Tidak tahu mengapa mungkin sekarang ini Elica tidak tahu akan apa yang dia lakukan sekarang karena mencoba untuk diam bukan lagi menjadi pilihan dari wanita itu dia menatap ke depan sembari menarik napas dengan terengah-engah karena berteriak mungkin tidak lagi menjadi pilihan dia yang baik, dia tertawa saking tidak tahan lagi dan kemudian dia kembali menatap beberapa temannya yang tidak lagi bisa tertawa bahkan untuk menarik napas dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa sekarang ini jaln satu-satunya adalah melewati jalan yang penuh curang itu.
“Apakah kalian tidak dapat membawa kebahagiaan untuk ku lagi setidaknya dengan mengingat kejadian apa yang tengah kita lalui beberapa saat ini kita bisa bertahan sampai di titik ini.”
Casilda kali ini yang membuka mulutnya dia berkata demikian karena lebih baik menurutnya seperti itu dan lebih tenang karena dia merasa ini akan menjadi topik yang baik agar Elica tidak merasa bahwa lelahnya itu terlalu dalam, dia menarik napas dan tertawa setelah beberapa ssaat akhirnya dia bisa tenang, dengan begitu rasanya dia akan mendapatkan ketenangan yang paling hakiki di waktu itu, dia mendapat sorotan mata yang tajam dari wanita itu yang siapa lagi kalau bukan Samantha yang selalu merasa sensitive apalagi kalau di malam-malam seperti ini rasanya ingin mengamuk namun dia rasa ini tidak baik lagi.
“Sudahlah, mengapa kalian seperti ini? Biarkan semuanya berjalan dengan baik dan setidaknya kita bisa sampai di tempat yang kita inginkan dengan selamat bukankah itu tujuan kita dari awal mula rencana?” tanya Rachel dengan suara yang serak.
“Iya, itu memang tujuan awal kita datang ke tempat ini karena memang terlihat diam bukan menjadi diri kita sendiri, lagi pula kenapa harus selalu bertengkar saat ada permasalahan bukankah kita sudah biasa mendapatkan hal seperti itu?” tanya Casilda dan dia sangat bodoh tadinya dia hanya mencoba untuk memerangi peperangan yang terjadi tu namun kenapa saekarang dia malah membela.
“Ayok, sepertinya pagi ini terasa lebih dingin bukankah kalian merasakan itu? Apakah ini pertanda bahwa kita akan berada di puncak?” tanya Elica dia semakin semangat saat merasakan kedinginan yang paling dalam itu.
“Aku rasa kita masih lama berada di sini karena ini terlihat masih puncak sedikit tidak lebih dan tidak kurang, coba kalian tatap ke bawah apakah ada pertanda bahwa kita sudah lama berada lama di tempat ini.” Casilda menleh ke bawah banya lembah yang ternyata sudah mereka lewati dalam beberapa hari ini.
Sedangkan untuk ketiga temannya akhirnya mereka dapat menoleh ke belakang setelah si Elica mengatakan seperti itu dan kembali mereka berteriak yaitu mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa mereka sudah kuat berada di posisi ini mereka sudah menjadi yang terbaik tidak menyangka bahwa embah sudah mereka lewati dan juga segala teluk mereka taklukkan beberapa malam rasanya tidak masalah menjadi penghalang bagi mereka, mereka juga tahu bahwa dengan ini badan mereka akan kurusan tetapi itu semua tidak masalah bukan? Yang terepenting sekarang ini mereka telah tahu apa yang di maksud dengan petualangan dana pa yang di maksyud dengan malam tanpa lampu serta kelaparan yang di rasakan oleh semua orang yang berada di luaran sana, mereka sangat bersyukur untuk segala kesakitan yang mereka inginkan.
“Baiklah karena kita sudah berada jauh dari perkiraaan dan saya juga tidak mengetahu bahwa perjalanan mendaki gunung ini lebih jauh dari apa yang aku pikirkan, jadi berhubung ini masih jam tiga subuh mari kita mencoba untuk istirahat sejenak,” ucap Samantha dengan alasan hati dia rsa cukup baik menjadi seperti ini.
“Ya, dia adalah Samantha yang selalu berbuat baik di waktu yang tepat bahkan aku merasa ini akan menjadi salah satu kenangan yang harus di ambil hikmahnya,” ucap Rachel dia mengambil kamera dari ranselnya.
Perjalanan rasanya sangat susah dan mereka takut kalau sudah menikah nantinya mereka tidak akan pernah bertemu dan seperti ini lagi ,maka lebih baik menghabiskan masa-masa yang seperti ini karena tidak ada waktu yang bisa di ulang sebab itu semua kenangan mereka ambil.
“Cekrek,” ucap mereka dengan mulut yang berbentuk seperti buncis dan kini satu foto telah mereka dapatkn di tengah malam dengan syal tebal menyelimuti leher mereka.
“Kukira kita akan pergi bersama setelah umur kita banyak, tetapi semakin lama kita semakin mempercepat perpisahan kita bukan?” Elica lagi-lagi mewek dia rasa ini adalah perjalanan mereka yang terahkir bersama dengan orang-orang yang seperti ini.
“Apakah kamu menangis sayang?” tanya mereka sembari tersenyum dan memeluk erat-erat tubuh Elica, bahkan Elica sampai tidak dapat bernapas dengan baik hingga akhirya mereka sadar untuk membuat mereka yakin bahwa ini bukan menjad pilihan yang lebih baik.
Mereka akhirnya istirahat mengingat air minum masih banyak dan juga saat ini bekal mereka sudah ada, dan ternyata beberapa saat yang lalu di ransel Samantha telah tersimpan banyak bekal, ini membuat mereka kesal dengan temannya yang satu ini namun apa boleh buat karena dia adalah teman mereka yang paling pendiam biarkan saja mereka seperti orang bodoh yang bermain di tengah kalangan orang yang tidak ada pendidikan bahkan itu akan lebih bagus.
Setelah memakan beberapa snak yang tadinya di sembunyikan oleh Samantha mereka memutuskan untuk beristirahat karena setelah menangis mata mereka perih dan juga Samantha melihat kaki mereka yang mulai memeraha sat Elica, Cadilda tidak sengaja melepaskan sepatu bot mereka karena sangat panas rasanya sudah hampir satu hari mereka tidakmembuka sepatu ini.
Rasa sedih yang menyelimuti hati Samantha iba-tiba semakin besar saja karena dia tahu sekarang ini diam bukan menjadi pilihan dari dirinya, duia takut kalau ada masalah yang tidak bisa di atasi apalagi ini berada di tengah hutan dan berada di puncak bukankah ini pilihan yang sangat mengerikan? Mereka sama-sama saling menguatkan agar bisa hidup karena tanpa saling menguatkan mungkin mereka akan mati satu persatu apalagi di tengah perjalanan mereka tidak ada sososk lelaki jadi mereka adalah mahluk kisah yang paling berbeda, dengan santay Samantha mulai menidurkan badannya di atas tanah dan membuang napas kasar membuat teman-temannya juga ikut menemani dirinya.
“Bagaimana kalau kita menjadi malaikat yang baik saja? Karena bukankah lebih baik seperti ini? Pergi ke hutan dengan teman cewek dan meniadakan tim cowok apakah kita semua jomblo yang berkualitas terlalau?” geleng kepala Samantha sembari mengatakan hal itu dengan senyum yang dia goyang-goyangkan.
“Apakah kamu merasa kita menjadi pribadi yang lebih unik di bandingkan selebihnya? Tetapi seperti ini juga keren bukan?” bola mata Casilda menatap teman-temannya yang tadinya senang dan kini kembali tersenyum.