11. Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara

2543 Words
Lexa berjalan sedikit terpincang menuju ruang administrasi SMA ADIAKSA. Excel dan axen mendampingi Lexa untuk mengurus segala administrasi kepindahannya. “Wel, lo serius mau pindah ke bandung? Lo bukan pindah gara-gara masalah lo kemarin kan? “Kak, lo pikir gua orang yang suka lari dari masalah? Lagian gua sih nggak ada masalah. Gua gak ada bikin ribut apa lagi masalah. Gua serius!” jawab Lexa dengan nada dinginnya. “Iya.. iya.. hati-hati lo disana. Jangan bikin repot Alex. Belajar yang bener!” ceramah excel. “Tumben omongan lu bener cel?” ejek axen dan diangguki Lexa. Excel tidak menanggapi ocehan axen. “Yaudah, gua langsung ke kelas ya ulangan harian gua belom bikin contekan” ucapnya santai. “Kakak juga ya de, kamu bisa gak sendiri? Kalo nggak, kakak izin sama guru dulu” tawar axen. “nggak usah kak. Aku bisa. Kakak kekelas aja” jawab Lexa dan kedua kakaknya berlalu menuju kelas masing-masing. Lexa berjalan memasuki ruang guru. Ia bertemu langsung dengan bagian administrasi di dalamnnya. Setelah berbincang-bincang lama di dalam ruang TU, Lexa keluar dan pamit kepada beberapa guru yang ada di kantor. “Lexa pamit ya bu, maaf kalo Lexa nakal selama disekolah ini” ujar Lexa pada gurunya. Dan saat itu baru saja masuk dini kedalam ruang guru untuk meletakan tugas dari kelasnya di salah satu meja guru. Ia pun tak sengaja mendengar perbincangan Lexa dan guru-guru tersebut. “Nggak kok Lexa. Kamu siswi yang hebat, pintar juga cantik. Semoga prestasi kamu di sekolah baru nanti meningkat. Kalau balik ke Jakarta, main-main ya kesini. Ibu masih mau kamu jadi pasangan mentor untuk kelas conversation” jawab bu fitri. “Yes Lexa. Me too. Kamu masih murid terbaik bapak dalam hal bahasa inggris.” Tambah pak darto. Dini yang mencuri dengar pembicaraan tersebut tampat kaget. Pindah? Lexa pindah? Kenapa? Itulah pertanyaan di benak dini. Lexa menyalami guru satu persatu. Lalu berlalu keluar. Dini langsung mengejar Lexa. “Lexa, Alexa!” panggil dini. Alexa menoleh dan memperlambat langkahnya. “Lo mau pindah? Tapi, kenapa? Kok mendadak?” Tanya dini. “Kakak gua sakit. Butuh yang urus dia. Jadi gua pindah” jawab Lexa singkat. “Kakak lo? Kak Alex? Berarti lo pindah ke bandung?” Tanya dini. “Ya”. Dini tau bahwa Lexa masih belum memaafkannya. Lexa adalah sahabat kesayangan dini. Walaupun Lexa tomboy, namun ia selalu menjaga tutur katanya. Tak pernah sekalipun Lexa memakai kata-k********r walaupun sekedar hanya untuk bercanda. Tidak seperti sandra dan ami, mereka seperti biasa menggunakan itu. Terkadang dini risih dengan kosa kata mereka berdua. Lexa lah yang membuatnya nyaman. “Alexa…” jeda dini, “Gua minta maaf.. gua bener-bener minta maaf. Gua gak ada maksud ikut-ikutan sembunyiin semuanya dari lo. Gua Cuma nunggu supaya sandra bisa jujur sendiri ke elo, tapi… tapi…hiks..hiks” ucapan dini terbata-bata bersamaan tangisnya. Keduanya berhenti di tengah lorong yang sepi karena memang jam masuk pelajaran. “Din… gua udah maafin lo. Sandra dan ami juga. Ini udah jadi jalan hidup gua. Takdir…” jeda Lexa lalu berjalan dan menyandarkan tubuhnya ke pembatas balkon lantai dua. Lexa melihat sekeliling halaman sekolahnya yang baru 3 bulan saja ia pijaki. “Lo tau kan, apa yang kita ingin, tapi nggak jadi milik kita, tandanya itu bukan hal yang baik buat kita. Begitu pula gua sama Dylan. Inshaa Allah gua ikhlas. Tapi maaf din, keadaan udah gak sama lagi. Kita berempat udah gak sama lagi. Jadi maaf” ucap Lexa dengan mempertahankan posisi wajah datarnya. Lexa sedih sebenarnya, ia tak bisa berpamitan dengan baik kepada sahabat-sahabatnya dulu. Rasa kecewa Lexa masing tinggi. Ia pun pergi meninggalkan dini dengan air mata yang menggenang. ~BANDAR UDARA INTERNASIONAL HUSEIN SASTRANEGARA~ *LEXA POV: Welcome to bandung Lexa. Bissmillahirohmanirohim… sebentar lagi kita landing, let’s start new live. Itu yang ada di pikiran gua. Hari ini gua hari pertama gua menginjakkan kaki ke bandung dengan agenda tinggal dibandung bukan liburan. Kakak gua, kak Alex, penyakit magh nya kambuh lagi. Ketiga kakak gua emang susah kalo udah focus sama satu hal, mereka bakal lupa makan, lupa jam, lupa mandi, bahkan lupa kalo mereka punya kesehatan yang harus dijaga. Gua kebandung selain untuk ngurusin dan nemenin kakak Alex, gua kesini juga demi ketentraman hati dan pikiran gua. Munafik kalo gua bilang baik-baik aja setelah apa yang gua alami kemarin-kemarin. Sahabat yang sangat gua percaya, dengan teganya bohongin gua bahkan.. mungkin, bisa di bilang nusuk gua dari dalam bukan dari belakang. Gua sadar, gua bukan siapa-siapanya Dylan untuk marah ke sandra dan yang lainnya. Tapi, yang gua sesalkan adalah, kenapa dia gak bilang dari awal?.. kalo aja sandra jujur sedari awal, mungkin gua akan mundur dan mengubur perasaan gua sebelum bertumbuh semakin kuat. Kenapa sandra harus bohong dengan segala dialog dramanya yang bikin perasaan gua makin kuat dan percaya diri buat deketin Dylan. Huh! Udah lah, lo harus move on Lexa! Inget kata kak axen, lo lebih berharga dari apapun! “LEXA POV END-  Lexa celangak-celinguk saat baru saja keluar dari ruang  pengambilan bagasi. Ia hanya membawa satun koper besar saja dan waist bag kecil bermerk Eiger. Lexa lalu melepaskan waist bag nya dan mengambil hp yang ada di dalam tas kecilnya tersebut. Karena tak memeperhatikan jalan, ia ditabrak dengan seseoorang yang sedang berlari dari arah berlawanan seperti terburu-buru. ~BRUGHH…!~             “Awwwh.. Sshh!” b****g Lexa lagi-lagi berciuman mesra dengan lantai. Namun bedanya ini lantai bandara.             Disisi yang berbeda, seorang laki-laki pun jatuh terduduk di hadapan Lexa. Lelaki itu mengaduh kesakitan juga.             “Aduh, p****t gua!” gerutu Lexa             “Maaf, kamu nggak papa?” Tanya seseorang dihadapan Lexa.             “Sakit nih. Larinya pelan-pelan dong” gerutu Lexa.             “Maaf Teh, saya lagi buru-buru Jadi gak liat jalan. Mari saya bantu” ujar lelaki itu sambil menawarkan tanganya untuk menjadi penyanggah. Lexa menerima uluran tangan lelaki tersebut. Besar, dan hangat. Lexa merasa tangannya begitu kecil hingga telapak tangan lelaki itu begitu penuh menutupi tangannya.             Lexa bangkit dan lelaki itu memberikan tas Lexa yang terlempar jatuh kelantai. Lexa menerima tasnya dan mendongakan kepalanya menghadap wajah lelaki tersebut. ‘waaaahhh…! Kata Itu yang muncul di benak Lexa. Sedikit terpesona dengan rupa yang di hadapannya.             Lelaki dengan topi hitam, memakai hoodie hitam Nike, tengah melihatnya dengan tatapan bingung.             “Kamu nggak pa-pa? Tanya nya.             “Eh,, iya.. gu..gua eh saya nggak papa a’.. ucap Lexa tergugu..             “Maaf saya harus pergi. Permisi” ujar lelaki itu dan berlari meninggalkan Lexa yang terbengong. Setelah lelaki itu menghilang dari pandangannya, ia pun tersadar.             “Ganteng, emang produk bandung nggak pernah gagal. Duh, apaan sih gua.” Cicitnya. Lexa melangkahkan kakinya kembali untuk mencari kakaknya yang akan menjemputnya di bandara. Tapi, langkah ke dua dia seperti menginjak sesuatu. Lexa menundukan kepalanya, melihat apa yang di injak. Lexa memungut benda tersebut.             Sebuah kalung berliontin persegi panjang yang lebar dan panjangnya seukuran jari kelingking Lexa. Disatu sisi ada ukiran mahkota raja, satu sisi lagi berinisial B.M.W             “Jangan-jangan punya cowok tadi…”cicit Lexa. Sedang fokus melihat kalung tersebut. Sepasang tangan memeluk lehernya dengan tiba-tiba. Kaget!. Sontak Alarm tubuh Lexa bergerak otomatis. Secara spontan kaki Lexa menginjak kaki lelaki yang ada dibelakangnya dan menyikut perut orang itu sehingga menimbulkan teriak kesakitan dengan suara yang tidak asing. Lexa membalikan badannya dengan segera. Membola lah matanya sambil tangannya menutupi mulut yang menganga melihat sang kakak kesakitan terbungkuk sambil berjingkrak-jingkrak kesakitan akibat injakan dahsyat kaki Lexa.             “Lexa.. Lexa… belom juga ketemu lima menit, kamu udah hajar kakak kamu. De.. de.. kalo bukan cewek udah kakak remes-remes kepala kamu itu Lexaa” ujar Alex sembari meringis kesakitan. Lexa ikut meringis melihat kakaknya. Ya, memang Lexa tak main-main jika sudah memukul lawannya setengah kekuatannya akan di keluarkan. Apalagi dalam keadaan nyata bukan latihan.             “Salah kakak ngapain ngagetin aku.” gerutunya.             “Kamu lagi ngelamunin apa sih? Sampe kakak kamu datang aja gak ngerasa” Alex mulai menormalkan tubuhnya dan menyambut Lexa. “Peluk dulu dong” ucap Alex sembari merentangkan tangannya menanti pelukan Lexa.             Lexa segera menyambut rentangan kakaknya. Lexa rindu kakak yang selalu menjaganya ini. Alex adalah seorang kakak yang dewasa, bersikap lembut namun tegas, dan Alex yang akan jadi tameng jika Lexa sudah berperang dengan excel dan dimarahi jika dimarahi mamanya.             “Duuuhh.. edek nya kakak” gemas Alex saat memeluk Lexa. Bagi orang yang melihatnya di bandara, mereka adalah pasangan yang sedang melepas rindu. Tapi siapa yang akan sangka bahwa kedua makhluk mempesona ini adalah kakak adik kandung satu rahim, satu ayah, satu ibu, dan satu gelar nama yaitu Pradja.             Di mobil, Lexa duduk di samping kursi pengemudi karena Alex langsung yang mengemudi. Tak banyak yang lexa bicarakan, ia terkesan diam dan sesekali berbicara pada kakaknya. Alex merasa lexa sedikit berubah. Adiknya bukan lexa yang biasanya. Biasanya lexa akan ceriwis menceritakan apapun dengan excited. Namun kini adiknya hanya sesekali menimpali alex berbicara.             Sampai lah di rumah minimalis kontemporer yang di huni Alex. Rumah dua lantai ini di desain dengan simple namun tetap elegan dan teduh di lihat. Sangat menggambarkan Alex. Rumah ini khusus dibuat kan Evan saat Alex masih kelas 3 SMP. Karena Alex sudah berniat melanjutkan sekolah kejuruan di bandung, jadi Evan membangun rumah ini. dari semenjak kelas dua SMP alex sudah tinggal di bandung. Hanya saja alex tinggal dengan nenek kakeknya yaitu orang tua Alia sang mama.             “Welcome to my paradise edek..” ucap Alex saat membuka pintu utama.             “Assalamualaikum…!” Ucap Lexa             “Walaikumsalam…” jawab eteh yuni pengurus rumah.             “Teteh yuni…” Lexa memeluk wanita yang berumur sudah 30 tahun tersebut “Apa kabar teteh?” Tanya nya,             “Baik kak Lexa.” Jawab yuni. Lexa selalu ingin di panggil kakak agar keren. Jadi yuni menurutinya. Yunii bekerja sedari ketiga kakak Lexa masih di bangku SMP kelas 1. Karena itu semua anak Alia dan Evan terbiasa memanggilnya teteh walaupun usianya sudah kepala tiga. Dan saat alex mulai hidup sendiri saat masuk SMK, yuni pindah mengikuti alex namun ia tinggal dengan sang suami dan hanya masuk kerja pagi sampai sore saja.             “Kak Lexa makin geulis pisan ih. Meni pangling eteh” sambil menjawil hidung mancung Lexa.             “Makasih teteh, nuhun” kata Lexa dengan gaya bahasa yang disundakan. “Teh, anak teteh mana? Lexa pengen liat” ujar Lexa.             “Anak eteh masih sekolah. Dia baru kelas satu” jawab eteh yuni sambil menuntun Lexa ke meja makan.             “Cewek apa cowok anak teteh?”             “Cowok kak, namanya Ibrahim Ricky” ujar eteh yuni. “Ayo kak, ini eteh udah bikin somay. Mantep loh ada somay tahu kesukaan kakak”             Alex pun bergabung bersama Lexa memakan somay buatan eteh yuni. Somay buatan eteh yuni memang mantap. Bumbunya luar biasa makyus. Lexa paling suka somay buatan eteh yuni.             “A Al, kak Lexa.. eteh izin jemput icky dulu ya. Udah waktunya pulang” ujar eteh yuni.             Lexa berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Pintu kamar Lexa berwarna coklat tua. Lexa membuka pintu itu dan terlihat lah design kontemporer bedroom dengan perpaduan warna putih, coklat, dan Latte. Nuansa retro yang minimalis, terkesan simple namun elegan, style seorang Alex. Dan itu pula style seorang Alexa. Sebelas dua belas dengan kakaknya.             “Kamarnya bagus banget kak. Nyaman. Warna nya adem” Ujar Lexa sembari menghempaskan tubuhnya di kasur berwarna putih tulang.             “Syukurlah. Semoga kamu betah disini. Kamu disini nggak sebentar. Kurang lebih tiga tahun” jawab Alex.             “Iya.” Lexa menjeda ucapannya “Hmm… kak, besok Lexa mulai ke sekolah ya?” Tanya Lexa.             “Iya, kenapa? Kamu takut masuk SMK? Tanya Alex sembari tersenyum mengejek             “Bukan gitu. Hmm.. cuma gugup aja?” ucap Lexa             “Tenang aja! Anak SMK itu lebih free. Gak jaim atau sok bersih. Karena mereka bergerak dengan bidang mereka masing-masing yang tidak memperdulikan penampilan. Jadi santai aja.” Jawab Alex.             “Oya, kamu kan belom ada seragam SMK, jadi besok kamu masuk pake seragam kamu dulu aja ya. Paling dua hari lagi seragam kamu lengkap bakal datang” jelas Alex. Dan di angguki Lexa.             Sebenarnya Alex masih ingin mengintrogasi tentang keadaan Lexa dengan teman-temannya. Karena Alex mendapat informasi dari excel tentang apa yang di alami Lexa sebelum ia memutuskan pindah ke bandung. Excel meminta Alex menjaga Lexa saat disekolah terutama dengan teman-teman baru nya. Jangan sampai Lexa di bohongi apalagi disakiti lagi. Excel takut Lexa akan susah memiliki teman, karena sulit mau mempercayai setelah kejadian kemarin.             Akhirnya Alex menyuruh Lexa untuk beristirahat demi mempersiapkan tubuhnya besok menapaki sekolah baru nya.             Pagi tiba, Alex membangunkan Lexa agar segera bersiap-siap sholat bersama dirinya. Alex cukup baik dalam beribadah walaupun ia bukan anak yang bersifat sangat baik. Ia cukup bandel dalam beberapa hal dan sewaktu-waktu.             Setelah shalat berjamah dengan Lexa, Alex melarang Lexa untuk tidur kembali. Ia mulai menerapkan gaya hidup sehat untuk Lexa yang selama ini ia jalani. Ia akan membawa Lexa jogging pagi-pagi di sekitar taman komplek.             Dirumah sudah ada teteh yuni dan seorang anak kecil yang imut. Wajahnya lucu  dengan matanya bulat memakai seragam sekolah SD. Lexa menyapa sesaat kepada anaknya teteh yuni dan langsung menuju kamarnya bersiap-siap untuk masuk ke sekolah barunya.             Lexa masih memakai seragam khas SMA ADIAKSA. Rok rempel 2cm diatas lutut berwarna abu-abu muda. Baju seragam putih lengan pendek, dengan dasi senada dengan rok. Dan blazer ke banggaan SMA ADIAKSA berwarna abu-abu muda. Rambut Lexa seperti biasa di kuncir kuda. Dengan sedikit pelembab wajah dan bibir juga parfum wangi lemon. Ia siap untuk hari ini.             Lexa menuruni tangga dengan segar. Ia langsung menuju ruang makan. Dan disanan hanya ada kakaknya.             “Teh yuni mana kak?” Tanya Lexa seRaya menyantap sarapannya             “Udah pergi nganterin icky sekolah” jawab Alex. “Dek.. dare to dare yuk!” Ajak Alex dengan senyum jahilnya.             “Nggak ah males.” Jawab lexa dengan cuek.             “Jadi lo takut ni? Hmmm.. cemen!” ejek alex memprovokasi lexa.             “Ayo! Siapa takut. Seperti biasa ya!” jawab Lexa dengan lantang. Ia paling tak bisa anggap penakut apalagi pengecut. -Gunting, batu, kertas..~!!!             “Yes!! Siap kan dek? Ujar Alex sambil tersenyum evil.             “Oke. Tapi kak… ini baru pertama kali masuk sekolah. Jangan macem macem deh. Nanti telat!” tegas Lexa.             “Tenang aja, kamu aman kok. Cuma ada sedikit perintah” ujar excel dengan senyum liciknya.             Dan sinilah dia. Lexa telah sampai di gerbang UNITED VOCATIONAL HIGH SCHOOL bandung atau yang biasa disebut UVO. Sempat ragu untuk masuk. Ia agak risih dan malu di lihat beberapa orang yang berpapasan dengannya. Bagaimana tidak, saat ini tampilannya benar-benar…. Culun!             Rambut di kepang dua, kaca mata bulat yang terlihat tebal bertengger di hidungnya, dan memakai jepit rambut berbentuk love warna merah di dua sisi kepangannya. Kakaknya benar-benar keterlaluan. Dia harus berdanda seperti ini selama 3 hari. Jika melanggar maka dia akan di cap penakut atau pecundang. Dan itu bukan Alexa.             “Haaaah…. Emang laknat kak Alex. Gua bener-bener kayak upik abu” gerutu Lexa sambil melangkah masuk ke area sekolah.             Lexa menuju ruang guru untuk menemui pembimbing atau wali kelasnya. Dan Alex benar-benar mengerjainya. Bahkan ia tidak ditemani. Lihat saja, akan ia adukan kakaknya itu ke mamanya, biar di hajar.             Saat sedang berjalan menuju ruang guru, dari arah belakang Lexa ada seoarang anak laki-laki berlari-lari hingga menabrak tubuhnya.             “Aawwhh…” desis Lexa. Sedangkan yang menabrak hanya menoleh dan melihat sekilas pada Lexa. Pandangan mereka bertemu. Dan seperti taka sing dengan wajah itu. Tapi siapa?.... Tanya Lexa dalam hati
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD