menahan tangannya. “Jam berapa pulang? Nanti saya jemput.” Naira tertawa, “Kalo dijemput, motor saya ditinggal disini lagi dong.” “Oh iya, saya lupa.” seru Adrian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Saya pergi ya, Mas. Makasih banyak sudah repot-repot anter saya.” pamit Naira yang dibalas dengan anggukan dan senyuman manis di wajah Adrian. ---  Matahari mulai terbenam saat Adrian memacu mobilnya sepulang dari kantor. Kini dia lebih sering membawa mobilnya sendiri tanpa Pak Bowo sebagai supirnya. Tentu saja begitu, karena tidak mungkin dia meminta kepada Pak Bowo untuk diantar ke rumah Naira setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, dan setiap sore setelah pulang dari kantor. Pasti supirnya itu akan bertanya-tanya bahkan mungkin akan melapor pada istrinya, Muezza. Adrian dan Naira kini semakin dekat, meskipun tidak ada komitmen apapun yang terucap dari keduanya. Hanya saja mereka menikmati kedekatan yang mereka ciptakan, karena satu sama lain saling merasa nyaman saat bersama. Berbagi cerita mengenai pekerjaan masing-masing, menghabiskan waktu bersama meskipun hanya sekedar untuk sarapan atau makan malam. Bahkan terkadang Adrian menemani Naira untuk pergi berbelanja ke pasar membeli kebutuhan dapurnya. Sebenarnya Naira sering menolak jika Adrian bersikeras untuk menemaninya berbelanja ke pasar, namun Adrian mengatakan dia ikut andil dalam menghabiskan bahan makanan milik Naira karena dia bisa dibilang sangat sering makan di rumah Naira. Sehingga Naira hanya bisa pasrah saat lelaki itu menemaninya, bahkan membantunya membawakan berbagai belanjaannya. Lelaki itu sendiri justru merasa senang menemani Naira, karena sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Berbelanja dan bisa memilih sendiri apa yang diinginkannya untuk dimasak oleh Naira. Ternyata hal sederhana seperti ini membawa mood yang bagus bagi dirinya. Kenapa tidak sedari dulu saja dia melakukan hal ini bersama istrinya, berbelanja bersama. Namun hal itu tiba-tiba membuatnya tersenyum miring. Muezza berbelanja ke pasar? Tentu saja tidak akan terjadi. Wanita cantik itu lebih banyak menghabiskan waktunya di salon, gym, pusat perbelanjaan, atau di tempat hangout bersama teman-temannya. Bahkan tidak jarang pergi ke luar kota atau ke luar negeri hanya sedekar untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Mobil yang dikendarai Adrian sudah terparkir sempurna di halaman rumah Naira, tepat saat matahari menghilang di ufuk barat, dan langit berubah menjadi gelap. Adrian lalu melepaskan seatbelt dan keluar dari mobilnya. Tangannya bergerak untuk mengetuk pintu, namun belum sampai tangannya menyentuh daun pintu, Naira sudah muncul membukakan pintu untuknya. Adrian tersenyum melihat wajah manis di hadapannya. “Masuk, Mas.” ajak Naira sambil beranjak masuk untuk membuatkan minuman. Adrian langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, tanpa merasa sungkan. Rasa lelah karena banyaknya pekerjaannya hari ini membuatnya merasa sedikit mengantuk. Ketika dia menyenderkan tubuhnya di sofa, matanya mulai terasa berat dan hampir menutup. “Jangan tidur. Minum dulu, biar ngantuknya hilang.”  Naira sudah berdiri di hadapannya, meletakkan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng yang baru saja dibuatnya. Adrian lalu menegakkan tubuhnya yang tadi pada posisi hampir berbaring. Dia lalu tersenyum dan meminum kopi yang dihidangkan oleh Naira. Terdengar berlebihan mungkin, namun saat ini seketika rasa lelahnya seolah menghilang.  “Capek ya?” tanya Naira sambil mengunyah sepotong pisang goreng. Pertanyaan Naira dijawab dengan anggukan oleh Adrian.  “Kamu masak apa hari ini?” tanya Adrian tanpa sungkan, karena jujur saja saat ini perutnya menjerit minta diisi makanan, Naira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Nggak sopan banget, bertamu ke rumah orang langsung mau minta makan.” canda Naira. “Biarin. Tamu istimewa ini.” jawab Adrian percaya diri. “Dih, pede banget.” “Saya sih maunya nggak jadi tamu lagi, Nai. Tapi jadi tuan rumah.” goda Adrian. Wajah Naira bersemu kemerahan mendengar ucapan Adrian. Bukan sekali dua kali dia menggodanya seperti itu. Namun Naira hanya menanggapinya dengan tersenyum. Karena jujur saja dia bingung dengan hubungan di antara mereka berdua. Jika dikatakan hanya berteman, apakah ada teman yang hampir setiap hari datang ke rumah sebelum dan sesudah pulang bekerja, lalu makan bersama dan saling bertukar cerita tentang keseharian mereka? Namun jika dikatakan kekasih, tidak pernah ada komitmen khusus di antara mereka berdua. Mereka hanya menjalani semua ini apa adanya. Yang jelas, dalam hati masing - masing mereka memiliki keyakinan bahwa mereka memiliki rasa ketertarikan satu sama lain. Dan hal itu tentu saja lebih dari sekedar rasa ketertarikan sebagai teman. Meskipun hal itu tidak pernah terucap dari bibir masing - masing. “Dah ah. Kita makan aja yuk, udah saya siapin.” Naira mengalihkan arah pembicaraan mereka. Namun Adrian tetap saja menggodanya. “Wah, kamu memang calon istri idaman, Naira.” “Biasa aja kali, Mas. Kalo mau numpang makan, santai aja. Gak udah memuji berlebihan.” jawab Naira malu dan segera beranjak menuju meja makan diikuti oleh Adrian di belakangnya. Malam ini menu makan malam yang dimasak oleh Naira adalah ikan bakar, cah kangkung dan sambal mentah yang dilengkapi dengan perasan jeruk nipis yang segar. Selain itu dia juga memasak terong bakar yang aromanya sungguh menggugah selera. Membuat perut Adrian semakin meronta tidak sabar untuk segera diisi. “Naira, kamu nggak punya pacar kan?” tanya Adrian. Semenjak hubungan mereka semakin dekat, beberapa kali Adrian menanyakan hal ini pada Naira. “Bosan, udah berapa kali nanyain itu. Kenapa sih?” Naira justru balik bertanya dengan nada kesal. Apakah lelaki ini tidak peka? Jika dia punya pacar, tentu saja Naira tidak akan mau menerima kedatangannya ke rumah ini, apalagi repot-repot memasak untuk mereka makan bersama. “Yaa… Memastikan aja, takut ada yang marah karena saya sering kesini. Numpang makan pula.” “Stt... Habisin makannya. Habis itu pulang. Udah jam segini, Mas masih pake baju kerja, belum mandi. Kapan istirahatnya.” seru Naira kesal, namun tanpa disadarinya kalimat tadi mengandung perhatian yang tertangkap oleh pendengaran Adrian. Membuat lelaki itu merasakan hatinya hangat karena perhatian dari Naira.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD