Kepala Penghianat

1162 Words
Terminal North, pebatasan Distrik 21 Utara Raion yang dipanggil segera menatap sang Tuan yang berdiri tegak setelah menyeimbangkan diri, sedangkan si pria pemegang katana tampak bangkit dari tersungkur. Ia tentu segera berlari menghampiri Anggasta, berdiri di sisi Tuannya yang memasang kuda-kuda. Kazumi sendiri tampak memasang sigap siaga, saat merasa tidak bisa berlindung dengan siapa-siapa lagi. Di tangannya juga terlihat sebuah glock 19 yang dipegang dengan tangan gemetar, sepertinya gugup ketika merasa tersudut. Lalu Anggasta yang melihat Kazumi memegang pistol semakin menatap awas, memperhatikan dengan d**a berdebar dan mewaspadai pergerakan targetnya dengan mata tajam. “Sial, dia membawa senjata,” bisik Anggasta lirih, sehingga hanya Raion yang bisa mendengar umpatan kesalnya. “Aku akan melindungimu, Tuan.” “Aku tahu itu, tapi selain aku tidak boleh ada yang boleh melukaimu, jangan gegabah,” sahut Anggasta cepat. Ia menelan saliva ketika Kazumi menggerakan senjata api itu kanan-kiri, menargetkan bergantian antara seorang Tuan dan pengawal yang dikenalnya cukup bahaya. Ya, Kazumi tahu itu dengan jelas dan sempat tertipu dengan wajah kalem-manis pria yang menjadi pengawal si b******k Anggasta. “Jangan ada yang bergerak atau kalian berdua akan mati dengan timah panas ini,” ujar Kazumi dengan nada senang. Ia tertawa bagai orang gila, menatap Anggasta dengan seringai culas dan merasa kemenangan ada di tangannya dengan kematian si penerus yakuza dari klan Arash di depannya. “Kau akan mati, Anggasta berengsek!” seru Kazumi murka. Raion yang mendengar seruan tersebut segera memasang badan, membawa Anggasta di belakang tubuhnya dan protesan terdengar dari sang Tuan. “Jangan berdiri di depanku.” “Tunggu, hanya saat dia lengah, maka kita memiliki kesempatan, Tuan,” bisik Raion. Anggasta diam mendengarnya dan tak lama sang pengawal kembali mengatakan pendapat yang segera disela olehnya. “Aku akan memberinya umpan- “Tidak,” desis Anggasta tidak setuju, menolak tanpa buang waktu apa yang dikatakan pengawalnya. “Aku tidak akan mati jika hanya satu tembakan,” lanjutnya pongah. Kazumi yang mengetahui keduanya saling berbisik kembali bersuara, membuat pasangan Tuan-pengawal di depan sana menoleh menatapanya dengan berbagai ekspresi. Marah adalah yang pasti, tapi ia tidak peduli dan semakin mengulas senyum miring, senang. “Kalian berdua berbisik apa? Memilih siapa yang akan mati lebih dulu, heh?” ledeknya kemudian terkekeh. Beda dengan si pemegang katana yang memasang posisi pedang itu horizontal di depan wajah, Kazumi kehilangan konsentrasinya saat merasa akan menang. Sehingga, saat Raion berlari cepat dengan salto di udara dan berputar dua kali di depannya, Kazumi yang tidak siap serta gugup saat membuka kunci pengaman glock harus menerima tendangan telak di pipinya. Buagh! Kesempatan ini diambil Anggasta, ia ikut berlari secepat kilat ke arah si pemegang katana yang siap menghunuskan sisi tajam logam itu ke punggung Raion yang sedang menunduk. Anggasta dengan cepat melayangkan kakinya ke arah lengan si pemegang katana dengan ayunan atas ke bawah, sehingga katana itu jatuh dengan suara dentingan beradu. Trang…. Raion juga tidak tinggal diam, ia dengan segera menendang jauh katana itu dan mengurus Kazumi yang sedang berusaha membuka kunci pengaman senjata api semi di tangannya. Suara ‘crack’ dari glock yang dipegang Kazumi menandakan senjata api itu siap untuk menembak. Namun, belum juga moncong senjata teracung, sebuah tangan sudah lebih dulu menangkap dan mematahkan telapak tangan Kazumi yang berteriak kesakitan. Bukan hanya teriakan, tapi juga patahan tulang yang turut terdengar ketika Raion membawa pergelangan tangan itu kemudian diplintirnya ke bawah dengan paksa. Crack! Suara patahan itu dibarengi dengan glock yang terjatuh di atas permukaan beton, kemudian berikutnya sebuah tubuh yang dibanting tanpa sungkan oleh sang pengawal. Brugh! Arrgh! Teriakan sakit itu tidak membuat Raion menatap iba, jika nyatanya saat ini leher Kazumi sudah ada di cekalan lututnya yang menekan tanpa belas kasihan. Cairan merah mengalir dari mulut Kazumi hasil dari tendangan sebelumnya, diperparah dengan desakan lutut hingga kini merah kental itu bukan hanya mengalir, tapi menyembur dengan wajah Raion yang ternodai. Namun sayang, pengawal pribadi sang Yakuza sama sekali tidak mengernyit jijik dengan amis yang menyelimuti wajahnya, melainkan seringai terlukis indah di bibir mungil tersebut kala ia menunduk dengan desisan ikut terdengar. “Kepalamu ditunggu oleh Tuanku, Kazumi.” Kazumi terbatuk dengan napas sesak dirasakan, ia menggapai glock yang ada di samping tubuhnya dengan tangan menepuk-nepuk permukaan tanah hingga menimbulkan debu. Sedangkan Raion, ia dengan santai melirik dan mengambil senjata api tergeletak itu tanpa susah apalagi bergeser. Ia dengan santai mengokang glock yang dianggapnya seperti mainan, kemudian menodongkannya ke kening Kazumi dengan tatapan datar. “Dor…,” gumam Raion dengan seringai dingin, mempermainkan Kazumi yang menutup matanya erat ketika moncong senjata menyapa keningnya dan terbuka dengan takut saat suara lanjutan terdengar. “Bercanda, keh!” Sial…. Kazumi hanya bisa mengumpat dalam hati, dengan napas yang sudah mulai terputus. Di pertarungan lainnya, tepatnya Anggasta yang sedang adu ketangkasan fisik bersama seorang pria yang lebih besar darinya. Si pria pemegang katana ini sama sekali belum menunjukan kata menyerah, membuat Anggasta berdecih dan semakin memusatkan kekuatannya di tangan, ketika menghantam ulu hati si pria yang membungkuk dengan batuk hebat terdengar setelahnya. Ohok! Tampak cairan merah yang menyembur dari mulut si pria yang akhirnya mundur teratur. Anggasta sekali lagi mengangkat kakinya, menendang bagian sama di ulu hati si pria yang segera ambrugh tak berdaya. “Tuan!” Dari samping terdengar panggilan untuknya, ia menoleh dan menangkap lemparan sebuah senjata api dari pengawalnya kemudian segera mengacungkan ke kepala si pria yang masih terbaring sambil memegang d**a. Ia melihat kunci pengaman glock yang sudah terbuka dan tanpa ragu menarik pelatuk dengan suara tembakan menggema memenuhi terminal peti kemas itu. Dor! Hanya satu kali, tapi kepala seorang pria sudah bolong dengan kubangan merah mulai merembes membanjiri. Anggasta membawa tatapannya ke arah dimana Kazumi berbaring di bawah lutut pengawalnya, kemudian berjalan santai sambil membersihkan pegangan glock di tangannya menggunakan sapu tangan kemudian menyelipkannya di pinggang. “Well, aku sudah menjanjikan kepalamu untuk ayahku,” ujar Anggasta santai, berjongkok di hadapan Kazumi dan di sebelah Raion yang perlahan menjauhkan lututnya dari sana. Kazumi tampak ingin bergerak, tapi tulang lehernya seakan patah karena terlalu lama ditekan oleh Raion yang kini berjalan santai menuju sebuah katana. “Tidak bisa bergerak?” ledek Anggasta dengan kekehan mengejek, senang saat melihat ‘tikus’ di depannya tidak bisa bersuara. Ia hanya bisa mendengar suara tidak jelas, dengan ringisan terdengar merdu dan sebuah katana kini terulur di bahunya dari Raion yang hanya menatap dingin. Ia mengambilnya perlahan tanpa melepas tatapannya dari wajah pias Kazumi yang berusaha menggeleng, menggerakan tubuh hingga bergeser meski tidak menciptakan jarak sama sekali dan itu semakin membuat Anggasta yang melihatnya tersenyum senang. Anggasta memajukan wajah, mengulas seringai keji dan berbisik lirih di telinga Kazumi yang sontak menggeleng. “Saatnya menggantung kepalamu, Kazumi.” “Jangan bunuh ak- Crash! Terlambat, kalimat permohonan itu sia-sia karena katana lebih dulu menyapa leher dan cipratan merah menodai wajah Anggasta yang masih menyeringai. Dan sebuah kepala tampak menggelinding, saat Anggasta berdiri menghadap Raion yang menerima katana terulur dari sang Tuan. “Urus dia sampai beres dan bersih, mengerti?” perintah Anggasta sambil berlalu, meninggalkan Raion yang mengangguk tanpa bertanya. “Baik.” Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD