Menangkap Tikus Penghianat

1091 Words
Keesokan harinya…. Terminal North, pebatasan Distrik 21 utara Terminal peti kemas dengan banyak container yang menumpuk adalah tempat pertemuan antara Anggasta dan ‘tikus’ kecil penghianat keluarga Arash. Perusahaan Kizumi yang ingin membawa kabur senjata ilegal dan keuntungan penjualan dari perusahaan yang dikelola oleh si pewaris. Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal menggema di tempat pertemuan yang masih sepi, menciptakan debu yang berterbangan di sana. Ckitt! Dari dalam sana tampak kaki memakai sneaker putih menjejaki beton lapangan terminal peti kemas, disusul sesosok pria memakai kemeja hitam yang bagian lengannya disingsing, serta kacamata berwarna silver yang memantulkan bagaimana suasana di sekitarnya. Bukan hanya container yang menumpuk, tapi juga alat berat serta kapal tongkang yang menyandar di dermaga. Pria tersebut masih mengamati apa yang ada di sekitarnya dengan sebelah alis terangkat, saat hanya ada sepi di sepanjang mata memandang. Kemana ‘tikus’ sialan itu? Ia hanya bisa mengumpat ketika tidak mendapati si pria penghianat yang kemarin mengajaknya bertemu, meski tidak lama kemudian telinganya tegak, melihat ke arah lainnya ketika mendengar langkah kaki menggema. Tap! Tap! Tap! Bukan hanya satu, tapi banyak dan saat ini ada di depannya dengan wajah bengis menatap seakan ingin mencabik. Ia bersiul dalam hati, mendapati perlawaban ‘tikus’ itu dengan banyak membawa para pria besar bersenjata di sekeliling. Ya, di sekililing. Karena saat bola matanya melirik sekitar, ia menemukan banyak pria yang berdiri dengan memegang alat pemukul beragam jenis di posisi siap. Ia tersenyum sinis, kerena akhirnya si ‘tikus’ itu menampakkan diri dan berdiri di tengah antara pria memegang katana dan sebuah pemukul berduri. Wow! Ia yakin jika bagian tubuh manapun terkena pemukul itu pasti akan hancur berantakan, tapi tetap saja ia menatap datar ketika melepas kacamata dan kini onyx si pria tampak tanpa penghalang. “Tuan Anggasta, kau datang sendirian?” Kalimat bernada mengejek tak lantas membuat si pemilik onyx yang dipanggil ‘Tuan Anggasta’ terpengaruh atau beraksi. Ia justru memasukan sebelah tangannya di saku calana dan menatap si ‘tikus’ dengan seringai miring. “Kukira berapa yang akan kau bawa, Kazumi. Ternyata hanya segini,” balas Anggasta memprovikasi. Sontak ucapannya menuai seruan tidak terima dari mereka yang ada di sana, sudah sendirian masih bisa belagak pikir mereka. “Kurang ajar! Sombong sekali kau!” Seruan lainnya membuat Anggasta semakin senang, bahkan kini ia mengangkat bahu tak acuh ketika kalimat ancaman akan membunuhnya terdengar bersahutan. “Aku berikan kau satu kesempatan, Kazumi. Kembalikan semua yang kau ambil dan kau aman, atau tetap melawan dengan kepalamu akan kujadikan makanan singa di belakang mansion. Pilih yang mana?” ujar Anggasta santai, menawarkan masih dengan nada datar dan tenang andalannya. Ia tidak peduli ketika pria di sekitarnya sudah memainkan berbagai alat baik pemukul, pedang atau sebuah senjata laras panjang di tangan mereka. Ia masih santai berdiri, dengan tatapan lurus ke arah si ‘tikus’ yang dipanggilnya Kazumi. Kekehan dan decihan sinis terdengar, menuai sahutan dari tawa lainnya yang ikut menganggapnya remeh. “Ha-ha-ha…. Satu kesempatan kau bilang? Cih! Jangan bercanda, aku tidak bodoh sampai tergiur dengan kesempatan yang kau sebut itu. Kesempatan yang artinya sama saja kematian untukku. Kau adalah Anggasta si culas dan kejam, jika kau tak amnesia,” balas Kazumi mengolok. Tawa di sekitarnya semakin terdengar senang, seakan geli dan apa yang dikatakan oleh Anggasta. Apalagi nada yang digunakan si penghianat, semakin membuat para pria berbadan bagai gorilla di antara mereka terbahak. Anggasta menarik sudut bibir, menyeringai sambil menganggukkan kepala sedangkan tangannya terangkat dan diletakannya di bawah dagu, merenggangkan kiri-kanan dengan suara ‘krack’ terdengar. “Kalau begitu bersiap kepalamu terpisah, Kazumi,” ucap Anggasta dan tersenyum hingga kelopak matanya menyipit, mengejek. “Kurang ajar. Serang si tengik, bunuh dia sampai jantungnya terpisah!” seru Kazumi memerintah. Hyaaa!! Lalu Anggasta, ia tetap tenang dan diam-diam mengangkat tangan dengan jari telunjuk dan tengah teracung, menyisakan yang lainnya mengepal. Sedangkan di kejauhan tampak Raion yang melihat melalui teropong binocular, ia menemukan kode dengan arti ‘H’ dan segera menoleh ke arah para sniper, mengangguk dengan perintah sama. “Habisi tanpa sisa!” “Baik!” Letusan mulai bersahutan, sedangkan Raion sendiri segera meninggalkan tempat bersembunyi dan menuju dimana Tuannya berada. Kembali di tempat terjadinya pertemuan. Di sana tampak para pria suruhan Kazumi yang menyerang Anggasta dengan senjata terangkat. Wajah mereka tidak ada yang menampilkan ekspresi kasihan mengingat Anggasta sendirian, jutsru semakin semangat dan siap melayangkan alat yang mereka genggam. Hanya menyisakan jarak beberapa langkah dari Anggasta, mereka hampir sungguhan menjadikan Anggasta bulan-bulanan, jika saja sebuah tembakan dari kejauhan tidak menginterupsi dan melewati Anggasta yang menjadi pusat. Hujan peluru tak lantas membuat Anggasta beranjak dari sana. Ia justru menatap senang Kazumi yang mulai panik, berlindung di belakang para pria berbedan kekar yang membawa katana. Dor! Dor! Jleb! Arrrghh! Suara tembakan dan teriakan kini memenuhi kesunyian di terminal petik kemas itu. Namun ternyata, Kazumi tidak menyerah begitu saja, karena dari kejauhan juga tedengar tembakan yang menghujani tempat persembunyian anggota Arash. Sehingga, Anggasta yang merasa perlawanan ini mudah dimenangkan harus memutar otak, menghindari tembakan dan beberapa orang yang berusaha melawannya. Ia menunduk dan sesekali melayangkan kaki, menendang kepala seorang pria yang ingin menghantamnya dengan balok kayu. Buagh! Dor! Shit! Anggata mengumpat, tapi tak lama terdengar suara motor yang mendekat dengan puluhan orang yang ikut melawan banyak pria di sekitarnya. Kini ia ada di tengah perlindungan, dengan seseorang yang memepet punggungnya dan berbisik lirih. “Maaf, aku datang terlambat, Tuan.” “Tidak juga, Rai. Kita bersenang-senang dan jangan sampai terluka. Mengerti?” sahut Anggasta sama berbisiknya, terdengar lebih lembut dan khawatir di saat bersamaan. “Hai! wakarimashitta!” Hyaaa! Pertarungan kembali dilakukan, Anggasta ikut melawan bersama Raion yang menjaganya dari belakang. Sedangkan para kobun lainnya melawan satu per satu pria, yang memakai senjata baik yang tajam maupun tumpul dengan tangan kosong. Buagh! Anggasta berhasil menjatuhkan seorang pria yang berniat menusuknya, dengan berputar dan melayangkan kaki mengenai kepala itu telak. Cairan merah menyembur dari mulut si pria, menodai jalan beton dengan banyak mayat yang sudah bergelimpangan karena tembakan sebelumnya. Brugh! Bersamaan tubuh itu jatuh ke tanah, Anggasta berdiri tegak dengan kepalan tangan di depan d**a. Ia melihat sekitar dengan napas tak beraturan dan kembali berlari menuju pria dengan kapak terangkat di udara. Hyaa! Buagh! Raion dengan lincah berkelit, ketika tangannya dipelintir dan hendak dibanting dengan memutar tubuh hingga kini kepalanya menyudul dagu si pria. Dugh! Arrgg! Tidak cukup sampai situ, Raion juga mengangkat kakinya dan melayangkannya mengenai pinggang hingga si pria tersungkur ke tanah. Brugh! Sambil menormalkan napasnya yang satu-dua, cokelat bening itu mengedar ke segala arah dan seketika membola ketika melihat seseorang hendak mengayunkan sebuah pedang di belakang sang Tuan. Deg! Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD