8. Tak pantas berstatus sahabat

1526 Words
Senin tiba. Lexa menuruni tangga menuju ruang makan. Rambut yang di ikat kuncir kuda menampilkan rambutnya yang bergelombang bergoyang-goyang. Memakai serang putih abu-abu dan sepatu sneakers. Lexa tampil lebih segar di banding hari kemarin, namun aura nya cukup dingin.             Lexa mendudukan dirinya di kursi dekat papa nya sedangkan sang mama masih sibuk menyiapkan sarapan di bantu bi minah.             “Assalamualaikum neng geulis nya mama” sapa Alia seraya membelai surai terikat anaknya.             “Wa’alaikumsalam ma” jawab Lexa lalu mencium pipi mama nya.             “Lexa, hari ini papa ada meeting pagi jadi gak bisa antar kamu kesekolah. Kamu sama Axen atau Excel aja ya.” Ucap Evan seraya bangkit dari duduknya.             “Iya pah.” Jawab lexa datar. Lexa mencium tangan papanya. Semuanya terheran dengan sikap lexa. Namun mereka hanya diam dan saling lirik, mungkin lexa masih dalam mood yang buruk.             “De, gimana perasaan kamu hari ini?” Tanya Axen memecah keheningnan.             “Better kak” ucap Lexa melirik sekilas axen dengan senyum simpulnya. Axen tau Lexa belum sepenuhnya membaik, apalagi hari ini ia masuk sekolah dan bertemu teman-temannya. Tapi Axen tahu Lexa adalah adiknya yang memiliki mental yang kuat bahkan saat tubuhnya terluka akibat pertandingan beladiri, Alexa tak mundur.             Sesampainya di sekolah Lexa turun dari motor axen. Dia merapihkan tampilannya sambil menunggu axen memarkirkan motornya. Sedikit ada rasa canggung jika bertemu sahabat-sahabatnya. Eh, sahabat? Masihkah?             “Lexa, kenapa?” Tanya axen             “Nggak pa-pa” ujar Lexa. Axen dan Lexa sedikit menjadi sorotan beberapa orang.               “Ternyata Lexa adiknya Axen dan excel?”                 “Pantes gua liat mereka deket banget”                 “Gua kira cowoknya” “Kenapa disembunyiin ya fakta kaya gitu?”itulah bisik-bisik yang ia dengar. Hah,, mungkin mereka sudah mulai menyadari kalau mereka berdua kakak adik. Tapi lexa tak peduli. Itu tak penting lagi untuknya sekarang. Lexa sama sekali tak berekspresi. Ia berjalan dengan cuek ke dalam sekolah.             “Baweeeelll…” teriak excel yang langsung merangkul bahu Lexa.             Lexa hanya melirik kakaknya sebentar dan tersenyum sepintas lalu berjalan menuju kelasnya. Lexa benar-benar dingin. Axen dan excel menjadi bingung, adiknya bisa menjadi berubah seperti itu.             Saat alexa akan naik tangga menuju lantai dua, axen memanggil lexa. Lexa menoleh pada kedua kakaknya yang berjalan mendekat.             “Alexa Pradiana Pradja, inget yang kakak bilang ya” ucap axen sambil menjawil hidung mancung Lexa. Lexa tersenyum simpul dan mengangguk. ~Gua bisa. Jangan lembek Lexa! Lo harus berdiri tegak dan kuat~ ujar Lexa dalam hatinya. Lexa melangkahkan kakinya menapaki tangga. Melangkah menuju kelasnya. Kaki Lexa melangkah masuk dan disambut tatapan tegang para sahabatnya dan… tatapan aneh dari teman kelasnya yang lain. Lexa melirik tempat duduk saji sang ketua kelas.             “Saji, gua duduk sama lo” ujar Lexa dan langsung duduk disamping saji.             “Lah lex, lo kan duduk sama dini. Terus si Arya gimana?” Tanya saji. Lexa tersenyum miring dan menjawab,             “Biar pas aja Ketua kelas, duduknya sama waketu. Si arya duduk dimana aja.”jawab Lexa dengan santai. Saji hanya mengendikan kedua bahunya. Toh Alexa bukan anak yang rese, jadi tak masalah.             Sandra sedikit merasa tersinggu dengan ucapan Lexa, namun ia hanya bisa menarik nafasnya. Sedangkan dini menatap Lexa dengan tatapan sedih. Namun ia tak berani mendekati Lexa. Dini takut Lexa semakin marah. Sedangkan ami, ia pun tak tau harus berbuat apa.             “Waduh, si Alex.. pan duduk dimari lex, kan lo duduk sama dini.” Tanya Arya yang baru saja datang.             “Mulai hari ini gua duduk disini” ucap Lexa dengan tampilan wajah dinginnya dan sama sekali tak menoleh pada arya.             “Lah, gua duduk dimane dong?”             “Terserah lo” ucap Lexa. Lexa benar-benar berubah. Saat berbicara pun tak ada ekspresi di wajahnya. Tatapannya datar. Tak ada senyum manis sedikitpun di bibir mungilnya.             “Hadeuh! Yaudah gua duduk sama dini aja dah. Lumayan deket cewek-cewek cakep”  jawab arya dan berjalan ke meja dini             “NGGAK! Ini bangku Lexa.” Dini langsung menghadang arya yang akan menduduki kursi milik Lexa             “Lah kan Lexa duduk sama si saji din. Ya gua duduk sini lah. Gimane sih lu neng” Tanya arya yang bingung             “Pokoknya ini tetep kursi lo Lexa. Ada atau pun gak ada elo. Gak ada yang boleh nempatin.” Ucap dini dengan menatap Lexa yang terlihat acuh. “Dan elo arya, duduk aja di tempat lain disini sold out!” ucap dini.             “Hah!!! Cewek ribet banget dah kalo lagi mode gontok-gontokan. Gampangan liat kucing kawin” seloroh arya dan akhirnya dia memilih kursi di belakang Lexa. Arya mengusir tino cowok gemulai yang pernah dikerjai oleh Lexa.             “Lex, lo nggak pa-pa kan?” Tanya saji.             “Gua gak pa-pa ji.”             Bel istirahat pun berbunyi. Anak Kelas 1.IPA.A mengemas peralatan belajarnya dan mulai menuju ke kantin untuk mengisi perut yang kosong. Lexa pun merasa sangat lapar karena saat sarapan ia hanya makan roti satu lembar.             “Tino, gua titip s**u botol satu.” ujar Lexa saat melihat tino berjalan keluar.             “Oke. Rasa apa?”             “Apa aja” Tino melanjutkan tujuannya             “Lexa!” panggil dini “Kita kekantin yuk”             Namun Lexa hanya menatap dini dengan wajah datarnya. Lexa tak menghiraukan dini dan berlalu keluar dari kelasnya.             Dini tau bahwa ini akan sulit. Ia tau bahwa Lexa adalah orang yang susah jika kepercayaannya sudah di rusak, tak akan mudah untuk mendapatkannya kembali.             “Udah lah din. Lexa lagi marah sama kita. Biarin dia sendiri dulu” ujar ami.             Akhirnya lexa memutuskan untuk ke kantin sendiri. Kantin cukup ramai, karena hari ini banyak kelas yang memilki jam pelajaran olahraga. Salah satunya kelas Dylan. Lexa mengantre di bagian somay. Ia sudah tak tahan ingin makan somay pedas kesukaannya dan minum es teh, itu adalah menu combo buat Lexa di tambah kerupuk ikan. Mantul!             Saat mengantri ada orang yang tak sengaja menabrak bahunya saking terburu-buru orang itu jalan. Lexa yang ditabrak bahunya pun sedikit oleng mundur ke belakang. Hampir saja jatuh jika tak ada sepasang tangan yang memegang bahunya. Tubuh Lexa di tahan oleh tangan berotot Dylan. Lexa memejamkan matanya bersiap untuk jatuh, namun ia merasa seperti ada sepasang tangan yang menahan tubuhnya. Lexa pun membuka matanya perlahan. Dan…. Membolalah matanya melihat wajah Dylan dalam jarak yang dekat. Terpaku sejenak diantara mereka berdua. Namun Lexa langsung tersadar dan menegakkan tumbuhnya segera. “Maaf”ucap lexa, lalu ia pergi. Lexa tak ingin berurusan lagi dengan hal-hal menyakiti hatinya termasuk Dylan. Dan yang pasti ia pun tengah menata hati nya kembali. Bel tanda berakhir jam sekolah pun berbunyi. Seluruh siswa siswi bergegas keluar kelas untuk pulang kerumah masing masing. Excel menjemput Lexa di kelasnya. “Lexa, hari ini mama gua mau masak pudding, elo kerumah gua ya. Kita makan pudding tiramisu kesukaan lo” ucap dini dengan memegang tangan Lexa yang hendak keluar kelas. Lexa mencoba melepaskan tangannya dari cekalan dini secara perlahan. Lalu ia ingin melanjutkan langkahnya namun terhenti. “ Lexa, gua minta maaf. Gua salah, gua minta maaf Alexa hiks.. hiks…” ujar dini dengan suara yang bergetar dan air mata yang mulai mengalir. “Kenapa lo baru minta maaf sekarang? Kemana aja lo kemarin?” ucap Lexa dengan nada dingin tanpa membalikan tubuhnya. “Maafin gua lex..” lirih dini. Alexa hendak melangkahkan kakinya namun kembali terhenti saat mendengar suara sandra “Lo tega banget sih lex sama dini, dini itu gak tau apa-apa” hardik sandra. “Gak tau apa-apa?” Lexa langsung membalikan tubuhnya. “Bagian mana yang gak tau apa-apa?” Lexa melangkah perlahan mendekati keduanya “Bagian lo ngedeketin Dylan? Bagian lo jadian sama Dylan? Atau bagian lo ngeRayain hari jadi lo sama Dylan? BAGIAN MANA YANG DIA GAK TAU? Bentak Lexa dengan mata yang mulai memerah. “Terus kenapa? Kenapa kalo gua deketin Dylan? Kenapa kalo gua jadian sama Dylan? Kenapa? DIA BUKAN COWOK LO LEX!!” bentak sandra. “Apa gua salah suka sama Dylan? Apa gua gak boleh dapetin Dylan? Apa gua gak pantes buat Dylan? Lanjut sandra dengan sedikit tersirat nada emosi yang ditahan membuat matanya pun memerah dan air mata menggenang. “Kenapa lo gak jujur dari awal? Kenapa lo gak terbuka dari awal? Lo pikir gua cewek egois yang memaksakan kehendak gua?” Tanya Lexa. Dan sandra bungkam. “Lo gak salah san suka sama Dylan, lo boleh kok dapetin Dylan. Dan Ya! Lo pantas, sangat cocok sama Dylan. Tapi maaf…” jeda Lexa sesaat “SIKAP LO YANG BIKIN LO. NGGAK. PANTAS. BERSTATUSKAN. SAHABAT!!!” ucap Lexa dengan tegas penuh penekanan seraya meluncurlah air mata di wajahnya. Lexa segera melangkah pergi meninggalkan kelasnya tanpa melihat bahwa excel ada di sisi pintu. Excel yang menyaksikan sedari tadi di depan pintu hanya terdiam dan melirik sekilas ketiga sahabat atau mungkin mantan sahabat Lexa. Lalu pergi menyusul Lexa. Lexa telah sampai duluan di parkiran menunggu kakak-kakaknya. Ia segera mengusap air matanya dan berusaha menormalkan suaranya. “Bawel… udah lama” Tanya excel berpura-pura tak tau apapun. Ia senang bahwa kenyataannya Lexa adalah gadis yang kuat. Lexa menggelengkan wajahnya. “Ayo naik, kita makan di Rhichessee factory mau gak?” ajak excel. Lexa hanya mengangguk. Lexa benar-benar dalam mood yang jelek. Ia sedih sekaligus kesal. Alhasil dia hanya diam dan membiarkan semuanya berlalu seiring waktu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD