Sepulang sekolah Lexa langsung menghampiri Raya yang masih di UKS. Lexa sudah mengabari tante Diana yaitu tante Raya. Kini Lexa ingin menemani Raya. Lexa harap, Raya sudah membaik dan bisa bicara dengannya. Namun ternyata nihil. Raya masih histeris seperti tadi.
“Raya.. ini gua Lexa” lirih Raya sambil mencoba meraih tangan Raya. Kemudian kembali Raya berteriak dan beringsut mundur menjauhi Lexa.
“Jangan!! Aku mohon jangan! Aku mohon..” Ujar Raya pilu masih dalam isakannya.
“Ya Allah Raya, siapa yang berbuat gini sama lo ray?” tanya Lexa dengan sedih. Sahabat satu-satunya harus menerima kemalangan seperti ini. tak lama kemudian tante Diana datang dengan raut wajah sedihnya.
“Ya ampun Raya.. Raya ku anak tante..” lirih Diana. Ia langsung memeluk Raya. Raya sempat berteriak yang membuat Diana sontak terkejut.
“JANGAN! PERGI.. AKU MOHON JANGAN! AMPUN JANGAN!” teriak Raya. Diana membekap mulutnya. Sampai begini kah Raya menerima siksaan. Air mata jatuh di pipi Diana. Melihat keponakannya yang menderita. Lalu ia beralih pandangannya ke Lexa.
“Lexa… ini ada apa nak? Kenapa Raya seperti ini?” tanya Diana. Lexa pun mencoba menceritakan apa yang kakaknya bilang. Deraslah sudah air mata Diana. Ia menangis tersedu-sedu di depan Lexa. Lexa mencoba memeluk Diana guna menenangkannya.
***
Lexa sampai di rumahnya menjelang malam. Ia mengantar Raya dan Diana pulang kerumah. Dalam perjalanan Raya terus saja menangis di pelukan Diana. Lexa yang menyetir mobil Diana hanya bisa melirih dalam hati.
“Assalamualaikum”
“Walaikumsalam, edek dari mana wae sih? Kok baru pulang” tanya Alia yang membuka pintu.
“Aku abis dari rumah Raya mah” jawab Lexa sambil mencium tangan Alia. “Papa mana ma?”
“Papa kamu lagi ke bekasi. Tadi pagi dia berangkat”
“Berapa hari?”
“Kayaknya lima hari atau semingguan” Lexa mengangguk.
“Kak Alex pulang nggak ma?” tanya Lexa.
“Iya dia pulang, Cuma… dia kayaknya lagi kena flu” jawab Alia.
“Flu?”
“Iya flu. Tadi dia datang kerumah pake masker. Yaudah, kamu sekarang mandi, ganti baju, terus kita makan malem sama-sama. Ajak kakak kamu juga” ujar Alia. Lexa mengangguk dan segera melangkah ke lantai dua.
Didalam kamar Lexa berusaha menghubungi Bara. Seharian ini ia tak ada berkomunikasi dengan Bara. Ia terlalu sibuk dengan Raya.
From Lexa : Bara… kamu lagi apa?
Sembari menunggu balasan Lexa membersihkan dirinya.
Ditempat lain. Bara sedang berbaring di rumahnya. Ia sedang di kompres oleh abangnya Jordan. Ya, Bara mengalami memar di punggung dan perutnya.
“Lo kenapa sih bar? Lo berantem sama siapa?” tanya Jordan.
“Ck.. biasa bang, sama anak b******k” ujar Bara dengan geram. “Aww.. sshh..” desis Bara saat di kompres.
“Wuah mantap juga tendangannya tu orang. Perut lo memar parah gini. Untung tulang rusuk lo gak pa-pa” ujar Jordan sembari mengompres Bara. “ dan yang pasti, dia nggak nyerang muka lo. Asset berharga lo buat dapetin cewek” ejek Jordan. Lalu ia tertawa melihat wajah kesal sang adik.
“Ya ampun Bara… kamu kenapa? Kok bisa memar memar gini?” tanya mira. Mira adalah mama tiri Bara. Walaupun mama tiri, namun perlakuan mira baik terhadap Bara.
“Aa.. aa..” Mila berlari kearah Bara. Mila adalah adik tiri Bara yang kecil. Umurnya masih lima tahun. Bara sangat menyayangi mila. Saat mila hendak naik keatas perut Bara, ia langsung di hadang oleh Jordan.
“Eitss… mila nggak boleh di pangku a Bara dulu. Aa lagi sakit” jelas Jordan.
“Aa sakit apa?” tanya mila.
“Aa habis jatuh. Tuh, liat ada biru biru di pertu a Bara” ujar Jordan.
“Kamu kenapa bar? Kamu habis berantem? Tanya mira.
“Jatoh” jawab singkat. Mira hanya tersenyum kecut. Ya Bara memang tak bersikap ramah dengan mira. Ia kerap cuek, ketus, dan tak peduli dengan ibu tirinya tersebut. Bara bahkan tak memanggilnya mama, ibu, bunda, mami, atau sejenis panggilan lainnya untuk seorang ibu.
“Kamu sudah makan? Mama sudah memasakan telur balado kesukaan kamu” ujar lembut mira.
“Ya.” Ujar Bara. Sambil mengangkat sebelah tangannya menutupi kedua matanya dan setengah berbaring, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
“Baiklah, nanti mama minta ambu bawakan makan malam kamu kekamar. Mila ayo nak, aa Bara mau istirahat.” Ujar mira. Mila yang berada di pangkuan Jordan pun turun mengikuti sang mama.
“Bar, cepet sembuh. Kalo butuh apa-apa lo panggil gua aja” ujar Jordan.
“Oke bang makasih” jawab Bara. Jordan pun berjalan keluar meninggalkan Bara. Namun diambang pintu ia berbalik menghadap Bara.
“Atau gua tidur di sini aja? Ngelonin elo, ngusap-usap perut sexy elo pake minyak, teru…..” Bara langsung melempar bantal yang ada di samping nya kearah Jordan. Ia geli sekali kalau Jordan sudah menggodanya seperti itu. Dan di balas tawa sekeras-kerasnya oleh Jordan sambil menutup pintu kamar.
TRING!!! One messege
From Lexa : Bara… kamu lagi apa?
Bara hanya melihat pop up chat nya. Ia benar-benar malas meladeni Lexa saat ini. emosinya menghadapi kakak Lexa belum mereda. Ia lelah saat ini, melihat chat yang Lexa kirim, membuat kekesalannya muncul kembali.
“b******k, b******n lo Alex. Liat aja, bakal gua apain ade tercinta lo itu” ujar Bara penuh dendam.
Lexa mengetuk kamar Alex, meminta Alex turun agar ikut makan malam bersama.
Tok…tok…tok…
“Kak, kak Al? kita makan malam yuk. Di tunggu sama mama” ujar Lexa. Terdengar pintu terbuka dan menampilkan wajah Alex yang tertutup masker.
“Kakak belom laper dek. Kamu sama mama makan aja duluan” ujar Alex dari balik masker. Lexa mengernyitkan dahinya. Matanya tertuju pada masker yang menutupi sebagian wajah kakaknya.
“Kakak kenapa? Ko pake masker?” tanya Lexa
“Kakak kena flu. Takut nanti nular, jadi kakak pake masker” ujar Alex. Lexa mengangguk paham. Ia pun turun meninggalkan Alex.
“Haaah.. hampir aja. Bisa di wawancara gua sama si bawel” ujar Alex. Alex membuka maskernya, ia bercermin melihat pantulan wajahnya yang terukir memar di wajah rupawannya. Sudut bibirnya sedikit pecah, dan membiru. Alex sebelumnya sudah curi-curi kotak P3K, ia akan mengobati sendiri luka nya.
“Sshhh… akh..” Alex sedikit mengaduh saat meraba memar di wajahnya. “Lexa sama mama jangan sampe tau. Berabe! Sial emang di Bara” gerutu Alex.
BRAKK!!
Pintu kamar Alex tiba-tiba terbuka cukup keras. Dan itu karena di tending oleh Lexa. Di tangan Lexa ada nampan berisi makan malam untuk Alex.
“Edek! Ngapain sih buka pintu kasar gitu?” kesal Alex. Alex otomatis menoleh saat pintu kamarnya di buka kasar. Ia lupa bahwa ia tak memakai masker.
“Susah tangan aku bawa makanan buat kakak!” ketus Lexa dan berjalan menuju nakas pinggir ranjang Alex. Lexa menoleh kearah kakaknya, ia menyipitkan matanya.
“Muka kakak kenapa?” tanya Lexa menghampiri Alex. Alex kelagapan. Ia lupa memakai maskernya, lalu memalingkan wajahnya dari tatapan sang adik.
“Ng..nggak ada. Emang kenapa?” kilah Alex. Lexa gemas sendiri, emangnnya dia buta nggak bisa liat kondisi wajah Alex. Dengan sengaja Lexa mencengkran kedua pipi Alex dan memutar kepala kakaknya menghadap Lexa.
“AAKHH!!! Ssshh… SAKIT DEK!” teriak Alex. Lexa tersenyum miring. Itu di bilang nggak ada apa-apa?
“Kenapa itu? Berantem sama siapa kakak?” tanya Lexa.
“Sama orang gila” ketus Alex. Ia kesal mengingat pertengkarannya dengan Bara. Lexa mengambil kotak P3K, dan mengobati Alex di atas sofa kamar Alex. Lexa mengambil air dingin di kulkas mini Alex, ia menempelkan botol dingin tersebut di wajah memar Alex. Lalu, Lexa pelan-pelan mengobati sudut bibir kakaknya yang pecah. Lexa sedikit mengerjai kakaknya, dengan menekan luka tersebut.
“ADUH!! Lexa! Ikhlas gak sih?” kesal Alex. Lexa hanya cekikikan.
“Kayaknya mantep nih pukulan. Lawan yang sepadan buat kakak. siapa sih kak orang yang mukulin kakak sampe gini? Lexa mau bilang kalo orang itu keren!” ujar Lexa dengan tengilnya. Alex sontak mendelik. Bisa-bisanya adiknya mau berterima kasih pada Bara. Jangan sampe adiknya mengenal Bara.
***
Sudah seminggu Lexa tak mendapat kabar dari Bara. Bara pun tak terlihat ada di sekolah, hanya teman-temannya saja yang terlihat mondar mandir di kantin. Sebenarnya Lexa ingin menanyakan kemana Bara pergi. Tapi ia malu dan gengsi. Ia tak mau terlihat mengejar-ngejar Bara. Padahal wajar saja jika ia mengkhawatirkan pacarnya. Lexa duduk sendiri termenung di taman belakang sekolah tempat biasa anak anak bersantai ria. Ia merasa kesepian tanpa ada Raya. Raya, aahh.. kondisi gadis itu hanya sedikit membaik. Kejadian tempo hari benar-benar membuat Raya terguncang.
“Lexa..!” panggil seseorang. Lexa menoleh ke belakang. Terlihat Lucas sedang berdiri sambil membawa dua botol minuman. Lucas berjalan mendekati Lexa, lalu mendudukan diri disamping Lexa.
“Hei, Lucas kan?” tanya Lexa. Lucas mengangguk.
“Nih… “ Lucas menyodorkan minuman di tangannya.
“Thanks” jawab Lexa.
“Kenapa sendirian?” tanya Lucas.
“Yah, emang mau sama siapa? Raya gak masuk sekolah.” ujar Lexa lesu.
“Raya yang di gosipin sama Alex?”. Lexa mengangguk. “Dia kemana?” lanjut Lucas.
“Raya masih terguncang. Kayaknya dia kena trauma yang cukup berat. Gua aja masih belom bisa akrab sama dia. Tapi sekarang dia udah lebih baik. Tinggal nunggu pemulihan aja” jelas Lexa. Lucas mengangguk mengerti.
“Luc…” Lexa menjeda
“Hemmm??” Lucas menoleh kearah Lexa. Lexa tampak ragu. Ia bingung, apa kah ia harus menanyakan Bara? Dimana Bara? Apa kabarnya dia? Kemana dia?. Aahh tapi Lexa malu dan gengsi rasanya menanyakan info yang seharusnya seorang pacar lebih tau.
Hening diantara keduanya Lucas tau kegelisahan hati Lexa. Namun Lucas enggan mengorek hal tersebut. Ia ingin Lexa bertindak sesuai keinginan dan kesiapan hati nya.
“Oya, gimana hubungan lo sama Bara?” tanya Lucas memecah keheningan.
“Eh..? ba..baik. gua sama Bara baik.” Jawab Lexa segera mengenyahkan rasa gugupnya. Sebenarnya ia juga tak tau bagaimana kondisi hubungannya saat ini dengan Bara.
“Syukurlah. Gua harap lo bahagia lex.” Ujar Lucas yang membuat kening Lexa berkerut. Ia heran kenapa Lucas tiba-tiba berkata seperti itu.
“Maksud lo? Tiba-tiba banget bilang kayak gitu” tanya Lexa.
“Gak pa-pa. emang lo nggak mau di doain bahagia?” ujar Lucas
“Iya deh, makasih Lucas” sambil menampilkan senyuman yang sangat cantik dimata Lucas. Lucas sampai tak sadar memandang Lexa cukup lama akibat senyuman tersebut. “WOY!! Kenapa lu. Liatin gua sampe segitunya. Nanti muka gua bolong gimana?” tawa Lexa terdengar merdu di telinga Lucas. Lucas pun tertular oleh tawa Lexa.
“Gak papa bolong. Nanti kalo Bara gak mau terima lo, tinggal beralih aja ke gua” ujar Lucas sambil memandang Lexa, lalu sebelah matanya mengedip genit. Lexa yang langsung bergidik geli dengan ucapan Lucas.
“Diiihh… gombalnya murah!” jawab Lexa
“Biarin. Kalo ada yang murah ngapain cari yang mahal”
“GAK MODAL!!!” ketus Lexa. Membuat Lucas tertawa melihat wajah jutek Lexa yang terlihat bikin gemas.
“Sayang lo pacar orang!” ujar Lucas sambil mengacak-acak rambut Lexa.
“LUCAS!!!” kesal Lexa.
Tanpa mereka sadari sepasang mata elang sedang memperhatikan mereka dari lorong sekolah.
“MURAHAN!” Geram Bara.