BAB 5
“Dia siapa?” tanya Amara dan Rahma
“Santri baru.” Ucap Anisa
Amara dan Rahma hanya mengangguk-nganggukkan kepala tanda mengerti, mereka pun ikut bergabung dengan Anisa dan santri barunya.
“Apa yang ku bilang, akan ada santri baru lagi. Kalian sih, nggak percaya sama aku.” keluh Anisa membuat Amara dan Rahma tertawa
Sedangkan santri baru itu hanya saling memandang mereka secara bergantian.
“Iya iya, kamu betul, Sa. Kita percaya kok, udah sekarang jangan ngambek lagi.” Kata Rahma sambil menahan tawanya
“Iya, Sa. Kita percaya kok.” Tambah Amara yang juga menahan tawanya
“Kalian ngledekin aku ya?!” kata Anisa dengan wajah yang sudah cemberut
“Sudah ih, kamu nggak malu apa sama Mbak-nya ini.” Kata Rahma sambil menatap Perempuan cantik di depannya yang tersenyum melihat perdebatan kecil mereka.
“Iya-iya.” Jawab Anisa
“Nama kamu siapa?” tanya Amara
“Kenalin namaku Lenoa Zahira, terserah kalian mau panggil aku yang mana.” Jawab Lenoa sambil tersenyum ramah.
“Lucu kali ya kalau dipanggil Noa.” Goda Amara
“Iya kamu bener, Ra.” Tambah Anisa membuat ketiga gadis itu tertawa
“Kamu seperti Abangku dirumah, menyebalkan.” Ucap Lenoa menatap tajam Amara yang tertawa.
“Berarti aku dan abangmu satu server.” Tambah Amara membuat Rahma dan Anisa semakin tertawa
“Kalian ini menyebalkan.” Ucap Lenoa sambil mengerucutkan bibirnya.
“Sudah, jangan digoda terus LeNOA-nya.” pungkas Anisa dengan menekankan kata Noa sambil menatap yang memiliki nama sedang merajuk.
Kamar yang semula sunyi kini sangat ramai dengan tawa Amara, Anisa dan Rahma. Lenoa memilih diam karena merasa geram dengan teman sekamarnya.
“Sudah, jangan digoda terus. Maafin kita ya, Le.” Ucap Rahma membuat kedua tawa temannya berhenti.
“Iya, maafin kita.” Tambah Amara
Lenoa hanya menatap datar ketiga teman barunya itu, sepertinya mereka akan cocok dengannya.
“Baiklah, aku maafkan.” Kata Lenoa
Setelah perkenalan singkat itu, mereka menikmati istirahat dikamar sambil menceritakan kehidupan pribadinya.
Adzan berkumandang, mereka pun bersiap untuk menuju ke masjid sebelum terlambat.
“Aku hari ini piket di masjid sama Rahma, jadi kami akan pergi dulu untuk memastikan air terisi penuh untuk wudhu semua orang.” Ucap Anisa sambil bergegas mengambil mukenanya
“Iya, kalian kami tinggal duluan nggak papa ya.” Kata Rahma
“Iya, berangkatlah.” Jawab Amara
Rahma dan Anisa pun bergegas menuju masjid, mereka berlari karena terlalu asyik bercerita membuat mereka lupa jika ada jadwal piket di masjid.
“Noa, cepatlah.” Ucap Amara membuat Gerakan Lenoa terhenti dan menatap tajam Amara
Sedangkan yang ditatap hanya tertawa melihat wajah masam Lenoa. Karena tidak ingin terlambat Lenoa tidak memperdulikannya, toh dirumah juga ia sudah biasa dipanggil seperti itu oleh Abangnya.
“Kamu ini, aku jodohin ntar sama Abangku.” Kata Lenoa lalu menarik tangan Amara menuju masjid
“Hmmm, kalau tampan dan kaya bolehlah.” Pungkas Amara membuat Lenoa menatapnya dengan tajam
“Tapi kamu benar, kita harus cari yang tampan dan kaya.” Tambah Lenoa membuat keduanya tertawa
Namun tawa mereka harus terhenti saat mendengar suara iqomah, mereka pun berlari menuju masjid. Tapi sesampainya dimajid, mereka telah dihadang oleh petugas keamanan dan mendapat teguran.
“Kalian ini santri baru, kenapa telat ke masjid. Nanti setelah sholat jangan kembali ke asrama tetap berdiri didepan masjid menunggu kedatangan saya. Apa kalian mengerti?” ucap petugas keamanan Perempuan tersebut.
“Mengerti, Bu.” Jawab Amara dan Lenoa
Seluruh santri pun melaksanakan sholat jamaah Ashar bersama di masjid, setelah selesai mereka pun kembali ke asrama.
“Kalian duluan saja, aku dan Noa harus menunggu petugas keamanan disini.” Kata Amara pada kedua sahabatnya
“Kalian terlambat?” tanya Rahma
“Iya.” Jawab Lenoa
“Sudah nanti aku ceritakan, sekarang kalian kembali ke asrama dulu. Nih, aku titip mukenaku ya.” Ucap Lenoa sambil menyerahkan mukena miliknya pada Anisa
Amara pun mengangguk dan melakukan hal yang sama seperti Lenoa.
Anisa dan Rahma pun meninggalkan mereka berdua didepan masjid. Tiba-tiba Fukhayna melewati Amara.
“Wah, kasiannya. Mau dihukum ya?!” kata Fukhayna sambil meledek Amara
Lenoa hanya diam sambil mengamati interaksi Amara dengan Perempuan didepannya, entah mengapa ia merasa tidak suka dengan sikapnya.
“Kamu siapa?” tanya Lenoa
“Oh, jadi kamu teman baru Perempuan nggak bener ini. Hati-hati, kamu cantik dan kaya nanti kamu diporotin sama Amara.” Ucap Fukhayna sambil tertawa
Elya yang berada di samping Fukhayna pun ikut menertawakannya, karena sejak awal ia pun tidak menyukai Amara. Sedangkan Amara merasa terkejut dengan ucapan kakak sepupunya itu namun ia memilih diam.
Lenoa hanya menatap sekilas Amara, lalu beralih menatap Fukhayna. Menurut Lenoa, Fukhayna memang memiliki wajah yang manis namun sifatnya sepertinya tak semanis wajahnya.
“Bagus dong!!! Paling tidak aku memiliki teman untuk menghabiskan uang Abi dan Umi serta Abangku. Jadi mereka bekerja tidak akan sia-sia.” Jawab Lenoa santai namun terlihat mengerikan.
Lenoa menatap Fukhayna sambil tersenyum smirk khas miliknya, jawaban Lenoa membuat Fukhayna dan Elya menghentikan tawanya.
“Kamu itu dibilangin malah membela gadis bodoh itu.” Tambah Elya
“Atau jangan-jangan kamu yang mau morotin dia?” tanya Lenoa menatap tajam Elya dan menunjuk Fukhayna
Seketika membuat Elya terdiam, namun dengan cepat Fukhayna membelanya.
“Elya baik, dia tidak morotin aku seperti Amara.”
“Menjijikan.” Ucap Lenoa
Fukhayna dan Elya pun merasa geram dengan santri baru itu, ingin sekali ia membalasnya tapi dari kejauhan mereka melihat petugas keamanan sudah datang mendekat akhirnya mereka pun meninggalkan Amara dan Lenoa.
“Dasar wanita bodoh.” Ucap Lenoa
“Kamu hebat, Noa. Terima kasih sudah melindungiku ya.” Ucap Amara
“Kamu jangan takut sama mereka, Mara. Kalau ada apa-apa bilang saja sama aku.” Kata Lenoa penuh keyakinan membuat Amara hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum senang.
Amara bersyukur dipondok ia memiliki teman yang baik dan saling menjaga satu sama lain. Ia tidak menyangka akan mendapat teman sebaik Anisa, Rahma dan Lenoa.
“Assalamualaikum.” Sapa petugas keamanan yang Bernama Ustadzah Ela.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Lenoa dan Amara
“Kalian berdua siapa Namanya?” tanya Ustadzah Ela
“Amara, Ustadzah.”
“Lenoa, Ustadzah.”
“Amara, Lenoa sekarang ikut Ustadzah kalian harus mendapatkan hukuman.” Ajak Ustadzah Ela kedua santriwati itu pun hanya menganggukkan kepalanya.
Ustadzah Ela pun berjalan menuju lapangan didepan asrama santri putra dan putri, mereka hanya bisa menerka hukuman apa yang akan mereka terima karena terlambat.
“Amara, Lenoa kalian harus membersihkan tempat ini nanti akan ada dua santriwan yang menemani kalian karena mereka juga terlambat. Jadi bersihkan seluruh lapangan ini, apa kalian mengerti?” tanya Ustadzah Ela
“Mengerti, Ustadzah.” Jawab Amara dan Lenoa
Tak berselang lama datanglah dua santriwan berjalan mendekat ke arah mereka. Amara dan Lenoa saling pandang seolah berkata dari kedua matanya jika mereka yang akan mendapatkan hukuman juga.
Ustadzah Ela pun menjelaskan hal yang sama kepada kedua santriwan tersebut, Amara dan Lenoa bernapas dengan lega setidaknya mereka memiliki teman untuk membersihkan lapangan yang luas ini.
“Jadi kalian berempat harus membersihkannya sebelum adzan maghrib, apa kalian mengerti?” tanya Ustadzah Ela
“Mengerti, Ustadzah.” Jawab mereka bersama
“Dan ingat, jangan melanggar peraturan. Meski kalian dihukum bersama harus tetap menjaga pandangan tidak boleh saling bersentuhan, jika saling membantu diperbolehkan tapi selebihnya tidak diizinkan. Apa kalian mengerti?” tambah Ustadzah Ela
“Mengerti, Ustadzah.” Jawab mereka bersama lagi
“Adnan, disini kamu yang menjadi koordinatornya. Jika sudah selesai jangan lupa panggil Ustadzah.”
“Iya, Ustadzah.” Jawab Santriwan yang berpostur tinggi dan tampan. Setelah itu, Ustadzah Ela pun meninggalkan mereka dilapangan.
Amara dan Lenoa saling menatap, mereka terkejut ternyata Adnan juga dihukum. Lenoa juga sudah tahu siapa Adnan, karena tadi Anisa dan Rahma sudah menceritakan secara detail tentang pesantren ini.
“Adnan?”