Teman Baru

1213 Words
BAB 3  Setelah menempuh pejalanan kurang lebih tiga jam, Keluarga Amara dan Fukhayna telah tiba ditempat tujuan. Mereka pun keluar dari mobil dan bersiap masuk kedalam pondok, bangunan pondok pesantren sudah bisa dibilang cukup maju. Asrama putra dan putri pun terpisah dengan jarak yang di tentukan, bagian kanan adalah wilayah santriwan putra sedangkan bagian kiri adalah bagian santriwati. Terdapat satu rumah sederhana minimalis yang tidak lain pemiliknya adalah Kiai Ahmad Safi’i yang terletak di tengah-tengah antara asrama putra dan putri. Pondok Pesantren Hidayahtul Muniroh adalah pondok pesantren modern dan paling banyak di minati oleh santriwan dan santriwati. Meskipun sudah menjadi pondok pesantren yang modern tapi desain bangunan dari pondok ini masih bernuansa islami lama dan kuno, akan tetapi bangunan tersebut terawat dengan sangat baik, sehingga membuat nuansa sangat nyaman untuk para santri, meskipun memiliki desain bangunan lama tetapi sistem pengajaran sudah terbilang modern. “Pak kiai-nya ada, Kang?” tanya Amar pada salah satu santri yang di lewatinya. “Enten, Pak. Njenengan langsung mlebet mawon.” Ucap santri itu sambil menunjukkan rumah kiai Ahmad. Santri putra itu menjawab dengan Bahasa jawa yang artinya “Ada, Pak. Anda langsung masuk saja.” “Suwun nggeh, Mas.” Ucap Amar menggunakan bahasa jawa lalu berjalan menuju rumah yang baru saja diberitahu santriwan tersebut. “Assalamu’alaikum,” “Waalaikumsalam, sebentar.” Ucap perempuan paruh baya tersebut dengan lembut. Ia pun keluar dengan gamis dan hijab panjangnya untuk menyambut tamu yang datang. “Eh, ada tamu. Monggo, pinarak rumiyin.” Ucapnya mempersilakan tamunya masuk. “Nggeh, Nyai.” Jawab Amar Pak Amar, Marwan, Daffa, Fukhayna dan Amara pun melangkah masuk ke Ndalem Kiai Ahmad. Nyai Ratih yang melihat kedatangan keluarga Amar sekeluargapun segera bergegas memanggil suaminya. “Abah, teng ajeng enten tamu. Njenengan jamu riyen.” Panggil Nyai Ratih dengan suara lembut yang khas, yang dimana itu menjadi suara favorit suami dan anaknya. “Nggeh, Umi. Sekedap,” jawab Kiai Ahmad setelah mendengar istrinya memanggil. Kiai Ahmad pun meletakkan kitabnya di atas meja lalu berjalan menuju ke ruang tamu. “Assalamu’alaikum, Kiai,” Sapa Amar mewakili keluarganya, ia pun berdiri hendak menyalami tangan Kiai Ahmad di ikuti oleh Marwan, Daffa, dan kedua putrinya. “Eh, Wa’alaikumsalam. Ternyata Pak Amar to saya kira siapa, Monggo pinarak.” Ucap kiai Ahmad mempersilahkan tamunya duduk kembali. Tak berselang lama Nyai Ratih sudah kembali keluar bersama Mbak Ndalem sambil membawa minuman dan beberapa camilan ke ruang tamu. Setelah menyuguhkan minum Mbak Ndalem kembali masuk ke dalam. “Monggo di unjuk.” Titah Nyai Ratih mempersilakan tamunya memakan hidangan yang telah disiapkan. “Mi, Mboten usah ngangge bahasa Jawa mereka ini dari kota. Jadi bicara bahasa Indonesia saja, nanti kalau mereka bingung bagaimana?” tutur Kiai Ahmad pada Istrinya. “ya maaf to, Bah. Umi kan ndak tau.” Pungkas Nyai Ratih sambil terkekeh pelan “Iyaudah, silakan di minum dulu Pak Amar beserta keluarga.” Ucap Kiai Ahmad sambil mempersilakan tamunya menikmati hidangan sederhana tersebut. Keluarga Amara dan Fukhayna pun mengangguk ramah lalu tersenyum. Setelah itu mereka meminum teh dingin yang sudah di sediakan Nyai Ratih, karena perjalanan yang jauh membuat mereka semua merasa haus. “Bagaimana perjalanannya, Kang. Capek, ya! Jarak antara kota dan pondok kan lumayan jauh.” Pungkas Kiai Ahmad sambil tersenyum ramah. “Hehehe! Nggeh, Kiai. Tapi demi mengantar putri-putri kami itu semua tidak ada apa-apanya.” Pungkas Pak Amar sambil tersenyum menatap putrinya. “Oh iya, Kiai ini adik ipar saya semua. Yang ini ayah Amara, yang sebelah anaknya masih kecil.” “Marwan, Kiai.” “Daffa, Kiai.” Ucap mereka lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Kiai Ahmad menyambut uluran tangan mereka dengan senang hati. “Jadi yang akan di pondokkan di sini yang mana, Pak?” tanya Kiai langsung ke intinya. “Mereka, Kiai.” Ucap Pak Amar sambil menunjuk Amara dan Fukhayna duduk di sampingnya. “Nak, namanya siapa?” Tanya nyai Ratih dengan tersenyum ramah. “Saya Fukhayna, Nyai. Dan ini adik sepupu saya namanya Amara.” Jawab Fukhayna mewakili, Amara hanya tersenyum sambil mengangguk seolah sedang menerima sapaan dari Nyai Ratih. “Wah, cantik-cantik ya?! Semoga kalian betah di sini.” Pungkas Nyai Ratih “Kami menitipkan putri kami di pondok pesantren ini, Kiai, Nyai. Jika mereka melakukan kesalahan boleh dihukum sesuai prosedurnya.” Ucap Pak Amar “Baiklah, tapi sepertinya Pak Marwan sedikit berat melepas putrinya ya?” tanya Kiai Ahmad pada Marwan. Marwan seketika menoleh melihat putrinya yang hanya diam tidak menunjukkan ekspresi apapun, entah ia harus senang atau tidak karena putrinya benar-benar bisa menyembunyikan kesedihannya. Marwan pun menghembuskan napas berat dan berkata, “Iya, Kiai. Tapi demi masa depannya saya ikhlas, saya hanya minta pada Kiai untuk bisa memahami Amara lebih dalam. Karena meski ia terlihat baik-baik saja namun dia pandai sekali menutup diri.” Tutur Pak Marwan. “Iya, Pak Marwan. Saya mengerti kekhawatiran njenengan.” “Terima kasih, Kiai.” Setelah kurang lebih satu jam, keluarga Amara dan Fukhayna berpamitan untuk pulang. Kiai Ahmad mengantarkan tamunya sampai ke depan parkiran mobil. Amara dan Fukhayna berdiri di samping kanan dan kirinya Nyai Ratih. “Kami pamit pulang dulu, Kiai. Kami titip putri-putri kami di sini, semoga mereka bisa menjadi lebih baik setelah dari pondok pesantren.” “Amiin, semoga saja Pak Amar. Bapak Amar beserta keluarga hati-hati di jalan.” Pungkas Kiai Ahmad “Iya, Kiai.” Kata Marwan dan Daffa. Amar, Marwan, dan Daffa telah meninggalkan pondok pesantren. Amara dan Fukhayna menangis melihat kepergian orang tuanya, sudah berulang kali mereka menghapus air matanya tapi masih saja belum bisa berhenti menangis. Nyai Ratih yang melihatnya pun mendekat dan memeluk mereka. “Sudah ya, Amara dan Fukhayna. Jangan menangis lagi nanti cantiknya hilang.” Kata Nyai Ratih berusaha menenangkan sambil mengusap puncak kepala mereka. “Iya, Nyai.” Ucap mereka secara bersamaan. Setelah kepergian keluarganya, Nyai Ratih membawa Amara dan Fukhayna berkeliling ke asmara sekaligus menunjukkan kamar mereka. “Amara dan Fukhayna ini kamar kalian bersama Anisa dan Rahma ya?” ucap Nyai Ratih “Anisa, Rahma. Perkenalkan teman baru kalian. Ini Amara dan Fukhayna, mereka akan tinggal satu asrama dengan kalian berdua.” Ucap Nyai Ratih “Nggeh, Umi.” Jawab Anisa dan Rahma bersama sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. “Oh, ya! Amara dan Fukhayna juga panggil Umi saja ya jangan Nyai. Memangnya umi seperti nyai nyai rempong kali ya?!” canda Nyai Ratih di iringi tawa renyah mereka semua. “Umi ada-ada saja.” kata Rahma “Baiklah, Umi pergi dulu ya.” “Iya, Umi.” jawab Amara, Fukhayna, Anisa dan Rahma “Assalamu’alikum.” “Wa’alikumsalam.” Setelah kepergian Nyai Ratih, Anisa dan Rahma membantu membawakan barang-barang miliki Amara dan Fukhayna. “Terima kasih, Mbak.” Ucap Amara “Iya, sama-sama.” Jawab keduanya. Sementara itu, Fukhayna hanya melihat dengan datar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia terlihat tidak peduli dengan teman sekamarnya, Fukhayna lebih memilih untuk menata pakaiannya didalam lemari. Anisa dan Rahma terlihat tidak menyukai sikap Fukhayna, sepertinya mereka harus meminta Umi Ratih untuk memindahkan Fukhayna di kamar lain. “Perjalananku akan dimulai di tempat ini, tempat baru yang tak pernah terpikirkan olehku. Bisakah aku menjalaninya? Ayah, Ibu…Aku takut. Tapi apapun itu, aku akan berusaha melangkah demi membahagiakan kalian berdua, Aku akan selalu merindukan kalian. Assalamu’alaikum Pondok Pesantren Hidayatul Muniroh, jadilah tempatku menuntut ilmu yang bermanfaat kelak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD