Bab.7 Undangan Pernikahan

1249 Words
Masih di dalam mobil Victor, mendengar ucapan Alona yang begitu takut kehilangannya, dia membuka laci dashboardnya dan memberikan amplop hitam yang lumayan berasa beratnya jika digenggam. "Sssttt my dear, kamu nggak akan pernah kehilangan aku, aku bisa pastikan itu, sekarang coba kamu buka amplopnya, dan lihat isinya." *Alona dengan perlahan membuka amplop hitam itu, dan matanya tiba - tiba berkaca - kaca, karena sikap Victor yang misterius, membuatnya tidak bisa lagi berkata - kata* "Undangan pernikahan! Untuk kita berdua." "Kamu bisa baca namanya." "Ya Alona Wiliam dan Victor Vladimir." "Aku tidak pernah main - main kan." "Sejak kapan kamu buat undangan ini, dan siapa aja yang akan diundang?" "Saat kamu dan aku melakukan itu, aku sudah memesannya setelah itu. Kita undang semua dosen berikut mahasiswa dan mahasiswinya." "No... kamu bercanda kan, kenapa kita nggak melakukan pernikahan tertutup aja." "Untuk apa menutupi pernikahan, aku ingin menikahimu di alam dunia nyata, karena itu sebuah segel resmi, agar siapapun lelaki tidak akan pernah berani menyentuhmu, dan pernikahan kita itu sebagai simbol sebuah ikatan janji suci." "Aku tahu, kamu melakukan ini agar mereka tidak curiga dengan identitas aslimu." "Kamu tentu lebih tahu my dear." "Dan saat aku pingsan kena hukuman dari Pak Robby, kamu pura - pura nggak tahu." "Ya, karena aku tahu, semua karena malam itu aku dan kamu begitu terhanyut berjam - jam, sampai akhirnya kamu kesiangan dan kena hukuman dari Pak Robby." "Ya dan kamu sok ganteng, ditanya nggak mau jawab, hanya bicara nanti juga kamu tahu, nyebelin tahu nggak kamu itu." "Aku nggak pernah sok ganteng my dear, tetapi memang aku ganteng." "Nggak tahu ahh, sebel tahu nggak sama kamu, sok misterius." "Sebel... sama siapa! Sama aku, apa sama Vlad?" jawabnya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Alona "Jawab aja sendiri!" "Ngambek ceritanya, yakin mau diemin aku, yakin kuat emangnya?" "Victor, kamu itu bisa diem nggak sich, kamu itu dosen, jangan tingkahnya kayak anak kuliahan." "Calon istriku aja usianya masih muda, udah pasti aku ketularan muda kan." "Nggak lucu sama sekali." "I don't care my dear." "Kamu itu harus ada wibawanya." "I know, tetapi ini kan lagi nggak di kampus, masa aku harus kaku, sementara kita berdua udah melakukan itu." "Nggak mau aku melakukan itu lagi, sebel sama kamu." "Yakin... kamu kuat nahannya, aku kurang yakin my dear." "Victor, udah aku bilang, apaan sich kamu." "Ya udah, aku diem aja sekarang." "Aku lebih suka sama sosok Vlad, bukan kamu." "Oh really ... bukannya Vlad kaku cara bicaranya dan terlalu kuno pakaiannya." "Biarin aja." "Hmm untuk apa aku jadi seperti itu, aku tidak perlu lagi mengendap - endap masuk bilik jendelamu, karena ya sebentar lagi kita akan menikah lusa." "Aku lebih suka sosok Vlad intinya." "Ya nanti saat kamu dan aku menyatu lagi dalam peluh asmara, kamu bisa melihat sosok Vlad lagi, namun jika aku menjadi Vlad sekarang, semua akan curiga, karena saat aku jadi Vlad, emosiku tidak terkendali my dear, yang ada mereka akan tahu wujud asliku sebenarnya my dear." "Terserah lah, sebel aku, oh iya ada satu hal yang sangat menganggu pikiranku, kamu bilang siapapun yang menghalangi hubungan kita, akan kamu lenyapkan." "Ya itu benar my dear." "Jika mereka adalah orang tuaku bagaimana? Apa mungkin kamu akan melenyapkannya juga?" "Andai sampai itu terjadi, semua pilihan ada di tanganmu my dear, aku tidak akan membunuh mereka, tetapi akan membawamu ke tempat yang tidak bisa mereka temukan, itu sumpahku." "Okay, tetapi jika kamu melanggar, apa konsekuensinya?" "Seperti yang aku bilang my dear, jika aku melukaimu, apapun bentuknya, silahkan kamu lenyapkan aku dengan pisau perak, tepat di jantungku, maka aku akan musnah dan menghilang selamanya dari kamu." Perjalanan pun berakhir, mereka pun tiba di rumah besar Victor. Saat baru saja Alona ingin membukakan pintu mobil, Victor menahan tangan Alona. "Tunggu my dear, pakai dulu ini, karena akan ada satu kejutan lagi untukmu." "Duhh apaan lagi sich Victor, mau ngapain aku pakai tutupan mata." "Udah sebentar aja, aku pastikan kamu akan bahagia, sini tutup dulu mata kamu ya." "Hufttt emangnya kalau pacaran sama dosen misterius semua akan selalu ada teka - teki." Victor hanya tersenyum simpul melihat Alona yang masih kesal dengannya. Victor lalu menuntun pelan Alona, dan membawanya masuk ke dalam istana megahnya yang begitu klasik dan kuno dengan nuansa warna cat abu - abu. Victor lalu mendekatkan Alona pada dua orang yang begitu sangat dia sayangi. "Sekarang pegang tangan mereka, kamu rasain siapa mereka." "Duhh siapa ih, aku nggak bisa nebak Victor." "Tebak dulu, dan coba inget masing - masing aroma parfum mereka." "Tunggu...! Ahh nggak mungkin kan ini Mamah sama Papah aku." "Buka sekarang penutup mata kamu, maka kamu akan tahu jawabannya my dear." Alona membuka penutup matanya, betapa terkejutnya dia, melihat papa dan mamanya ada di rumah Victor. "Hah! Ini seriusan, Papah sama Mamah ada di sini, kok bisa, tunggu, apa kalian berdua udah saling kenal sama Victor. Bukannya papa sama mama lagi di Jepang kan." "Kami nggak pernah ke Jepang, itu hanya alasan kami aja biar mbok nggak kepo, kami selama ini ada di rumah ini, tetapi kami sembunyi di salah satu ruangan, ini yang dulu Papah bilang, Papah mau mengenalkan kamu dengan salah satu relasi Papah, inget nggak? Dan sekaligus investor ternama di puluhan perusahaan yang ada di Indonesia, dia Mr Victor Vladimir." "Ih sumpah, Papah dan Mamah udah tahu, tetapi diem - diem." "Bukannya diem - diem, kamu kan yang kekeh nggak mau kami kenalin, nah akhirnya Mr Victor sendiri yang punya rencana untuk mendekati kamu." "Ya aku pikir kan relasi Papah kan tua semua, terus masalah undangan apa papa dan mama udah tahu juga." "Ya dan lusa kamu dan Mr Victor harus menikah, papa nggak mau tahu, kamu itu harus ada yang bimbing, jadi hidup kamu nggak akan kacau lagi, kamu pun bisa tambah semangat kuliahnya kan, gimana setelah tahu Mr Victor yang ada di hadapan kamu sekarang , apa kamu masih mau menolaknya." "Nggak sich Pah, duh jadi malu." "Makannya jangan suka negatif thinking dulu, lihat aja belum udah nggak mau ketemu." "Ya maaf Pah, aku kan emang ngiranya relasi Papah tua semua dan mukanya jadul gitu lah." "Hahha masa iya Papah mau ngenalin kamu sama kakek - kakek sayang." "Oh ya Pak Paulo, saat nanti selesai acara pernikahan, apa boleh Alona saya bawa tinggal di sini?" tanya Victor pada Paulo "Nggak masalah Mr Victor, silahkan, karena kami juga jarang ada di rumah, kalau Alona tinggal di sini, kami nggak khawatir, oh ya Mr Victor, rumah ini kan sangat luar biasa besar, apa tidak mau menyewa keamanan atau security." "Tidak perlu Pak, saya yang menjamin keamanan di sini, itu urusan yang sangat mudah bagi saya." "Oh baiklah kalau begitu ya, kami tenang jadinya." "Tidak perlu khawatir, anakmu akan aman bersamaku sampai selamanya." "Wah Mr Victor ini selain tampan bak Dewa di surga, tetapi juga begitu romantis ya." "Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan untuk menjaga wanita yang sangat saya cintai." "Baiklah kalau begitu, kami mau melanjutkan menulis daftar nama tamu." "Silahkan Pak Paulo." Setelah melihat papa dan mamanya pergi meninggalkan obrolan, Alona mendekat ke arah Victor yang kala itu sedang menatap intens Alona. "Oh bagus ya Victor, jadi kamu juga udah lama kenal sama papa dan mama, kamu juga nggak cerita." "Biar menjadi kejutan, karena aku dosen misteriusmu yang akan selalu memberikan teka - teki." "Nggak adil tahu nggak." "Nggak adil dari mananya lagi my dear, aku yang salah lagi gitu!" "Sebel aku tuch, udah ahh aku ngantuk." "Mandi dulu my dear." "Nggak usah, aku udah ngantuk." Victor hanya terkekeh pelan memandangi Alona yang sudah masuk salah satu kamar di rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD