Ini bukan tentang mereka yang hanya memikirkan bagaimana kedepannya akan terjadi semuanya namun ini membuat mereka rasanya tidak bisa lagi berkata apa-apa detik demi detik berlalu seperti apa yang saat ini mereka impikan.
Kelihatannya sekarang ini sudah saat nya mereka menjadi bagian dari sebuah pertanyaan yang besar dan juga sepertinya ini akan menjadi pertanda bagi mereka agar bisa mendapatkan apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Terdengar percakapan di antara mereka yang rasanya juga sangat senang untuk di dengarkan bukan karena apa-apa namun yang pasti kali ini semuanya merasa tidak ada lagi suatu kejutan di balik sebuah peristiwa yang besar hanya dapat merenungi dan berkata bahwa ini adalah sebuah pepatah yang memiliki makna besar maknanya.
"Kenapa seperti ini?"
Kaki mereka keluar dari mobil itu sambil menatap dengan tatapan megah ke depan ini adalah sebuah jalan yang di tunjukkan kepada mereka supaya kelak ini menjadi sebuah perpisahan di antara kenangan manis yang mereka temui, ini baru sebuah hal yang baik di antara kenangan yang mereka miliki.
"Apa yang kamu katakan? bukankah ini adalah tujuan kamu datang lebih awal sekarang ini?" tanya wanita itu sembari menatap ke depan dengan tatapan tajam.
"Apa yang membuat kamu seperti itu?" tanya Samantha dia tertawa saking semangatnya sembari melepaskan pelukan itu karena rasanya dia akan selalu menangis kalau memeluk.terlalu lama temannya.
"Apa? saat ini aku telah sampai di rumah ku jadi kalian bisa pergi atau apakah kalian akan masuk? tetapi jangan kalian merepotkan beban aku saja, lebih baik kalian pergi saja," ucap Rachel dengan nada yang tertawa dia benar-benar senang dapat melewati semua ini dengan begitu kencangnya angin yang datang dari arah barat dan juga timur.
"Mengapa semuanya terjadi seperti itu?"
"Lebih baik kita pulang dan selebihnya sekarang ini kita bisa bersama di antara banyaknya bintang di langit dan juga banyaknya rintikan hujan," ucap wanita itu dia yakin dengan mengatakan hal seperti itu dia merasa tenang.
Bukan tentang apa bola mata mereka saat ini menatap wajah dari wanita Rachel itu dia yakin dia akan mati sekarang ini di tempat dia juga tidak akan tahu apa yang akan terjadi di tempat ini namun satu hal yang perlu dia ketahui yaitu diam dan mengamati semuanya dengan diam, sepertinya ini akan lebih mengasyikan.
Bukan tentang apa juga mereka akhirnya pulang dengan pelukan dan juga sedikit kata perpisahan mungkin ini akan sedikit lebih baik untuk mereka, dan benar saja sekarang ini semuanya berjalan dengan lancar dia mobil itu akhirnya pergi dan meninggalkan tempat dari Rachel, sebelahnya juga Rachel tahu apa yang akan terjadi dia pasti akan di amuk oleh kedua orang tuanya, tetapi di pikirannya tidak ada lagi kata takut karena saat ini dia tahu dia bisa bahagia karena teman-teman yang sangat kejam itu kepada dirinya beberapa hari ini.
Dia mengelus pinggangnya setelah pulang dia akhirnya bisa merasakan napas di kota ini dia bisa bebas karena ini bukan tentang apa lagi ini mengenai dirinya yang tampak tidak selalu pede dengan apa yang dia lakukan.
"Apa yang kamu lakukan saat ini?"
"Ayok masuklah Rachel tidak akan ada seseorang yang datang menemui mu di tempat ini?"
"Ayoklah semoga ibu dan ayah sudah tidur dan nyenyak dengan alam mimpinya bukannya ini lebih baik?" tanyanya sedari tadi bermonolog dengan hatinya karena dia yakin dengan seperti ini dia bisa mendapatkan satu hal yang cukup berarti nantinya.
Dia tengah mengendap-endap masuk dengan kakinya yang perlahan mulai menjinjit dan juga dengan saat ini dia merasakan bahwa semuanya aman, lampu juga aman dan juga selamanya juga aman dia tenang dan menarik napas dalam, dia melihat pembantunya Jam seperti ini masih saja membersihkan rumah dia hanya bisa membuat ekspresi wajahnya sw sedih mungkin agar dia dianggap sangat lelah dan langsung ke kamar saja.
"Kenapa dengan Nyonya?"
Pembantu itu bertanya dan benar saja dia mendapatkan satu hal yang sangat benar dia malah mendapatkan cacian makian dari kedua orang tuanya entahlah dia hanya bingung menamai ini apa, apakah ini sebuah cobaan ataupun sebaliknya tetapi yang pasti dia sangat tidak suka dengan kata cobaan.
Bola matanya terkejut tak kalah biasa dia yakin bahwa ini adalah sebuah jaringan di tengah koneksi juga dia berhasil mendapat kepercayaan sewaktu pergi dari rumah ini tetapi dia bingung apalagi cara yang harus dia lakukan agar bisa mendapatkan kekuatan untuk semua ini.
Bola mata ayahnya benar-benar tajam ini membuat semuanya terasa lebih hampa dikarenakan ini tengah malam otaknya juga tidak dapat berfungsi dengan baik maka dari itu dia hanya menunduk sewaktu orang tuanya memberikan dia pengarahan dari awal perkataan sampai akhir dia merasa ini tidak baik lagi.
"Kenapa lama pulang?"
"Dengarkan saya berbincang ,atau tidak pergi segera ke kamar tidur."
"Kenapa?"
"Cepat pergi dari sini, kenapa masih diam saja sudah lama pulang tetapi mau masuk menyelip ke rumah tanpa se izin saya?"
Sergahnya dan dari situ tangan dari Rachel segera menyalimi tangan lelaki yang di depannya di dalam hati dia hanya berdoa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan yang tidak lain adalah sebuah kecepatan kilat untuk malam ini.
Dan kembali beberapa menit lagi dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dia bisa pergi ke kamar berkat bantuan dari ibunya yang tercinta dia bisa senang dan juga bisa bernapas tidur di kasur karena sekarang ini ayahnya telah memaafkan dirinya yang sungguh malang ini.
"Apakah ayah tidak kasihan kepada putri kita? lihat saja dirinya sudah sangatlah lelah apakah ayah tidak ada sama sekali rasa kasihan?" tanya ibunya dengan nada yang sedikit rendah kepada suaminya yang berada di depan itu.
"Tidak, saya sama sekali tidak kasihan dengan putri pembangkang seperti ini, mana ada mau seorang putri yang datang ke sini tidak minta izin dan pergi tidak memberikan kabar," ucapnya dengan nada yang ketus dan juga wajahnya yang sedikit kusam.
"Kenapa?" tanya Rachel dengan wajahnya yang sedikit menunduk.
"Tidak usah takut, kenapa berperilaku seperti itu segera pergi ke kamar jangan sampai saya membuat sesuatu yang membuatmu terasa tidak nyama," ucap ayahnya dan segera ibunya menebarkan senyum yang tak kalah besar dan juga lebar saat itu.
"Baik terimakasih ibu, Anak," ucapnya dan saat itu kakinya melangkah perlahan dia merasa ini adalah pilihan yang baik.
Sesampainya di depan kamar dia meletakkan semua barang-barang yang dia bawa dan segera pergi ke kamar mandi, mandi di tempat itu rasanya adalah surga bagi dirinya yang sangat membahagiakan.