ILUSI DAN NYATA

1024 Words
Ini bukan tempat mereka untuk pergi ke jalan yang lain lagi melainkan ini hanya sebuah perkara di atas perkara yang kecil, rasanya menjauh dari segala sisi adalah pemikiran yang baik tetapi kenapa sekarang ini rasanya menjauh adalah salah satu rasa keprihatinan yang cukup dalam untuk mereka berempat? Wajah yang menunjukkan ekspresi yang sangat tajam kali ini mencoba untuk menaklukan dunia, tetapi tetap juga tidak bisa karena sudah menjalani sebuah ritual yang tampak lebih tajam lagi. Langkah kaki Samantha memijak pedal gas rem dengan sangat tajam dia yakin bahwa saat ini semuanya hanya sebuah ilusi di tengah ilusi yang tidak bisa dia kembalikan ke alam yang lain lagi, sebelumya dia merasa ini hanya permainan sebuah penyihir saja tetapi ini adalah benar permainan dari sebuah kolekta besar yang membuat dia harus nyaman dengan apa yang dia lihat saat ini. "Kenapa dengan wajah kamu itu?" temannya yang tidak lain adalah Casilda menoleh ke samping dan menatap dari atas sampai bawah bagaimana ekspresi wanita itu. Tidak ada jawaban sama sekali hingga pada akhirnya sekarang ini mereka hanya memilih untuk bersama dalam dimensi waktu yang cepat mungkin ini akan menjadikan mereka sebagai sebuah ilusi dalam koper yang tak akan terpisahkan. "Apa maksud kamu?" "Ayo bicaralah kenapa kamu seperti ini?" "Hey kedipan matamu kenapa tidak kamu buat?" Beberapa pertanyaan dia ucapkan kepada temannya yang sedang meratapi jalan itu ke depan dengan penuh nafsu yang berbeda, kali ini dia hanya bisa mengatakan ini hanya sebagai pemanis di antara beberapa kegiatan yang mereka lanjutkan dan ini adalah permainan dari si wanita yang tidak tahu paham itu. "Bolehkah anda diam?" "Lihat saja terus ke depan dan amati siapa saja yang berlalu lalang di depan kamu." "Dan jangan pernah menoleh ke belakang seberapa rumit pun itu masalah." Ketika Casilda mendengarkan penuturan dari Samantha dia jelas tahu apa yang akan terjadi maka dari itu dia memilih untuk diam dan menuruti apa yang di katakan oleh temannya yang memiliki Indra keenam itu saja, karena dengan seperti itu dia bisa diam serta menahan semua gejolak rasa penasaran dia. Di sisi lain kali ini wajah darah orang yang berada di motor sebelah hanya bisa tegang karena Rachel benar-benar membuat Elica kembali takut entahlah namun yang pasti kali ini semuanya berjalan dengan lancar karena tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan, bukan karena apa tetapi yang pasti ini adalah jalan yang terbaik berada di luar pondasi mereka. Beberapa percakapan di antara mereka telah terdengar lebih formal untuk sekarang ini bukan karena apa namun ada maksud di belakang dari tujuan saat ini mereka malah memilih untuk diam dan melakukan semuanya dengan baik. Kaki yang mulai mengenal pedal rem dan tangannya yang mulai menyetir dengan perlahan dia yakin bahwa ini adalah jala satu-satunya untuk dapat sampai ke rumah dan benar saja sekarang ini mereka seperti di arena balap liar yang sungguh-sungguh mendominasi sekali. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Rachel dia kembali memasang sealbeth nya. "Diam saja, ini adalah taktik yang di mainkan oleh Samantha bukankah dia adalah seorang pemilik Indra keenam?" Dengan mengatakan begitu tutup mulut wanita yang tadi dia berharap bahwa semua ini adalah jalan satu-satunya dia juga berjalan dengan rencana yang tengah di buat oleh wanita itu dengan beberapa menit berlalu akhirnya apa yang mereka takuti telah hilang bersamaan dengan waktu yang berjalan dengan cepat. Beberapa menit berlalu dan kini mereka semua tengah sampai di warung yang sepetinya juga pindah entah kenapa ini rasanya ada permainan di tengah permainan bukan karena apa tetapi wajah dari penjual nasi itu sana persis dengan wanita yang saat ini berada di depan mereka dengan wajah yang tampak lebih polos. "Mengapa kamu berbuat seperti itu? jangan melihat ibu itu seperti itu karena dia juga tahu apa yang akan dia lakukan bukan?" tanya si wanita itu dengan wajahnya yang tampak lebih dingin. "Apakah yang kamu inginkan sekarang bukankah kamu melihat wajah yang sepertinya sama dengan ibu penjual kemarin dahulu saat kita sampai ke sini?" tanya Samantha dan dia selalu melihat gerak-gerik dari wanita yang saat ini membuat makanan untuk mereka. Keempat sahabat itu segera menoleh ke belakang mereka mulai menatap wajah itu dan juga bentuk tubuh itu sepertinya ini bukan apa-apa namun yang pasti bukan ini maksud dan tujuan mereka untuk kembali hadir dalam dimensi yang telah mereka benci ini, hingga pada akhirnya sekarang ini mereka mulai mengetahui bahwa apa yang terjadi adalah sebuah pelajaran bagi mereka nantinya. "Kenapa dengan kalian ini?" tanya Samantha ketika matanya mulai memelototi sekarang ini keadaan ketiga temannya. "Apakah yang kamu katakan?" "Sudah jelas Casilda dan juga Rachel akan merasa heran pasalnya hanya kita yang dapat melihat setiap pergerakan yang dia berikan, bagaimana dengan pikiran kamu," keluh wanita itu yang tidak lain adalah Rachel. Dia menatap ke depan dengan tatapan tajam dan beberapa menit kemudian kembali lagi sadar bahwa semua ini hanya ilusi saja, dan benar untuk beberapa menit sekali lagi mereka kembali menjatuhkan apa yang mereka katakan sebelumnya dengan nada suara yang dingin agar dapat mengontrol semuanya akhirnya mereka mendapatkan apa yang sudah di lakukan oleh nenek-nenek itu. "Apakah nenek adalah nenek yang waktu itu?" tanya Samantha dia segera melihat wajah nenek itu dengan tatapan tajam bak benda tajam yang mengkilap. "Tidak, apa maksud dari kalian? lepaskan saja saya, bahkan untuk mengingat wajah kalian saja saya tidak mampu lantas untuk apa kalian menahan semua ini?" tanyanya dengan suara dan juga ekspresi yang benar-benar tidak tahu bahwa sepetinya pertemuan itu benar tidak ada. Sebelumnya ini memang menjadi sebuah perkara bagi mereka Iya antara Elica dan juga Casilda mungkin ini akan menjadi sebuah peperangan dingin yang terjadi di era panas memanas. "Kenapa dengan dirimu saat ini?" "Ayok bangun, Samantha jangan buat saya semakin khawatir saja ini sudah keberapa Kali nya anda melakukan ini apakah anda tidak takut?" tanya si wanita itu dengan wajahnya yang tampak lebih dominan dengan semua ini. Dan yah akhirnya si wanita itu tersadar bahwa semua ini hanya ilusi belaka saja dia segera menoleh ke samping kanan dan kiri sudah mulai ada terang dia bahkan sudah bisa berpikir dengan tenang di merasa ini adalah sebuah jalan yang benar supaya dia bisa kembali menjadi orang yang di orangkan. "Sadarkah kamu sekarang ini sudah di alam nyata bukan ilusi mu sendiri," tawa mereka bertiga melihat wajah yang pucat pasif itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD