IBLIS YANG BAIK

1022 Words
Tidak ada kata menyerah sebelum mencoba, dan benar saja itu menjadi salah satu hal yang lebih baik untuk mereka. Mereka masih menjelajahi semua tempat itu karena dengan begini ada pengalaman dan ada hal yang lebih baik untuk mereka ikuti, tidak ada kata lain selain bersyukur karena dengan begini mereka dapat menjalankan semuanya dengan perlahan. "Apakah kalian lelah? apakah kita perlu untuk istirahat sejenak?" tanyanya dan kembali menatap ke depan dengan tatapan yang lebih santay. "Apakah kamu yakin bisa membantu kami keluar dari rasa lapar ini?" Keluh mereka bertiga karena bekal memang sudah sedikit. Perjalanan belum sampai tetapi kenapa mereka belum juga menemukan pertanda-tanda untuk sebuah hal yang baik, tidak ada mata mual dan sekarang air minum mereka belum juga ada apakah yang harus mereka lakukan? diam atau memilih bergerak lebih cepat? "Apakah yang kamu inginkan?" tanya Elica saat dia melihat Samantha mulai duduk dan membuka ranselnya. "Sekarang saja kita makan ini, apakah kamu bodoh? untuk apa kita menyimpan makanan ini besok kalau sekarang kita tidak dapat makan?" tanya Samantha seribu kesalahan rasanya sudah dia rasakan. Dengan bola mata yang sendu dan juga sinar matahari yang perlahan sudah datang menyinari mereka akhirnya semuanya memakan sisa makanan itu karena ini lebih indah dari apa yang mereka rasakan. Tidak pernah mereka rasakan kekurangan makanan sedikit apapun itu, tetapi sekarang mereka mengerti apa yang di maksud dengan kekurangan tidak apa karena ini adalah salah satu hal yang lebih indah. Mereka saling tertawa dan memeluk tubuh lawan masing-masing mereka juga adalah salah satu gelimang harta bagi setiap pribadi yang lain, mereka adalah salah satu hal yang berharga bagi Samantha. Mereka saling berpelukan di mulai dari Casilda yang merasa momen ini adalah momen yang lebih baik di banding kan moment yang lainnya. "Aku adalah pelupa yang merindukan rasa dan raga setelah sekian lama merasa kehilangan harga diri dan mental sekarang aku tahu," tangisnya dan saat itu Samantha segera mengingat bagaimana perbuatan dari kedua orang tuanya yang selalu sibuk akan pekerjaan kepada diri nya. "Kalau boleh jujur kaya itu tidak selalu meyakinkan kita, di rumah bahkan aku tersiksa tubuhku terbagi menjadi dua di satu sisi ingin memenuhi kriteria dari ibu dan di satu sisi lagi ingin memenuhi kriteria dari Ayah," keluh Rachel dia juga mengatakan unek-unek dia selama ini yang terlalu dalam dia sembunyikan. Dan kini adalah hal yang paling penting bola mata dari Elica dan juga Casilda adalah sengsara mereka bahkan tidak tahu apa yang akan mereka katakan karena sungguh mereka adalah intan di tengah permata. Mereka bingung harus mengatakan apapun itu karena rasanya ini belum ada batasan yang lebih baik, mereka adalah pribadi yang baik dan juga di karuniai oleh sosok ayah dan ibu yang pengertian namun kadang mereka yang sedikit oleng karena tidak mau menerima perkataan dari kedua orang tua mereka. "Apakah kalian tidak ingin memeluk kami?" tanya Samantha dia menatap ke depan dengan tatapan lancar. "Apakah yang kamu katakan? bagaimana kami bisa mengatakan tidak?" Elica mengambil tubuh Casilda yang sempat tertegun dan dia memeluknya dengan erat seperti perpisahan yang akan datang sepertinya ini akan lebih baik mereka sama-sama berpelukan dengan baik, melepaskan segala pikiran hati adalah pikiran yag lebih baik. Setelah mereka melihat apa yang ada di dalam hati mereka masing-masing kini mereka berdiri dengan langkah yang tegas dan juga dengan suara yang tengah mereka siapkan sekarang juga mereka saling membulatkan tangan di samping kanan mulut. Dengan siap mereka berkata lebih keras dan yakin bahwa tidak ada yang akan mendengarkan hal ini, hanya mereka berempat saja tidak ada orang lain. "Kalian sudah yakin?" tanya Samantha sebagai pemimpin. "APAKAH KALIAN YAKIN BAHWA HIDUP AKU BAIK-BAIK SAJA?" Samantha bertanya. "BEBAN HIDUPMU ADALAH BEBAN HIDUPMU LANTAS APA YANG KAMU INGINKAN?" tanya Elica dengan wajah yang ceria di selimuti oleh tangisnya yang sangat dalam. "TIDAK APA DI DUNIA INI MEMPUNYAI BANYAK MASALAH TETAPI APAKAH KALIAN AKAN TAHAN DENGAN SEMUA INI?" Casilda bertanya dengan tatapan mata yang dalam. "TUHAN SEMOGA PULANG DARI PERJALANAN INI SEMUANYA LANCAR JODOHKAN JUGA ADA." permintaan dari Rachel dan dengan santay dia tertawa lepas memegang perutnya yang sudah sungguh sangat sakit. Semuanya tertawa tetapi sebelum sinar matahari lebih cerah mereka akan berteriak secara bersama-sama dan mengambil salah satu foto ketika di mana mereka mengucapkan janji, mungkin ini adalah hal yang lebih baik. "APAKAH KAMI AKAN MENDAPATKAN APA YANG KAMI INGINKAN TUHAN? APAKAH KAMI YAKIN BAHWA APA YANG KAMI INGINKAN BISA MEMBUAT KAMI HIDUP?" Mereka tahu bahwa dengan mengatakan apa yang ada di dalam hati mereka akan lebih baik dan lega semua masalah akan pergi dan kebun tentunya mereka akan pulang dengan keadaan yang baik. Setelah satu jam mereka tengah meninggalkan tempat itu, mereka juga berjalan dengan semangat tanpa ada rasa lelah di tambah oleh dirinya yang tidak lain adalah Samantha yang tengah hangat dia tidak dingin lagi. "Apakah yang kalian lihat? jangan menatap ke arahku kalian akan jatuh ke jurang nanti," ucap mereka berdua menatap ke depan dengan tatapan yang tajam. "Apakah kalian berdua terlalu pede, meskipun kita dari universitas yang sama tetapi ingatlah kalian adalah orang yang tercantik di kampus," tangis Casilda meratapi dirinya yang sama sekali tidak bisa berada di atas oleh Elica. Rahel dia hanya bisa menganggap semua ini sebagai semua canda di atas perjalanan yang besar dan lebih tentunya ini adalah hal yang perlu di abadikan. Mengambil foto di gunakan di sela-sela waktu, dia juga sadar bahwa ini tidak akan bertahan lebih lama dia yakin bahwa mengambil kenangan sama dengan mengenang satu hal yang baik di tengah dunia ini. "Apakah kita akan lama lagi sampai? sumpah aku sudah tidak tahan lagi?" tanya Rahel seketika dia kembali merasa lemas ponselnya dia simpan kembali ke sakunya. "Apakah yang kamu katakan? kenapa belum bisa mengatakan bahwa kamu semangat?" tanyanya dan kembali menatap ke arah Rachel. "Ini perjalanan selama hidupku yang lebih jauh aku tidak yakin bisa bertahan lebih lama," ucapnya saat itu dan kembali menatap ke depan. Mereka berempat saling menguatkan satu sama lain dan kini dia juga berhasil memberikan semangat yag besar kepada Rachel dengan mengingat masa lalu masa di mana mereka pertama sekali bertemu dengan watak yang sangat berbeda dan kali ini semuanya akan berjalan dengan lebih baik dan nyaman. "Ayo, saya yakin kita bisa lantas apa yang kita cintai mari kita lakukan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD