BAB 27

1469 Words
Aku memerhatikan kondisi Loui dari jarak yang agak jauh. Meskipun dia sudah tidak sering mengamuk seperti sebelumnya, hanya duduk diam dengan pandangan yang kosong itu jauh lebih mengerikan. Ditambah dia juga masih sulit untuk diajak berbicara dengan siapapun. Beberapa hari ini juga situasinya begitu tenang, tidak ada serangan yang dilakukan oleh monster itu. ketenangan ini seperti menandakan akan ada sebuah badai besar yang menanti dan memporak porandakan semua yang berada di dekatnya. Kita tidak tahu kapan makhluk itu kembali menyerang. “Melamun, heh?” Dean menghampiriku yang sedang sendirian. “Kenapa kau melihat Loui seperti itu? apa ada yang salah dengannya?” “Tidak, aku hanya sedang berpikir.” “Apa yang kau pikirkan tentangnya?” Dean tertarik untuk mendengarkan pemikiranku. “Apa dia tidak terlalu lemah untuk menjadi The Hunters? Bisakah dia bertarung dengan kondisi yang seperti itu? Kenapa dia selalu histeris setiap kali Eli memintanya untuk menjelaskan seperti apa rupa yang menyerang mereka? Lalu bagaimana caramu menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam kepalaku?” Dean berdeham dengan cukup keras. “Pikiranmu rumit juga, aku tidak tahu harus menjawabnya dari mana.” Aku dan Dean tertawa. “Aku serius berpikir seperti itu, apa dia lebih baik untuk pensiun saja?” “Jika dia tidak bisa bertarung lagi, mungkin dia akan di tempatkan di divisi yang lain. Tapi kondisinya tidak berubah dari sekarang ini, mungkin dia harus berhenti.” Dean menatap Loui dengan sedih. “Kupikir kalian hanya bisa bertarung melawan kami. Memangnya ada berapa bagian dalam The Hunters?” “Kau tidak bermaksud untuk memata-matai kami dengan menggali informasi dariku, kan?” aku menatap wajah Dean yang terlihat jahil. “Untuk apa aku melakukan hal seperti itu, jika kau tidak mau memberitahu ya sudah. Aku akan mencari tahu sendiri dengan mengamati kalian,” aku memalingkan tatapanku dari Dean dan kembali menatap lelaki bernama Loui itu. “Ada tiga divisi dalam The Hunters, yang pertama adalah mereka yang bekerja dalam laboratorium, mereka menciptakan senjata, obat-obatan dan juga tim medis. Kami tidak pernah pergi ke rumah sakit jika ada yang terluka. Kami menghindari pertanyaan kenapa bisa terluka seperti ini, luka sobek menganga lebar, tulang remuk atau patah adalah hal yang biasa terjadi ketika melawan vampire,” Aku mendengarkan penjelasan Dean dengan seksama. “Terkadang kami juga melakukan eksperimen dengan mengambil dna vampire yang sudah kalah dan mati.” Aku menatap Dean dengan tajam begitu mendengar kata eksperimen. “Bukan seperti itu, kami hanya ingin mengambil kemampuan penyembuhan vampire yang sangat cepat. Kami seringkali terluka dan butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk sembuh total.” Dia sama sekali tidak tahu jika vampire dapat menyembuhkan lukanya sendiri dengan meminum darah dan tergantung berapa banyak darah yang mereka minum. Kecuali aku yang tidak perlu minum darah lebih dulu untuk menyembuhkan luka, ucapku dalam hati. “Yang kedua, mereka yang mendidik para The Hunters muda agar bisa bertarung melawan para vampire dan yang terakhir, mereka yang berada di garis depan memburu musuh-musuhnya, seperti aku.” “Kalian memang memiliki kecepatan yang sama seperti kami ketika berlari, tapi apa itu berasal dari diri kalian sendiri atau berdasarkan eksperimen yang kalian lakukan? Kalian melakukan penguatan pada tubuh manusia seperti yang Uncleku rencanakan?” “Alec? Kami tidak melakukan hal seperti itu, dan dia tidak memiliki darah keturunan The Hunters. Leluhurku berasal dari suku yang bernama Mueray yang menyembah dewa sehingga dewa memberikan sedikit kekuatannya pada kami untuk melindung diri. Kekuatan itu diwariskan turun temurun bagi mereka yang memiliki darah Mueray.” Jelas Dean. “Jadi kalian sudah berburu vampire sejak dulu?” “Tidak, kami menggunakan kekuatan itu untuk berburu hewan atau lari dari kejaran hewan liar. Aku tidak begitu suka dengan sejarah tentang leluhurku, aku lebih suka menggunakan ototku daripada mendengarkan cerita masa lalu.” “Sangat dirimu sekali, Dean. Persis seperti yang Granma Lilie bilang, kau selalu tertidur atau pergi diam-diam ketika membicarakan tentang leluhur kalian,” “Semua orang punya ketertarikan yang berbeda. Apa kau sanggup mendengar cerita yang sama berulang-ulang setiap tahun selama beberapa jam. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang, manusia terus berkembang. Kenapa kita harus selalu membahas masa lalu daripada merencanakan apa yang akan kita lakukan di masa depan dan akan menjadi apa kita nanti.” “Dean, Ian sudah sampai dan membawa beberapa orang untuk membantu kita.” Salah seorang Hunters perempuan mendatangi kami, dia sempat menatap tajam kearahku sebelum kembali berbicara dengan Dean. “Tuan Rius juga meminta mengadakan teleconference sejak kau tidak bisa meninggalkan tempat. Semua petinggi The Hunters sudah menunggu anda untuk bergabung.” “Sepertinya kita sampai disini dulu Kim, kita akan berbicara lagi nanti. Ayo Lia, kita tidak boleh membiarkan mereka menunggu lama.” lagi-lagi sebelum pergi mengikuti Dean, perempuan bernama Lia memberikan tatapan tidak suka pada Kimberly. “Apa masalah perempuan itu denganku? Apa aku pernah membuatnya marah, aku bahkan baru bertemu dengannya hari ini,” ucapku dengan kesal melihat sikap perempuan itu. “Itu karena dia cemburu padamu. Kau bisa tertawa dan mengobrol dengan bebas dengan orang itu,” Jayden yang bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat di d**a. “Kau sudah kembali, Jayden…” “Kau juga tidak sadar aku sudah datang dan memerhatikanmu sejak tadi. Apa mengobrol dengan orang itu sangat menyenangkan sampai kau melupakanku?” oh, aku membuat Jayden cemburu karena kedekatanku dengan Dean. “Maaf, aku terbiasa menahan napasku jadi aku tidak mencium bau apapun. Aku mendengar suara langkah yang mendekat, kupikir itu orang-orang The Hunters yang berjalan-jalan di sekitar sini. Aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu.” “Aku cemburu, kau bisa tertawa lepas seperti itu dengan pria lain tapi tidak denganku.” “Jangan bersikap seperti ini Jayden, dia hanya temanku, kau tahu dengan jelas siapa pasanganku.” Jangan menahan napasmu seperti itu lagi Kim, apalagi dalam situasi yang seperti ini,” Jayden terlihat kesal padaku. “Hah?” “Jangan turunkan kewaspadaanmu sedikitpun. Situasi kita sekarang tidak aman, aku tahu kau terbiasa menahan napasmu agar tidak tergoda pada darah, tapi situasi sekarang sedikit berbeda. Jangan lakukan hal seperti itu lagi untuk sekarang.” Kecemasan Jayden terpancar dari raut wajahnya. “Oh, ya... tentu saja. Aku masih belum terbiasa dengan bau dari The Hunters, mereka berbau sedikit aneh.” Aku mengernyitkan hidungku. Jayden tertawa pelan, “Memang seperti itu bau mereka, membuat nafsu makan hilang bukan?” “Ya, tidak begitu tercium ketika bertemu dengan satu orang, tapi begitu mereka bersama di satu tempat aku baru bisa mencium bau mereka seperti itu. Aku harus segera kembali karena Cendric menghubungiku, masih ada beberapa jadwal harus aku selesaikan,” ungkapku. “Kalau begitu ayo kita kembali ke kota bersama,” “Jangan. Kau harus tetap ada disini untuk menggantikanku saat aku pergi keluar, kita harus lakukan secara bergantian. Elisiya sedang pergi keluar dan aku juga akan pergi sebentar, kita tidak bisa meninggalkan David sendiri disini.” “Baiklah, begitu urusanmu selesai kau harus cepat kemari. Aku tidak tahan berjauhan terlalu lama denganmu.” Jayden memelukku dengan erat sebelum aku pergi. “Aku akan langsung kesini begitu kerjaanku selesai.” Aku langsung melesat pergi keluar dari bangunan kosong yang dipakai The Hunters sebagai pos sementara. “Hei, vampire!” seseorang memanggilku, dia berdiri sejauh 20 meter dariku. “Dimana teman vampiremu yang lelaki? Aku tidak bisa menemukannya, Dean memanggilnya untuk ikut meeting dengan para pimpinan The Hunters, atau jika dia tidak ada kau saja yang ikut.” Ucapnya dengan waspada. “David sedang memeriksa bagian paling belakang dari bangunan ini, mungkin dia sedang meminum sesuatu.” Orang itu memasang ekspresi wajah yang jijik. “Cepatlah, mereka sudah menunggu. Jika temanmu tidak bisa, kau yang menggantikannya untuk berbicara.” Dia segera berbalik dan pergi ke tempatnya semula. Tidak mungkin aku pergi sendirian ke tempat yang penuh dengan The Hunters. Meskipun Dean bersikap sangat ramah dan sudah menjamin tidak akan ada yang menyerang kami, tapi sikap mereka yang terang-terangan membenci kami, siapa yang bisa menjamin bahwa mereka tidak akan diam-diam menusuk atau menembakkan senjata mereka padaku. Begitu menemui David yang sedang berada di belakang sambil meminum darah dari botol peraknya, aku segera menariknya menuju ruang tengah seperti yang mereka ucapkan. Dean sedang berbicara serius dengan empat orang lainnya melalui layar laptopnya. Dan ada seorang nenek yang pernah aku temui dulu bersama Kim. Dia tampaknya memegang peran yang sangat penting di dalam The Hunters, karena yang lainnya tampak menaruh hormat padanya. “Mereka sudah ada disini,” David memberitahukan keberadaan kami pada mereka. “Vampire, ada hal-hal yang ingin kami tanyakan pada kalian. Kuharap kalian bisa bekerja sama dengan menjawab semuanya dengan jujur. Kejujuran kalian sangat mempengaruhi gencatan senjata diantara kita. Selain itu kami The Hunters ingin menawarkan sebuah kerja sama dengan kalian, para vampire.” ucap Rius begitu melihat kedatangan vampire yang sudah dia tunggu sejak tadi. “Aku akan mendengarkan dulu tentang ap aitu karena aku tidak bisa memutuskan semuanya sendiri.” Jawab dengan dengan santainya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD