Terminal North, pebatasan Distrik 21 Utara
Pertumpahan darah antara orang-orang suruhan Kazumi dan keluarga Arash benar-benar menyeramkan. Bukan hanya satu atau dua mayat yang bergelimpangan, tapi puluhan dengan cairan merah membanjiri.
Suara teriakan sakit, dua tubuh saling beradu atau tubuh tersungkur menggema di pelabuhan terminal peti kemas Distrik 21 tersebut.
Baik para sniper yang kini ikut turun ke arena tarung, maupun orang suruhan Kazumi yang berdatangan dari tempat rahasia, semua menjadi satu dengan seruan dan senjata semakin beragam.
Matahari terik di atas sana juga bukan halangan, bagi kedua kubu ini mengadu kekuatan seakan ingin menunjukan siapa yang terkuat, hanya untuk menangkap satu penghianat dengan puluhan anak buah suruhan.
Di antara mereka yang berkelahi dengan wajah dan rasa sakit yang tidak dirasakan, terlihat Kazumi si dalang terjadinya pertumpahan darah.
Ia menatap pereman dan anggota geng terkuat suruhannya dengan hati gelisah. Pasalnya, bukan hanya satu yang tumbang, tapi orang suruhannya banyak yang menjadi mayat dan menyisakan beberapa, termasuk yang berdiri di depannya saat ini.
Ia juga melihat si Tuan yang dihianatinya sedang melawan orang suruhan tanpa kesusahan, membuatnya semakin menelan saliva karena takut kehilangan nyawa saat ini juga.
Sedangkan Anggasta kini tampak berlari menuju pria yang membawa kapak di depannya, setelah pria ini mati ia bisa menuju Kazumi yang berlindung di ujung sana.
Dasar pengecut! Berengsek sialan, umpatnya.
Ia seharusnya membawa anak buah lebih banyak atau pasukan bersenjata untuk membunuh para berandalan di sekitarnya. Namun sayang sekali, itu melukai harga dirinya sebagai pewaris keluarga Arash dan pemimpin Yakuza di Distrik 21.
Jadi, ia akan memastikan jika ‘tikus’ ketakutan di sana terpenggal dengan tangannya sendiri.
Penghianatan adalah yang paling dibencinya, ia sudah biasa membunuh bahkan di usianya yang kesepuluh tahun. Maka itu, hanya satu ‘tikus’ bukan masalah dan bukan hal sulit baginya.
Dengan tangan terangkat hendak menahan tebasan kapak itu, ia berhasil memegang gagang kapak dan saling mendorong menggunakan kekuatan dengan si pria di depannya.
Ia menggeletukan gigi saat kekuatan gorila si pria cukup menyulitkannya. Ia memilih mengangkat kaki, menendang perut pria di depannya yang terdorong, dengan gagang kapak yang didorongnya pula.
Pria itu terdorong ke belakang, kembali mengayunkan kapak hendak menebasnya dari atas. Namun ia segera menghindar, memiringkan tubuh dan kembali mengangkat kaki kemudian menendang tepat di pinggul si pria.
Buagh!
Brugh!
Si pria tersungkur, ia baru saja akan menghampiri si pria hendak menginjak tubuh itu. Namun, suara tubuh yang ditendang berikut tubuh terpelanting di hadapan membuatnya berhenti, menoleh ke belakang dan menemukan Raion yang berlari menuju tempatnya berada.
Meskipun tidak terluka, ia bisa melihat ada memar dan darah di sudut bibir itu. Ia ingin bertanya, tapi punggungnya yang segera dipepet sang pengawal membuatnya terdiam.
“Ini terlalu bahaya, keselamatan Tuan akan terancam jika berada di tengah-tengah seperti ini,” bisik Raion di antara napas tersenggal.
Anggasta mengangguki, mengingat ia selalu hampir terkena banyak senjata yang rasanya ingin sekali mengambil nyawa, tapi ia yakin bisa, ia sudah melewati banyak pertempuran seperti ini bersama Raion di belakangnya seperti ini.
“Jangan khawatir, kau ada di belakangku saat ini, itu artinya aku akan baik-baik saja,” bisik Anggasta santai.
Raion ingin sekali berdecih, tapi ia menahannnya karena sang Tuan memintanya naik ke gendongan dan berakhir ia yang menendangi semua musuh yang mengelilingi dengan Anggasta yang membawanya melayang.
Buagh! Buagh! Buagh!
Tap!
Raion kembali berdiri tegak di bumi setelah Anggasta menurunkannya dan baru bisa berdecih, saat sang Tuan meledeknya dengan seringai menyebalkan.
“Raion kau semakin enteng saja, apakah kau kekurangan makan?”
Cih! Dia masih bisa meledekku di saat seperti ini, batin Raion kesal.
Ia terkejut ketika melihat seseorang hendak mengayunkan balok ke punggung sang Tuan. Refleks ia memegang kedua bahu Anggasta, menjadikannya sebagai pegangan sedangkan tubuhnya sendiri melayang dengan kaki mengenai leher pria itu, dengan darah yang mengotori sepatunya.
Tap!
Ia kembali berdiri di depan Anggasta yang tersenyum tampan dan mengusap sudut bibirnya sekilas sambil berbisik.
“Aku akan mengurus yang ini nanti, sebaiknya kau lihat bagaimana aku memenggal kepalanya.”
Dengan perkataan terakhir itu, Anggasta berlari menuju pria membawa katana dan pemukul berduri, diikuti oleh Raion yang setia mengiringinya.
Bagi Raion tidak ada yang paling berharga dari nyawa sang Tuan, karena ia sudah berjanji jika sang Tuan mati maka ia pun akan mati. Maka dengan itu, ia akan selalu melindungi Anggasta apapun yang terjadi.
Hyaa!
Sring…. Sring…
Anggasta menghindar dengan tubuh menyerong kiri-kanan, berputar dan membawa sikutnya menyerang tulang rusuk si pria pembawa katana, kemudian menarik lengan itu untuk dipatahkannya.
Krack!
Arrrgg….
Sedangkan Raion tampak berlari dengan kejaran si pembawa pemukul berduri mengejarnya, bukan untuk kabur melainkan menjauhkan dari sang Tuan yang sedang mengurus si pemegang katana.
Setelah cukup jauh, ia tiba-tiba melakukan salto belakang dengan tubuh melayang melewati si pemegang tongkat berduri yang mendongakkan kepala, berhenti dari larinya dan berbalik dengan sebuah tendangan mengenai kepala.
Buagh!
Urghg!
Geraman dengan batuk disertai cairan merah yang menyembur itu tak cukup membuat tubuh tambun si pemegang tongkat limbung.
Raion berdiri tegap kembali dengan kaki menjejak-jenjak di tanah, saat merasakan sakit di pergelangan kaki. Sepertinya ia salah posisi saat melakukan gerakan roll, tapi untung saja ia menapaki permukaan tanah dengan sempurna.
“Heh! Bedabah sialan! Terima ini, hiyaaa!”
Dengan teriakan itu, Raion kembali diserang dan kali ini ayunan pemukul berduri itu lebih bertubi-tubi, belum lagi kecepatan yang lumayan cukup membuatnya kuwalahan saat menghindar.
Tubuhnya yang ringan memudahkannya bergerak lincah, menunduk dengan kaki melayang menyeleding kaki si lawan yang tersungkur.
Brugh!
Dan ia tersenyum miring, mengucapkan selamat tinggal saat ia dengan santai menginjak kaki disusul sebuah leher dengan patahan terdengar setelahnya.
Krack!
Arraggg!
Duagh!
Anggasta terdorong, sambil memegangi perutnya terkena pukulan si pemegang katana yang kehilangan katana.
Pedang tajam itu terjatuh, hingga kini ia imbang melawan tanpa senjata.
Melayangkan kaki, tangan menghindar sudah sama-sama keduanya lakukan. Anggasta mengakui lawannya kali ini lumayan kuat, meski masih ada kekurangan saat napasn itu terdengar putus-putus.
Saat ini ia lebih unggul dengan napas yang masih terkontrol.
Setelahnya kembali si lawan berlari menghampirinya dengan perlawan sengit, belum lagi katana yang sial kembali dipegang si pria dengan Kazumi yang meneriaki dan ternyata pria itu juga yang memberikan katana.
“Cih! Sial,” umpatnya kesal.
Sring….
Tebasan hampir saja mengenai bahunya, jika saja ia tidak segera mundur sambil menyerongkan tubuh dan tiba-tiba saja si pria tersungkur, dengan pengawalnya yang menurunkan kaki setelah berhasil melumpuhkan si pemegang katana.
“Raion!”
Bersambung.