Manision Arash
10 tahun sebelumnya….
Ruangan dengan aura suram dan penuh buku adalah tempat saat ini Anggasta berada. Ia tidak sendirian, melainkan bersama sang Oyabun—ayah yang menjadi pemimpin di klan Arash, klannya.
Duduk dengan gaya layaknya orang dewasa, Anggasta—Gasta sapaan akrabnya menatap sang ayah dengan wajah tanpa ekspresi, meski di depannya sang ayah sedang mencermahinya.
Ini karena kehadiran seorang bocah kecil yang diambilnya tanpa sepertujuan sang ayah. Meskipun Cyrene yang diambilnya sudah tinggal hampir 2 tahun, tapi sang ayah tetap saja menunjukan wajah tidak suka dan ingin ia membuang gadis kecil itu di jalan.
“Sekali lagi tidak dan jangan pernah bahas ini lagi, Chichi eu, (Ayah)” ujar Gasta tanpa mengubah sama sekali kalimat yang dikatakannya semenjak awal.
“Gasta!”
“Selain Yren, Chichi boleh memberi perintah lainnya.”
“Tapi kamu tahu kalau dia-
Tanpa di duga, Anggasta berdiri dari duduknya dan membungkuk dalam, membuat sang ayah terdiam menyaksikan sikap aneh sang putra yang tidak pernah seperti ini.
“Onegai kurasai, Chichi ue…. (Kumohon, Ayah)”
Sang ayah yang tersadar dari diamnya membuang wajah, justru memerintah sang putra untuk pergi dan akan membahas ini di lain waktu. “Kita akan bahas lebih lanjut.”
“Ta-
“Pergilah, latihan yang keras dan lawan aku untuk mempertahankan bocah itu,” sela sang ayah tegas.
“Tunggu sampai aku bisa mengalahkanmu, Chichi eu.”
Anggasta menatap sang ayah dengan sorot mata penuh ambisi, kemudian memberi hormat dengan punggung membungkuk lurus dan setelahnya mundur perlahan, meninggalkan ruang baca khusus dengan menutup pintu pelan.
Blam!
Ia menatap halaman depan ruangan sang ayah datar, sambil mengubah raut wajahnya menjadi kesediakala dan meninggalkan tempatnya berdiri saat ini.
Sementara Anggasta yang sedang berjalan menjauhi dari ruang pertemuannya bersama sang ayah.
Di koridor lain, tampak di sebuah lapangan kumpulan laki-laki dengan umur bervariasi, mulai dari yang dewasa dengan puluhan, belasan atau bahkan masih hitungan jagung alias bocah yang sedang berlatih ilmu bela diri.
Tak jauh dari tempat kumpulan itu tampak seorang gadis kecil bersembunyi, melihat dengan mata bulat dan rasa penasaran yang tinggi.
Sebenarnya ia sangat ingin bergabung dengan para anak laki-laki di sana dan berlatih ilmu bela diri. Namun sayang, sang Tuan tidak memperbolehkan dan justru memintanya untuk berlatih bersama Benji sensei.
Ia mengintip setiap gerakan yang dilakukan para pria di sana, mengangguki apa yang dimengerti dan menyimpan itu semua dalam otak polosnya.
Ia tidak tahu jika apa yang dilakukannya diperhatikan oleh seseorang di belakang sana, yang kini berjalan menghampiri dan mengulurkan tangan kemudian menepuk bahu tersebut pelan.
Puk!
Refleks ia menarik tangan yang menepuknya, hampir memelintir jika tidak melihat siapa gerangan si empu tangan.
“Oh~..., refleksmu sudah mulai bagus ya,” ujar si seseorang yang kini tangannya digenggam dan hampir disikut oleh si pemilik bahu—Yren.
“Tuan?” Yren mencicit, melihat jika kini tangan sang Tuan ada digenggamannya.
Ya, ia adalah Yren yang menatap dari kejauhan kumpulan orang berlatih. Ia juga bergerak cepat ketika sang Tuan menepuk bahu dengan mencengkram dan berbalik.
“Sedang apa kau di sini?” tanya sang Tuan—Anggasta dengan sebelah alis terangkat.
“Aku….” Yren tidak melanjutkan apa yang ingin dikatakannya, tapi Anggasta lebih dulu menatap lurus dimana sekumpulan kobun (Anak buah) berlatih dengan satu lawan satu.
“Kau mau latihan juga? Bukankah sudah kukatakan untuk berlatih dengan Benji?” cecar Anggasta datar, menatap dingin Yren yang menciut takut.
“Tidak, aku hanya melihat dan memperhatikan, Tuan.”
“Hn?” Anggasta mengangkat sebelah alisnya, tidak percaya. Ia menarik tangan mungil Yren yang pasrah ditarik begitu saja, mengikuti langkah lebar sang Tuan muda yang akan membawanya entah kemana.
Yren juga hanya melihat sekitar dengan kepala bergerak kiri-kanan dan menatap bingung, saat sang Tuan membawanya pergi ke bagasi tempat terparkirnya barisan mobil mewah.
“Bocchama!?” Seruan memanggil itu ditatap bingung oleh Yren, apalagi saat Angagsta bergumam dan membuka pintu untuknya kemudian memerintah masuk.
“Masuk!”
“T- baiklah,” jawab Yren pasrah. Ia masuk dan duduk dengan kepala tetap ke luar sana, sekalipun pintu ditutup kasar oleh sang Tuan yang masih berdiri di luar sana.
Brakh!
“Mau dibawa kemana aku?” tanyanya entah pada siapa.
Lalu Anggasta yang di luar tampak berdiri dengan seorang penjaga yang menjadi sopir. Ia memerintah tanpa ingin dibantah untuk mengantarnya ke sebuah danau tempat ia biasa menghabiskan waktu, jika sedang ingin menyendiri dan saat sedang membutuhkan ketenangan.
Pintu sebelah terbuka, Yren yang tidak berani menoleh dan menunduk ketika Anggasta duduk di sebelahnya dengan perintah terdengar.
“Jalan!”
“Baik, Bocchama!”
Mobil pun meninggalkan halaman luas mansion, menempuh jarak jauh dan menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk sampai tujuan.
Anggasta keluar dari dalam mobil, setelah mengajak Yren untuk ikut keluar bersamanya dan debaman pintu membuat Yren cepat-cepat keluar, tidak ingin sang Tuan marah kepadanya.
Ketika berdiri di luar mobil, ia tidak bisa untuk tidak berkedip takjub saat melihat hamparan hijau dan air danau yang luas.
Yren menoleh ke samping dimana sang Tuan menatap depan sana dengan tatapan tak berubah sama sekali, masih dengan topeng datar andalan yang membuatnya bertanya-tanya.
Setelahnya, tanpa kata terucap Anggasta berjalan meninggalkan Yren, yang segera mengekorinya dengan langkah tergopoh.
Keduanya menuruni sebuah rumput terawatt untuk sampai danau di bawah sana, kemudian sama-sama berdiri bersisihan di tepi danau dengan kesejukan memanjakan kulit. Bukan hanya kesejukan sih yang memanjakan, tapi juga bagaimana ketenangan membuat Yren seakan damai di dalam hati.
Beda dengan mansion yang selama ini mengurungnya dalam sebuah kamar dan tempat latihan, di sini lebih merasakan perasaan damai dengan riak air yang turut dilihatnya, kala tatapannya turun ke bawah sana.
“Selain aku, Haha ue (Ibu) dan kau, tidak ada yang lain yang kuajak ke sini,” gumam Anggasta tiba-tiba, bahkan Yren yang masih menikmati kesunyian sontak menoleh ke samping dan menatap Tuannya dengan tatapan tidak mengerti.
Setelahnya Anggasta pun ikut menoleh dan menatap Yren dengan serius. “Aku ingin ke suatu tempat setelah ini.”
“Aku akan selalu setia mengikuti anda kemanapun, Tuan.”
“Untuk membuatmu tidak bisa dipisahkan lagi dariku, aku akan membuat tanda dan dengan begitu kau akan menjadi milikku sampai kapanpun tanpa ada yang bisa mengambilmu dariku. Apa kau paham?” imbuh Anggasta tegas.
Yren mengangguk, kemudian kembali menatap danau ketika sang Tuan kembali mengalihkan pandangan depan sana tanpa ada obrolan terdengar.
Hingga akhirnya waktu yang dikatakan oleh Anggasta datang, Yren hanya ikut dan duduk dengan ringisan yang ditahan saat melihat sang Tuan pun duduk sambil menatapnya dengan binar berbeda, seakan ada rasa senang saat sebuah kupu-kupu terlukis indah di bahunya.
“Kupu-kupu, kau hanya milikku, Yren,” ucap Anggasta lembut, sambil mengusap pipi Yren yang hanya bisa mengangguk.
Bersambung