27. Bermuka Dua.

2082 Words
‘Ah yes..  Check it out.. well looky here, looky here, ah what do we have… Dering ponsel Lexa berbunyi Minggu pagi. Lexa baru saja selesai dengan ritual mandinya. Lexa melihat jam pukul Sembilan pagi. Lalu ia melihat siapa yang menelponnya. Bara is Calling… Lexa sedikit terkejut, setelah seminggu lebih Bara tak ada kabar, kini tiba-tiba Bara menelponnya. Lexa berdeham untuk meredakan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Ia takut suaranya bergetar. “Halo…” “Hai sayang,… kamu dimana?” tanya Bara. Ada rasa bahagia menyeruak ke hati Lexa mendengar suara Bara dengan menyebutnya ‘sayang’. “Aku dirumah. Kamu dimana?” tanya Lexa. “Aku di hati kamu” jawab Bara. Lexa sontak kaget dan kemudian terkikik mendengar gombalan Bara. “Apaan sih. Serius kamu dimana?” “Ya aku serius. Aku di hati kamu. Emang aku nggak ada di hati kamu?” ujar Bara. Masih lanjut menggombali sang pacarnya. Lexa tertegun mendengar pertanyaan Bara. Ia malu mengatakan pada Bara. “Hmm… apa sih bar” ujar Lexa memilih berkilah. “OH… berarti aku nggak ada di hati kamu. Oke aku ngerti.” -Tut..tut..tut- Bara langsung mematikan panggilannya. Lexa kaget tiba-tiba Bara mematikan panggilannya. Apa mungkin Bara marah? Tapi kenapa? Apa karna Lexa tak mau menjawab pertanyaan absurd Bara barusan. ya ampun! Sebegitu sensitifnya kah seorang Bara?. Lexa menggelengkan kepalanya. Lalu mencoba menelpon Bara. Panggilan pertama , kedua, ketiga, dan ke empat di abaikan oleh Bara. “Oke! Ini percobaan yang terakhir. Kalo sampe nggak di angkat. Gua bodo amat!” Kriingg… krriing… krii.. “Halo…” terdengar suara anak kecil di seberang sana. Lexa mengerutkan keningnya. Apa ia salah menelpon. Ia mengecek siapa yang ia telpon dan ternyata benar, itu nomor Bara. “Halo…” ujar Lexa. “Haloooo… ini siapa?” tanya mila. Mila adik Bara ternyata yang mengangkat telpon dari Lexa. “Aku Lexa. Ini siapa ya?” tanya Lexa. Suara mila terdengar lucu. Jadi Lexa memutuskan untuk terus meladenin bocah kecil yang mengangkat panggilannya. “Lesa? Ini mila.. lesa udah mandi?” tanya mila. Kemudian Lexa terkikik mendengar suara imut mila. “Udah. Mila udah mandi belom?” “Belom. Mila nunggu aa mandiin” jawab mila “Aa? Aa siapa yang mandiin? Mila nggak mandi sendiri?” tanya Lexa. “NO… tangan mila ndak ssampe ke bak nya” Lexa pun tertawa mendengar mila berceloteh. Tiba-tiba mila berteriak. “Aaaa!” “Mila.. ko mainin Hp aa sih?” dan itu suara Bara. “Ih.. aa. Mila lagi ngomong sama lesa.. sini!” ketus mila yang masih ingin berbicara dengan Lexa. Bara bingung, siapa lesa, lalu melihat layar ponsel. Dan disana telah terhubung dengan nomer Lexa. “Halo… kenapa kamu telpon aku?” ketus Bara. “Emang gak boleh telpon pacar sendiri? Pelit banget!” “Emang aku pacar kamu? Orang aku aja nggak ada dalam hati kamu kok!” ketus Bara. Lexa tersenyum ternyata Bara benar-benar ngambek. “Iya maaf. Aku malu bilangnya tadi. Kamu jelas ada di hati aku. Satu-satunya yang berhasil masuk dalam benteng pertahanan aku.” Ujar Lexa dengan lemah lembut. Disebrang sana Bara tertegun sesaat. Dadanya terasa berdegup lebih cepat. Secuil senyum terlintas di bibir Bara. “AA!! Teriak mila yang mengembalikan kesadaran Bara. “Kamu siap-siap sekarang. Aku jemput jam sepuluh” dan langsung mematikan panggilan. Lexa tersenyum. Ia cukup merindukan Bara. Tidak! Ia benar-benar merindukan Bara. Lexa bergegas memilih baju dan berdandan sedikit. *** Lexa menuruni tangga. Terlihat papa dan mama nya sedang duduk sambil menonton berita. Alia dan Evan melihat anaknya yang sudah berdandan rapih. “Ya ampun sayang, geulisnya mama.. arek kamana. Meni geulis kieu (Ya ampun sayang, cantiknya mama.. mau kemana, udah cantik gini)? Tanya Alia yang langsung menghampiri Lexa. Lexa tersenyum manis mendengar pujian mamanya “Lexa ijin keluar ya ma, pa” “Mau kemana de?” tanya Evan yang masih duduk di sofa. “Jalan-jalan sebentar pa. melepas penat.” “Sama siapa?” tanya Alia. “Sama temen ma. Nanti dia jemput kok. Oya, ka Al gak pulang ma?” Lexa tak melihat Al dirumah minggu ini. “Kakak kamu ijin gak pulang. Katanya dia ada acara di perusahaan tempat dia magang” Ketika sedang berbicara, teh yuni datang memberi tahu kalau temannya Lexa sudah ada di depan. Lexa langsung berpamitan pada mama dan papa nya. Lexa menghampiri Bara yang sudah berdiri di sisi pintu mobil. Bara terpesona melihat penampilan Lexa saat ini. memakai kaos lengan panjang off shoulder dengan logo Chanel di d**a kiri. Bawahannya straight black jeans panjang, dan sepatu wedges putih. Dan kali ini yang membuat Bara saat terpesona adalah rambut Lexa yang di gerai. Menampilkan rambut hitam sedikit kecoklatan dengan ujungnya bergelombang, membuat Lexa terlihat lebih cantik berkali lipat. Dan riasan natural Lexa yang hanya  memakai pelembab dan bedak tabur, juga memakai sedikit polesan lipstick nude orange. Lexa benar-benar tampak cantik saat ini di mata Bara. “Bar…? Kenapa aku aneh ya?” tanya Lexa. Lalu ia mengambil tisu dari shoulder bag putihnya. “E.. eh? Mau ngapain?” tanya Bara reflek memegang tangan Lexa yang hendak menghapus lipstick di bibirnya. “Mau hapus. Abis kamu liatinnya kayak gitu. Apa aku aneh?” tanya Lexa. Juur saya ia malu dan kikuk dengan penampilannya yang cukup berbeda hari ini. apalagi ia biasanya hanya memakai liptint bukan lipstick seperti ini. ini adalah dandanan hasil teh yuni. “Jangan di hapus. Nanti cantiknya hilang. Kamu cantik banget Lexa” jawaban Bara tentu membuat Lexa memejamkan matanya dan menunduk. Ia malu. Bara yang melihat itu terkekeh, dan menepuk-nepuk kepala Lexa dengan gemas. “Ayo kita jalan. Nanti keburu siang. Aku pamit dulu ya sama orang tua kamu” Bara hendak melangkahkan kaki menuju pintu rumah Lexa, namun di cegah. Lexa merasa masih malu jika orang tuanya tau. “Jangan mereka lagi istirahat. Kita pergi sekarang aja” ujar Lexa dan menarik Bara untuk pergi dari rumahnya. Alia dan Evan tadinya ingin mengintip dari balik jendela rumah. Namun sayang, mereka hanya melihat tampak belakang Bara karena Bara udah berjalan menuju pintu kemudi dan wajahnya tak jelas saat memasuki pintu kemudi. “Aa..ah!! papa sih. Kita jadi ketinggalan ngeliat saha anu bawa geulis nya mama pergi” Alia kesal dengan Evan karena tadi Evan mencegah Alia untuk mengintip dan malah merayu sang istri untuk mesra-mesraan. “Ih.. mama. Jangan marah-marah aja. Nantikan kita bisa liat pas pulang. Udah ah.. ayo kita lanjut lagi. Mumpung papa libur dan gak ada anak-anak ma” bujuk Evan pada Alia. “MBUNG!! Papa teh meni pikasebeleun! Kesel mama teh sama papa. Genit pisan jadi lalaki teh. Inget umur!” sergah Alia yang ngambek dengan suaminya. Dan langsung meninggalkan Evan yang merengut. Namun Evan langsung melancarkan aksi bujuk rayunya kembali. *** Hari ini seperti hari kencan pertama Bara dan Lexa. Setelah mereka resmi pacaran, baru kali ini mereka jalan berdua. Lexa tak pungkiri bahwa ia merasa senang juga gugup. Ia takur Bara akan bosan jalan dengannya, mengingat Lexa bukan tipe gadis manis yang suka jalan-jalan, berbelanja bahkan make up, hal yang lumra di lakukan oleh setiap kaum hawa. Tak segan Bara menggandeng tangan Lexa di sepanjang jalan. Benar-benar muda-mudi yang seperti sedang di mabuk asmara. Untuk yang pertama, Bara membawa Lexa ke daerah Farm House yang terkenal dengan gaya eropanya. Karena sudah jam makan siang, Bara mengajak Lexa makan di sekitar daerah itu. Puas dengan makanan yang menggoyang lidah mereka, Bara menanyakan pada Lexa, tempat yang ingin Lexa kunjungi. “Habis ini, kira-kira kita mau kemana?” tanya Bara. “Hmm… aku penasaran sama Orchid Forest. Katanya disana ada paying yang bergantung-gantung? Tanya Lexa. “Iya. Kamu mau kesana?” tanya Bara sambil mengusap sudut bibir Lexa yang ada sisa saus disana. Lexa sedikit terkejut dengan perlakuan manis Bara. Lagi dan lagi Bara selangkah masuk lebih dalam ke hatinya Lexa. “Iya. Bisa?” “Bisa dong. Anything for you honey” jawab Bara dengan senyum rupawannya. Keduanya berlanjut jalan-jalan ke Orchid Forest. Ternyata disana tempatnya Instagramable, walaupun Lexa bukan anak yang tergila-gila i********:. Lexa mengambil beberapa foto disana. Tanpa sengaja ia melihat Bara yang sedang berdiri dan pose berdirinya sangat keren. Lexa langsung mengambil foto Bara. ‘Cekrek!!’ Bara menoleh kea rah Lexa. Bara langsung menghampiri Lexa. “Kenapa curi-curi foto aku sih. Kalau mau foto bilang aja” sambil mencubit ujung hidung Lexa. “siapa yang curi-curi foto kamu. Pede! Orang aku liat pose kamu tadi lagi keren, jadi aku foto aja. Dan hasilnya bagus” Lexa memperlihatkan gaya Bara yang sedang berdiri dengan kaki agak terbuka, satu tangannya masuk ke dalam kantong celana, dan tangan yang lainnya memegang belakang kepala yang di hiasi topi warna hitam, lalu wajah Bara yang sedang melihat kearah lain. Dengan outfit Bara yang memakai kaos putih lengan pendek, dan levi’s berwarna hitam sepatu cats yang senada dengan celana. Bara benar-benar mengagumkan. Tanpa sadar, mereka seperti memakai pakaian couple. “Bagus kan?” tanya Lexa. “Emang aku udah ganteng dari sono nya. Baru nyadar kamu?” jawab Bara dengan nada tengil yang ia perlihatkan pada Lexa. Lexa lalu menarik topi nya dengan gemas. “Pedenya kebangetan!” lalu berjalan meninggalkan Bara. Bara hanya terkekeh dan langsung meraih tangan Lexa. “Kita foto berdua!” ujar Bara dan langsung menarik Lexa kedalam rangkulannya. Lalu Bara minta pada seseorang untuk memfoto mereka berdua. Bara merangkul Lexa denga tangan Bara yang memegang kepala Lexa dengan menampilkan giginya. Sedangkan Lexa menampilan senyum manisnya. Tak terasa hari sudah sore, mereka puas melihat jembatan gantung, taman anggrek dan area payung. Lexa dan Bara berjalan ke parkiran untuk pergi dari orchid forest. Namun tiba-tiba dia ingin ketoilet, dan ia meminta Bara untuk menunggunya di tempat. “Bar, aku mau ke toilet dulu ya” “Mau aku antar?” tawar Bara “Nggak usah. Kamu tunggu sini aja” Lexa lalu bergegas mencari toilet sekitar situ. Setelah selesai menuntaskan hajatnya, Lexa bergegas kembali pada Bara. Ia berjalan sambil merapihkan bajunya. ‘BRUGHH!’ Lexa bertabrakan dengan seseorang dan na’asnya Lexa kena tumpahan minuman orang tersebut cukup banyak di bajunya. Berbeda dengan Lexa, ternyata yang menabrak terkena tumpahannya hanya sedikit di bajunya. “ADUH! Baju gue..! lo kalo jalan liat-liat dong! Kotorkan baju gue?” sewot si perempuan tersebut. Perempuan muda yang mungkin seumuran dengan Lexa. “Aduh maaf kak. Saya nggak sengaja.” Ucap Lexa merasa bersalah karena ia berjalan sambil menunduk tadi jadi tek melihat orang di depannya. “Maaf.. Maaf.. dress gue mahal tau! Emang lo sanggup belinya. Mana ketumpahan warna merah lagi” omel si gadis yang memakai mini dress yang cukup sexy karena belahan dadanya cukup rendah sehingga menampilkan sedikit belahan d**a gadis tersebut. “Hei sayang ada apa?” tanya seorang laki-laki dewasa yang merangkul gadis tersebut. “Ini yang, cewek ini jalan matanya gak di pake, jadi nabrak aku. Sekarang liat, dress mahal dari kamu kotor” ujar gadis tersebut dengan nada yang manja. “saya minta maaf atas keteledoran saya” ujar Lexa menjawab tuduhan gadis sexy tersebut. “Berapa yang harus saya ganti untuk dress itu?” tanya Lexa “Ya sudah jangan di pikirin. Ini tidak apa. Nanti aku bakal beliin untuk kamu yang lebih bagus dari ini” ujar lelaki dewasa tersebut. “Beneran yang?” si gadis tampak sumringah. Lalu beralih tatapan pada Lexa “Lain kali jalan tuh mata di pake. b**o banget sih” omel gadis itu. Lexa hendak menjawab karena geram tapi sudah di potong oleh lelaki dewasa tersebut. “Ya sudah sayang. Ayo kita lanjut” ujar lelaki dewasa tersebut dan mereka pergi meninggalkan Lexa yang kesal. Namun tiba tiba lelaki itu menoleh kebelakang dan mengedipkan satu matanya pada Lexa dengan senyum yang ingin menggoda Lexa. Lexa langsung melotot dan begidik ngeri melihat tatapan m***m om-om tersebut. Disisi lain Bara sedang mengangkat telpon dari temannya yang sangat kepo akan keberadaan Bara. “Heh maneh! Dimana sia Barakokok? Kita the tadi nyusul elu kerumah, ambu bilang elu the kaluar. Kamana sia? (Heh elu, kemana aja sableng? Kita tadi datang kerumah, tapi ambu bilang kamu keluar. Kamana aja lo?)” Ujar deden. “Gua lagi jalankan misi” jawab Bara. “Misi? Misi naon? (Misi apa?)” tanya deden penasaran “Misi bikin cewek gua melayang-layang terus habis itu gua banting ke dasar laut” jawb Bara enteng. “Maksud lo bar?” suara Lucas bertanya. “KAlian pada tau lah maksud gua. Gua bakal bikin Lexa bahagia. Terus gua bakal hancurin dia perlahan-lahan tapi sakit.” Ujar Alex. Ia menyunggingkan senyum liciknya. Rasa marahnya muncul ketika mengingat Alex yang mengelak dengan tuduhan Bara. “Bara…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD