Tempat Baru

1160 Words
Bab 2 Semua keluarga terkejut melihat kemarahan suami Anjani sekaligus Ayah Amara, Marwan sangat muak melihat drama keluarga besar istrinya seperti ini dari beberapa tahun setelah kepergian Opah Dahlan. Seandainya saja Opah Dahlan masih hidup mungkin putrinya akan di perlakukan adil sama seperti Fukhayna tanpa membeda-bedakan apapun. “Amara Sayang, sini Nak. Ayo kita berangkat.” Panggil Marwan pada putrinya, ia melihat kedua bola mata cantik putrinya memerah seperti sedang menahan tangis, sungguh hal seperti ini membuat hati seorang Ayah terasa sangat sakit. “Amara berangkat dulu, Omah. Assalamu’alaikum.” Pamit Amara dengan suara yang bergetar sambil mencium tangan Neneknya. Setelah kepergian Amara dan Marwan, semua keluarga terdiam membisu tidak ada yang berani lagi membuka suara. Akhirnya semua keluarga menyusul Amara dan juga Marwan kedepan untuk segera mengantarkan putri mereka berangkat ke Pondok Pesantren. Anjani yang sudah menangis sejak tadi hanya memilih diam sambil menggendong putri keduanya, Amira. Ia sebenarnya sangat sakit hati melihat Ibunya lebih menyayangi Fukhyana daripada Amara hanya karena dia lebih pandai dalam ilmu agamanya. “Ya Allah, berikanlah kesabaran untuk putriku Amara, lapangkanlah hatinya. Dia berhak bahagia, kenapa engkau selalu menguji putriku ya Tuhan! Apa salahnya?.” Ujar Anjani sembari menatap lekat putrinya yang sedang berpamitan dengan semua anggota keluarganya. “Tante Dharma, Om Daffa, Amara pamit ya?” ucap Amara pada paman dan bibinya lalu mencium tangan mereka. “Iya, Amara. Semoga betah ya.” Pungkas Dharma, Daffa hanya mengangguk meng’iyakan apa yang dikatakan oleh istrinya sambil tersenyum ramah. “El, aunty pergi ya. Kamu baik-baik di rumah jangan nakal, jaga Amira dengan baik. Kak Amara titip Amira ya, kamu harus melindungi dan menyayanginya.” ujar Amara pada Elvano, putra pertama dari Dharma dan Daffa. “Iya, Aunty. El akan rindu Aunty Mara.” Jawab Elvano sambil memeluk Amara. Elvano Isyraf, adalah anak kecil yang baru berumur tiga tahun. Akan tetapi cara bicaranya sudah cukup lancar karena sejak kecil Dharma dan Amara selalu melatih motorik padanya. Oleh sebab itu, El lebih dekat dengan Amara. Elvano yang sudah mulai mengerti ketika Amara berpamitan pun akhirnya menangis, dia sangat menyanyangi Amara oleh karena itu melihat Amara akan pergi membuatnya tak kuasa menahan tangisnya. Dharma sebagai ibu akhirnya memberikan pengertian kepada pangeran kecilnya agar tidak bersedih ketika ditinggalkan oleh Aunty kesayangannya. “Loh, El nggak mau peluk Aunty Fukhyana juga?” Tanya Fukhyna dengan wajah yang di buat semelas mungkin. Mendengar ucapan Fukhyna, El hanya menoleh dan membuang wajahnya dengan ketus. Ia sama sekali tidak menyukai Fukhayna sejak kecil, bahkan Dharma sebagai ibunya juga terkadang merasa tidak enak hati karena putranya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Amara daripada Fukhayna. “Nggak mau! Aunty na jahat.” Ucap bocah berusia tiga tahun itu membuat semua keluarga sontak terkejut, Dharma dengan cepat menutup mulut putranya agar tidak melanjutkan ucapannya. Fukhyana meremas ujung gamisnya dengan kedua tangannya untuk menahan malu sekaligus sakit hati ketika mendengar ucapan Elvano, tapi ia harus terlihat baik di depan keluarga besarnya dan menunjukkan kebesaran hatinya. Jangan sampai ada keluarganya yang tahu. “Jangan begitu ya, El.” Tegur Amara sambil menjentik kepala Elvano pelan “Maaf, aunty.” Ucap Elvani sambil tersenyum penuh cinta padanya. Setelah Amara dan Fukhyana berpamitan mereka pun berangkat di antar oleh Marwan, Amar dan Daffa. Pondok Hidayatul Muniroh Konon Pondok Hidayatul Muniroh memiliki arti Petunjuk yang bersinar, dalam arti tersebut memiliki makna yaitu di harapkan dalam mengajarkan ilmu agama islam bertujuan memberi hidayah muniroh (petunjuk yang bercahaya) maksudnya sakral dan suci, menghilangkan sifat gelapnya yaitu kebodohan. Pondok Pesantren Hidayatul Muniroh terletak di desa kumpul nderes yang artinya ngumpul bareng sambil nderes (belajar). Pendiri pondok Hidayatul Muniroh adalah kiai Ahmad Nur Wahab yang kini telah wafat saat usianya 65 tahun, setelah kepergian suaminya Nyai Aisyah menyusul setelah tujuh hari kematiannya. Setelah kiai Ahmad Nur Wahab wafat, pimpinan pondok diwariskan pada putranya bernama kiai Ahmad Safi'i dan berlangsung hingga sekarang. Dalam pondok inilah Sejarah kehidupan Amara akan dimulai. Setelah menempuh pejalanan kurang lebih tiga jam, Keluarga Amara dan Fukhayna telah tiba. Mereka pun keluar dari mobil dan bersiap masuk kedalam pondok, bangunan pondok pesantren sudah bisa dibilang cukup maju. Asrama putra dan putri sudah terpisah dengan jarak yang di tentukan, bagian kanan adalah wilayah santriwan putra sedangkan bagian kiri adalah bagian santriwati. Rumah sederhana yang tidak lain pemiliknya adalah Kiai Safi’I berada di Tengah-tengah antara asrama putra dan putri. Pondok pesantren hidayahtul muniroh adalah pondok pesantren modern dan paling banyak di minati oleh santriwan dan santriwati. Meskipun sudah menjadi pondok pesantren yang modern akan tetapi desain bangunan dari pondok ini masih bernuansa islami lama dan kuno, akan tetapi bangunan tersebut terawat dengan sangat baik, Yang membuat nuansa sangat nyaman untuk para santriwan dan santriwati, meskipun memiliki desain bangunan lama tetapi dengan sistem pengajaran modern. “Pak kiai-nya ada, Kang?” tanya Amar pada salah satu santri yang di lewatinya. “Enten, Pak. Njenengan langsung mlebet mawon.” Ucap santri itu sambil menunjukkan rumah kiai Ahmad. Santri putra itu menjawab dengan Bahasa jawa yang artinya “Ada, Pak. Anda langsung masuk saja.” “Suwun nggeh, Mas.” Ucap Amar sama menggunakan Bahasa jawa lalu berjalan menuju rumah yang baru saja diberitahu santriwan tersebut. “Assalamu’alaikum,” “Waalaikumsalam, sebentar.” Ucap perempuan paruh baya tersebut dengan lembut. Ia pun keluar dengan gamis dan jilbab Panjang sepinggang untuk menyambut tamu yang datang. “Eh, ada tamu. Monggo, pinarak rumiyin.” Ucapnya mempersilakan tamunya masuk. “Nggeh, Nyai.” Jawab Amar Pak Amar, Marwan, Daffa, Fukhayna dan Amara pun melangkah masuk ke Ndalem Kiai Ahmad. Nyai Ratih yang melihat kedatangan keluarga Amar pun segera bergegas memanggil suaminya. “Abah, teng ajeng enten tamu. Njenengan jamu riyen.” Panggil Nyai Ratih dengan suara lembut yang khas, Nyai Ratih memiliki suara lembut yang dimana itu menjadi suara favorit suami dan anaknya. “Nggeh, Umi. Sekedap,” jawab Kiai Ahmad setelah mendengar istrinya memanggil. Kiai Ahmad pun meletakkan kitabnya di atas meja lalu berjalan menuju ke ruang tamu. “Assalamu’alaikum, Kiai,” Sapa Amar mewakili keluarganya, ia pun berdiri hendak menyalami tangan Kiai Ahmad di ikuti oleh Marwan, Daffa, dan kedua putrinya. “Eh, Wa’alaikumsalam. Ternyata Pak Amar to saya kira siapa, Monggo pinarak.” Ucap kiai Ahmad mempersilahkan tamunya duduk kembali. Tak berselang lama Nyai Ratih sudah kembali keluar bersama Mbak Ndalem sambil membawa minuman dan beberapa camilan ke ruang tamu. Setelah menyuguhkan minumnya Mbak Ndalem kembali masuk ke dalam. “Monggo di unjuk.” Titah Nyai Ratih mempersilakan tamunya memakan hidangan yang telah disuguhkan. “Mi, Mboten usah ngangge bahasa Jawa mereka ini dari kota. Jadi bicara bahasa Indonesia saja, nanti kalau mereka bingung bagaimana?” tutur Kiai Ahmad pada Istrinya. “ya maaf to, Bah. Umi kan ndak tau.” “Iyaudah, silakan di minum dulu Pak Amar beserta keluarga.” Ucap Kiai Ahmad sambil mempersilakan tamunya menikmati hidangan sederhana tersebut. Keluarga Amara dan Fukhayna pun mengangguk ramah lalu tersenyum. Setelah itu mereka meminum teh dingin yang sudah di sediakan Nyai Aisyah, karena perjalanan yang jauh membuat mereka semua merasa haus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD