14. Adik Alex

2666 Words
Lexa sampai didepan gerbang rumahnya. Ia turun dari motor Bara, mencoba melepaskan helmnya namun susah. “Kok, susah sih” cicitnya. Bara memutar bola matanya. Lalu menjulurkan tangannya untuk membantu Lexa. “Elo deketan sini! Gimana gua mau bantu buka helmnya kalo lo jauh”keluh Bara. Lalu Lexa mendekat kearah Bara yang masih duduk diatas motor. Bara mendekatkan wajahnya ke dagu Lexa untuk melihat lock helm. ~Brrmmmmm….~  ada suara beberapa motor yang mendekat. Bara meraih pinggang Lexa dan menarik mendekat kearahnya saat melihat motor motor itu melaju hampir menyerempet Lexa. “Woy, ari hanyang ngewee ulah ti jalan Jurig!! BALEGUG DIA’!!” teriak salah satu orang di gerombolan motor tersebut. Dan mereka berlalu dengan suara knalpot yang berisik seperti kaleng rombeng. “Gila kali tu orangnya!” gerutu Bara. “Iya. Untung aja gua ga ketabrak” tambah Lexa. Mereka berdua masih belom menyadari posisi mereka saat ini seperti apa. Jarak keduanya sangat dekat, mungkin hanya setengah jengkal saja antara Bara dan Lexa. Satu detik… Dua detik… Tiga detik… TING!!!  Mereka akhirnya menyadari bagaimana kondisi mereka saat ini. kedua nya saling bertatap untuk sejenak dan otomatis mereka saling menjauhkan diri. “Ehemm…” Bara berdeham untuk menghilangkan canggung. “Gua balik dulu” lanjut Bara menstarter motornya. Lexa masih yang gugup dengan kejadian barusan, tersadar saat motor Bara sudah melaju. Lexa memasuki gerbang rumahnya dan ia tersadar jika helm Bara masih ia genggam “Ya ampun helmnya lupa” Lexa melangkah ke halaman rumahnya. Ia terlihat lelah dan lapar. Saat Lexa hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka duluan. Alex yang muncul dari dalam sontak kaget begitu pun Lexa yang sedang fokus berjalan. “Ya ampun dek!! Darimana aja kamu?” tembak Alex yang panic Karena Lexa belum pulang. “Maaf kak, Lexa ada praktek tadi sampe sore” cicit Lexa. “Se sore-sorenya nggak sampe menjelang malam gini kan? Kakak nggak pernah ya, liat anak multimedia sampai malam gini” ujar Alex yang masih kesal. “Tadi aku keluar jam empat. Terus nyari Ojol sama taksol gak dapet-dapet. Untung aja ketemu temen” Lexa menjelaskan. “Kamu tau nggak, 5 menit lagi kamu nggak pulang, kakak obrak abrik sekolahan. Kamu itu tanggung jawab kakak! Kenapa kamu nggak telpon kakak sih?” Alex yang masih berapi-api. Lexa dengan segera memperlihatkan hpnya yang sudah tewas tak bernyawa. Keduanya pun masuk ke rumah. Lexa segera membersihkan diri. Ia bersiap untuk memasak sesuatu untuk makan malam. Melihat sudah pukul setengah delapan malam, ia bergegas ke dapur. Lexa memeriksa apa saja yang ada di kulkas kakaknya. Ternyata lengkap. Teteh yuni selalu menyiapkan stok yang komplit. Karena teh yuni bekerja dari pagi sampai sore saja. Lexa mulai meracik masakan yang akan ia buat. Lexa hanya bisa memasak-masakan simple. Seperti tumis-tumisan, sayur bening, dan goreng-gorengan yang mudah. Malam ini Lexa memasak tumis daun cangkok manis/daun katuk dicampur telur orak-arik, tempe tepung dan ikan goreng. Lalu disandingkan dengan saos sambal dan saos tomat. Setelah siap diatas meja, Lexa memanggil Alex untuk makan bersama. Ya.. hanya mereka berdua cukup terasa sepi. “Tadi kemu pulang sama siapa?” Tanya Alex. Lexa sedikit menegang namun ia kembali normal. “Ehm.. Lexa nggak kenal siapa dia. Tapi dia anak sekolah kita kak” jawab Lexa “Cewek atau cowok?” “Cowok kak” jawab Lexa simple. Ia malas kalau harus di introgasi kayak gini. Seluruh keluarganya tipe yang posesif. Ia seperti gadis kecil yang butuh keamanan extra dan tidak bisa bebas kemana-mana, apalagi menyangkut cowok. Ketiga kakak-kakaknya super menyebalkan. “Inget ya dek. Kamu jangan deket-deket apalagi jatuh cinta sama cowok untuk sekarang-sekarang ini. Kamu harus belajar dari kejadian kemarin di sekolah kamu”ujar Alex. Sontak Lexa langsung menatap kakaknya dengan kaget. “Kakak tau?” kening lexa berkerut. “Tau lah, salah satu alasan kamu kesini adalah karena hal itu kan?” ejek Alex. Hah… pasti ini ulah kak Excel pikir Lexa. Beberapa minggu telah berlalu setelah kejadian Lexa dan Bara. Semakin hari Lexa semakin sibuk dengan beberapa praktek I.T nya. Ia semakin bersemangat. Malah terkadang ia yang lupa makan akibat fokus dengan kegiatannya. Seharusnyakan ia yang mengurus kakaknya agar tak telat makan. Tapi kini Lexa yang ikutan lupa makan dan terkadang penyakit magh nya kambuh membuat Alex kalang kabut. Namun Lexa segera cepat sembuh setelah istirahat cukup. Pagi ini adalah jadwal olahraga 1. MM.A. dan sekarang Lexa dan seluruh anak kelas MM.A sedang berganti baju. Saat menuju lapangan ia berpapasan dengan Alex. Alex menghampiri Lexa. “Gimana keadaan kamu?” Tanya Alex. Dua hari yang lalu Lexa terkena magh dan baru hari ini ia masuk sekolah. Sebenarnya Alex menyuruhnya agar beristirahat sehari lagi. Tapi Lexa menolak. “Aku baik-baik aja kak” Jawab lexa singkat dengan datarnya. “Denger ya dek, kakak itu khawatir sama kamu. Jangan buat kakak panic lagi gara-gara magh kamu” ujar alex memberi pengertian pada lexa. “Yaudah kamu kalo capek jangan di paksain. Dan kalo laper,cepet-cepet makan ya.” Alex mewanti-wanti Lexa. Lexa hanya mengangguk. Alex menepu-nepuk kepala Lexa dan meninggalkan Lexa. Disisi lain tiga orang cewek sedang melihat Lexa dan Alex yang berinteraksi. Mereka terlihat tak suka. Semenjak keadian dikantin, mereka sering memata-matai Alex dan Lexa. Dan mereka melihat Alex sangat perhatian pada Lexa. Lalu mereka menemukan cara untuk menjelekan nama Lexa.Dan salah satu dari mereka yang bernama cindy tersenyum miring seperti memikirkan sesuatu yang licik. Sudah lama Lexa tak memainkan basket semenjak ia sibuk dengan praktek multimedia nya. Ia fokus untuk melakukan yang terbaik di bidangnya.  Lexa berdiri di pinggir lapangan. Ia melakukan stretching bersama yang lain. SeKalian menunggu Raya yang masih di loker. Di ruang loker perempuan, raya sedang merapihkan pakaiannya. Ia bersiap untuk pergi kelapangan. “Eitss… ada si kuman. Sendirian aja lu?” tanya tia. tiba tiba cindy dan teman-temannya datang kedalam loker. mereka memojokan posisi raya ke jejeran loker ganti. Raya tentu ketakutan. Ia harus mengikuti pelajaran olahraganya. “Ma..Maaf cindy, tia, siska. Aku mau ke lapangan dulu” ujar raya “Ohh.. lo udah lama kita tinggal PKL bisa ngelunjak juga ya sekarang!!” ujar siska sambil tangannya menampar pelan pipi kanan raya. Raya semakin merunduk ketakutan. “HEH!! Bilangi sama anak baru itu. Jangan berani-berani deket-deket sama alex! Kalo nggak, dia bakal  tau apa akibatnya” ujar cindy didepan wajah raya “DENGER NGGAK LO!! Lo ujga bakal dapet akibatnya kalo nggak nurutin apa yang kita mau” tambah siska. “MAMPUS LO!” ujar tia sambil menoyor kepala raya. Lalu mereka bertiga keluar dari ruang loke perempuan. Raya rasanya ingin menangis se kencang-kencangnya, Setelah beberapa bulan ia tenang, kini ia harus di rundung lagi oleh kakak kelas perempuannya sejurusan dengannya. Raya mengusap air mata di pipinya yang telah luruh. Ia tak boleh cengeng. Lalu segera berlari ke lapangan. “Lexa!” Raya telah berada disampingnya. “Lo kenapa lama banget?” tanya lexa dengan wajah dingin yang berkerut heran. “Hehehe… kebelet pipis” cengir Raya. Lalu mereka melakukan pemanasan dengan berlari lapangan. Kebetulan ternyata hari ini giliran olahraga main basket. Lexa melakukan pemanasan sedikit-sedikit untuk membiasakan tangannya kembali. Masih terlihat, Lexa masih mahir dalam mengendalikan basket. Beberapa kali Lexa melakukan shoot 3 poin. “Ternyata lo bisa main basket”. Lexa yang sedang mendrible berhenti dan menoleh ke sumber suara. Dan disana telah berdiri bara yang tak jauh dari posisi lexa. “Elo..?” “Tanding sama gua?” tantang Bara. Lexa bingung kenapa tiba-tiba laki-laki ini ada di lapangan dan mengajaknya bertanding. “Lo nggak liat ini lagi mapel olahraga kelas gua?” ketus lexa “Emang kenapa? takut? Lagian bentar lagi mapel olahraga pindah ke kelas dua sipil. Kelas gua” ejek Bara. Dan ya, lagi-lagi Lexa yang merasa di tantang pun terpancing. Ia menatap bara dan tersenyum miring. “Takut? Sama lo?” lexa tertawa sinis. “Batas 9 poin” tantang Lexa. Ia benar-benar merasa tertantang saat ini dengan cowok berwajah tegas nan eksotis yang pastinya tampan. Lexa tak pungkiri itu. “Oke. Kalo lo kalah, lo turutin semua yang gua perintahkan. Begitupun kalo lo menang.” Bara menyambut tantangan Lexa. Entah kenapa ia tertarik saat melihat Lexa yang sedang bermain basket. Tapi seketika ia memikirkan sesuatu. Ia pun turun ke lapangan tanpa pikir panjang. Mereka mulai permainan dengan wasit aldi sang ketua kelas multi media. Dan bola pertama di ambil Bara. Bara menggiring bola dengan lancar. Shoot! Satu poin ia dapat kan. Lexa masih santai. Anggap saja ini pemanasan. “Sialan! Gatel banget sih tuh cewek. Kemarin deketin alex. Sekarang mau deketin gebetan gua si bara?.. emang minta di kasih pelajaran tu anak!” geram cindy. “Guys udah siap kan?” Tanya cindy. Dan di angguki Tia dan Siska. Mereka bertiga tersenyum senang dan terlihat licik. Entah apa yang akan di lakukan tiga dara tersebut. Yang pasti tak akan menguntungkan buat lexa. Sedangkan anak-anak lain sedang heboh, melihat sepasang manusia yang berada di tengah lapangan. Mereka terkagum dengan keberanian lexa yang bermain basket satu lawan satu dengan bara salah satu pentolan basket di UVO. tak hanya terkagum dengan keberanian seorang lexa, namun dari segi gaya lexa yang tomboy dan cantik membuat charisma tersendiri untuk lexa ketika di pandang.  “Gila!! Itu si anak cewek tanding sama kakak kelas? Si Bara lagi yang jago basket. Dia kan salah satu pentolan basket sekolah. Dia Sebelas dua belas kayak Alex.” Ujar salah satu penonton di pinggir lapangan. “Iya. Bahkan Alex sama Bara minggu depan katanya bakal tanding untuk menentukan posisi kapten basket sekolah kita” “Wah tu anak nyari mati” ada pula yang mencibir lexa. Yang jelas ia adalah perempuan. “Pasti Bara bakal bully itu bocah abis-abisan” sahut yang lainnya. “Tapi keren juga dia bisa tanding sama Bara” celetuk satu orang dan mendapat jitakan pedas diatas ubun-ubunnya. Menit-menit berlalu. Poin Bara 6 dan Lexa masih 3. Lexa mulai ngos-ngosan. Tapi ia tak bisa menyerah. Apalagi sekarang kakinya yang terkilir dulu agak sedikit sakit. Namun Lexa tetap bertahan. Ia tak ingin kehilangan harga dirinya. Bara mendrible bola di depan Alexa. Dengan senyuman miring yang terkesan mengejek Lexa, membuat Lexa kesal dan berusaha merebut bola. Namun bukannya mendapatkan bola, Bara malah menggeser posisinya tepat di belakang Lexa. Dengan cepat Bara membisikan sesuatu tepat ke telingan Lexa sampai hembusan nafas dari mulut Bara terasa di daun telinga dan lehernya. “Lo, Out!” bisik bara, lalu Bara berlari cepat meninggalkan Lexa yang menjadi tidak fokus. Di tengah lapangan, Bara mengambil ancang-ancang untuk mendapatkan 3 poin. Shoot’! BRAAKK! Ring Lexa bobol. 3 poin didapatkan Bara. Para anak cewek yang menonton di pinggir lapangan bersorak dan bertepuk tangan. Lexa menatap tajam Bara. Dan yang ditatap hanya tersenyum miring mengejek kekalahan Lexa. Lexa benar-benar kesal melihat senyum itu. Senyum yang sexy sekaligus menyebalkan. Penampilan Bara terlihat lebih keren saat ini. rambutnya yang acak-acakan basah karena keringat, baju seragam dengan kancing terbuka menampilkan kaos dalam, dan tersenyum walaupun tersenyum yang mengejek. Bara menghampiri Lexa. “Lo kalah. Jadi gua punya hak sama lo.” Ujar Bara didepan Lexa. Dan mereka masih ditengah lapangan. “Lo mau apa?!” to the poin Lexa. Sambil mengarahkan pandangannya kearah lain. Jujur saja lexa agak malu melihat penampilan bara yang terkesan sexy didepannya saat ini. “Tiga kali dinner sama gua” cetus Bara Lexa yang sedang memalingkan pandangannya kearah lain, sontak menatap seketika itu juga. Ia tak salah dengarkan? Dinner? Si jutek yang kadang membuatnya kesal, seorang Bara mengajak dinner? Raya pasti akan jatuh pinsan jika mendengar ini. “Lo kesambet apa? Gak salah? Atau kepala lo sedikit bermasalah akibat panas-panasan? sampe minta hal kaya gitu sama gua?” runtun Lexa. Sontak ia tak percaya atas permintaan Bara. “Terserah lo mau mikir apa. But, rules to teh rules. Lo bukan cewek yang lain di mulut lain dihati kan? Atau pengecut misalnya?” ejek Bara. Lexa benar-benar kesal dengan ucapan Bara. Memang benar kata raya ya, ‘KTP Keren Tapi Pikasebeleun. GGS Ganteng-ganteng sialan gerutu Lexa dalam hati’. “Oke. Nanti gua kasih tau kapan dan dimana” ujar Bara dan langsung meninggalkan Lexa yang terdiam jengkel karena sikap se enak jidatnya dan ucapannya yang tak disaring, butek seperti air cucian beras. “Lexa. Lo nggak papa? Bara nggak nyakitin lo kan? Atau ada yang sakit nggak?” Raya yang berlari dan menelisik Lexa. “Gua nggak apa-apa” jawab lexa dengan nada yang dingin. Ia benar-benar kesal di ejek dengan bara apalagi masalah harga dirinya. “Yaudah yuk kita ke kantin, kamu pasti capek”  ajak raya. Disisi lain Alex berjalan dari arah kelas nya di jurusan bisnis ke kantin sekolah. Perutnya tiba-tiba lapar setelah belajar mengenai strategi pasar. Alex bersama Deon, Bima dan Dicky berjalan melewati lorong lorong sekolah. “Lex, depan madding ada apaan tu? Kok rame banget.” Ujar Dicky “Kita liat yuk. Siapa tau aja ada even atau kabar penting” ujar Bima. Lalu ke empatnya menuju madding. Terdengar bisik-bisik dari anak-anak yang melihat papan madding. “Ya ampun, di siswa baru kan ya? Meni kitu?” “Geulis-geulis kalakuan meni goreng patut ih..” “Padahal gayanya tomboy loh. Kirain mahal. Taunya murah juga” “Sama om-om. Sayang ya cantik-cantik simpenan. Coba sama gua, bisa kali ya dibayar. Hahaha…” Itulah beberapa bisikan-bisikan yang Alex dan teman-temannya dengar. Semakin penasaran mereka menerobos kerumunan tersebut. Alex menelisik gambar-gambar di papan madding tersebut. Lalu ia membulatkan matanya yang menandakan ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat dan ia baca. -KELAKUAN ANAK BARU. TAMPANG TOMBOY TAPI SIMPENAN OM BOY- -CEK IN DI HOTEL GOLDEN- -KELAKUKAN TAK BERBOBOT ANAK BARU MULTIMEDIA- Alex yang membaca tulisan itu seketika dadanya panas. Siap yang berani melakukan ini. dan… bagaimana foto ini bisa di ambil. Alex memecahkan kaca papan madding yang di kunci. Ia meninju papan madding tersebut dan mencabut foto-foto dan tulisan biadab tersebut. Alex marah. Siapa yang tega melakukan ini kepada adiknya. “SIAPA YANG NGELAKUIN INI?!!” Tanya Alex. Semua diam. Mereka terkejut dengan sikap Alex. Melihat tatapan Alex benar-benar murka. “GUA BILANG SIAPA YANG NGELAKUIN INI?!!!” teriak Alex semakin berapi-api. “b******k. JAWAB!!” “Lex, tenang dulu. Lo kenapa begini? Ada apa?” Tanya Deon. Lexa yang hendak menuju kantin, mendapat tatapan sinis dari beberapa murid yang melihatnya. Bahkan ada yang mencibir. “Ih. Geulis-geulis doang awewe teu bener” “ Bispak cover good girl” “Murah. Sama om-om lagi” Lexa heran dengan bisikan-bisikan tersebut. Tapi ia tak mau ambil pusing karena Lexa tak merasa melakukan apapun untuk dicibir. “Lexa, ada apa ya? Kok mereka liatin kita begitu?” Tanya Raya. “Nggak tau, gua juga bingung” Lexa berjalan menuju kantin. Lalu ia melihat kerumunan di depan papan madding. Lexa dan Raya penasaran, dan menghampiri ingin melihat apa yang terjadi. “b******k!!! JAWAB!!” Lexa seperti tak asing mendengar suara teriakan tersebut. Ia menerobos kerumunan dan mendapati kakaknya ada di depan madding dengan mata yang melotot dan kedua tangannya terkepal kuat. “Kak, ada apa ini?” Tanya Lexa yang heran dengan emosi kakaknya. “Sekali lagi gua Tanya sama Kalian, siapa yang nempelin foto dan tulisan-tulisan biadab ini di madding?”  Tanya Alex. Tak menggubris Lexa. Mereka yang di sekeliling Alex hanya menggeleng. Karena mereka pun tak tau. Alex kemudia menarik Lexa dan merangkulnya didepan anak-anak, lalu mencium puncak kepala Lexa. Sontak perbuatan Alex itu membuat yang lain terkejut terutama teman-temannya. Ada apa dengan mereka berdua. Bukannya Alex sudah punya pacar? “Denger ya Kalian semua. Cewek yang didepan Kalian ini, yang baru saja Kalian olok-olok akibat dari foto dan gossip sialan di madding, adalah ADIK KANDUNG GUA! Alexa Pradiana Pradja. Dan gua Alex Pramudana Pradja!” ujar Alex dengan tegas. Lexa yang masih terdiam dan belum mengerti apa yang terjadi. ia meraih kertas yang ada digenggaman kakaknya. Membuka kertas tersebut, dan betapa terkejutnya ia melihat foto ia dan ayah nya yang ada di lobi hotel. Yang sedang menunggu sang mama turun dari kamarnya untuk makan siang bersama beberapa hari yang lalu. ~Ya Allah, apa salahku. Dulu aku di kira pacar kak Axen dan sekarang aku dikira simpenan papa ku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD