BELUM SAMPAI

1015 Words
Bukan rumah bukan juga apa-apa tetapi mengapa sekarang ini mereka memilih untuk berteduh di tempat yang tidak mereka kenal, entahlah mereka hanya memikirkan agar sampai di rumah dengan keadaan sehat mereka tidak mau mengambil alternatif lain, contohnya saat ini mereka bahkan mencoba mengelak dari semua cobaan yang datang. "Apa yang kamu lakukan saat ini? kenapa masih belum bergerak sama sekali?" Samantha bertanya karena melihat Elica yang masih sedari tadi berada di dalam mobil. Suara petir yang mengelegar dan juga dengan suara dari dedaunan gemericik air yang sangat deras tentu saja saat itu jelas membuat Elica takut untuk keluar dia tidak ingin melihat petir itu dan juga air yang jatuh membasahi sekujur tubuhnya dia menahan napas dan hanya melakukan semua nya dengan diam. "Apa yang kamu lakukan saat ini? Apakah kamu lupa dia sangat tidak suka dengan hujan dan juga petir bukankah kamu mengingat masa-masa kelamnya beberapa tahun yang lalu?" bisik Casilda kepada wanita yang sedang bertanya kepada Elica itu sedari tadi Samantha segera terdiam bibirnya tidak dapat lagi mengatakan apapun itu dia merasa bersalah karena telah bertanya akan hal seperti itu kepada temannya dengan langkah yang pelan dia mulai berjalan ke depan menelusuri setiap genangan air yang sedang di pihaknya saat ini. Casilda dan Rahel hanya membiarkan semua itu berjalan sesuai dengan pemikiran yang dia tentukan pasalnya untuk berteriak bukan maksud dari dirinya dan juga bukan keinginan hatinya dia hanya melakukan apa saja itu yang pasti menurut mereka memang baik. "Apa yang kamu lakukan saat ini? sudahlah mari kita biarkan dia berperilaku seperti itu," ucapnya saat itu dan kembali menarik tangan dari Rachel. "Yah, sesama orang yang memiliki Indra keenam apa boleh buat." Mereka malah tertawa karena merasa ini bukan hal yang lama terjadi melainkan ini adalah hal yang sangat sering terjadi, berbuat hal yang dimiliki oleh teman masing-masing rasanya sungguh tidak enak, kali ini wajah mereka tampak lebih tajam lagi membuat semuanya berjalan dengan lancar adalah keinginan Rachel dan Casilda. Terdengar percakapan antara Rachel dan juga Casilda ke kuping Samantha karena dia merasa ada yang risih dengan tempat duduk itu, kebetulan ini hanya hujan lebat bagi kedua orang itu bukan lebih dan tepatnya di era hujan itu banyak sekali yang menjadikan hal mistis terjadi meskipun tidak di sadari oleh Rachel dan Casilda. "Bukankah di tempat ini sangat nyaman rasanya?" tanya Rachel menoleh ke samping kanan dan kiri. "Iya saya bahkan merasa tidak ada arwah atau apapun itu di sini sangatlah nyaman saya suka sekali," dia menempelkannya pundaknya untuk bersender di belakang pokok pohon itu. Dengan wajahnya yang sedikit cemas ketika mendengarkan perkataan dari kedua orang itu, akhirnya Samantha menoleh ke belakang dia hanya ingin memastikan saja apakah benar di tempat duduk mereka aman atau tidak? "Kenapa kalian seperti ini?" Samantha segera berlari ke belakang mereka dengan bola matanya yang sudah juleng sebelumnya. "Astaga apa yang kamu lakukan, Samantha lain kali jangan buat kami seperti ini," nafasnya sangat keliru dan dia Tidka dapat mengatakan kalau kali ini dirinya tidak terkejut sama sekali. Dia menoleh ke depan dan menarik napas dengan baik sepertinya ini membawa dampak yang baik bagi mereka hingga pada akhirnya mereka bisa kembali masuk ke dalam mobil dengan keadaan baik tidak ada gangguan sama sekali. "Cepat masuk ke dalam mobil jangan menoleh ke samping atau ke belakang," ucapnya dengan langkah yang berjalan cepat dan juga melihat ke sekeliling dia. Belum ada jawaban sama sekali karena rasanya mereka bingung harus mengatakan ini apa tetapi entahlah dia hanya ingin diam serta menuruti apa kata hati dari si wanita itu. Ketika mereka berjalan tiba-tiba ponsel dari Casilda jatuh lantas dia mengingat pesan dari Samantha, bagaimana ini kepalanya terasa tidak tenang lagi hatinya sudah gundah gundala dan kini satu hal yang akan terjadi apa yang akan dia lakukan supaya sekarang ini ponselnya dapat dia temukan tanpa harus menoleh ke belakang. "Ada apa?" ketika langkahnya berhenti lebih jauh satu meter dari Casilda dia bertanya kenapa dengan dirinya yang saat ini berhenti. "Ponsel ku jatuh," ucap wanita itu dengan wajahnya yang mulai geregetan. Tidak ada sama sekali jawaban karena Rachel juga bingung kenapa saat-saat seperti ini temannya sangatlah bodoh apakah ini adalah jalan bagi kematian mereka? hanya diam dan selebihnya Samantha yang berteriak dia bahkan tidak akan pernah paham dengan apa maksud dari teman-teman ini. "Apa yang kalian lakukan? segera masuk ke dalam mobil dasar," teriaknya sembari memberikan peringatan yang cukup pedas. Tidak ada juga sahutan apapun itu yang ada sekarang ini mereka hanya melihat satu sama lain setelah langkah Casilda dia gerakkan satu langkah ke depan, mungkin ini akan membuat mereka merasa yakin bahwa selebihnya ini adalah kurasi dari semuanya "Aku kejatuhan ponsel bagiamana ini?" Teriak wanita itu dia bahkan merasa bahwa sekarang ini bukan lagi waktunya untuk berbohong dia hanya ingin menjelaskan tanpa ada unsur emosi yang berlebihan sekali. "Kenapa kamu seperti ini? selalu saja berbuat yang tidak-tidak pergilah dan biarkan saya yang membawa ponselmu," ucap Samantha saat sekarang ini dia tahu apa yang akan dia lakukan supaya temannya tidak menoleh ke samping atau ke belakang. Dengan begitu senyum nya yang pasif kembali lagi keluar, mereka berjalan dengan langkah ynag pelan dan berhasil memasuki mobil karena sedari tadi hujan sudah berhenti kali ini mereka bisa melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan bukan tentang apa namun yang pasti kali ini mereka bisa menamai ini sebuah di mensi yang berbeda dari di mensi lainnya. "Apakah kamu telah sampai?" tanya Elica saat Rachel berada di sampingnya dengan wajah yang sudah basah dan juga badan yang basah kuyup. "Iya tetapi bagaimana dengan Samantha dia sepertinya melihat arwah yang tidak seharusnya dia lihat," ucap wanita itu dengan tangannya yang dia lipat di atas mulutnya dia hampzoir berdoa supaya mendapatkan keselamatan untuk Samantha Yangon tengah berjuang melawan para mahluk halus ini. Bukan tentang apa namun sekarang ini Samantha lelang ketika harus setiap hari bertemu dan bertemu dengan mahkluk sepeti ini namun yang pasti satu kali lagi ketika dia melihat seperti ini dia yakin lebih sana bunuh diri dan meninggalkan semuanya. Samantha segera mengambil ponselnya dan kembali berlari ke arah yang telah dia tentukan sebelumnya, dia yakin ini adalah pilihan terbaik. Memasuki mobil dan mengunci pintu mobil, semoga Kemalang ini berakhir lama bagi mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD