TAWA DI ATAS TEBING

1009 Words
Rasanya ini bukan satu hal yang lebih dalam dan perlu di persoalkan kini hanya perlu berjalan adalah pilihan yang utama dan terutamanya. Wajah dari keempat mahasiswa yang telah wisuda itu hanya bisa menatap ke depan dengan wajah yang tampak lebih kagum, yah melihat saat ini mereka masih tidak bisa menahan sampai saat ini menahan gerangan yang tengah mereka lihat. "Apakah ini sungguhan?" Elica mendekat dengan tubuhnya yang kadang saat ini sedang merasa tidak tenang. "Apakah yang terjadi hingga kamu mengambil topeng itu? kenapa kamu begitu lancang?" Tanya Samantha dan dia baru sadar akan melihat setiap waktu itu. "Tidak apa, Samantha kelihatan ini juga topeng yang bagus bukan?" Rachel bertanya dia juga menarik topeng itu dari tangan Elica. Elica dan Rachel menatap dengan tataan yang sangat heboh sekarang ke depan tentang topeng itu, sinar yang dia berikan sungguh membuat hal yang tidak sungguhan menjadi sungguhan yang dia berikan adalah sinar yang memiliki daya pikat yang lebih besar. Duri-duri yang berada di luaran sana semakin menjadi-jadi karena apa yang mereka jaga dalam sejarah tengah berkembang menjadi sebuah perkembangan bagi mereka dan mereka akan bebas dari semua ini, lantas Samantha juga tidak dapat berkata apa-apa lagi karena semua ini dia tidak bisa mengatakan apapun itu selain mengikuti keinginan dari temannya dia rasa bahwa sekarang ini diam menjadi pilihan dari apa yang dia inginkan. "Apakah yang kamu mau?" tanya Samantha lagi-lagi membuat bungkam mereka bertiga yang bola matanya masih tetap menatap ke depan. "Entahlah saya juga tidak tahu apa yang tengah dia lihat padahal saya merasa tidak ada gangguan di tempat ini," kali ini Elica yang berkata karena dia yakin tidak ada hal yang tidak diinginkan di tempat ini. "Benarkah? Ayolah jangan buat kami seperti orang yang keseleo, kami sangat takut kala kalian sampai seperti itu," tangisnya dengan wajah yang sedikit memerah karena mendengarkan apa yang dia tidak inginkan. Sekarang sudah waktunya kembali untuk diam karena ini adalah waktu bagi mereka untuk menyelesaikan apa yang akan dikatakan oleh Samantha, dan dengan perlahan Samantha harus berpikir dengan jelas dan juga tajam pilihan sekarang berada di tangannya entah dia harus pergi ke luar tanpa membawa topeng itu atau dia harus membawa topeng itu keluar. Dia menatap teman-temannya yang penuh dengan air mata dengan penuh minta perhatian karena mereka hanya ingin meminta topeng itu di bawa pulang tidak ada hal yang lain dan tidak ada satu apapun itu yang terpenting selain membawa pulang topeng itu. "Apakah kalian hanya ingin membawa ini?" tanyanya dan kembali merenggut topeng yang tadinya berada di atas meja kecil yang berada di atas papan itu. "Tapi," ucap mereka bertiga dengan tangan yang mencoba menahan pergerakan dari si wanita itu. "Bukannya aku tidak mau, tetapi apakah kamu sadar? bahwa ini tidak kita ketahui entah dari mana hasilnya apakah ini membawa dampak yang besar atau tidak tetapi," ucapnya dengan mulut yang tidak bisa lagi berkata apa-apa lagi. "Biarkan kami melakukan apa yang kami suka sekali ini saja, kami mohon." "Iya benar sekali, apakah kamu juga tidak tertarik dengan apa yang kami punya?" "Sinarnya benar-benar menipu kami, apakah kamu juga tidak merasakan hal itu?" Mereka bertiga bertanya berganti-ganti rasanya tidak puas kalau mereka tidak membawa ini, dan lebih pastinya mereka akan menerima jawaban dari sang ketua, ketika dia sudah selesai berbicara sudah biasa menjadi diam seperti ini. "Baiklah." Dan yah satu kata yang keluar dari mulut mereka dan ternyata mereka mendapatkan persetujuan dari wanita yang super dingin itu, ketika dia mengatakan baiklah mereka bertiga segera bergegas untuk mengambil topeng itu namun tidak, ternyata itu tidak berhasil karena dia membawa topeng itu dalam ranselnya. Samantha memasukan topeng itu terlebih dahulu ke dalam ranselnya takutnya nanti teman-teman yang dia miliki terlalu ceroboh untuk semua ini, maka dari itu dia hanya bisa menghela napas dengan panjang dan mencoba untuk menahan betapa geram dirinya akan menatap bagaimana sifat teman-temannya yang begitu ceroboh ini. "Apakah kalian akan selalu berada di sini? lihat jam tangan kalian ini sudah pukul berapa? apakah kita akan di sini menginap?"kesal si wanita itu dan mencoba untuk menahan besarnya suara yang keluar dari paru-parunya. "Baiklah, kami akan pergi asalkan topeng itu akan kita setujui, bukankah begitu?" tanya Casilda dengan begitu cepat dia bahkan tidak pikir panjang untuk semua ini. Beberapa hari telah berjalan dengan begitu cepat dan kini mereka belum sampai di tempat banyak sekali cobaan yang mereka lalui dan begitu juga dengan saat ini seperti yang berada di atas tebing mereka sudah sampai di atas tebing yang pertama, rasanya itu sungguh sangat membanggakan. "Apakah ini yang di maksud dengan keindahan alam?" teriak mereka tertawa lepas. "Indahnya duniaku," teriak mereka sekali lagi tidak terkecuali oleh Samantha. Samantha hanya berada di atas tebing tetapi tawanya benar-benar lepas dia terasa lebih mudah menarik napas berada di sini kecuali saat berada di rumah dia rasa bahwa saat ini berada di alam terbuka adalah pilihan yang terbaik. Ketiga temannya juga heran kenapa dengan sikap wanita dingin ini, apakah dia merasa bahwa ini lebih indah dari surga, lebih dari apapun itu tawanya begitu luas dan juga tidak ada yang bisa mengatakan bahwa itu adalah tawa yang tidak baik. "Apa yang kalian lihat? apakah aku tidak boleh tersenyum lepas?" tanya Samantha saat matanya melihat ke arah depan. "Apakah yang salah dengan mata saya?" tanya Rachel dengan gumaman dia yang seperti itu. "Astaga kenapa kamu seperti itu, jangan bodoh mari kita kembali melakukan perjalanan lagi di sini saja sudah bagus apalagi nanti ketika berada di puncak," ucap Rahel dan dia menepuk pundak dari kedua temannya yang selalu berada di samping kanan dan kirinya. "Yah, benar sekali mari kita pergi dan ambil foto yang sangat banyak sebagai salah satu kenangan yang paling unik bukan?" tanyanya dengan bola mata yang menyeringai menatap ke arah Casilda dan Rahel. Mereka berjalan dan tadi pemandangan benar-benar begitu menyejukkan tidak menyangka bahwa ini adalah alam yang begitu luas terasa tidak ada beban pikiran sama sekali, rasanya ini lebih plong dari apa yang dipikirkan oleh si wanita itu. Dengan langkah yang perlahan mereka menanjak melewati duri-duri tajam dan mencoba untuk menguatkan nyali karena semakin ke dalam hawa semakin dingin dan hutan semakin dalam dedaunan tampak lebih lebat dari dugaan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD