Aldi berlari terburu-buru menaiki tangga. Lalu ia berlari di lorong lantai dua multi media dan menuju kelasnya yaitu multi media A. Kevin sang ketua kelas ter engah-engah memasuki kelas dan menghampiri lexa.
“Lexa!... gawat lex! Parah lex! Hah..hah.. hah…” ujar kevin terengah-engah.
“Lo kenapa sih” tanya lexa cuek tapi bingung bingung.
“Kakak lo..! si alex, dia ada di ruang BK” jawab kevin.
“Hah?! Kenapa? Kok bisa?” tanya lexa dengan kernyitan di dahi nya.
“Iya, katanya si alex berbuat m***m di halaman belakang sekolah” sambar andi yang baru saja datang menyusul Kevin.
“APA?!!” lexa yang langsung berdiri dari duduknya. “Lo berdua kata siapa?”,tanya lexa. Ia benar-benar kaget dan bingung.
“Kitakan abis dari ruang guru. Dan lo tau sama siapa kakak lo di tuduh berbuat m***m?” tanya Kevin.
“Sama siapa?”
“Sama Raya sobat lo” ujar andi.
“HAH??!!” teriak lexa. Lexa segera melangkahkan kakinya untuk menemui kakak dan sahabatnya. Ini nggak bener. Ini nggak mungkin. Otak dan hati lexa benar-benar sejalan menolak tuduhan tersebut.
***
Alex baru saja keluar dari ruang BK. Ia sudah memberi penjelasan kepada pihak sekolah terkait hal yang terjadi. namun nampaknya pihak sekolah masih belum percaya dan masih menunggu penjelasan dari raya yang kini ada di ruang UKS.
“Ckckck… sekali bejad tetap aja bejad ya! Gak akan hilang tabiat rusaknya” celetuk seseorang. Alex yang sedang berjalan menuju kelasnya menghentikan langkahnya setelah mendengar suara tersebut. Alex terdiam sesaat mengambil nafas dan kembali melanjutkan langkahnya. Alex enggan menyahuti orang tak penting bagi dirinya.
“Wuah! Malingnya udah pasrah kepergok ya? Gimana.. rasanya ajip-ajip disekolah? Wuih… semoga aja tu cewek nggak depresi jadi bekas unboxing dari lo” ujar bara dengan sarkas mendekat kea rah alex.
Alex yang merasa amarah sudah di ubun-ubun langsung berbalik dan menghajar bara secara spontan. Bara tersungkur ke lantai. Nafas alex memburu, ia ingin sekali lagi menghajar bara. Namun ini masih di lingkungan sekolah.
“Diam lo bar! Jaga mulut lo anjing!” bentak alex.
“Kenapa? Lo takut gua bongkar semua aksi bejad, busuk, dan menjijikan yang pernah lo lakuin?” ujar bara sambil bangkit.
“Apa mau lo bar? Kenapa lo cari gara-gara terus sama gua?” tanya alex dengan meredam emosinya.
“Mau gua?” bara menjeda ucapannya dan berjalan mendekat kearah alex. “Gua mau lo membusuk di penjara. Atau.. membusuk didalam tanah. Membusuk sama sifat berengsek, pengecut, b***t, bus… ‘BUGH’ alex kembali menyerang bara. Kini bara tak tinggal diam ia juga menyerang alex. Teman-teman bara yang tadinya hanya diam kini berusaha melerai alex dan bara. Bima dan deon yang kebetulan melihat langsung ikut melerai bara dan alex.
“LO INGET APA YANG UDAH LO PERBUAT SAMA SABRINA LEX. LO b******n LEX. b******k!!!” teriak bara dengan emosi yang sudah tak terkendali.
“BUKAN GUA YANG HANCURIN SABRINA BAR! BUKAN GUA! GUA GAK MUNGKIN NYAKITIN SABRINA!” alex pun berteriak. Ia geram dengan tuduhan terus menerus dari bara.
“Mana ada maling ngaku.. maling ngaku polisi nganggur gak ada kerjaan!” bentak bara yang masih di tahan oleh teman-temannya.
“Sorry ya bar. Bukan gua ikut campur. Tapi mending lo cari bukti. Jangan asal tuduh gini bar” ujar bima.
“Lo nggak tau apa-apa. Gak usah so tau dan ngatur apa yang harus gua lakuin! b******k!” ujar bara sambil berlalu meninggalkan semua yang masih berdiri di tempat masing-masing. Kemudian teman-teman bara pun menyusul bara. Alex masih berdiri di tempat. Sudut bibir sampai pipi sebelah kanannya membiru. Dan disudut bibir pun sedikit mengeluarkan darah. Alex dan kawan-kawannya pun berlalu menuju kelas mereka.
Alexa berlari terburu-buru menuju ruang BK. Ia sungguh pening memikirkan apa yang baru saja ia dengar. Kakaknya berbuat m***m? Dan yang lebih mencengangkan adalah di tuduh berbuat m***m dengan raya? Temannya yang lugu dan polos. GILA! Itu yang lexa pikirkan.
Tok..tok…tok…
Lexa mengetuk ruang BK, lalu membuka pintu ruangan tersebut. Terlihat seorang lak-laki tua berkaca mata, dengan rambut pelontosnya ada beberapa uban terlihat, berkumis tipis dan wajah yang dibilang sangat tegas menatap lexa yang baru saja membuka pintu ruangannya.
“Permisi pak” ujar lexa.
“Ya.. silahkan masuk” jawab guru tersebut. Lexa memasuki ruang BK tersebut dan celingak celinguk namun tak menemukan kakak dan sahabatnya. “Ada perlu apa?” suara guru BK menginterupsi lexa.
“Ehm.. begini pak. Apa benar tadi kakak saya Alex anak kelas dua jurusan bisnis keruangan ini?” tanya lexa.
“Oh alex. Iya tadi dia disini. Tapi sekarang saya sudah suruh kembali ke kelasnya” jawab guru BK.
“Terus, yang siswa perempuannya kemana pak?” tanya lexa.
“Dia ada di UKS” sambil geleng-geleng guru BK itu terlihat frustasi “Keadaannya kacau” lanjut guru BK. Lexa mengernyit bingung. Hatinya semakin was-was. Ternyata benar kakaknya dibawa keruang BK tadi. ‘jadi bener raya dan kak alex di gossip…’ lexa langsung menggelengkan kepalanya. Ia masih tak percaya.
“Kalo gitu saya permisi ya pak. Terima kasih infonya” ujar lexa dan langsung meninggalkan ruangan tersebut. Lexa berlari menuju ruang UKS. Ia khawatir dengan keadaan raya yang di bilang kacau oleh guru BK. Sebenarnya ada apa ini? lexa sungguh bingung. Sesampainya lexa di depan UKS ia langsung menerobos masuk kedalam ruangan tersebut. Terlihat raya sedang duduk di atas brangkar sembari menekuk kedua kakinya, melipat kedua tangan diatasnya lalu wajah raya tersembunyi di balik lipatan tangan tersebut sambil terisak.
“Hiks..hiks..hiks…” isak raya masih terdengar. Baju nya kini telah berganti menjadi baju UKS UVO berwarna abu-abu.
“Permisi, ada apa dengan raya?” bisik lexa kepada petugas PMR.
“Hmm.. tadi pas dia datang, bajunya sudah kacau, kancing seragam hampir lepas semua, seragam kotor, roknya juga kotor dan rambutnya tadi sangat acak-acakan. Kaya habis di perkosa gitu” jelas cewek petugas PMR. Lexa semakin merasa cemas. Apakah benar sang kakak melakukan tindakan assusila pada sahabatnya? Setan apa yang masuk kedalam otaknya alex sampai setega itu dengan raya yang notabenenya kakaknya sendiri tau, bahwa raya adalah sahabat lexa. Adiknya.
“Ray…”lirih lexa. Berusaha mendekat kearah raya. “Raya…” lirih lexa dan kini suara lexa sedikit bergetar. Lexa mencoba menyentuh tangan raya. Namun tiba-tiba raya berteriak
“JANGAN!.. TOLONG JANGAN! AMPUN!” Lexa kaget dengan respon raya. Seberapa parah yang dialami raya hingga seperti ini. lexa menegakkan tubuhnya dan berdiri. Ia marah, rasa sesak lexa rasakan melihat keadaan sang sahabat saat ini. ia akan meminta penjelasan pada kakaknya. Apa yang sebenarnya telah kakaknya perbuat pada raya.
Lexa berjalan menuju gedung jurusan bisnis. Ia melangkah dengan menahan amarah. Setidaknya ia harus menahan emosinya dulu demi meruntunkan segala pertanyaan yang ada di benaknya sebelum ia menghajar sang kakak jika benar kakaknya bersalah. Lexa membuka pintu kelas alex yang tertutup.
‘BRAAKK!!!’
Semua siswa yang ada di dalam kelas pun terkejut mendengar bantingan pintu yang cukup keras, untung saja free class, jadi tak ada guru di dalam kelas alex. Lexa mengedarkan pandangannya mencari sang kakak.
“Dek!..” seru alex yang duduk di pojok paling belakang. Alex heran kenapa adiknya kekelasnya. Lexa berjalan mendekati alex. Masih dengan menahan emosinya. Karena yang lexa tau adalah alex telah berbuat assusila pada sahabatnya.
“Kak…” lexa menjeda ucapannya. Ia menarik nafas sesaat “Apa yang sebenernya terjadi? ada apa lo sama raya?” tanya lexa. Dan kini alex paham. Lexa tak tau kejadian yang sebenarnya. Alex bangkit dan mendekati sang adik.
“Dek.. kakak, nggak apa-apain raya! Sumpah demi Allah! Kakak sama sekali nggak sakitin sahabat kamu” jelas alex.
“Tapi orang-orang bilang kakak berbuat assusila sama raya” lexa tetap keukeuh dengan apa yang ia dengar dan ia lihat. Alex lalu menarik lexa keluar dari kelasnya. Ia membawa lexa sedikit menjauh dari kelasnya.
“Dek. Raya di bully. Kakak liat pake mata kakak sendiri. Raya di siksa dengan cara di permalukan abis-abisan sama tiga orang cewek. Tapi kakak nggak tau siapa mereka.” Jelas alex. Lalu alex pun menceritakan bagai mana kronologinya pada lexa. Lexa terkejut. Matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar dan ditutup oleh tangan mungilnya. Ia tak menyangka raya mendapatkan aksi bully sesadis itu. Siapa yang berani membully raya.
“Kamu tenang aja ya. Kita tinggal tunggu penjelasan dari raya, kalau kakak nggak perkosa dia ataupun berbuat assusila” terang alex.
“Tap.. tapi kak, raya.. raya..” ucap lexa terbata-bata. Ia sedih mengingat kondisi raya saat ini.
“Tapi kenapa dek?” tanya alex.
“Raya kayanya trauma kak.” Dia ketakutan pas aku coba deketin dia. Alex juga tak kalah terkejutnya. Namun ia tak heran, karena siapapun perempuan jika di perlalukan seperti itu pasti akan membekaskan luka di jiwanya.
Jam pulang sekolah berbunyi. Seluruh siswa siswi berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Alex berjalan menuju parkiran. Ia kini akan pulang kerumahnya. Saat alex siap-siap diatas motor, sebuah kalimat yang menguras emosi alex terdengar kembali.
“Lo liat kan, kali ini lo berhasil bikin anak orang rusak lagi. Lex..lex.. tobat lo! Jangan sampe sifat bejad lo berbalik ke adik lo itu. Terus…. Next episode bisa aja adek lo yang jadi rusak” ujar bara dengan frontal di depan beberapa anak yang berada di parkiran yang masih lumayan sepi. Emosi alex langsung memuncak. Alex melemparkan helm yang ia pegang ke sembarang arah. Turun dari motor dan langsung menyerang bara yang sedang berdiri sambil tersenyum mengejeknya.
Saat alex hendak melayangkan pukulan, bara tengan cepat menangkis dan berbalik meninju wajah alex dan juga perut alex. Alex terdorong, ia maju kembali untuk membalas dengan menendang perutnya. Bara terdorong kebelakang, lalu kembali maju untuk menghajar alex namun sayang, alex dengan sigap menangkap tangan bara dan langsung melakukan bantingan pada tubuh bara. Saat alex akan meninju bara yang telah terbaring di bawahnya, ada yang menahan tangan alex. Untunglah bima dan yang lain datang menahan alex berbuat lebih frontal. Bima, deon, habib dan dicky berusaha mengangkat alex dari atas tubuh bara. Alex sempat memberontak, ia masih ingin menghajar habis-habisan mulut busuknya bara.
Dan ketika itu pula lucas, leo, deden, mario dan sandi yang baru saja tiba melihat kejadian tersebut. Leo pikir bara di keroyok oleh alex dan yang lainnya, ia pun menghampiri dan langsung memberi bogem mentah pada habib yang sedang menahan tubuh bara. Habib bermaksud memisahkan dengan cara menahan tubuh bara agar tak berselisih kembali. Namun naas, ia malah mendapat bogem mentah dari leo. Habib tersungkur, sedangkan kawan alex yang lainnya kaget dan tak terima. Dan… berlanjutlah perkelahian tersebut dengan mengikut sertakan kedua geng bisnis dan sipil tersebut.
‘PRRIIIITTTT!!!’ suara peluit satpan sekolah berbunyi. Ada dua satpan yang mencoba melerai.
“Hei.. kalian ini apa-apan? Bikin rusuh di area sekolah. Mau saya laporkan sama guru BK biar kalian di skorsing?” ujar pak satpam yang memiliki kumis tebal tersebut.
Semuanya diam. Tak ada yang mau di skorsing. Apa lagi mereka tim basket bisa kena skorsing total selama dua bulan jika ketahuan.
“Aduuhh hampura atuh abah. Maaf ari iyeu teh hanya kasalah pahaman wae. Tong beja keun ka BK nya bah nya (aduh, maaf ya pak, ini hanya kesalah pahaman aja. Tolong jangan di laporkan ke BK ya pak)?” ujar deden merayu pakatpam.
“Kasalah paham geh ulah sok kitu atuh. Meni gegelutan tina area sakola. Hayang maneh dihukum (Kesalah paham pun jangan begitu. Jadi berkelahi di area sekolah. Mau kamu di hukum) ?” tanya pak satpam. Dan di jawab gelengan oleh yang lain.
“Geus ari kitu bubarkeun. Ka tempo BK tamat riwayat aa sakabehna.. geus bubar bubar bubar (ya sudah kalau gitu, bubar! Kalo kelihatan BK tamat riwayat abang-abang semuanya.)..!!” perintah pak satpam. Sebelum pergi mereka pun saling tunjuk menunjuk. Menampilkan aura permusuhan.
“Geus.. Geus.. Geus.. bubar!” bentak pak satpam dan kedua kelompok itu pun membubarkan diri.