Lexa mengikuti guru yang didepannya yaitu sekaligus walikelas Lexa, Bu Tanty. Lexa sungguh malu dengan penampilannya saat ini. Sungguh ini bukan gaya nya. Apa kata teman sekelasnya nanti tentang dia? Hah… dasar kakak gak ada akhlak! Gerutunya dalam hari. Sampailah disebuah ruangan yang ia yakini itu kelasnya, Alias kelas satu multimedia.
“Selamat pagi anak-anak?”
“Pagi bu…” jawab seluruhnya
“Hari ini kita teh kedatangan teman baru. Dia pindahan dari salah satu sekolah di Jakarta. Ayo perkenalkan diri kamu” perintah bu tanty.
“Nama saya Alexa Pradiana. Panggil aja Lexa. Saya pindahan dari SMA ADIAKSA Jakarta.” Ucap Lexa dengan datarnya.
“Oke, Kalian sudah tau kan namanya adalah Alexa. Ada yang mau ditanya kan?” Tanya bu tanty.
“Lexa, mau Tanya… ucap seorang laki-laki. Lalu Lexa melirik. “Itu kaca mata atau kaca spion, meni gede pisan euy” ucap lelaki itu.
“Ahahahahahaa…. “ tawa menggelegar riuh di ruang kelas satu multi media.
“Ssssttt..!! jangan berisik. Ini teh lagi jam pelajaran. Danu! Jaga sopan santun atuh..! sudah, Sebentar lagi guru Kalian masuk. Dan Lexa, kamu duduk samping Raya ya.” Ujar bu tanty yang menunjuk seorang gadis yang juga memakai kacamata.
“Wah.. cocoklogi euy. Sama sama ketemu empat mata!” ujar cowok yang bernama danu.
“DANU..!! dan mendapat pelototan dari walikelas. “Sudah, sudah.. jangan berisik!” ujar bu tanty dan berlalu meninggalkan kelas.
Lexa duduk di sebelah raya yang juga memakai kacamata. Sepertinya gadis yang bernama raya adalah gadis cupu. Entahlah, lexa tak peduli.
“Hai… Nama aku Adinda Raya Ali. Panggil aja Raya” ujar gadis manis berkacamata disampingnya. Lexa menanggapi perkenalan gadis itu dengan senyum simpul. Lexa masih nggan untuk mengenal orang baru yang mungkin saja akan berstatus sebagai teman. Dan lexa masih enggan memiliki teman.
~Teeeettttt~
Bel istirahat berbunyi. Semua anak-anak berbondong-bondong keluar dari kelas. Termasuk kelas 1 MM.A kelasnya Lexa. Lexa rasanya ingin sekali ke kantin ia lapar dan haus. Namun menelisik kembali penampilannya, aaahh… rasanya malas sekali.
“Lexa, mau kekantin nggak? Bareng sama aku aja?” Tanya Raya.
“Nggak. makasih” ujar Lexa dengan datar. Raya mengangguk mengerti. Namun rasa lapar yang dirasakan lexa membuatnya memanggil raya kembali.
“Tapi…” ujar Lexa dan Raya menghentikan langkahnya. “Boleh gua minta tolong beliin minuman. Ini uangnya” ujar Lexa sembari merogoh kantong blazernya dan menyerahkan selembar uang berwarna biru tua
“Boleh, mau minuman apa?” Tanya Raya
“Sejenis s**u atau apa aja yang agak padat.”
“Oke.” Raya langsung membalikan badannya tanpa mengambil uang Lexa.
“Hei…Ini uangnya!” teriak Lexa. Namun Raya sudah menghilang dari balik pintu kelas.
Lexa kembali mendudukan dirinya di kursi. Ia menunggu Raya smebari memainkan ponselnya. Tidak ada notifikasi. Dia pun menyimpan kembali ponsel kedalam sakunya. Lalu melihat pemandangan kelas. Bersih dan bagus. Tak kalah elit dengan sekolahnya dulu, ini cukup nyaman. Raya kembali kekelas dan membawa sekantor belanjaan.
“Ini Lexa minumannya.” Raya menyerahkan sebotol minuman
“Makasih” ucap Lexa sembari sedikit tersenyum. Raya merasa tertegun sejenak. Melihat sedikit senyuman Lexa sungguh manis. Jika di telisik dari dekat, Lexa adalah gadis yang cantik. Wajahnya bersih dan mulus. Bibirnya tipis bagian atas dan sedikit bervolume bagian bawah. Seperti bentuk love. Walapun memakai kacamata yang cukup tebal, Lexa cantik. Itulah yang ada dibenak Raya.
“Kenapa lo liatin gua?” Tanya Lexa yang melihat Raya terbengong menatapnya.
“E..eh, nggak. Kamu kalo di lihat dari deket cantik lex. Walaupun dandanan kamu begini, tapi kamu tetep cantik” puji Raya. Lexa hanya terdiam. Mengalihkan pandangannya dengan wajahnya yang kembali datar dengan pujian raya.
Kelas pun dimulai kembali. Semua siswa larut dalam pelajaran yang mereka terima. Dan di imbuhi sedikit praktek di depan kelas yang di bawakan guru jurusan. Cukup lancar untuk hari pertama ia disekolah barunya. Karena bayangan Lexa, mungkin dia kan jadi target bully habis-habisan dengan anak yang lain. Tapi ternyata tidak.
Sesampainya di rumah, Lexa langsung membaringkan diri diatas kasurnya. Raganya terasa cukup lelah. Mengikuti pelajaran di SMK lebih melelahkan daripada SMA. Karena di SMK ada banyak praktek yang harus diikuti. Untung Alexa sangat suka dengan dunia teknologi. Kalau tidak, pasti kepalanya sudah pusing tujuh belas keliling.
~tok..tok..tok…~
“Kak, makan siang teh sudah siap. Hayu di makan mumpung panas.” Ujar eteh yuni.
“Iya teh. Lexa ganti baju dulu” jawabnya
Lexa mengganti seragam dengan kaos longgar lengan pendek dan celana spandek panjang. Ia turun kebawah dan langsung berada di meja makan.
“Kak al mana teh?”
“Si aa mah lagi latihan basket kalo jam segini belom pulang.” Jawab teh yuni.
“Ooh… emang kak Al sering latihan teh?” Tanya Lexa.
“Seminggu tiga kali kak biasanya teh” jawabnya. Lexa menganggukan kepala. Lalu ia menikmati makanannya dan mengajak agar teteh yuni makan bersamanya.
Malam tiba, Lexa berjalan menuju kamar kakaknya. Mengajak Alex agar makan malam bersama. Tok..tok..tok…
“Kak Al, ayo makan. Lexa udah masakin makanan” ucap Lexa. Alex membuka pintu kamarnya dan langsung memiting leher Lexa di ketiaknya dan menyeret ke ruang makan.
“Ini kamu yang masak dek?” Tanya Al
“Iya. Lexa udah belajar masak dan sering bantuin mama masak dirumah” jawab Lexa.
Telah tersaji di meja makan yaitu. Tumis kangkung, sambel tomat, tempe goreng tepung dan tahu goreng, juga kerupuk ikan yang baru digoreng. Mereka makan sambil berbincang-bincang.
“Gimana sekolah kamu hari ini? Ada masalah nggak?” Tanya Alex
“Lancar kak..” jawab lexa singkat
“Wah bagus dong. Berarti kamu bisa tahan ya dua hari lagi berpenampilan kuper ke sekolah.” Tanya Alex dengan terkekeh mengingat penampilan lucu Lexa.
“Bisa” jawabnya. Alex merasa adiknya saat ini semakin irit bicara dan juga agak bersikap dingin walaupun terkadang adiknya terlihat hangat dan lembut. Segini parahnya kah efek jelek dari kelakuan teman-temannya di Jakarta
. “Kak, kalo bisa kita rahasiain kalo kita ini kakak adik ya kak” ucap Lexa.
“Loh, kenapa? Kamu gak mungkin malu kak punya kakak yang jelas-jelas ganteng gini” Tanya Alex dengan tengilnya
“Bukan itu. Lexa Cuma nggak mau nanti kalo ada yang naksir kakak, Lexa jadi menghadapi fans-fans kakak kaya waktu SMP dulu. Lexa risih” jelas Lexa. Ya, Alex masih ingat bagaimana adiknya itu repot dengan berbagai hal dari anak-anak yang suka dengan ketiga kakaknya.
“Hahaha.. iya iya…”
Ini hari ketiga Lexa berada di UVO. Dan hari ini, hari terakhir ia memakai cover cupu nya. Lexa sudah cukup mengenal teman sekelasnya. Banyak yang mencoba berkenalan dengan lexa karena seragam Lexa tampak keren dan modis. Dan ada yang bertanya apa alasan Lexa pindah. Namun lexa hanya menanggapinya dengan diamnya. Ia sekarang merasa risih dengan keberadaan banyak orang.
Kini lexa tak perduli ia di anggap sombong, belagu atau pun judes. Ia hanya tak ingin kecewa kembali jika ia memulai pertemanan dengan seseorang. Karena baginya teman atau sahabat, adalah orang yang paling berharga yang bisa ia percaya untuk berbagi senang maupun sedih. Namun apa jadinya jika yang ia percaya menghianatinya begitu dalam?.
“Lexa kantin yuk!” ajak Raya. Lexa terdiam namun melirik sekilas teman sebangkunya tersebut. Teman sebangkunya ini terlihat baik dan lemah lembut. Raya selalu ramah dan bersikap baik dengan lexa. Namun lexa hanya menanggapinya dengan diam dan terkadang senyum simpul. Di sekolah lexa benar-benar terlihat dingin. Lexa ragu untuk menerima tawaran raya. Namun sebenarnya ia juga lapar dan haus.
“Ayo lexa…” ajak raya. Dalam keraguan lexa, raya menarik tangan lexa yang masih bersembunyi di balik kantor blazernya. “Ayo, nanti kamu kelaperan, nanti pelajaran nggak masuk ke otak, nge blank, Terus sakit. Aku jadi kesepian gak ada teman nantinya” cerocos raya. Lalu menyeret lexa ikut bersamanya kekantin.
Bel tanda pulangpun berbunyi Lexa berjalan menuju lantai satu karena kelasnya ada di lantai dua. Saat ia sedang berada di lorong lantai dasar, ia sedikit menyempatkan diri berkeliling sebentar. Karena dari kemarin Lexa belum sempat berkeliling akibat banyak materi yang harus ia kejar.
Lexa berjalan di koridor yang berdekatan dengan aula sekolah. Disana tertera ‘MINI STAGE’. Lexa penasaran dan membuka pintu ruang tersebut. Didalamnya ada sebuah flate stage kecil lengkap dengan berbagai alat music. Ada gitar melodi, gitar listrik, keyboard, drum dan mic. Seperti ruangan live music. Di sisi lain ada sebuah pintu untuk masuk keruangan lain, diatas pintu tertulis ‘Planet Radio’. Dan ada sebuah sofa panjang di sisi dinding ruangan mini stage.
Lexa memasuki ruangan tersebut. Menaiki panggung kecil tersebut dan menghampiri satu set Drum komplit yang sangat keren. Lexa sangat gemas ingin memainkannya. Namun, ia takut di marahi karena belum mendapat izin.
“Mau main?”.
Lexa langsung membalikan badannya. “Kak AL??”
“Mau main nggak?” Tanya Al sekali lagi.
“Tapi, aku pake rok dan gak ada celana panjang. Terus kacamata ini juga ngehalangin” keluh Lexa.
“Nih, pake celana training kakak, trus buka kacamata kamu” ujar Alex sembari memberikan celana training panjangnya. Lexa pun menerima dan memakai langsung celana panjang milik kakaknya. Membuka kacamata dan kepangan rambutnya. Rambut Lexa jadi agak keriting bekas kepangan. Lalu ia mencepol rambutnya secara semBarang dan meninggalkan beberapa helai rambut menggantung di lehernya.
Ya Lexa seperti berubah menjadi dirinya lagi. Cantik terkesan bad girl akibat style cueknya.
“Oke kak!” ujarnya
“Kita main.. Elang by maha dewa!” ujar Alex.
“Oke!”
“Bentar, gua panggil Deon dulu buat penggang keyboard”
Dan datang lah cowok yang bernama Deon sahabat Alex. Mengambil posisi keyboard.Lalu mulai lah sepasang adik-kakak tersebut memainkan music dengan alatnya masing-masing.
Aku ingin terbang tinggi.. seperti elang,,
Melewati siang malam, menembus awan..
Ini tangan ku untuk kau genggam,
Ini tubuhku untuk kau peluk,
Ini bibir ku untuk kau cium..
Tapi tak bisa kau miliki… aku..
Tak usah kau terus tangisi.. kepergian ku..
Air mata takkan memanggil ku.. untuk kembali…
Alex menyanyikan lagu elang versi rock dengan sangat baik. Lexa bermain drum dengan sangat keren. Dan Deon memegang keyboard sekali gua back vocal Alex.
Aku adalah mimpi-mimpi.. sedang melintasi..
Sang perawan yang bermain.. dengan perasaan..
Ini tangan ku…untuk kau genggam,
ini tubuh ku untuk kau peluk,
ini bibirku.. untuk kau cium..
tapi tak bisa kau miliki… akuu…
Tak usah kau terus tangisi… kepergian ku…
Air mata takkan memanggil ku… untuk kembali..
Lexa memainkan intro dengan apik. Ia sangat menikmati permainannya.
Aku adalah mimpi-mimpi tiada akhir..
Aku ingin terbang tinggi.. seperti elang…
Dan Lexa mengakhiri permainan drumnya dengan memukau. Ia tersenyum dapat merampungkan lagu dengan baik tanpa gugup. Sudah lama sekali ia tak bermain drum mungkin terakhir kelas dua atau tiga SMP.
Dan ada beberapa orang yang tak sengaja lewat melihat permainan mereka. Ada sekitar tujuh orang termasuk Raya yang melihat saat melintasi ruangan tersebut.
Lexa mengakhiri dengan keren. Lalu ia bertos ria dengan Alex dan Deon. Alex yang merasa bangga lalu menepuk kepala adiknya dengan sayang. Dan dibalik itu semua ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka dengan tatapan sulit diarti kan.
“Wiihh.. keren juga nih cewek. Btw gua Deon?” Tanya Deon sembari mengulurkan tangannya.
“Alexa” seraya menerima uluran tangan Deon.
“Nama yang cantik. Kayak orangnya. Tapi, lo kok pake seragam beda? A..di..aksa?” Tanya Deon dan membaca lambang yang tertera di blazer Lexa.
“Aku pindahan” jelas Lexa dengan singkat. Lalu langsung pergi meninggalkan kakaknya dan teman kakaknya itu.
“Kalian berdua kenal?” Tanya Deon pada Alex
“Dah, ah kepo banget lu!” lalu langsung menarik Deon pergi dan mengucapkan terima kasih pada Lexa. Mereka tidak terlihat seperti kakak adik tentunya.
Saat keluar dari mini stage, dia melihat raya ada di depan jendela mini stage dan melihat ke arahnya dengan tatapan bingung. Mungkin karena penampilan lexa berbeda.
“Kamu teh Alexa? Lexa yang duduk disamping aku?” Tanya Raya memastikan.
“Iya” jawab lexa dengan nada dingin andalannya
“Ya ampun Lexa. Kamu beda banget. Geulis pisan. Cantik” puji Raya yang melihat perbedaan Lexa. Namun lexa tak menggubris dan meninggalkan raya.
“Lexa, pulang yuk bareng” ajak raya yang mengejar lexa. Entah kenapa, namun raya tak merasa bahwa lexa sombong atau jahat. Tidak seperti beberapa anak-anak yang sering meledek dan membully raya. Lexa berbeda. Ia memiliki aura yang kuat walaupun terkesan sombong.
Lexa tak menolak atau pun meng iya kan ajakan raya. Dia hanya berjalan dan membiarkan raya berjalan di sampingnya. Lexa dan Raya berjalan menyusuri lorong lantai satu. Raya masih terheran melihat perubahan Lexa. Bagaimana Lexa yang di kepang dua dan memakai kacamata lebih tebal darinya bisa berubah secantik ini walaupun terkesan tomboy.
“Lexa. Kamu kenal sama Alex dan geng nya?” Tanya Raya.
“Nggak” jawab Lexa.
“Tapi keliatannya kamu deket sama Alex. Dia manis pisan sama kamu.” Ujar Raya. Dan di tanggapi diam oleh Lexa. Saat sedang berjalan dengan Raya Lexa tak memperhatikan jalan, dan ia menabrak seseorang yang baru keluar dari sebuah ruangan.
Lexa hampir saja jatuh jika saja seseorang tak menariknya. Namun tak jadi jatuh ke lantai, Lexa jatuh kedalam pelukan seseorang karena menarik tepat di lekuk pinggangnya, dan ia masuk kedalam pelukan seseorang.
Mata mereka bertemu, dan mengunci satu sama lain. Tatapan datar yang mempesona. Bola mata Lexa seakan terkunci untuk memandang sepasang mata dengan tatapan tajam tersebut.
~Ini kan…perfect boy~