13. KTP (Keren Tapi Pikasebeleun)

2507 Words
“Jalan liat-liat dong! Matanya di pake!” ujar lelaki yang kini sedang merangkap tubuhnya. Sontak Lexa tersadar dan langsung mendorong lelaki tersebut. Lexa yang di sewotin pun terpancing. “Jalan itu pake kaki bukan mata!” ketus Lexa. “Iya pake kaki. Tapi emang mata lo gak di pake? b**o banget!” jawab lelaki tersebut tak kalah ketus dan langsung berlalu meninggalkan Lexa yang hendak meninpalinya kembali. Akhirnya kata-kata yang sudah siap keluar ia telan kembali. “Udah Lexa, jangan di ladenin. Bara emang orangnya gitu.” Ujar Raya sambil menenangkan Lexa yang jengkel. Lexa tarik kembali ucapan perfectnya dalam hati tadi. Bukan perfect, tapi k*****t! Lexa kembali meneruskan langkahnya dengan Raya menuju pintu gerbang. Lexa menunggu taksi untuk pulang kerumah. Ia sengaja tak ingin berbarengan dengan Alex, takut ada yang liat dan tau kalau mereka kakak adik. “Lexa, aku saranin, kamu jangan berurusan Bara ya. Dia orangnya galak, nyebelin, ketus, dingin pokoknya mah menakutkan.” Jelas Raya “Gua gak peduli” ujar lexa cuek. “Ya aku the Cuma kasih tau Biar kamu nggak berurusan sama dia. Pokoknya KTP lah” ujar Raya. “Hah? KTP? maksudnya?” Tanya Lexa tak mengerti “Keren Tapi Pikasebeleun” jawab Raya seRaya terkikik. Lexa pun hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. “Oh ada satu lagi. TTS..” ujar raya “Apa?” “Tampan-Tampan Semprul. Ahahaa…” tawa raya. Lexa mulai sedikit tersenyum. Ternyata raya cukup humor juga. “Ada satu lagi. GGS” ujar Raya. “Apaan lagi?” Tanya Lexa. “Ganteng-ganteng serem” ujar Raya semakin terkikik “Ada satu lagi ray” ujar Lexa yang kini ikut menimpali ucapan raya “Apa  tu?” “Cm. Cakep Mubazir!” ujar Lexa dan membuat keduanya tertawa bersama. Malamnya Lexa tengah berbaring diatas kasur. Tiba-tiba saja ia terpikir kejadian saat tadi siang. Cowok yang memeluknya tadi siang. Eh’ bukan memeluknya, melainkan menolongnya dan tidak sengaja memeluknya. Lexa tersenyum mengingat kejadian itu, juga mangingat paras lelaki itu. Wajah tegas warnanya sedikit kecoklatan. Wangi maskulin yang menenangkan. Walaupun sebentar, Lexa bisa merasakan tangan itu besar dan kokoh juga hangat. Sama seperti tangan Alex yang sering memeluknya saat sedih dan memiting leher Lexa di keteknya saat jahil. Namun pelukan tadi rasanya berbeda saat Alex memeluknya. Ada rasa yang sedikit menggelitik di perutnya. “Kenapa gua jadi m***m begini sih.” Gerutu Lexa heran akan dirinya sendiri. Namun jika di pikir-pikir kembali, cowok itu terlihat jutek dan tak ramah. “Bara…” gumamnya. Pagi tiba. Lexa sudah berganti seragam UVO. Baju putih lengan panjang. Dengan dasi abu-abu tua kombinasi abu-abu muda. Rok rempel pendek berwarna abu-abu tua dan blazer Abu-abu sebagai cover berlambangkan SMK UVO. Finishing memakai sepatu putih. Dengan rambut di kuncir kuda yang menampilkan bergelung di ujungnya. Lalu memakai pelembab wajah dan bibir. Sentuhan terakhir parfum baby jhonson cologne gel yang warna biru muda yang wanginya manis dan segar. Alexa kurang suka memakai parfum remaja atau yang sering dipake gadis-gadis dewasa yang menyengat, terutama parfum vanilla. Lexa turun dari tangga. Menuju meja makan. Dan melihat kakaknya yang sudah mengunyam sarapannya “Pagi kak!” sapa Alexa. “Pagi dek. Ciee elaah.. cantik banget ade gua. Dapet seragam baru lagi.” Goda Alex. Lexa hanya tersenyum. Sesampainya di sekolah, Lexa langsung mendapat tatapan dari beberapa orang di sekitar sekolah. Banyak yang berbisik. Ada yang berbisik memuji dan ada yang berbisik heran karena tak pernah melihat Lexa. Lexa tak peduli dan langsung berjalan ke kelasnya di lantai dua. Saat Lexa memasuki kelas, ia mendapat tatapan bingung dari teman sekelasnya. “Maaf, kamu siapa ya?” Tanya aldi sang ketua kelas “Gua? Dengan kening yang berkerut Lexa menunjuk dirinya sendiri. Dan diangguki aldi. Lexa menghembuskan nafas jengah, masa tak ada yang mengenalinya? “Alexa pradiana” jawab Lexa dengan nada dinginnya lalu melewati aldi begitu saja dan duduk di kursinya. “HAH?!! Ya ampun Lexa?” Danu terkejut melihat perubahan Lexa “Ini seriusan Kamu teh si cupu berkepang dua?” Tanya danu. Lexa tak menjawab dan hanya terdiam. Ia malas meladeni anak kurang ajar satu ini. kalau dulu, mungkin lexa akan menanggapinya juga. Tapi sekarang lexa enggan. Jam istirahat berbunyi, Lexa diseret Raya pergi ke kantin. Semenjak lexa sedikit menanggapi sikap raya dengan baik, raya menjadi lebih berani untuk menjadi teman lexa. Ia tahu bahwa lexa bukanlah anak yang jahat atau galak. Hanya saja memang sikapnya agak dingin. Dan sekarang Mereka memakan somay di meja agak pojok. Tiba-tiba Alex datang dan langsung duduk disamping Lexa. Disisi lain kantin, Bara tengah duduk sambil memainkan hp nya. Tak sengaja mata Bara menatap sosok yang kemarin siang menabraknya. Tampilannya cukup berbeda. Ia sedang makan berdua dengan cewek yang kemarin ada disamping cewek yang menabraknya tersebut. “Eh Bar, lo tau nggak.. kata anak-anak si Alex punya cewek baru dan cewek itu sekolah disini. Kemarin beberapa anak dari tim basket kita ngeliat si Alex sama ceweknya di studio mini” ujar Lucas. “Iya. Gua juga kemarin ngeliat sekilas. Cakep loh Bar. Tapi gaya nya tomboy. Tapi tetep cantik” tambah Mario. Dan keduanya di tanggapi datar oleh Bara. Ia tak peduli. “Eh.. eh.. noh, si Alex datang. Uwiih.. itu tuh ceweknya. Widih.. cantik juga. lumayan” ujar Leo. Bara pun melirik kearah pandangan teman-temannya. Dan benar disana ada Alex yang duduk disamping cewek yang menabraknya. “Oh.. jadi itu ceweknya si b******k” benak Bara. Teman-temannya cukup heboh. Ia sebenarnya tak peduli dan tak ingin ambil pusing. Ia tak ingin tau apapun dengan orang yang sangat ia benci. “Eleuh-eleuh… meni so sweet pisan si Alex teh” ujar Deden “Gua cabut.!” Selonong Bara pergi dari gerombolannya. “Ari eta b***k kunaon sih. Edun mereun nya?..” celetuk Deden. Mereka pun melanjutkan acara makan mereka tanpa Bara. Bara anak yang cukup diam semenjak insiden setahun lalu. Bara menjadi pribadi yang dingin dan ia sangat membenci Alex. Teman-temannya tahu itu. Namun mereka juga bimbang. Apa kah Alex benar-benar bersalah atau tidak. Mata Lexa melotot kearah kakaknya. Mengapa Alex tiba-tiba duduk disampingnya membuat beberapa orang memandang mereka. “Kak Alex, ada apa ya?” Tanya Lexa berpura-pura. “Nggak gua cuma mau bilang, kalo ada masalah atau kendala apapun, bilang ke gua”ujar Alex “Iya kak, makasih” jawab Lexa dengan kaku. Ia tak mengerti kenapa Alex bilang begitu. “Oya, kenalin ini Raya temen Lexa” ujar Lexa mengenalkan Raya. Sebenarnya lexa masih kikuk menganggap raya sebagai teman. Tapi ia tak enak dengan raya yang sudah baik dengannya. Raya yang di perkenalkan oleh lexa sebagai temannya merasa senang. Lexa adalah teman pertamanya di sekolah ini. “Alex Kelas Dua Bisnis” Alex mengulurkan tangannya “Raya kak. Satu Multimedia A” menyambut uluran tangan Alex “Oke. Gua balik dulu” pamit Alex dan mengusap kepala Lexa. Bagi yang melihat mereka berdua, itu seperti hal romantic dan bikin baper yang melihat disekitarnya. Termasuk Raya yang tertegun ketika melihat Alex tersenyum begitu manis dengan Lexa. “Sweet banget kak Alex sama kamu” ujar Raya yang di tanggapi kekehan oleh Lexa. Disisi lain ada yang mengamati dengan kesal melihat adegan manis tersebut.” Sialan tu anak baru! Awas aja. Berani dia deketin Alex” ujarnya Waktu sore tiba. Anak-anak multimedia baru keluar dari ruangan prakteknya. Ternyata prakter benar-benar menguras tenaga. Kepalanya pening didepan computer dengan berbagai software. Lexa mematahkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Memutar pinggang ke kanan dan ke kiri. Di SMA nya dulu tak se lelah ini. Lexa dan raya cukup dekat saat ini. walaupun sikap dingin raya masih tersisa,tapi bisa di bilang semakin dekat. Entahlah, lexa rasa raya patut di beri kesempatan untuk berteman dengannya. Semoga saja anak itu tak mengecewakan lexa di kemudian hari seperti sandra, ami atau dini.  “Lexa, aku ke toilet dulu ya” ujar Raya. Lexa mengangguk. Sampailah raya di toilet. Ia benar-benar kebelet buang air kecil, dan buru-buru masuk ke toilet. “Aahh.. lega. Gara-gara kena AC nih” gerutu Raya. Setelah itu raya keluar dari salah satu pintu wc. Raya terkejut saat melihat Cindy and the genk ada di toilet. Kenapa anak tingkat dua multimedia masih ada di sekolah? Ruang praktekkan masih mereka pakai sampai tadi selesai. Raya lupa bahwa mereka anak-anak cheerleaders. “Eh.. ada si cupu. Apa kabar Kuman? Makin jelek aja lo” ujar siska. Siska mendekati raya yang melangkah mundur. Raya segan dengan cindy and the genk. Ia tak ingin cari masalah dengan mereka. Ia hanya ingin sekolah dan lulus dengan baik. Maka dari itu kadang kala raya menjadi bahan bullyng tanpa perlawanan. “Ba..baik Sis” jawab raya tergugup. Raya menundukan wajahnya “Gua liat lo deket sama anak baru itu. Siapa dia?” tanya cindy maju mendekati raya yang telah tersudut. “Di..dia Alexa. Sekelas sama aku” jawab raya. Raya mendapat toyoran di kepala dari cindy. “Gua tanya dia siapa tolol..! Bukan namanya! Dia siapanya Alex?” tanya cindy. “A..aku nggak tau cin. Aku juga baru kenal sama dia” “Bohong lo!” sambil menoyor kembali kepala raya. “berani lo bohong sama gua anjing!” cindy menjambak rambut raya yang terikat. Raya teriak kesakitan “Aaakkhh!!! “ teriak raya “Cepet bilang apa hubungan anak baru itu sama Alex?” cindy semakin kuat menarik rambut raya “Aa..a..aku nggak ta.. tau.. cindy. Sakit! Lirih raya. Cindy semakin kesal dengan raya yang ia pikir membohonginya. Cindy makin kuat menjambak rambut raya serta menghentak-hentakan kepala raya. Membuat raya kesakitan dan berteriak. “AAAkkhhh…!!” “Ngapain Kalian?” terdengar suara dingin mengintrupsi kegiatan cindy. Mereka menoleh dan terkejut. Bara masuk ke toilet cewek. Cindy yang memang menyukai bara langsung melepaskan jambakannya dari kepala raya. Lalu ia merubah sikap nya menjadi manis di depan bara. “Eh.. nggak kok bar. Ini gua lagi ngomong sesuatu sama Raya. Iya kan ray?” tanya cindy sambil melotot seakan meminta raya mengiyakan pernyataannya. Raya dengan kaku mengangguk pelan. Ia takut akan tatapan cindy. “Lo. Keluar” ujar bara sambil menunjuk raya. Raya segera berlari keluar dari toilet. Ia terisak sedikit dan memegang kepalanya yang sakit. Rambutnya sedikit berantakan. Ia lekas merapihkan rambutnya sebisanya. Lalu berjalan seperti biasa Di depan ruang prakteknya lexa menunggu raya. Entahlah ia ingin menunggu raya saja. Hanya sudah lima menit ia menunggu raya tak kunjung datang. Lexa sedikit khawatir, namun perasaannya cukup lega kala melihat raya berjalan mendekat kearahnya. “Ray, lo kok lama” tanya lexa dengan khas nada datarnya “I..iya, tadi aku kebelet Pooph” jawab raya. Lexa sedikit curiga, karena ia melihat rambut raya sedikit berantakan. “Serius?” “Iya. Maaf nya buat kamu nunggu lama” ujar raya yang tak enak. “yaudah kita pulang yuk udah sore” ajak raya mengalihkan perhatian lexa. Raya menyeret lengan lexa meninggalkan kelas. Sesampainya di depan gerbang sekolah, ternyata jemputan raya sudah ada. “lexa, aku duluan ya. Om aku udah jemput” ujar raya sambil menunjuk mobil Fortuner putih “Kamu di jemput siapa?” “Gua naik ojol” jawab lexa “Atau kamu mau aku anterin aja, nanti aku bilang sama om?” tawar raya “Nggak usah. Lo duluan aja.” Jawab lexa dengan datarnya “Yaudah kalo gitu, aku duluan ya. Kamu hati-hati” pamit Raya. Lexa mengangguk. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Sudah sejam ia menunggu ojek dan taksi online, namun tak kunjung datang setelah mendapat penolakan order 3x. Lexa sedikit was-was karena hari sudah mulai gelap. Sekolah pun sudah terlihat sepi. “Aduh, ini pada kemana sih, kok orderan gua di tolak terus?” gerutu Lexa. Mana hpnya udah lima persen. Saat ia akan menghubungi Alex, jleb…! Hp nya mati dengan cantik. Lexa makin fruastasi. Jalan kearah jalan Raya cukup jauh. Sedangkan ia sudah lelah untuk berjalan. Mau tak mau ia harus berjalan menyusuri gang sekolah yang luas. Tiba-tiba sebuah motor sport hitam Vyrus Alyen 988, berhenti didepannya. Lelaki dimotor itu membuka helm full facenya. Dan itu adalah Bara. “Butuh tumpangan?” Tanya Bara. Lexa hanya mematung berdiri menatap Bara. Bara menghela nafas, ia turun dari motornya. “Hei.. gua nanya, lo mau pulang bareng nggak?” Tanya Bara. Lexa tersadar karena jentikan jari Bara didepan wajahnya. Lexa menetralkan sikapnya “Kenapa?” Tanya Lexa karena tadi ia tak mendengar apa yang bara katakan. “Lo b***k ya? Gua Tanya, lo mau pulang bareng gua gak?” Tanya Bara agak ketus. Lalu Lexa menelisik Bara dari atas sampai bawah dan memandang Lexa dengan raju. Sepertinya Bara paham dengan pandangan Lexa yang waspada. “Lo jangan mikir macem-macem.. niat gua Cuma mau nolongin. Bukan c***l” ujar Bara sedikit kesal. Lexa menjadi tak enak pada Bara yang paham pemikirannya. Tapi, bukankah wajar? Perempuan harus waspada. “Bodo amat” ketus Lexa. “Abis, penampilan lo kayak gitu, gimana gua gak netthing sama lo”Ketus Lexa. “Kayak gimana maksud lo?” ketus Bara tak mengerti. “Ya lo liat aja sendiri” jawab Lexa sambil memalingkan pandangannya. Bara menelisik penampilannya. Yah Bara tak sadar seluruh kancing seragamnya telah terbuka mempilkan kaos dalam Bara berwarna putih yang terlihat basah dan menampilkan abs nya. Lexa sedikit merasa malu melihatnya, meski sudah biasa dengan kakak-kakaknya yang tak jauh beda, namun rasanya berbeda bila melihat milik orang lain. Bara yang tersadar pun hanya membuang nafasnya jengah. Lalu memandang gadis yang didepannya masih mengalihkan tatapannya kearah lain dengan wajah sedikit memerah. Bara langsung menjentikan tangannya ke kening Lexa. ~TAK!!!~ “Aduh..! apaan sih lo!” kesal Lexa dengan memegangi keningnya yang sakit. “Makanya itu otak jangan m***m dulu. Ngeres banget isi kepala lo” ujar Bara. “Siapa juga yang m***m?! Pede lo nggak ketulungan!!” jawab Lexa yang tak terima dibilang otak mesum “Gua abis latihan basket.” “Bodo amat” Ketus Lexa tak peduli “Oke fine ! kalo gitu lo gua tinggal!” ujar Bara dan meninggalkan Lexa menuju motornya. Lexa panic. Ia takut tak ada kendaraan yang bisa ia tumpangi. Dan lagi hp nya mati. Lexa langsung berlari kearah Bara. “E.. Eh.. tunggu! Gua ikut. Tolong tumpangin gua sampe jalan yang rame. Nanti gua cari kendaraan untuk pulang kerumah” terdengar seperti nada meminta tolong tapi dengan gengsi dan cuek. Bara tersenyum miring dengan kelakuan perempuan didepannya ini. Bara langsung memberikan helm cadangan di sisi motornya. Lexa menerima dengan senang. Namun helm nya cukup sulit untuk di kancing. “Ini kok susah di kancing?” Tanya Lexa sambil terus mencoba mengancingkan helmnya. Bara yang gregetan, membantu Lexa memakaikannya. Jarak wajah mereka cukup dekat. Sedikit hembusan nafas mereka saling terasa. Lexa menahan nafasnya. Bara merasa lexa tegang dan seperti menahan nafas. ‘Klik’ helm pun terkunci. “NAPAS WOY!” ujar Bara. Lexa langsung segera menghirup udara banyak-banyak. Lexa naik ke atas motor empat ratus cc tersebut. Entah apa yang merasuki bara, ia ingin Sedikit ingin mengerjai, Bara tiba-tiba menarik gasnya sedikit kencang. Dan HAP! Kedua tangan Lexa otomatis memeluk tubuh Bara erat dari belakang. Keduanya sama-sama tertegun. “Ki.. kita jalan!” ujar Bara gugup memecah kehenigan. “Iya” jawab Lexa yang melepaskan pelukannya. Lexa dan Bara pun meninggakan halte sekolah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD