Pedebatan Kecil
BAB 1
Menceritakan seorang gadis pendiam yang akan masuk ke pondok pesantren bernama Amara Baiza Qadiriyah. Meski awalnya ia harus terpaksa karena dorongan dari pamannya untuk mengikuti kakak sepupunya bernama Fukhayna.
Beberapa tahun yang lalu,
Di ruang tamu Amara sedang duduk bersama Ayah dan Ibunya di ruang tamu, mereka sedang berkumpul untuk membahas kelanjutan pendidikan putrinya.
“Amara tidak ingin pergi ke Pondok, Bu. Pasti peraturan pondok disana akan sangat ketat dan Amara tidak menyukai itu!” protes Amara pada Ibunya, Anjani.
Anjani mendesah pelan melihat putrinya yang sudah memberontak agar tidak melanjutkan pendidikannya di sebuah Pondok Pesantren Hidayatul Muniroh.
“Semua ini yang menginginkan pamanmu, Sayang. Ayah dan Ibu hanya mendukung saja agar kamu bisa belajar disana lebih baik lagi, kelak kamu juga akan merasakan betapa luar biasanya mondok, Nak.” Tutur Anjani tenang sambil melihat suaminya yang membuang wajahnya menatap arah lain.
“Kenapa Ibu membuat aku tertekan?! Sedangkan Ayah hanya diam saja karena tidak berani membantah Ibu!” Keluh Amara dengan kesal lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Setelah kepergian Amara, Anjani mendekati suaminya, Marwan.
“Apakah keputusan yang aku buat ini salah, Mas?” tanya Bu Anjani pada suaminya
Marwan hanya diam menatap lekat istrinya. Ia membuang napas kasar berusaha menenangkan diri sejujurnya ia juga sangat tidak setuju dengan keputusan yang di ambil secara sepihak oleh istrinya.
“Sudah sejak awal aku tidak menyetujui keputusanmu, Bu. Sekarang sudah ada merdeka belajar yang artinya setiap anak berhak memilih tujuan mereka sendiri tanpa harus ada paksaan dari keluarga ataupun gurunya.” Pungkas Marwan mencoba memberi pengertian kepada istrinya.
“Tapi Ibu hanya ingin Amara terdidik dengan ilmu agama yang kuat, Mas. Aku ingin Amara bisa terhindar dari pergaulan bebas jaman sekarang.” Pungkas Anjani yang merasa khawatir jika membayangkan pergaulan bebas itu sampai masuk kedalam hidup putrinya.
Marwan pun mendekati istrinya lalu memeluk tubuhnya, Ia membiarkan sang istri untuk bersandar di d**a bidang miliknya.
“Tujuanmu memang baik, tapi Amara berbeda dari yang lain. Putri kita berpegang teguh dengan prinsip dan menjunjung tinggi moral dan etika. Kenapa tidak mencoba memberikan kepercayaan padanya?” jelas Marwan berusaha memberi pengertian pada istrinya.
“Tapi nanti Bang Amar akan memaksa Amara lagi, Mas. Bang Amar juga sudah memasukkan Fukhayna masuk kedalam pondok tersebut oleh karena itu Amara pun di masukkan olehnya.” Tutur Anjani menatap manik bola mata suaminya.
“Amara itu putriku kenapa Abangmu itu selalu ingin menentukan jalan hidup putriku menurut dirinya sendiri. Apakah aku sebagai orang tuanya tidak berhak?! Aku sebagai Ayah tentu berhak ikut campur tentang masa depan putriku.” Lirih Marwan merasa kecewa dengan kakak iparnya.
“Karena Bang Amar ingin Amara menjadi gadis yang baik Mas, pergaulan sekarang sangat menakutkan untuk Amara.” Ucap Anjani membela kakaknya, Amar.
“Memang benar di pondok itu jauh lebih baik, tapi kalau putri kita terdidik dengan ilmu agama yang sedang aku yakin dia bisa memanfaatkannya. Banyak anak pondok yang sudah bertahun-tahun mengabdi di pondoknya tapi ketika pulang hijabnya terlepas, yang dulunya memakai gamis tiba-tiba dirubah memakai pakaian yang kurang bahan, Iya ‘kan?”
“Bu, Amara berhak memutuskan pilihannya sendiri tanpa melibatkan siapapun!” tambah Marwan menekankan setiap kalimat agar istrinya mengerti dengan apa yang sedang ia jelaskan. .
“Tapi Bang Amar pasti tidak akan setuju Mas, sudahlah tidak papa Mas biarkan saja Amara masuk ke pondok meski sebenarnya Ibu juga berat melepasnya.” Keputusan final pun akhirnya terucap dari Anjani.
Tiga hari telah berlalu, Amara masih berusaha untuk membujuk Ayah dan Ibunya tapi hasilnya sama saja, ia tidak berhasil sama sekali untuk membuat hati Ibunya mengerti dengan apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Ada beberapa factor yang membuat Amara tidak ingin melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren.
Hari ini seluruh keluarga sudah berkumpul untuk mengantarkan keberangkatan Amara dan Fukhayna ke pondok pesantren. Mobil telah di siapkan oleh Marwan, sedangkan Anjani membantu Amara untuk menyiapkan baju yang akan di bawa sambil menggendong putri keduanya, Amira.
“Amara, nanti kalau sudah sampai disana kamu jaga diri baik-baik ya dan jangan merusak kehormatan keluarga. Ingat disana kamu hanya menuntut ilmu, nanti kamu disana pasti akan dijaga juga dengan sama kakak sepupumu.” Tutur Anjani sambil memasukkan beberapa perlengkapan yang akan dibawa Amara ke dalam tas.
“Iya, Bu. Ibu sama Ayah dan juga Adik baik-baik ya di rumah.” Ujar Amara menahan tangis
“Aku akan merindukan kalian!” lirihnya pelan sambil menyembunyikan wajahnya untuk mengusap air mata agar Ibunya tidak melihatnya.
Setelah selesai mengemas pakaian mereka keluar bersama menuju ke ruang tamu. Di sana semua keluarga sudah berkumpul untuk mengantarkan keberangkatan Amara dan Fukhayna.
“Karena semua sudah berkumpul, langsung saja kita berangkat sekarang! “ ujar Amar, Ayah dari kakak sepupunya Fukhayna.
“Tunggu sebentar, Amar. Fukhayna, Amara kemari mendekat sama Omah, ada hadiah untuk kalian berdua.” Sahut Omah Rahmi mengulas senyum sembari melambaikan tangannya pada kedua cucunya.
Omah Rahmi dan Opah Dahlan adalah pasangan yang memiliki anak pertama bernama Amar, anak kedua bernama Anjani, dan anak ketiga adalah Dharma. Namun Opah Dahlan telah meninggal pada dua tahun yang lalu karena diserang penyakit.
Amara dan Fukhayna pun melangkahkan kakinya menuju neneknya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, senyum cerah mengembang pada Fukhayna. Namun Amara mengerti jika senyum yang ditunjukkan oleh kakak sepupunya adalah palsu.
“Iya, Omah. Hadiah apa yang mau omah berikan untuk Fukhayna?” Tanya Fukhayna dengan senyum pepsodent, ia duduk di samping kanan Rahmi dengan mengenggam erat tangan neneknya.
Sedangkan Amara duduk di sebelah kiri Rahmi sambil menatap datar kakak sepupunya yang manja pada Neneknya. Sebenarnya Amara pun ingin melakukan hal yang sama tapi sikap neneknya sangat berbeda jauh saat memperlakukan mereka berdua.
“Ini ada Mukena untuk Fukhayna dari Omah, dan untuk Amara Omah kasih Sajadah. Karena Amara masih belum paham agama terlalu dalam jadi Omah hanya memberikan sajadah.” Ucap Rahmi sambil menyerahkan kedua kado pada cucunya masing-masing.
“Fukhayna cucu kesayangan Omah yang sangat pandai dan pintar, sini Sayang. Cium Omah dulu,” Terang Rahmi lalu mencium kening Fukhayna setelah itu memeluknya.
Sedangkan Amara? Jangan di tanya lagi. Sudah dari kecil ia selalu mendapatkan ketidak adilan di dalam keluarganya sendiri. Bagi Amara, hanya Ayahnyalah yang selalu mendukung penuh dirinya.
Melihat sikap ketidak adilan yang terjadi semua keluarga hanya terdiam tanpa ada yang berani bersuara kecuali cinta pertama Amara. Ratna, Ibu dari Fukhayna sangat senang melihat Ibu mertuanya Rahmi lebih menyayangi putrinya. Sedangkan Anjani sebagai Ibu Amara tidak berani berkutik apapun karena memang sifatnya yang lemah lembut dan suka mengalah .
“SUDAH CUKUP!! JANGAN MEMBUAT PUTRIKU TERLUKA UNTUK KESEKIAN KALINYA!” Teriak Marwan pada semua keluarga yang tengah berkumpul.
Semua keluarga menatap kaget suami Anjani sekaligus Ayah Amara, Marwan sangat muak melihat drama keluarga besar istrinya seperti ini dari beberapa tahun yang lalu semenjak kepergian Opah Dahlan. Seandainya saja Opah Dahlan masih hidup mungkin putrinya akan di perlakukan adil sama seperti Fukhayna tanpa membeda-bedakan apapun.
“Amara Sayang, sini Nak. Ayo kita berangkat.” Panggil Marwan pada putrinya, ia melihat kedua bola mata cantik putrinya memerah seperti sedang menahan tangis, sungguh hal seperti ini membuat hati seorang Ayah terasa sangat sakit.
“Amara berangkat dulu, Omah. Assalamu’alaikum.” Pamit Amara dengan suara yang bergetar sambil mencium tangan Neneknya.
Setelah kepergian Amara dan Marwan, semua keluarga terdiam membisu tidak ada yang berani lagi membuka suara. Akhirnya semua keluarga menyusul Amara dan juga Marwan kedepan untuk segera mengantarkan putri mereka berangkat ke Pondok Pesantren.
Anjani yang sudah menangis sejak tadi hanya memilih diam sambil menggendong putri keduanya, Amira. Ia sebenarnya sangat sakit hati melihat Ibunya lebih menyayangi Fukhyana daripada Amara hanya karena dia lebih pandai dalam ilmu agamanya.
“Ya Allah, berikanlah kesabaran untuk putriku Amara, lapangkanlah hatinya. Dia berhak bahagia, kenapa engkau selalu menguji putriku ya Tuhan! Apa salahnya?.” Ujar Anjani sembari menatap lekat putrinya yang sedang berpamitan dengan semua anggota keluarganya.
“Tante Dharma, Om Daffa, Amara pamit ya?” ucap Amara pada paman dan bibinya lalu mencium tangan mereka.
“Iya, Amara. Semoga betah ya.” Pungkas Dharma, Daffa hanya mengangguk meng’iyakan apa yang dikatakan oleh istrinya sambil tersenyum ramah.
“El, aunty pergi ya. Kamu baik-baik di rumah jangan nakal, jaga Amira dengan baik. Kak Amara titip Amira ya, kamu harus melindungi dan menyayanginya.” ujar Amara pada Elvano, putra pertama dari Dharma dan Daffa.
“Iya, Aunty. El akan rindu Aunty Mara.” Jawab Elvano sambil memeluk Amara.
Elvano Isyraf, adalah anak kecil yang baru berumur tiga tahun. Akan tetapi cara bicaranya sudah cukup lancar karena sejak kecil Dharma dan Amara selalu melatih motorik padanya. Oleh sebab itu, El lebih dekat dengan Amara.
Elvano yang sudah mulai mengerti ketika Amara berpamitan akhirnya menangis, dia sangat menyanyangi Amara oleh karena itu melihat Amara akan pergi membuatnya tak kuasa menahan tangisnya.
Dharma sebagai ibu akhirnya memberikan pengertian kepada pangeran kecilnya agar tidak bersedih ketika ditinggalkan oleh Aunty kesayangannya.
“Loh, El nggak mau peluk Aunty Fukhyana juga?” Tanya Fukhyna dengan wajah yang di buat semelas mungkin.
Mendengar ucapan Fukhyna, El hanya menoleh dan membuang wajahnya dengan ketus. Ia sama sekali tidak menyukai Fukhayna sejak kecil, bahkan Dharma sebagai ibunya juga terkadang merasa tidak enak hati karena putranya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Amara daripada Fukhayna.
“Nggak mau! Aunty na jahat.” Ucap bocah berusia tiga tahun itu membuat semua keluarga sontak terkejut, Dharma dengan cepat menutup mulut putranya agar tidak melanjutkan ucapannya.
Fukhyana meremas ujung gamisnya dengan kedua tangannya untuk menahan malu sekaligus sakit hati ketika mendengar ucapan Elvano, tapi ia harus terlihat baik di depan keluarga besarnya dan menunjukkan kebesaran hatinya. Jangan sampai ada keluarganya yang tahu.
“Jangan begitu ya, El.” Tegur Amara sambil menjentik kepala Elvano pelan
“Maaf, aunty.” Ucap Elvani sambil tersenyum penuh cinta padanya.
Setelah Amara dan Fukhyana berpamitan mereka pun berangkat di antar oleh Marwan, Amar dan Daffa.