BAB 4
Malam telah tiba, seluruh penghuni santriwan dan santriwati pondok pesantren telah selesai melaksanakan sholat isya’ berjamaah di masjid. Amara pun semakin akrab dengan Anisa dan Rahma, sedangkan Fukhayna memilih berteman dengan Elya.
“Amara, nanti jam 8 kita ada ngaji kitab Tuhfatul Athfal. Kamu sudah ada kitabnya belum kalau belum pakai punyaku dulu aja, masih kosong kok belum ada maknanya.” Ucap Anisa pada Amara
Tuhfatul Athfal adalah kitab yang mempelajari kaidah-kaidah dasar ilmu tajwid yang dirangkai indah dalam bentuk syair lagu. Didalamnya terdapat ilmu yang mempelajari cara melafalkan huruf-huruf yang terdapat di Al-Qur’an dengan benar.
“Iya, besok pagi baru kita beli kitab lainnya di koperasi pesantren.” Sambung Rahma
“Iya, terima kasih ya Anisa, Rahma.” Ucap Amara sambil tersenyum ramah
“Nih, kitabnya kamu pakai.” Kata Anisa sambil memberikan kitab Tuhfatul Ayhfal pada Amara
“Yasudah, ayo kita bersiap jika terlambat nanti akan dihukum sama ustad.”
Mereka pun akhirnya meletakkan mukenanya di kamar, setelah itu bersiap mengaji kitab di kelas malam.
Di pondok pesantren Hidayatul Muniroh kelas malam akan dilaksanakan pukul 8 sampai 10 malam. Hanya kelas malam santriwan dan santriwati dijadikan satu selebihnya pengajaran yang lain akan terpisah.
Setelah itu dilanjutkan dengan menyetorkan hafalan Al-Qur’an di asramanya masing-masing hingga pukul 12 malam baru setelah itu semua santri diwajibkan untuk tidur karena jam 4 mereka harus sudah bangun.
Pelajaran kitab Tuhfatul Athfal berjalan lancar, baik Amara maupun Fukhayna dapat memahaminya dengan cepat karena sebelumnya mereka juga sudah pernah mengaji di rumah sehingga saat dipondok mereka bisa cepat paham.
Setelah serangkaian kegiatan hari pertama di pondok selesai sekarang Amara dan dua sahabat barunya sudah berada di kamarnya, sedangkan Fukhayna masih belum terlihat kembali.
“Dimana Kakak sepupu mu yang sambong itu, Ra?” tanya Anisa pada Amara, meski sejujurnya Anisa tidak suka tapi mau bagaimana pun mereka satu kamar jadi harus memastikan Fukhayna kembali sebelum dilakukan pengechekan malam.
Jika salah satu belum ada yang kembali maka besok paginya satu kamar akan dihukum bersama.
“Aku tidak tahu, Sa.” Jawab Amara sedikit tidak enak.
“Dasar, sudah tahu waktunya tidur kenapa belum kembali juga.” Celetuk Anisa
“Sudah, sabar, Sa. Jangan marah-marah terus. Awas lo kalau diantara kita bertiga kamu yang tua duluan.” Gurau Rahma diiringi tawa Amara sedangkan Anisa hanya menatap sebal kedua temannya itu.
Krek
Pintu terbuka, terlihat Fukhayna baru masuk kedalam kamar. Anisa menatap tak suka padanya dan hal itu disadari oleh Fukhayna.
“Kamu kenapa menatapku seperti itu?” tanya Fukhayna dengan kesal
“Kamu darimana saja, ini sudah waktunya tidur kalau sudah selesai cepet masuk kamar jangan balik terlambat. Nanti kalau ada pengechekan kita semua akan mendapatkan hukuman.” Jelas Anisa dengan nada tinggi
“Iya, aku tahu. Biasa aja dong!” ucap Fukhayna tanpa menunjukkan rasa bersalahnya, ia lebih memilih bersikap bodo amat daripada mendengarkan ceramah Anisa.
“Kalau kamu mengulanginya lagi lebih baik kamu pindah kamar saja dari sini, aku nggak suka ya sama sikap mu yang tidak bisa diatur.” Kata Anisa lagi dengan ketus
“Tenang saja, aku tadi sudah bilang sama Umi Ratih mau pindah kamar sama Elya jadi besok kita sudah tidak akan tidur satu kamar lagi.”
“Lagipula aku juga ogah satu kamar sama kalian, dasar lebay kalian semua.” Tambah Fukhayna membuat Anisa mengepalkan erat tangannya.
“Sabar, Sa.” Bisik Rahma pelan
“Aku bicara baik-baik ya sama kamu malah ngatain kita lebay.” Pungkas Anisa tak terima
Tok…. Tok… Tok…
“Sudah malam waktunya tidur, jangan ribut.” Ucap salah satu penjaga malam diluar
Mendengar teguran itu, pertengkaran pun berhenti Anisa menatap tajam Fukhayna begitu juga sebaliknya. Sedangkan Amara dan Anisa hanya menghembuskan napasnya dengan kasar.
*~*~*
Pagi telah tiba, semua sudah berjalan dengan rutinitas di pondok pesantren. Amara dan Fukhayna bisa cepat beradaptasi dengan mudah.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, semua santri mengaji hingga pukul 6 pagi. Setelahnya mereka bersiap untuk sarapan dan berangkat sekolah.
Pukul 1 siang mereka pulang sekolah, saat dalam perjalanan menuju kamar Amara, Anisa dan Rahma melihat ada mobil mewah terparkir di depan rumah Umi Ratih.
“Itu pasti santri baru lagi.” Ucap Anisa
“Sok tahu kamu, Sa.” Pungkas Rahma
“Iya, belum tentu juga.” Tambah Amara
“Eh, dibilangin juga. Lihat saja nanti.” Kesal Anisa lalu berjalan dulu meninggalkan Rahma dan Amara
“Kenapa Anisa sukanya marah-marah sih?! ” Ucap Amara sambil geleng-geleng kepala.
“Kamu belum ada satu hari menghadapinya, Ra. Aku sudah kenal dia satu tahun, coba kamu bayangkan jadi aku, huhhh… sudah lihatkan sabarku seluas Samudra.” Kata Rahma dengan suara yang dibuat-buat. Hal itu membuat Rahma dan Amara terkekeh.
“Kamu hebat.” Ucap Amara membuat keduanya tertawa.
“Oh ya, kamu sadar nggak sejak kemarin malam ada santriwan yang ngelihatin kamu terus.” Ucap Rahma
“Siapa?” tanya Amara
“Adnan.”
“Siapa Adnan?” tanya Amara bingung
“Adnan adalah kakak kelas kita beda satu tingkat, dia adalah santriwan terpopuler disini. Tapi dia sangat dingin dan cuek, banyak santriwati yang mencoba mendapatkan perhatian darinya termasuk kakak sepupumu itu.” Jelas Rahma sedikit berbisik karena takut ada yang mendengar
“Maksudmu Kak Fukhayna?” tanya Amara dan langsung mendapat anggukan dari Rahma
“Tapi aku tidak tahu Adnan yang mana.” Kata Amara
“Heh, Awas!!!” bentak Fukhayna sambil menyenggol lengan kiri Amara dengan kasar. Disamping Fukhayna sudah ada Elya yang menatapnya dengan sengit.
“Kamu jangan suka sama Adnan ya, dia hanya milik ku Amara. Kamu tidak pantas untuk Adnan.” Ucap Fukhayna membuat Amara dan Rahma saling pandang satu sama lain
“Dan ingat, jangan ada yang tahu kalau kita ini sepupu. Cukup Elya, Rahma dan Anisa saja yang tahu tapi tidak yang lain. Kalau sampai ada yang tahu, awas saja kamu.” ancam Fukhayna
“Kenapa harus disembunyikan? Toh memang kalian ini sepupu.” Sahut Rahma tidak terima
“Sudah deh, aku tuh malu punya sepupu seperti kamu Amara. Dan ingat, jangan menyukai Adnan, dia hanya milikku.” Kata Fukhayna dengan nada penuh tekanan lalu pergi meninggalkan Amara dan Rahma.
“Apakah Fukhayna selalu bersikap seperti itu padamu?” tanya Rahma
Amara terdiam, enggan sekali ia menceritakan keluarganya sendiri. ia sudah merasa lelah jika mengingatkan ketidak adilan yang dia alami saat ini.
“Sudah, tidak usah dijawab. Aku sudah paham, sekarang ayo kita kembali kekamar.” Ucap Rahma mendapat anggukan dari Amara
Belum sempat mereka masuk kamar, ternyata Fukhayna benar-benar memutuskan untuk pindah kamar bersama Elya. Mereka melihat Fukhayna sudah membawa koper miliknya menuju kamar Elya.
“Baguslah kalau sudah pindah.” Gumam Rahma
Amara hanya mendelik mendengar ucapan Rahma, meskipun ia juga merasa lega tidak satu kamar dengan kakak sepupunya.
“Amara, mulai hari ini jangan diam jika ditindas oleh kakak sombongmu itu, kamu juga berhak bahagia, lawan mereka yang menindas. Kamu jangan takut, ada aku dan Anisa yang selalu dipihakmu.” Tutur Rahma membuat Amara merasa terharu namun ia hanya menganggukkan kepalanya saja
“Yasudah, ayo sekarang kita masuk kamar. Pasti Anisa marah kalau kita kelamaan nggak nyusul dia.” Ajak Rahma
“Iya, aku nggak mau mendengar celotehannya yang banyak nanti.” Tambah Amara membuat keduanya tertawa
Ceklek
Amara dan Rahma hanya saling pandang saat melihat satu sosok Perempuan sedang duduk di ranjang milik Fukhayna.
Sedangkan Anisa tersenyum penuh kemenangan menatap kedua sahabatnya yang baru saja datang.
“Dia siapa?”