GUBUK TUA

1007 Words
Nasib jika dia baik maka dia akan pergi dari dirimu, dan itu akan menguji kesabaran kamu, begitu juga dengan apa yang kini di rasakan oleh empat sahabat yang tengah menahan rasa malas untuk menanjak ke atas tebing itu rasanya sungguh ini adalah puncak dari segala puncak perjalanan mereka dan kali ini diam bukan menjadi pilihan tetapi bermain di tengah banyaknya situasi adalah banyaknya situasi. "Apakah yang kau lakukan jangan lihat aku? rasanya wajah ku ini hampir tertawa setiap saat," geram Elica karena dia tidak tahan lagi untuk bermain di era yang Casilda buat. Casilda menatap ke depan dengan tatapan yang dia tahan semuanya dia juga tidak tahu lagi harus mengatakan apa-apa lagi namun dia harus sadar bahwa saat ini diam juga bukan menjadi pilihan yang baik bagi dirinya, dengan napas yang terengah-engah dia mencoba untuk menatap ke depan dan dengan lancang dia tertawa keras karena rasanya tawa yang di tahan tidak baik untuk dirinya sendiri. "Apakah yang kamu lakukan? kenapa tertawa begitu lepas di dalam hutan seperti ini?" geram dari Rachel saat dia memantau sahabatnya sedari tadi. "Lantas aku harus bagaimana sayang? jujur menahan tawa itu lebih susah dari pada menahan kentut," dia merasa bahwa ini tidak baik lagi. "Astaga ayoklah mengapa kalian berdebat di tengah hutan dan di terik matahari ini," resah dari Samantha saat sedari tadi dia hanya menatap bagaimana perlakuan dari kedua orang yang berada di tempat itu. Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama entahlah mungkin ini akan menjadi hal yang lebih baik. Kenapa? karena dengan kejujuran masing-masing mereka akan menjadi bebas dan kini mereka akan lepas dari tawa yang di tahan kecuali untuk wanita yang selalu pembawaan dingin dia takut kalau sampai saat tertawa mereka akan menjadi salah satu penyebab hal yang sangat tidak diinginkan oleh dirinya. Samantha menjadi pribadi yang lebih dingin saat dia merasa bahwa ini tidak baik lagi dan kalaupun dia ingin tertawa dia hanya bisa tertawa di dalam kesepakatan antara hati dan juga isi pikiran dia yang sama sekali tidak pernah berjalan searah. "Apakah yang selalu dia pikirkan? sepertinya dia tidak tahu akan makna tertawa bukankah begitu?" tanyanya dan kembali menatap ke arah Rachel. Rachel tidak tahu apakah yang dilakukan oleh si wanita itu, tetapi yang terpenting sekarang ini dia bisa menahan rasa takutnya dengan tawa ini dia bisa bebas berkreasi dengan tawa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya sebelum malam merenggut kembali nyawa mereka. Perjalan begitu panjang jika di perkirakan mereka bahkan belum bisa berjalan lebih cepat dari apa yang di perkirakan hingga saat ini Samantha menyerah dia hanya ingin berhenti di tempat yang teduh dan melihat sekarang ini minuman yang berada di dalam ransel mereka masing-masing. "Ayo, kita berhenti di situ dan mari kita makan sejenak serta minum rasanya tidak enak kalau selalu seperti ini," ucap Samantha dan wajah ke tiga sahabatnya segera berubah menjadi senang. Tadinya wajah mereka sangatlah sedih dan lelah serta letih namun ketika mereka mendengarkan keluar seucap dari mulut Samantha mereka malah sangat senang untuk melanjutkan perjalanan ini. "Apa? seorang Samantha meminta untuk berhenti di tengah hutan seperti ini?" tanyanya dan kembali duduk di samping dari Samantha. "Sudahlah mari kita melakukan rutinitas seperti biasanya kalian jangan terlalu bacot mari kita minum," ucapnya dan kembali berhenti menatap segalanya. "Apakah ini?" dia bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bola mata mereka menatap nanar ke depan pasalnya tidak bisa di sebut kalau sekarang ini mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, tidak seperti biasanya mereka akan melakukan ini berpisah. "Apakah punya kamu.minuman telah habis?" tanyanya dan kembali meraba tempat minuman punyanya. "Yah, habis juga bagaimana ini?" tanya Rachel saat dia melihat botol minumnya ternyata sudah habis. "Aku pasti ada," ucap Rachel dengan wajah yang berseri-seri saat dia membuka ranselnya dengan perlahan. "Aku rasa aku juga ada bagaimana ini?" tanyanya dan kembali menengadah ranselnya, siapa lagi kalau bukan dia Casilda tentunya. Casilda dan juga dengan ketiga sahabat itu mereka bahkan tidak tahu harus meminum apa lagi karena ini siang hari matahari juga terik sangat mereka hanya bisa mencari di mana tempat air dan di mana tempat mereka bisa berteduh menghapus segala kenangan yang pahit ini. "Bagaimana nasib kita?" tanya Samantha dia selalu saja merasa bersalah kalau seperti ini. "Tidak apa, hitung-hitungan ini adalah beberapa langkah bagi mereka agar sampai dengan cepat di tempat yang mereka inginkan," ucap wanita itu dengan wajah yang sangat santai. Seberapa lama mereka akan bertahan sampai di titik penghabisan mungkin ini akan lebih baik atau malah sebaliknya ini akan lebih tidak senang lagi, beberapa saat telah berlalu dan kini mereka semua tengah menjalin apa yang di sebut dengan rasa sakit di atas tanjakan gunung. "Baiklah kalau begitu kita akan bagaimana? mungkin berjalan lebih cepat lagi akan membawa kita ke arah mata air bukankah seperti yang kita ingat ada mata mual di sini?" tanya Samantha dia benar-benar mempelajari hal-hal yang begitu sulit untuk di deteksi. Beberapa detik kemudian bola mata mereka saling menoleh seperti memberikan kode akses bagi ketiga temannya akhirnya mereka bangkit dan saling menyemangati lewat tatapan mata yang tajam itu, dia rasa ini akan menjadi hal yang lebih mulus untuk di lalui. "Apa yang kamu lakukan saat ini?" tanya wanita itu dia juga takut kalau sampai terjadi apa-apa. "Tidak, hanya saja aku.merasa ini tidak akan bertahan lebih lama, Samantha jangan lepaskan kami kalau akhirnya akan berahkir di tempat yang sangat jauh dari jangkauan manusia," ucapnya dengan nada ngos-ngosan. Ketika satu jam lebih berlalu dengan begitu lama, paru-paru mereka rasanya susah hour kering dan sampai saat ini belum ada pertanda sama sekali akan munculnya mata mual tetapi mereka mulai berhenti saat di depan mata mereka ada gubuk tua yang terasa sangat lebih familiar saat dilihat bersama-sama. "Apakah itu gubuk? Apakah di tempat ini ada penjual bakmi goreng?" tanyanya dengan nada yang canggung setelah dia menoleh ke samping dan menatap Elica, Rachel dan tentunya dengan Samantha. "Apakah kamu kira penjual bakmi goreng akan hidup di tengah keramaian yang tidak ada orang sama sekali ini?" geram Casilda di juga tahu persis apa yang di maksud oleh wanita itu. Mereka berjalan perlahan semoga apa yang mereka cari dapat mereka temukan di dalam gubuk yang sangat tua itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD