~Flashback On~
Sudah dua bulan lebih Lexa berada di bandung. Evan dan Alia merindukan putri semata wayang mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk melihat kedua anaknya di bandung. Tapi Evan tidak mau menginap di rumah Alex. Dia sekalian menjadikan momen tersebut untuk berlibur berdua dengan Alia. Jadilah mereka menginap disalah satu hotel milik sahabat Evan. Prama Grand Preanger Hotel adalah satu hotel bintang lima yang ada di bandung. Saat mereka telah sampai dibandung, mereka langsung menghubungi anak-anak mereka dan meminta kedua nya untuk datang ke hotel.
Karena kebetulan weekand Alex sedang main basket di luar bersama teman-temannya. Jadi Lexa duluan yang mendatangi orang tua nya ke hotel untuk makan bersama, biar Alex nanti menyusul.
“Papa!” seru Alexa dan langsung berhamburan memeluk Evan. Evan menyambut pelukan anaknya dengan tawa.
“I miss you geulisnya papa” ujar Evan
“I miss you to my papa” sembari melepas pelukannya “Mama mana pa?” Tanya Lexa.
“Biasa, mama kamu masih dandan di kamar. Bentar lagi juga turun. Kita tunggu di sofa lobby aja yuk” tunjuk Evan pada beberapa sofa yang ada di lobby hotel.
Lexa yang merindukan papanya memilih duduk di samping papa nya. Dan Evan seperti biasa, diakan merangkul bahu putri nya ketika posisi mereka duduk berdekatan seperti saat ini. Lexa dari kecil selalu minta di rangkul atau di peluk papanya jika sedang berdekatan. Kadang ia suka memonopoli sang papa dari ketiga kakaknya.
Tanpa di sadari, Cyndi, tia dan siska sedang berjalan melewati lobby hotel. Ia menangkap Alexa sedang di rangkul lelaki yang sudah tua. Lalu mereka berasumsi jika Lexa adalah simpanan om-om atau sugar babby nya om-om. Karena yang mereka tau biasanya anak-anak dari ibu kota memiliki kebiasanya pergaulan bebas seperti itu. Sudah rusak. Lalu mengambil beberapa foto Lexa dan papa nya yang dikira sugar daddy nya Lexa.
~Flashback Off~
“Denger ya Kalian semua. Cewek yang didepan Kalian ini, yang baru saja Kalian olok-olok akibat dari foto dan gossip sialan di madding, adalah ADIK KANDUNG GUA! Alexa Pradiana Pradja. Dan gua Alex Pramudana Pradja!” ujar Alex dengan tegas.
Alex benar-benar marah. Lexa yang ada disampingnya berusaha menenangkan kakaknya. Ia tak ingin masalah ini di perpanjang dan akan berakhir keributan lalu masuk ruang BK.
“Dan lelaki tua yang ada di foto ini adalah BOKAP GUA! AYAH GUA BAPAK GUA! PAPA GUA! PAHAM?” lanjut alex dengan penuh penekanan.
“Udah kak, gak papa. Lagian ini foto aku sama papa. Kalau aku di panggil gara-gara foto ini, aku bakal bilang ini adalah papa. Dan kalo diminta bukti, aku bakal minta papa datang kesini.” Jelas Lexa berusaha menenangkan Alex.
Di dua sisi yang berbeda ada yang sedang memperhatikan kerumunan tersebut. Cindy, tia dan siska terkejut dengan penyataan tersebut. Berarti mereka salah senjata. Apalagi itu adalah adiknya Alex dan yang di foto itu adalah papa mereka.
“Gawat nih. Salah lo nih, main temple foto dimading trus bilang kalo itu om-om yang nyewa si Lexa. Aarghh… cabut deh.” Kesal cindy pada tia.
“Yeh.. atuh gua kan mikirnya Lexa gak jauh beda kaya anak-anak Kota yang lain. Udah biasa dengan om-om yang nyewa.” Cicit tia.
“Udah ah, yang penting lo pas nempelnya nggak ada yang liat kan? Tanya siska. Dan di tanggapi gelengan oleh tia. “Bagus! Kita aman”
Dan sisi lainnya, menjadi jackpot untuk seseorang setelah mengetahui kenyataan bahwa Lexa adalah adiknya Alex. Rencana merebut pacar tercinta nya seorang Alex, malah ternyata adik kandung dari Alex. Perfect! Pembalasan sempurna. Ucapnya.
“Kunaon senyum-senyum bar? Tanya Deden yang sedang makan cemilannya di meja kantin.
“Iya lo bar. Tumben. Jatuh cinta lo?” tambah Lucas
“Jangan ngaco!” jawab Bara datar.
“Lah abis terus lo senyum-senyum kayak orang gila gitu. Biasanya kalo gitu lagi jatuh cinta” ujar Leo. Senyuman miring menghiasi bibir Bara.
Jatuh cinta? Adalah dua kata yang sudah membuat hidupnya rusak. Membuat ia kehilangan sosok yang paling ia sayangi. Dan membuat ia menjadi sosok yang yang seperti saat ini. itu semua karena cinta. Ia jatuh cinta dan orang yang berharga di hidupnya juga jatuh cinta. Dan karena itu dia akan membalas sesorang yang sudah menaburkan benih derita di hidupnya.
“Gua punya mianan baru” ujar Bara sambil membolak-balikan hp nya.
“Mainan? Mainan apa? Kayak bocah aja lu” Tanya Leo.
“mainan yang seru pastinya. Mainan yang bisa menuntaskan kebencian yang gua rasa” ujar Bara. Ketiga temannya melongo. Mereka heran, apa yang dimaksud Bara? Mainan yang bisa menuntaskan kebenciannya?
“Maksud lo bar?” Tanya Lucas. Bara hanya tersenyum misterius kepada teman-temannya. Terlihat mengkhawatirkan bagi ketiga temannya. Pasalnya Bara yang sekarang berubah dari yang dulu ia kenal. Bara yang kini dihadapan mereka, Bara yang sering baku hantam, cuek, dingin, dan suka balapan liar. Ia berubah semenjak kejadian yang lalu.
“Nanti juga lo tau” jawab Bara. Lalu ia pergi meninggalkan teman-temannya yang masih terheran-heran.
“Firasat gua gak bener nih si Bara” ujar Leo.
“Heu’euh.. senyuman si Bara teh aneh pisan. Siga evil kitu” tambah Deden. Mereka hanya menghela nafas, berharap Bara tak melakukan hal-hal aneh bahkan gila.
Dua hari berlalu dari kejadian itu. Alex baru saja sampai di gedung basket bersama tim nya. Ia sudah latihan untuk posisi ini. tapi entahlah ia juga tak bisa meremehkan bara saingannya.
“Wih.. Tim looser baru datang” seru Bara yang melihat Alex masuk.
“Yo’I, Yakin lo mau bersaing? Kencing aja belom lurus” tambah Leo.
Alex sudah biasa ribut dengan Bara, hanya tersenyum mendengar ocehan Bara dan genk nya.
“Heh brengsek.. lo nggak usah banyak bacot! Malu-maluin keluarga tau gak lo!” ejek Alex.
“Kalo gua b******k, Lo lebih b******k pastinya. Apa ya?? Bajing busuk?” timpal sarkas Bara.
“Lo nggak pernah diajarin tata cara bicara dan bersikap sama orang tua lo ya? Sayang bayar sekolah mahal tapi pendidikan nggak masuk otak. BUNTU!!” sarkas Alex yang sangat memancing kemarahan Bara. Bara bangkit dari duduknya ia langsung menghampiri Alex dan menghajarnya
BUGH!!..
“b******k! b******n! ANJING LO LEX!!” Ujar Bara berapi-api. Lucas, Leo, Deden dan tim mereka langsung ikut turun untuk menahan Bara yang menyerang Alex.
BUGH!!
Balas Alex memukul Bara.
“Lo yang anjing! Lo gila!” ujar Alex yang di tahan Deon saat kembali ingin menyerang Bara.
“Tenang lex! Tenang!” ujar Deon. Tim Alex pun berusaha menahan Alex.
Keduanya tertahan oleh timnya masing-masing. Hingga pelatih basket mereka masuk kelapangan tertutup tersebut.
“Hey! Apa yang Kalian lakukan?” Tanya pak irwan pelatih basket. “kenapa Kalian baku hantam seperti ini?”
“Nggak papa pak, ini Cuma salah paham saja” ujar Lucas.
“Iya pak, kita Cuma salah paham aja” tambah Bima dari tim Alex.
“Yasudah. Sekarang kita akan menentukan kapten tim basket sekolah ini. ingat ya, bapak tidak mau ada permainan curang. Bersikaplah sportif. Jika ada yang melanggar, sanksi Kalian adalah tiga bulan non aktif total!” ujar tegas pak irwan. Yang disetujui semua tim.
Di kelasnya Lexa sibuk melakukan praktek. Ia berbagi kelompok dengan teman sekelasnya.
“Lexa, sorry nih gua mau tanya, emang bener ya lo check-in sama om-om? Tanya teman sekelasnya. Lexa menghela nafasnya. Ia jengah dengan pertanyaan itu dan bisik-bisik tetangga para netizen sekolah yang budiman.
“Bukan urusan lo!!. Urusin urusan kalian sendiri. Gak usah kepo tentang gua!!.” Sarkas Lexa dengan nada dinginnya. Dan berlalu ke meja kerja nya lagi.
“Kenapa lex?” tanya Raya. Lexa hanya menggelengkan kepalanya. Raya melihat gerombolan yang telah menghampiri lexa tadi.
“Udah. Biarin aja. Cuekin aja kalo ada yang nanya lagi.” Ujar Raya. Lexa merasa lelah dan haus. Ia ingin istirahat, tapi saat melihat jam ternyata masih sejam lagi.
“Hari ini kak Alex tanding basket. Ck.. gua gak bisa nonton” lexa mengingat jam Sembilan ini alex ada perebutan posisi kapten.
“Oh iya, ya. Tapi kita nggak bisa liat deh.” Ujar Raya. Lexa mengangguk lesu. Padahal ia ingin sekali mensupport kakaknya.
Dan didalam lapangan basket sedang terjadi pertandingan sengit antara tim A dan tim B, Alex dan Bara. Tim A 23 poin dan tim B 19 poin. Ya.. Alex memimpin skor saat ini.
“Alex..! ayo kamu pasti bisa” seru cewek-cewek di bangku penonton. “Alex ganteng baget, coba kalo belom ada pacar”
“Apa lo bilang? Lo berani deketin Alex, abis lo” ujar cindy. Yang mendengar ucapan tersebut.
Cindy dan teman-temannya berada di pinggir lapangan sebagai tim Cheers. Dan untuk saat ini posisi cindy adalah kapten cheerleader sementara. Karena kapten cheers yang sebenarnya sedang PKL.
Waktu terus bergulir. Sekarang skor tim B lebih unggul. 27:25. Skor maksimal pertandingan ini sampai 30 poin. Alex terus berlari mengejar Bara. Ia sedikit terhalang dengan teman-temannya Bara yang menghadangnya. Jika tak ada sangsi, ia tak segan-segan menorobos walapun ia akan melanggar aturan, paling hanya di keluarkan dari permainan. Namun jika sangsi non aktif penuh selama tiga bulan Alex tak ingin mendapatkannya.
Detik, menit berlalu. Waktu menunjulan lima belas menit lagi berakhir. Alex beberapa kali mencoba memasukan bola ke dalam ring Bara, namun nihil. Begitupun denga teman-teman Alex. Bara pun juga sama, ia belom berhasil menambah poin.
Permainan masih berjalan, waktu yang tersisa tinggal lima menit lagi. Bara merebut bola dari Dicky yang akan memasukan bola ke ring Bara. Bara terus berlari. Tiba-tiba ia mengingat senyuman manis seorang wanita yang mengenakan dress Sabrina berwarna biru laut duduk disisinya dan mengatakan “gua jatuh cinta bar. Jatuh cinta sama dia”. Bayangan tersebut terlintas di pikiran Bara yang sedang menggiring bola. Emosi Bara seketika naik drastis, ia berlari kencang dan tiba-tiba berhenti di lapangan. Tanpa mengambil ancang-ancang ia melemparkan bola ke ring lawan dari tengah lapangan. Semua orang berfokus pada lemparan Bara yang mendadak. Dan…
“Yeeeeaaayy!! Sorak gembira tim Bara. Bara langsung mencetak poin. Tiga poin dari tengah lapangan.
“Yess!!! WOOOOOAAH..” Bara melompat-lompat. Ia berhasil menang dan menjadi kapten untuk tim basket UVO. Suara seruan kehebohan anak-anak jurusan sipil memenuhi lapangan indoor bakset SMK UVO.
Tak dapat di pungkiri kekecewaan Alex terlihat diwajahnya. Namun apa mau dikata. Ia memang telah kalah.
“Udah lex. Gak papa” ujar Dicky.
“Iya. Jangan kecewa bro. Kita it’s oke. Yang penting kita mainnya sportif.” Ujar Bima
“Lagian, lo kan mau PKL bentar lagi, ya kan?” tanya Deon.
Tim Alex berjalan keluar lapangan. Namun langkahnya terhenti akibat perkataan Bara yang membuat Alex mendidih
“Orang b***t gak akan menang. Apalagi mikirnya s**********n mulu! Busuk otak lo!” ujar Bara dengan senyuman miring yang tercetak mengejek diwajahnya.
Alex yang sudah mendidih pun berbalik arah kembali, hendak menghampiri Bara yang masih ada di tengah lapangan. Namun ketiga teman Alex, Dicky, Bima dan Deon langsung menahan Alex agar tidak lepas kendali. Ini masih di area basket. Dan jika mereka melanggar peraturan yang telah di beritahukan pak irwan, maka sanksi berjalan.
“Lex, udah lex tenang! Inget sanksi.” Ujar Deon. Alex pun berhenti meronta dan segera melangkahkan kaki keluar lapangan dengan amarah yang memuncak di ubun ubun.
Disisi lain Lexa dan Raya baru keluar ruangan praktek. Tiba-tiba Lexa memikirkan tentang taruhannya dengan Bara beberapa hari lalu. Bara memintanya untuk dinner tiga kali. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda dari Bara untuk mengajaknya dinner
“Kenapa gua jadi mikirin tu orang sih? Duh gila gua” gerutu Lexa sambil berjalan menuju kelasnya.
“Lexa. Kamu teh kenapa?” tanya Raya.
“Nggak. Gua gak papa”
Alex berusaha menenangkan pikirannya. Ia sungguh marah oleh perkataan Bara yang sangat keterlaluan. Alex memutuskan untuk ke rooftop gedung bisnis biasa ia dan teman-temannya bersantai ria.
“Lexa!” panggil Deon yang melihat Lexa menuju kelasnya . karena gedung jurusan I.T sebelahan dengan Bisnis. Lexa yang merasa di panggil menoleh. Dan ia melihat raut wajah kesal Alex. Lexa berlari menghampiri Alex di ikuti dengan Raya.
“Kak Alex... Gimana pertandingan kak Al?” seru Lexa. Namun Alex hanya dia memalingkan pandangannya. “Jangan bilang ….”
“Iya. Kita kalah lex.” Ujar Bima.
“Serius?”. Dan di angguki semuanya. Lexa menipiskan bibirnya dan menepuk pundak Alex. “Gak papa kak. Mungkin karena kakak udah jadi kapten basket dari Smp dulu, makanya sekarang tuhan kasih kesempatan buat yang lain” ujar Lexa
“Nah, bener itu! Gua suka banget gaya lo” ujar Dicky.
“Lexa. Udah cantik, baik, lapang d**a lagi. Makin suka euy aa sama kamu” goda Dicky pada Lexa. Dan langsung dapat jitakan manja di kelapanya dari Alex.
“Aa.. aa.. EE lu” ujar Alex. Deden hanya merengut sebal.
“Semangat ya kak Al. mungkin belom jodohnya untuk jadi kapten sekarang” ujar Raya dengan senyum manisnya. Alex terdiam. Ada rasa tercubit sedikit di hati Alex saat melihat Raya tersenyum. Cubitan yang terasa menggelitik.
“Eh.. iya makasih ray” jawab Alex.
Bara dan teman-temannya sedang meRayakan kemenangannya dengan berkumpul di rumah Lucas. Mereka memang sering berkumpul di rumah Lucas. Karena Lucas yang sering tinggal sedirian akibat di tinggal kerja kedua orang tuanya.
“Yeaaahh! Kapten tim ALPHA tahun ini bos. Untung lo udah kelar PKL ya. Jadi lo bisa bener-bener aktif pas nanti ada tanding.” Ujar Mario.
“Yo’I. gila banget kita bisa ngalahin si Alex. Lo liat kan tadi muka nya kayak kain pel belom dibilas, lepek, apek, ngeres. Hahaha….” Tambah Leo, membuat seluruhnya ketawa. Kecuali Bara.
Bara sedang memikirkan sesuatu. Ia tersenyum misterius tanpa menghuraukan percakapan teman-temannya.
“Bar, lo kenapa sih? Suka senyum-senyum sendiri. Gila apa jatuh cinta lo?” tanya Leo
“Eleuh-eleuh kalo si Bara sampai jatuh cinta, itu ibarat fir’aun makan peteuy” celetuk Deden.
“Maksudnya? Tanya leo
“Gak mungkin Euy” jawab deden dengan tanya khasnya. Lalu mendaratlah jitakan leo di ubun-ubunnya deden.
“Bar, bar.. mending cari cewek lu dari pada gak waras” ujar Mario
“Bentar lagi.” Jawab Bara singkat. Dan langsung meyita perhatian teman-temannya.
“maksud lo bar?” tanya Lucas yang sedari tadi diam.
“Gua bakal punya pacar, sekaligus mainan yang gua bilang sama Kalian kemarin” ujar Bara sambil menatap lurus ke layar tv di depannya
“Siapa bar? Kasih tau dong. Gua penasaran nih?” semangat Leo
“Alexa Pradiana Pradja. Anak multi media A.” jawab Bara santai dengan senyuman miringnya.
“APA??!!” teriak teman-temannya. Entah apa yang akan dilakukan Bara. Teman-temannya saling bertatapan. Ia heran kenapa Bara mau berpacaran dengan adik musuhnya. Bara bukan tipe cowok yang gampang suka dengan cewek, apalagi itu keluarga orang yang sangat ia benci.