BAB 28

1498 Words
“Maaf… aku sangat tidak suka dengan ide yang anda utarakan Tuan Rius. Itu terkesan seperti anda memanfaatkan dan membebankan semuanya pada kami. Bukankah hal ini terjadi karena berasal dari orang-orangmu? Kenapa kami harus melakukan semuanya untuk kalian, ditambah lagi kalian melarang kami untuk berburu?” protes David pada permintaan Rius. “Kami sedang meningkatkan kewaspadaan, dan juga keselamatan para manusia. Kau tahu… kami sendiri merasa malu karena harus meminta bantuan pada kalian yang sejatinya adalah musuh kami. Tapi kami tidak punya solusi lain, kami juga kekurangan anggota untuk bertarung melawan makhluk itu dan melindungi manusia di kota ini.” “Bukankah kalian juga pasti memiliki pasukan muda yang kalian latih untuk bertarung melawan vampire?” cetus Jayden. “Ya, tentu. Tapi pengalaman mereka belum cukup kuat untuk melawan makhluk itu. Makhluk itu begitu kuat sampai beberapa anggota kami tewas, kami menghindari jumlah angka kematian yang meningkat jika mereka yang belum berpengalaman ikut bertarung.” “Hah, kalian ternyata begitu pengecut…” ucapan Jayden membuat beberapa The Hunters yang ikut dalam teleconference itu marah. “Jika aku jadi kalian, aku akan mengerahkan semua pasukan yang aku punya untuk melawan makhluk itu untuk melindungi manusia, bukan sebaliknya. Setiap makhluk pasti memiliki kelemahannya sendiri.” “Beraninya kau mengatur kami vampire! Jika bukan karena kekurangan pasukan kami tidak akan memohon padamu untuk bekerja sama!” amuk salah seorang petinggi The Hunters. “Kepalanya menjadi semakin besar karena kami memohon padanya! Seharusnya kami tidak membiarkan kalian untuk berkeliaran dengan bebas disini!” “Kalau begitu kalian lawan saja monster itu sendiri, tak perlu melibatkan kami karena itu bukan urusan kami.” ucap Jayden dengan dingin. Sepertinya dia mati-matian menahan rasa amarahnya. “Tenanglah, kita sedang bernegosiasi dengan mereka….” David menenangkan rekannya yang mulai terpancing emosi dengan tingkah Jayden. “Aku tidak tahan lagi dengan mereka, aku akan menunggu diluar saja.” “Tunggu sebentar Jayden…” suara perempuan tua itu menghentikanku. “Apa yang kau inginkan dariku?” ucapku tanpa berbalik menghadapnya. “Hei, setidaknya berbaliklah... dia adalah Granmaku, orang yang paling senior di The Hunters,” protes Dean. “Tidak apa-apa Dean, biarkan saja dia.” Sahut Granma Lilie. “Aku tahu kau begitu kecewa pada kami, tapi kami benar-benar sudah mempertimbangkannya dengan baik. Soal The Hunters muda, kami memang tidak mengizinkan mereka untuk ikut bertarung melawan makhluk itu. Jika semua pertarung yang kami punya mati dan terluka, kami tidak punya apapun lagi untuk melindungi seisi kota dan semua orang didalamnya. Tidak semua garis keturunan kami diberkahi kekuatan seperti ini.” “Aku tidak peduli, itu bukan urusanku. Kalian meminta bantuanku tapi kalian juga mengatur hidupku. Bicaralah pada David, aku tidak mau ikut campur dengan urusan kalian.” Jayden keluar dari ruangan itu tanpa menoleh sedikitpun. “Belakangan ini dia memang jadi sedikit pemarah Granma, biarkan saja dia. Jadi bagaimana kita akan bergerak selanjutnya?” tanya Dean. “Kita tidak bisa bergerak dengan kekurangan orang seperti ini, Dean…” Rius menimpali pertanyaan yang diajukan Dean. “Tapi kita bisa melepaskan mereka yang kita tahan karena bekerja sama dengan Alec, walaupun hanya beberapa orang saja mereka bisa mengisi kekosongan dalam pasukan yang ada.” “Bocah itu benar juga Rius, kita bisa memanfaatkan kedelapan orang itu. Anggap saja kita memberikan pengampunan pada mereka jika mereka mau berdiri di garis depan,” sahut tetua The Hunters yang lain. “Tetap saja kita memerlukan bantuan dari para vampire itu, kita tidak bisa bergerak sendiri. Mereka yang tewas adalah mereka yang sudah terbiasa bertarung melawan vampire. Kita sudah kehilangan banyak anggota kita tahun lalu hanya untuk menangkap Alec,” balas Granma. “Tuan David, apa yang harus kami lakukan agar kalian, para vampire mau bekerja sama dengan kami? haruskah kita mengubah perjanjian yang leluhur kita buat dulu?” “Lilie! Granma?!” semua orang tampak terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Granma. “Lilie, jangan memutuskan seenaknya tanpa berdiskusi dengan kami lebih dulu. Aku sangat menghormatimu karena kau adalah anggota senior, tapi ini keputusan yang sangat besar apalagi mengubah isi perjanjian terdahulu,” “Tenanglah Lilie, jangan terburu-buru… kita tidak bisa gegabah mengambil sikap. Masih…” “Apa kau akan bilang masih ada waktu? Sudah berapa lama kita seperti ini dan berapa banyak manusia yang hilang karena makhluk itu? Apa kalian akan membiarkan saja nasib dari duapuluh orang yang hilang itu?! Kalian akan menutup mata dan telinga?! Kesempatan untuk menangkap makhluk itu ada di depan mata, kenapa kalian masih menundanya sampai sekarang?!” ucapnya dengan nada yang keras. “Lilie, tenanglah...” “Apa kalian masih bisa tenang dengan keadaan yang seperti ini? Bagaimana dengan perasaan mereka yang anggota keluarganya hilang? Tidakkah kita harus bertanggung jawab atas mereka yang hilang? Dimana tanggung jawab moral kalian sebagai The Hunters? Kekuatan yang kita miliki adalah untuk melindungi manusia yang lemah dan orang-orang yang hilang itu adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan seperti kita! Apa kalian sudah lupa itu?! lupakan sementara permusuhan kita dengan vampire, musuh kita sekarang adalah monster itu bukan mereka.” Semua orang terdiam mendengarkan apa yang sudah diucapkan oleh Granma Lilie, seolah ada cambuk yang menghantam kesadaran mereka untuk mengingat eksistensi mereka di dunia ini yang sedikit terlupakan. “Granma benar… kita terlalu fokus pada kekuatan dan kekuasaan kita sampai kita sendiri lupa siapa yang sebenarnya musuh kita sekarang ini.” Suara Dean memecah keheningan. “Lagipula, kalian tidak pernah membuat masalah selama berada di kota ini, kecuali beberapa vampire liar yang tidak ada dalam daftar,” “Mereka vampire nomaden, tidak menetap disatu tempat dalam waktu yang lama. Aku sendiri sulit melacak keberadaan mereka,” jawab David. “Jadi ada vampire lain yang berkeliaran selain di kota ini?” tanya salah satu orang penting dalam The Hunter yang aku tidak tahu namanya. “Ya, mungkin saja mereka ada di kota lain, di perkampungan atau dimanapun banyak manusia berada.” “Jadi mereka tidak terkendali diluar sana?” tanyanya dengan penuh curiga. “Itu kehidupan mereka sendiri, aku tidak punya hak untuk mengaturnya.” “Bagaimana jika mereka membunuh banyak manusia di tempat yang tidak bisa kami jangkau? Bisakah kau menjamin bahwa mereka tidak membunuh satu orangpun?!” David merasakan dirinya seperti sedang diinterogasi. “Memangnya kau pernah membaca atau mendengar kasus pembunuhan massal diluar sana? Apa ada berita tentang kematian karena kekurangan darah? Jika kau tidak punya bukti yang kuat, jangan asal menuduh kami.” “Lalu bagaimana dengan vampire yang menjadi liar, apa kau bisa menjelaskan hal itu pada kami? mereka tetap menyerang para manusia.” David mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawabnya. “Makanan utama kami adalah darah, meskipun kami bisa memakan makanan manusia itu tidak berpengaruh banyak. Kami tetap harus meminum darah dengan jumlah yang sudah di tentukan, saat normal kita bisa meminum dua kantung darah dalam satu minggu. Berbeda dari minum melalui kantung darah, meminum langsung dari manusia memberi efek yang berbeda,” “Apa itu?” “Kami membawa emosi dan perasaan dari manusia yang kami hisap darahnya, itu mempengaruhi emosi kami juga. Aku dan sebagian vampire yang menyadari hal ini tidak sembarangan untuk berburu, kami memilih manusia untuk kami minum darahnya.” “Menarik sekali,” ujar Rius, dia akhirnya bersuara setelah sekian lama hanya mendengarkan David. “Lalu bagaimana caramu jika mereka melanggar hal itu? apa kau hanya membiarkannya saja?” “Kami bisa melacak mereka dari bau, itu hal yang tidak kalian miliki.” “Benarkah? Benarkah kau bisa melacak mereka dengan baunya?” “Ya, bau mereka cukup aneh dan menguap dengan cepat di udara, terlebih lagi bau mereka juga tidak begitu menempel lama dengan sesuatu yang sudah disentuhnya. Itu memang sedikit menyulitkan, tapi kami bisa terlacak. Karena cepat menghilang, kami harus segera melacak dan mengejar kemana bau itu pergi, terlambat sedikit saja kami tidak bisa melacaknya.” “Kemampuan yang sangat bagus, aku ingin kalian bekerja sama dengan kami untuk mengalahkan makhluk itu. dia sudah mulai membahayakan bahkan menimbulkan korban. Kami tidak ingin jumlah orang yang menghilang dan mati terus bertambah, selama dia masih berkeliaran dengan bebas diluar sana.” “Aku mau saja bekerja sama dengan kalian, dengan syarat yang aku ajukan. Jika kalian keberatan aku tidak akan memaksa dan kalian bisa menangkap makhluk itu tanpa bantuan kami, para vampire.” Aku akan menggiring agar seolah tidak ada cara lain selain bergantung pada musuhnya sendiri. Rius tampak mengerutkan keningnya sambil menatap tajam pada David. “Biarkan aku mendengar apa syarat yang kau ajukan agar mau bekerja sama dengan kami?” “Tidak sulit, aku hanya akan mengajukan dua keinginanku. Pertama, aku ingin memperbarui isi perjanjian yang sudah kita buat dulu selama ratusan tahun. Kedua, aku ingin ada sedikit kebebasan untuk vampire yang ada disini.” “Sayang sekali, hal seperti itu sepertinya tidak akan pernah terwujud.” Ujar Rius dengan sedikit ketus. “Kalau begitu aku juga menolak untuk membantu kalian. Kami tidak ingin membantu tanpa imbalan apapun, karena kami bukan manusia yang mau membantu dengan sukarela. Kalian ingin memakai kekuatan kami, maka ada harga yang harus kalian bayar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD